Mutiara Hikmah /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 17/05/2017 11:15 WIB

Umat Islam dan Media Massa dalam Pergulatan Wacana

media news
media news
Oleh : Beggy Rizkiansyah, Pegiat Komunitas Kultura
 
Belakangan ini semakin terasa tekanan yang begitu hebat terhadap umat Islam di Indonesia. Baik tekanan yang mengarah pada pembunuhan orang-orang yang belum dibuktikan kesalahannya oleh aparat negara, maupun tekanan massif dengan pembentukan opini yang menggusur nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Opini yang menyerang nilai-nilai Islam itu dibentuk oleh berbagai aspek seperti, pemelintiran sejarah, sistem pendidikan serta media massa. Kontrol terhadap beberapa aspek ini memudahkan untuk membuat wacana tertentu seakan menjadi kenyataan. [1].
 
Media massa adalah salah satu corong pembentukan wacana yang memiliki  pengaruh sangat dahsyat. Media massa menjadi kekuatan untuk menyebarkan gagasan, bahkan dapat menentukan apa yang baik dan buruk. [2] Pengaruhnya mampu untuk mendefinisikan nilai-nilai tertentu sehingga diterima dan diyakini kebenarannya dalam masyarakat. [3:] Ia bahkan dapat memberi legitimasi untuk gagasan tertentu dan mendeligitimasi gagasan yang dianggapnya menyimpang [4:]
 
Dengan pengaruhnya yang luar biasa itu, maka sangat naif kalau membayangkan media sebagai pihak yang netral. Media massa memiliki ideologi masing-masing. Berita yang dibentuk oleh media massa bukan berasal dari ruang yang hampa, tapi diproduksi oleh ideologi tertentu.[5:] Begitu besarnya pengaruh ideologi dalam media massa sehingga ideologi berperan menampilkan pesan dan realitas hasil konstruksi tampak seperti nyata, alami dan benar. [6] Melalui bahasa dan kata-kata, ideologi menjelma menjadi “realitas” yang harus dipahami oleh khalayak. [7]
 
Realitas yang kita anggap hadir melalui berita, nyatanya adalah realitas yang telah dikonstruksikan sedemikian rupa oleh media. Lewat berbagai instrumen yang dimilikinya, media ikut membentuk realitas yang tersaji dalam pemberitaan.  Media tentu saja memilih, realitas apa yang diambil dan mana yang dicampakkan. Ia bukan saja memilih peristiwa dan menentukan sumber berita, tetapi juga berperan mendefinisikan aktor dan peristiwanya. Lewat bahasa, ia dapat menyebut, misalnya, demonstran sebagai pahlawan atau perusuh. Semua buah konstruksi tersebut membuat khalayak harus memahami dalam kacamata tertentu yang telah digariskan oleh media. [8].
 
Media massa adalah kumpulan manusia, dengan jurnalis sebagai ujung tombaknya. Maka ketika jurnalis pertama kali bersentuhan dengan fakta dilapangan, ia bukanlah perekam pasif, tetapi terjadi interaksi antara dirinya, dengan realitas. Bahkan menurut Mark Fisherman, “News story, if they reflect anything, reflect the practice of the workers in the organizations that produce news.”[9] Wartawan hidup dalam institusi media dengan seperangkat aturan dan nilai-nilai tertentu. Hal itu memungkinkan bagi sebuah media mengontrol wartawan untuk melihat peristiwa dalam kemasan tertentu. Bahkan dapat dikatakan di ruang redaksi media condong menjadi kediktatoran, dalam arti seseorang yang berada dalam komando teratas  yang membuat keputusan terakhir.[10]
 
Kenyatannya, memang media tidak (akan) netral. Lalu dimanakah letaknya objektivitas media? Objektivitas media bukanlah melihat tanpa sudut pandang tertentu, atau memberitakan tanpa konstruksi tertentu. Objektivitas media menurut Gaye Tuchmann adalah, “ritual” proses pembentukan dan produksi berita. Ada prosedur-prosedur yang harus dilakukan wartawan agar apa yang ditulis bisa disebut objektif. [11] Antara lain, menampilkan semua kemungkinan konflik yang muncul, menampilkan fakta-fakta pendukung, pemakaian kutipan pendapat, dan menyampaikan informasi dalam tata urutan tertentu. [12] Dengan menempuh prosedur seperti ini, media dapat mempertanggungjawabkan, bahwa mereka tidak berbohong. Karena pada dasarmya, wartawan hanya diminta objektif dalam metodenya. Objektivitas mengembangkan sebuah metode untuk secara konsisten menguji informasi dengan pendekatan transparan mencapai bukti-bukti-dengan tepat.[13] Bagi seorang jurnalis muslim, objektivitas bersandar pada nilai-nilai yang diberikan oleh Allah melalui Quran dan Sunnah. [14 ]
 
