Mutiara Hikmah /
Follow daktacom Like Like
Senin, 24/07/2017 11:30 WIB

Degup Cita Para Pendiri Bangsa untuk Palestina

Bendera Palestina di laga Persib Persiba
Bendera Palestina di laga Persib Persiba
Oleh: Rizki Lesus, Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
 
Purnama nan bulat begitu cantik, memendar menemani berjuta tapak yang kian lelah dan entah hendak kemana menyusur rerimbunan lautan hutan yang begitu pekat. Temaramnya melarik, menembus relung-relung dedaunan di pucuk pepohan yang menjulang tinggi, bergerumul dalam lantunan takbir yang terus terhela, begitu syahdu.
 
Jutaan orang, kini tak lagi dapat menarik ujung selimutnya. Tapak-tapak berpeluh tanpa alas kaki kian menyemut, berkumpul sepenggal gerilya tahun 1947 di penghujung malam. Hanya dedaunan, gemerlap bintang, ditemani cahaya sang rembulan, dan sejumput keimanan yang menemani perjalanan bangsa ini melawan Belanda.
 
“Insya Allah tak kan lama,” kenang seorang pemuda, Saifuddin Zuhri di dalam pelosok hutan. Matanya menyendu, menyisakan kaca yang berkilau sepenuh bola matanya. Ditahannya air mata agar tak meleleh ke pipinya. Dilhatnya dengan mata kepala sendiri, begitu beratnya perjuangan rakyat yang kini terus melangkah, menyelusup hutan demi hutan.
 
Namun, begitu melihat wajah-wajah saudaranya di pelosok, senyum puas begitu tersimpul.  Duka dan lelah seakan menguap lembut, ke atas langit menghilang sirna bersama cahaya rembulan. Teringat berabad silam, ketika sang Nabi tiba di Madinah, bersua dengan orang-orang yang seakan telah lama saling mengenal akrab. “Pengalaman amat berharga dari penderitaan menempuh puluhan desa di pedalaman Banyumas, Kelud, dan Yogyakarta, bahwa di mana-mana rakyat kita itu cuma satu: Mereka adalah warga Negara yang sangat setia kepada Republik Indonesia.
 
“Pada umumnya rakyat yang sangat miskin ternyata amat kaya dengan budi pekerti yang mulia, setia melaksanakan ajaran agama (Islam), tanpa berpikir aneh-aneh untu menghindari kewajiban yang ditetapkan agama. Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu prajurit pengungsi dari kota, entah mereka terima dengan tangan dan hati terbuka tanpa purba sangka. Semuanya ditampung di rumah mereka seperti keluarga sendiri, disediakan makan minum, dijaga keselamatannya. Padahal sebelum itu masing-masing mereka tidak saling kenal.
 
“Inilah faktor utama kemenangan rakyat Indonesia dalam perang menghadapi Belanda. Rakyat yang lemah lagi menderita justru menjadi faktor kemenangan perjuangan kemerdekaan, pembuka rahmat dan pertolongan Allah. Alangakah tepat sabda nabi yang mengatakan: Sesungguhnya Allah memberi pertolongan kepada umat (bangsa) ini lantaran bantuan yang diberikan oleh golongan mereka yang lemah, dengan doa mereka, shalat mereka dan keikhlasan mereka.” Kenang Saifuddin Zuhri (Berangkat Dari Pesantren: 2013)
 
Ada tangis haru ketika melihat para junior-juniornya di pesantren mengangkat hasil senjata rampasan perang, hingga membopong bambu-bambu yang terhunus. “Sekarang ini, pesantren-pesantren berubah menjadi markas-markas Hizbullah-Sabilillah. Santri-santri tidak mengaji fiqih, tafsir, hadits, dan sebagainya, tetapi sibuk belajar menggunakan pistol, bedil, dan melempar granat tangan, serta senjata modern lain,” masih terkenang.
 
Wajah Saifuddin Zuhri, seorang aktivis NU yang juga wartawan tertunduk malu, ketika para Ulama pun ‘turun gunung’ untuk berperang, membesarkan semangat para pejuang. Dengan secercah harapan, memelihara kemerdekaan negeri ini. Ditatapnya sosok-sosok sekaliber tokoh Nasional pun yang keluar masuk hutan seperti Dr. Soekiman W, KH Wahid Hasyim, Prawoto Mangkusasmito, Mr. Wongsonegoro, dan lainnya.
 
“Tak akan lama lagi,” gumannya optimis berkali-kali sambil mendengar kabar bahwa dunia internasional mengalirkan dukungan untuk rakyat Indonesia. Berduyun-duyun dunia Islam memasang badan, saat Negara-negara Barat apriori membela Belanda. Mesir, Syria, hingga Palestina yang terus bersama. Tunggu sebentar..Palestina? ya Palestina? Mendengar nama Palestina tiba-tiba air  mukanya berubah.
 
