Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 24/02/2020 13:10 WIB

Bullying Ngetren, Salah Apa Pendidikan Indonesia?

Ilustrasi Stop Bullying (istimewa)
Ilustrasi Stop Bullying (istimewa)

DAKTA.COM - Oleh: Dewi Murni (Aktifis Dakwah Pena dan Praktisi Pendidikan)

 

Bullying hingga hari ini masih menjadi momok yang sangat menghawatirkan khususnya di dunia pendidikan. Pasalnya, perilaku buruk yang tak kunjung terobati tersebut tidak hanya sekadar menghina, merendahkan, ataupun mengejek. Para pelaku sudah tidak segan lagi melakukan hal yang lebih dari itu, kekerasan fisik misalnya.

 

Kamis 13 Februari 2020, Komisi X DPR menyayangkan aksi bullying yang menimpa seorang siswi di sekolah swasta daerah Purworejo, Jawa Tengah. Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengharapkan ke depannya aksi bullying hingga kekerasan tidak terjadi lagi di dunia pendidikan khususnya di sekolahan.

 

"Kita minta betul kekerasan di sekolah ini berhenti setop. Jadi ini enggak hanya bullying, tapi sudah kekerasan ya yang terjadi di sekolah. Ini harus setop," kata Syaiful kepada wartawan di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

 

Masih di bulan Februari, seorang siswa sebuah SMPN di Kota Malang, MS (13), terpaksa menjalani operasi amputasi jari tengah tangan kanan setelah diduga menjadi korban bully 7 teman sekolahnya (14/02/2020).

 

Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian (bahasa Inggris: bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik (Wikipedia). Banyak faktor yang menjadi sebab, diantaranya adalah peran orang tua yang minim, tayangan berisi kekerasan, efek negatif gadget hingga masyarakat yang abai.

 

Dampak yang dihasilkan bermacam-macam. Mulai rasa takut, trauma, kecemasan, depresi berat hingga berujung pada bunuh diri. Si korban juga berpotensi melakukan aksi balas dendam kepada orang lain yang dianggap lemah. Bila masalah ini tidak mendapat perhatian serius hingga tuntas, pada akhirnya kita akan kehilangan para calon pemimpin masa depan yang berahlak mulia.

 

Jauh-jauh hari sebelum ada istilah bullying, Islam telah mengajarkan untuk saling menyayangi sesama manusia, apalagi saudara seiman. Bahkan menjadikan definisi muslim dengan kata selamat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,“Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah.”(HR. Bukhari no. 10).

 

Selain itu, Islam pun melarang sikap mengejek, menghina dan merendahkan. Bisa jadi justru yang mengejek lebih buruk dan hina.

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Hujurat: 11).

 

Sungguh luar biasa islam mengatur manusia dalam bersosial sedemikian rupa. Namun, mengapa aturan tersebut tidak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari khususnya di dunia pendidikan, apalagi mengingat Indonesia sebagai mayoritas muslim. Tidak adakah pelajaran agama disekolah-sekolah, ataukah memang selama ini tidak pernah diajarkan kepada generasi?

 

Fakta berbicara pelajaran agama (baca: Islam) tersedia di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi, baik itu negeri maupun swasta. Sayangnya lebih cenderung sekedar teori semata dan mencari nilai. Mirisnya pemahaman islam hanya dibahas saat pelajaran agama saja, itupun dengan porsi yang sedikit, bahkan seminggu sekali.

 

Padahal Islam adalah pandangan hidup yang memiliki aturan paripurna diseluruh aspek kehidupan. Mulai ilmu pengetahuan alam, sosial budaya, matematika, bahasa, seni hingga pendidikan bernegara. Islam membahas semua itu dengan landasan akidah islam.

 

Hal tersebut terjadi akibat dari penerapan sistem pendidikan sekuler. Memisahkan agama dan dunia. Wajar jika generasi tidak paham bahwa islampun punya aturan dalam bersosial. Efeknya menjadikan generasi cerdas secara akademik tapi kering secara keimanan. Tidak paham mana benar dan salah berdasarkan syariat.

 

Sehingga menjadikan generasi berkepribadian individualis, tidak memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hilangnya empati dan rasa persaudaraan. Sistem itulah kesalahan mendasar pendidikan Indonesia hari ini.

 

Gagalnya pendidikan sekuler dalam mencetak generasi unggul berkepribadian islam semakin diperkuat dengan catatan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan. Untuk bullying baik di pendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan.

 

Dalam sistem pendidikan islam, selain negara memberikan fasilitas berkualitas terbaik dan gratis, ada kebijakan yang menjadi landasan kurikulum. Yaitu berbasis akidah islam yang bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah.

 

Membangun kesadaran generasi akan hubungan dia kepada Allah dalam semua mata pelajaran. Adapun tujuan pendidikan islam adalah berkepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK) dan memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

 

Selain sistem pendidikan, negara berkewajiban menerapkan hukum-hukum Allah secara sempurna untuk menciptakan lingkungan bernuansa keimanan. Agar tidak ada lagi media-media yang bebas menayangkan konten kekerasan, ponografi, dan lainnya. Begitupun keluarga akan terbina dengan kebijakan islam sehingga melahirkan masyarakat yang peduli. Masyarakat yang beramar makruf nahi mungkar.

 

Adalah Muhammad Al-Fatih penakluk Konstantinopel, Al-Khawarizmi penemu aljabar, Ibn Firnas penemu ide dasar pesawat dan masih banyak lagi ilmuan muslim yang menjadi saksi suksesnya sistem Islam membina generasi.

 

Jadi, untuk apa lagi kita berlama-lama memakai sistem sekuler yang telah nyata kegagalannya di depan mata. Sementara islam memiliki sistem aturan pendidikan yang telah terbukti mampu mencetak generasi penyumbang peradaban gemilang. Kini, sudah saatnya sistem islam menggantikan posisi sistem sekuler untuk menyelamatkan generasi masa depan. **

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Dewi Murni
- Dilihat 1027 Kali
Berita Terkait

0 Comments