Celakanya, pengaruh media massa saat ini didominasi bukan oleh media yang memperjuangkan nilai-nilai Islam, namun dijejali dengan media berbasis sekuler. Berapa banyak harian Islam yang bisa disebut di Indonesia? Berapa jari yang bisa dihitung ketika menyebut televisi Islami? Di layar kaca, materi Islam hanya singgah saat orang masih terlelap, dan semarak ketika bulan ramadhan tiba. Itu pun belum jelas, yang menyampaikan pelawak atau dai. Maka ketika berbagai opini yang bertentangan dengan Islam, umat dibuat kebingungan. Begitu massif dan intens opini tersebut muncul, sehingga wacana kontra nilai-nilai Islam sedikit demi sedikit terbentuk memenuhi benak umat.
 
Penghasutan wacana yang begitu membahana, mulai dari liberalisasi agama, kampanye anti syariat Islam, sekularisasi hingga pengaburan sejarah mulai menjadi makanan sehari-hari umat Islam. Kita terpaksa menelan yang tak baik untuk kita. Hal ini, merupakan buah dari penguasaan wacana yang begitu sistematis dan terarah dari pihak-pihak pengusung nilai-nilai sekular dan liberal.  Bahkan menurut Edward Said,“Media mengatakan apa yang mereka harapkan tentang Islam, karena mereka mampu.” [15]
 
Dahsyatnya penguasaan wacana rusak  ini, merupakan buah dari jalinan intim media sekuler dengan akademisi, pemerintah, bahkan donatur (pengusaha). Kita tahu bagaimana media seringkali mengutip pendapat seorang akademisi (ahli) tertentu, untuk menguatkan sudut pandangnya. Tentu saja mereka hanya memuat pendapat ahli atau akademisi tadi yang sepaham dengan media tersebut. Cara ini memang efektif untuk memberikan legitimasi terhadap wacana tertentu. Sebagai contoh, ketika media berbicara kerukunan beragama di masyarakat, maka seringkali yang dikutip sumber-sumber dari LSM pengasong pluralisme agama. Kutipan narasumber seperti ini menjadi semacam legitimasi. Legitimasi ini juga seringkali diperkuat dengan dalih-dalih yuridis. Maka tidak heran ketika ada wacana anti syariat Islam, dikutip pula pendapat ahli hukum, yang membentur-benturkan syariat dengan Pancasila atau UUD ‘45.
 
Ahli atau akademisi tadi biasanya tergabung dalam sebuah lembaga atau LSM yang di danai oleh pengusaha tertentu yang memiliki visi-visi tertentu pula.  Ada pula, beberapa lembaga turut membiayai akademisi untuk menuntut ilmu lanjutan di universitas-universitas barat dengan studi Islam. Disinilah jejaring itu terjalin sejak dini. Jaringan ini semakin berkembang ketika aktivis atau akademisi yang dahulu bercokol di LSM semacam tadi, kemudian menduduki kursi legislatif, dan menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan. Lingkaran ‘setan’ ini berputar secara berkesinambungan, menguatkan satu sama lain, dan dibangun sejak lama.
 
Seringkali pula media kita dapati ‘berselingkuh’ dengan pemerintah. Hal ini dapat kita lihat dalam kasus pemberitaan mengenai kasus ‘terorisme’. Ketika ada orang-orang yang ditembak sewenang-wenang, tanpa diadili oleh aparat, maka, media hanya mengutip pendapat pihak kepolisian saja. Kepolisian dalam hal ini dianggap hanya satu-satunya pihak yang memiliki otoritas untuk berbicara. Dan saat yang bersamaan media menafikan pihak lain, seperti keluarga korban. Celakanya, kepolisian, tidak cukup hanya menjadi sumber, tetapi juga mendefinisikan realitas dan kelompok lain. Polisi menjelaskan realitas kasus ‘terorisme’ itu secara keseluruhan, mulai dari motif, pelaku, hingga targetnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Stuart Hall dalam Ideology and Communication, “…media are frequently not the primary definers, of news event at all; but their structured realtionship to power has the effect of making them play a crucial but secondary role in reproducing the definitions of those who have previliged access, as right to the media as accridited sources.” [16]
 