Bulir lembut itu tak terasa berkumpul di sudut matanya, menyisakan degup yang tiba-tiba saja begitu kencang menembus kalbu. Tak kuasa menahan tangis, air mata itu kian membelai lembut, tumpah ruah bak sungai mengalir sepanjang pipi,  terkenang berapa waktu silam ketika negeri ini masih baru saja merdeka, suara Palestina begitu lantang membela bangsa ini. Mungkin, suara orang-orang lemah di sana jua yang menjadi penguat bangsa Ini memperoleh rahmatnya yang diabadikan dalam pembukaan Undang-undang Dasar, Piagam Jakarta.
 
Palestina? Bagaimana nasibmu kini sepenggal 1947? Aku dengar kini semenit dua, bergegas Amerika dan lainnya mengakui sebuah negara baru bernama Israel, yang jauh berbeda dengan kami, yang harus meninggalkan kampung merelakan ayah, ibu, adik, hingga semua kami korbankan termasuk harta dan jiwa ini, pengakuan itu tak kunjung datang, kecuali darimu, Palestina.
 
Bangsa ini telah mengajarkan, bahwa saat Republik masih seumur jagung, berjuta doa dan cita naik ke langit, semua berdegup akan cita Palestina merdeka, walau ‘hanya’ secuplik Qunut Nazilah. Dengan penuh harap, doa-doa di pelosok hutan itu terlafal setahun penuh. “Sudah hampir setahun, Umat Islam Indonesia melakukan Qunut Nazilah dalam tap-tiap shalatnya 5 kali sehari. Suatu doa yang lazim dilakukan dalam sebahyang bila sedang menghadapi suatu kepentingan dan bencana.” Kata Saifuddin Zuhri.
 
“Sukar untuk dilukiskan betapa penanggungan Rakyat Indonesia dewasa itu mereka menderita lahir batin, namun sebagai pejuang, mereka bersyukur karena Allah melimpahkan ketabahan dalam menderita. Meskipun mereka sedang berjuang habis-habisan menghadapi musuh-musuh dari luar dan musuh dari dalam yang sangat berat, namun mereka ikut merasakan penderitaan saudara-saudaranya bangsa Arab yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan Palestina, sebagian tanah airnya, dari kaum pendatang yang datang merampas tanah tumpah darahnya, suatu bangsa yang menamakan dirinya Israel.” Lirihnya, sambil mengusap pipinya yang tiba-tiba saja basah. (Guruku Orang-orang Pesantren: 1974)
 
Doa, senjatanya umat Islam, untaian doa yang tulus untuk Palestina dititipkan pada Allah Ta’ala ”Qunut nazilah itu sebagai pernyataan protes dan semangat sependeritaan bangsa Indonesia terhadap bangsa Arab sejak PBB pada tahun 1947 meresmikan berdirinya suatu Negara baru yang menamakan dirinya Israel dengan dua bidan raksasa yaitu Amerika dan Soviet Rusia. Rakyat Indonesia mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar meperjuangkan supaya Dewan Keamanan PBB menunjau keputsannya tentang beridirnya Israel.”
 
Dalam lubuk hatinya, ingin sekali memberikan lebih, tak hanya doa. Dipupuknya harapan itu hingga kelak, ketika Saifuddin Zuhri menjadi Menteri Agama era Bung Karno, dibawanya uang amanat bangsa, mewakili Soekarno membopong 18.000 US$ diberikan kepada Menteri Urusan Wakaf Yordania. Tak sudi, Indonesia hingga kini, menjalin hubungan dengan Israel, sebelum Palestina merdeka, pesan Bung Karno begitu terngiang.
 
Dalam segala keterbatasan, para perintis bangsa ini, masih menyediakan ruang kemanusiaan dan perjuangan untuk Palestina, bahkan  jauh sebelum Indonesia merdeka, Saifuddin Zuhri mengenang. “Sejak bangsa Arab berjuang untuk kemerdekanan Palestina, Pengurus Besar Nahdatul Ulama pada tanggal 12 November 1938, telah meminta seluruh partai dan organisasi umat Islam di Indonesia kepada Pucuk Pimpinan Warmusi (wartawan muslimin Indonesia) di Medan, agar umat Islam memberikan sokongan materiil dan moril kepada pejuang-pejuang Palestina dalam memerdekaan tanah air mereka.” Kenang Saifuddin Zuhri, yang kini anaknya Lukman Hakim Saifuddin menjejak ayahnya menjadi Menteri Agama jua. (Guruku Orang-orang Pesantren: 1974)
 
Saat ide kemerdekaan terus diperjuangkan, dari idealita hingga angkat senjata, jauh sebelum negeri ini memperoleh kemerdekaannya, suara-suara untuk Palestina begitu terngiang. “ PBNU Juga menganjurkan Qunut Nazilah untuk dibacakan tiap-tiap  sembahyang 5 kali sehari .Berhubung dengan anjuran Qunut Nazilah 27 januari 1939, KH Machfudz Shiddiq Ketua PB NU dipanggil oleh Hoofdparket Belanda di Jakarta,” kenang Saifuddin Zuhri.
 
Walau dipanggil dan ditekan Belanda,  Pendiri NU, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dengan teguh dan tetap pada pendirianya. “Qunut Nazilah..semata-mata karena kewajiban solidaritas sesama umat Islam,” kata pendiri NU saat membuka Muktamar NU sepenggal 1939. Solidaritas yang dibidani NU dan MIAI (Gabungan ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, SI, dll) mendapat dukungan dari seorang tokoh bangsa, H. Agus Salim.
 
