Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 18/04/2019 10:39 WIB

Hasil Quick Count Hanyalah Pengondisian Opini

Ilustrasi survei
Ilustrasi survei
DAKTA.COM - Oleh: Nasrudin Joha 
 
Sebagaimana dugaan banyak kalangan, survei lembaga dan hitung quick count, telah digunakan untuk melakukan 'pengondisian opini' dengan tujuan membuat publik tersihir dan akhirnya menerima 'kekalahan' secara pasrah. Ini tidak bisa diterima, khususnya bagi kalian yang telah terbiasa dengan berbagai kecurangan yang selama ini jamak dipertontonkan.
 
Kemenangan versi quick count ini, dibuat selisih tipis untuk mengondisikan nalar publik agar mau menerima 'kekalahan' dan berdamai dengan keadaan. Pra kondisi menuju 'kemenangan rezim' telah ditindaklanjuti oleh rezim dengan merilis 'quick count' dari lembaga-lembaga survei bayaran.
 
Mengenai hal ini, kepada seluruh agen perubahan, yang selama ini telah bersiaga di parit-parit garis depan pertempuran, perlu untuk dipahami hal-hal sebagai berikut :
 
Pertama, kemenangan pemilihan ditentukan oleh keputusan KPU. Hasil quick count tidak memiliki kedudukan secara hukum untuk dijadikan pegangan. Yang perlu diperhatikan, adanya upaya pengkondisian nalar publik oleh quick count yang akhirnya publik bersikap pasrah, menerima kekalahan hasil yang divonis oleh lembaga survei bayaran.
 
Kedua, sesungguhnya pengkondisian opini oleh lembaga survei ini, sejak survei kecenderungan pilihan yang ditindaklanjuti hari ini dengan pengumuman trend kemenangan rezim melalui quick count, adalah pra kondisi menuju kecurangan yang sesungguhnya. Yakni, penulisan angka-angka dan keputusan pemenangan oleh otoritas lembaga pemilihan, yang telah mendapat legitimasi dari hasil hitung survei quick count.
 
Keadaan ini membutuhkan 'legitimasi publik', jika publik percaya pada hitung cepat lembaga survei, maka otoritas penyelengara pilihan akan berani menindaklanjuti hasil quick count tersebut dengan menuliskan angka-angka dan keputusan pemenangan bagi rezim.
 
Namun, jika opini publik melawan opini lembaga survei, maka otoritas penyelenggara pilihan akan berfikir ribuan kali untuk menulis angka-angka yang dikehendaki rezim, kemudian menuntun pena otoritas KPU untuk menuliskan hasil suara sebagaimana yang sebenarnya.
 
Sementara, lembaga survei pada kondisi KPU tidak mungkin untuk menuliskan angka angka sesuai kehendak rezim bisa berlindung dibalik 'margin of error' dan kemudian ikut mengakui hasil penghitung suara KPU dan tanpa malu akan mengakui hasil quick count mereka yang keliru.
 
Ketiga, Framing pemenangan rezim oleh lembaga survei menggunakan sarana quick count ini wajib dilawan dengan data dan fakta valid. Sebab, sudah banyak bukti kebohongan akhirnya terungkap, dan akhirnya menyerah kalah melawan kebenaran yang tersingkap.
 
Karena itu, siapapun yang memiliki data dan akses terhadap suara aspirasi umat, segeralah melakukan konsolidasi untuk memastikan suara itu selamat, hingga otoritas KPU nanti menuliskan angka-angka sesuai keadaan dan fakta yang sesungguhnya.
 
Keempat, betapapun semua ikhtiar untuk menjaga suara umat telah dilakukan, betapapun data dan fakta telah diungkap, tetapi bukan berarti resiko 'dicurangi' akan hilang. Karena itu, tetap persiapan diri untuk melakukan 'People Power' damai, guna mengantisipasi kecurangan yang dilakukan rezim.
 
Ingat! Kita tak akan pernah melakukan kesalahan dua kali, dengan mengubur mimpi politik perubahan dengan membawanya ke Mahkamah Pilih-pilihan, yang tidak steril dari pengaruh dan kuasa rezim.
 
Kita, akan persiapkan Mahkamah Rakyat untuk mengadili rezim, dan memberikan vonis untuk menyudahi seluruh kezaliman dan penindasan yang selama ini telah mereka dipertontonkan.
 
Sekali lagi, siapapun Anda yang rindu akan arus perubahan, tetaplah siaga, jangan pernah lengah. Sekali Anda terlelap, maka semua keadaan yang Anda impikan akan sirna. Selanjutnya, Anda akan menjalani hari-hari suram penuh kesulitan, sebagaimana hampir lima tahun ini Anda rasakan. **
 
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Nasrudin Joha
- Dilihat 755 Kali
Berita Terkait

0 Comments