Pembentukan wacana miring mengenai Islam oleh media, dengan cara yang beragam memang dapat kita telusuri melalui pemberitaan-pemberitaan yang ada. Seperti misalnya dalam kasus razia miras oleh ormas tertentu. Media hanya memberitakan hal itu sebagai perilaku brutal atau premanisme. Tapi tidak melihat rusaknya masyarakat akibat miras tersebut. Atau ketika terjadi pembantaian umat Islam di suatu wilayah, media cenderung menggunakan kata bentrok, kerusuhan dan sebagainya. Penggunaan kata- kata memang mencerminkan sudut pandang tertentu. Saat memberitakan demonstrasi menentang keberadaan Ahmadiyah, maka media sekuler memakai kata seperti anarkisme atau intoleran. Metode misrepresentasi ini memang ditujukan untuk memberikan kesan tidak baik dan menghilangkan realitas tertentu, seperti penodaan terhadap ajaran Islam yang ditimbulkan oleh ajaran Ahmadiyah. [17]
 
Framing pemberitaan media sekuler juga acapkali menggiring pembaca pada ingatan tertentu. Gambaran tentang orang, kelompok, atau wacana tertentu selalu disesuaikan dengan ikon yang sudah tertanam dalam benak publik. Ikon-ikon itu diciptakan dalam pemberitaan sehingga membatasi pandangan khalayak. Pemberitaan mengenai syariat Islam dikenangkan media sebagai ‘pemberontakan’ NII. Atau ormas tertentu diingatkan sebagai ormas anarkis. Betapa pun misalnya, ormas tersebut sedang melakukan bantuan untuk korban bencana alam. W. Lance Bennet dan Regina G. Lawrence menyebutnya sebagai ikon berita (News Icon). [18] Penciptaan ikon ini juga turut dicitrakan melalui foto atau gambar. Sebuah ikon, menurut W. Lance Bennet dan Regina G. Lawrence, timbul ketika berita diarahkan pada peristiwa dramatik. Bahkan gambar atau foto tersebut seringkali ditampilkan walaupun tak ada hubungannya dengan peristiwa tertentu. Menurut W. Lance Bennet dan Regina G. Lawrence, “Icons are more than just vivid, memorable images; feed from their original contexts, they enter the narrative streams of subsequent, disaparate, and often unconnected events.” Hal seperti ini dapat kita temukan ketika terdapat berita mengenai ormas tertentu, tetapi foto yang ditampilkan selalu saja foto ormas tersebut sedang bentrok. Padahal itu adalah sebuah peristiwa yang lampau. [19]
 
Kekuatan media melalui framing pemberitaan melangkah lebih jauh.Framing bisa berkaitan dengan opini publik. Ketika sebuah isu tertentu dikemas dengan bingkai tertentu, bisa mengakibatkan pemahaman yang berbeda atas suatu isu. [20]. Cara yang ditempuh adalah dengan mengupayakan agar khalayak memiliki pandangan yang sama atas sebuah isu. Ditandai dengan menciptakan masalah bersama, musuh bersama, dan pahlawan bersama. Dengan itu khalayak bisa digerakkan dan dimobilisasi. Kita ingat ketika terjadi bentrok di monas antara sebuah ormas Islam dengan gerakan yang dinamakan Aliansi untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas. Isu yang ditiupkan adalah masalah kebebasan beragama secara luas. Walaupun akar sebenarnya adalah eksistensi ajaran penoda agama Islam, yaitu Ahmadiyah. Kemudian diciptakan musuh bersama yang menghalangi kebebasan beragama di Indonesia. Diciptakanlah pahlawan, yaitu para Aktivis AKKBB yang mengalami luka. Wacana ini kemudian bergulir lebih jauh, sehingga mendapat dukungan khalayak dan legitimasi pemerintah untuk menangkapi beberapa tokoh ormas tersebut. [21]
 
Kenyataannya, walaupun pengaruh media yang begitu besar, media tidak begitu saja berdiri sendiri. Pembaca memiliki peranan yang penting. Ketika berita dikonstruksi, media tetap mempertimbangkan segmentasi pembaca, kelas sosial, kelompok umur dan karakteristik pembacanya. Karena pada dasarnya berita hadir bukan dari ruang hampa. Ia hadir untuk menyapa dan ‘berdialog’ dengan pembaca. Sapaan Anda, Kami, atau Kita, berusaha untuk menempatkan pembaca dalam posisi tertentu. Kehadiran pembaca pada akhirnya untuk medapat dukungan dan meyakinkan pembaca. Menurut Eriyanto, “Pembaca dan teks secara bersama-sama mempunyai andil yang sama dalam memproduksi pemaknaan, dan hubungan itu menempatkan seseorang sebagai satu bagian besar dari hubungannya dengan sistem tata nilai yang lebih besar dimana dia hidup dalam masyarakat. Pada titik inilah ideologi bekerja.” [22]
 