“Adapun oleh PBNU soal Palestina itu dipanangya satu perkara yang sangat besar kepentingan untuk alam Islam seluruhnya dan umat Islam segenapnya, dalam pada itu, bangsa Arab di Palestina mempertahankan hak bangsanya dan keyakinan Islam tentang Palestina, dan Bayt Al Maqdis,” (Pandji Islam:1939)
 
Begitu pilu, H. Agus Salim mengisahkan Palestina, terkenang puteranya yang gugur terkena pelor. “Tidak sunyi berita pertempurannya tia-tiap hari. Sudah beribu orang menjadi korban, menjadi syahid mati terbunuh di dalam jihadnya atau kena bom udara atau tembak balasan Inggris. Beribu-ribu pula orangnya, orang tua, perempuan dan anak-anak beratus-ratus janda dan yatim hidup sengsara di dalam negeri yang menderitakan bencana perang bertahun-tahun.” (H. Agus Salim, Pandji Islam: 1939)
 
Para pemuda pun tun turut bersuara, menyerukan kemerdekaan Palestina. Para pemuda yang kelak menjadi para pendiri Bangsa yang tergabung dalam Jong Islamieten Bond (JIB) seperti: Natsir, Kasman Singodimedjo, Samsurizal dan lainnya bersama mentornya H. Agus Salim konsisten akan mendukung perjuangan bangsa Palestina.
 
“Memang, seharusnyalah umat Islam Indonesia mempersatukan pula suaranya berkenaan dengan hal itu dan menyebuahkan daya dan upaya, jika ada yang dapat dilakukan, untuk membuktikan persatuan hatinya dan pengakuannya akan pertalian dengan umat Islam tiap-tiap bangsa Islam di seluruh dunia.” Tegas H. Agus Salim menguatkan tekad Saifuddin Zuhri.
 
Suara-suara solidaritas terus mengalir, hingga pada tahun 1953-1955, dalam persiapan Konferensi Asia Afrika (KAA), Presiden Soekarno menentang keras jika Israel jika dilibatkan dalam konferensi yang bertemakan antikolonialisme tersebut. Pada Konferensi KAA tahun 1955, di Gedung Merdeka, Soekarno menegaskan kembali untuk memperjuangkan Negara-negara yang belum merdeka termasuk Palestina.
 
Keteguhan Soekarno berlanjut, dalam aksi-aksi solidaritas kemerdekaan Palestina seperti mengirimkan bantuan, hingga tahun 1962, Soekarno menolak keterlibatan Israel dalam Asian Games. “..Untuk Israel, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel” tegas Soekarno kepada wartawan.
 
Dulu, Bapak-bapak pendiri bangsa ini, dalam segala keterbatasannya telah mengajarkan kita arti sebuah kemanusiaan, solidaritas, ukhuwah, kebersamaan, yang tak lekang oleh jarak dan waktu, bahwa kemerdekaan Palestina adalah amanat bangsa Indonesia.
 
Di lorong-lorong hutan itu, doa-doa bertautan, hati-hati terikat dalam rabithah  sesungguhnya, suara-suara perjuangan itu mendobrak kalbu. Dalam ruang sunyi dan sulit, bangsa ini selalu mengajarkan akan anti kolonialisme yang menggema, walau negeri ini baru seumur jagung.
 
Kini, berpuluh tahun sudah, suara-suara perjuangan dan degup cita para pendiri Bangsa Indonesia akan kemerdekaan Palestina seakan terkalahkan oleh gemerlap pekerjaan tanpa jeda yang terus berdetak. Seakan suara-suara solidaritas itu menjadi suara minor yang menguap di tengah purnama rembulan yang semakin temaram.
 
Palestina, sebuah amanat para pendiri bangsa yang diwariskan, mengisi ruang hati, agar selalu ingat saudaranya nun jauh di sana, menyisakan pertanyaan, apakah kita akan melanjutkan perjuangan bapak-bapak pendiri bangsa ini?
 
“Bangsa Indonesia yang sedang mengalami ancaman mengenangkan tragedi Palestina. Bahwa jikalau Yahudi memperoleh kemenangan karena bayonet ditangannya, demikian pula halnya dengan Belanda, maka yakinlah suatu ketika bila bayonet telah menjadi tumpul karena datangnya keadilan dan pertolongann Allah, maka bayonet itu tak akan bisa berbicara lagi kemenangan berganti dengan kekalahan..Insya Allah.” Tutup Saifuddin Zuhri dalam doanya, tak kuasa menahan tangis hingga suatu saat saat pertolongan Allah itu tiba, insya Allah.
 
(Tulisan ini hanya sepenggal kisah, cerita pendek yang tercecer dalam kenangan Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang Pesanren, Berangkat dari Pesantren, juga 100 Tahun H. Agus Salim)
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Jejak Islam untuk Bangsa
- Dilihat 75 Kali
Berita Terkait

0 Comments