Disinilah kemudian pentingnya kita, umat Islam sebagai pembaca menerapkan Islam sebagai ‘ideologi.’[23] Alm. M. Natsir menyebut Islam sebagai ideologi, sistem perikehidupan. Dapat pula kita sebut sebagai pandangan hidup. Dengan menerapkan Islam sebagai pandangan hidup, maka umat sebagai pembaca akan membentengi diri dengan sendirinya dari pengaruh opini oleh media. Umat sebagai pembaca akan memakai kacamata Islam ketika melihat realitas yang disajikan media.  John Richard Gee dalam Globalisation of Media Ethics and Localisation of Media Values, menekankan, “Away from the ideological battlegrounds, people are picking and choosing what they want from it. They embrace what they feel is useful to them and reject whatever they suspect is harmful.” [24] Ia juga menambahkan, terlepas apa yang masyarakat harapkan dari media, ketika berbicara mengenai media massa, apa yang pembaca beli merupakan hal yang berbeda. Menurutnya, “They equate desirable qualities with their own standpoint and assess the objectivity, independence and so on of a newspaper according to the extent to which it reflects their own views.”[25] Maka ketika berbicara mengenai wacana yang digelontorkan oleh media sekuler, bagi umat yang sudah menjadikan Islam sebagai pandangan hidup, tak perlu khawatir, karena mereka sudah membentengi diri.
 
Perang penguasaan wacana sesungguhnya, justru terjadi pada umat Islam yang belum menerapkan Islam sebagai pandangan hidup. Mereka yang biasanya menganggap Islam sebagai aspek ritual atau spiritualitas semata. Sehingga pandangan hidup mereka masih bisa dipengaruhi nilai-nilai lain, seperti sekularisme, pluralisme agama atau liberalisasi agama. Mereka adalah massa mengambang yang terombang-ambing dalam wacana tidak Islami. Mereka yang biasanya menafsirkan berita dengan nalar dan pengetahuan yang terbatas mengenai Islam. Menurut Edward Said, pemahaman yang mereka peroleh, terbatas, hanya melalui pendidikan formal.[26] Merekalah yang perlu diselamatkaan pemahamannya dalam peperangan wacana ini. Dan tampaknya, merekalah yang menjadi mayoritas umat Islam di Indonesia ini. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana caranya umat Islam memenangkan peperangan wacana ini?
 
Melihat kondisi umat saat ini, penting untuk mengetahui jenis media massa yang efektif untuk menguasai wacana. Media massa cetak, baik koran atau pun majalah memang masih berkiprah dan berpengaruh saat ini. Namun membentuk media massa cetak untuk menyaingi media-media cetak sekuler raksasa, hanya membuang uang dan tenaga. Fakta menunjukkan bahwa era media massa cetak sudah surut dan mulai beralih pada media digital. Masa depan media massa cetak sesungguhnya tinggal menunggu lonceng kematiannya. Runtuhnya berbagai media massa raksasa di luar negeri seperti Newsweek dan berbondong-bondongnya media massa nasional yang perlahan beralih ke dunia digital, mengamini ajal media massa cetak. Faktor seperti semakin terbatasnya bahan baku kertas, ongkos produksi yang tinggi, serta dibutuhkannya saluran distribusi media yang luas, hanya menambah daftar kesulitan yang ada. Sementara media digital adalah masa depan yang terbentang luas.
 
Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2012 sebanyak 63 juta orang atau hampir 24% jumlah penduduk Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2015, Indonesia akan memiliki 139 juta pengguna internet. Dari jumlah 63 juta orang pada tahun 2012, 64, 2% diantaranya berusia 12-34 tahun.[27] 48 juta orang menggunakan Facebook dan 29 juta orang menggunakanTwitter.[28] Dominannya kaum muda yang menggunakan internet menandakan masa depan penduduk Indonesia akan beralih ke media massa digital. Internet saat ini juga telah mengubah kebiasaan kita sehari-hari dalam berbagi dan menyerap informasi. Mengubah laku kita dalam menerima informasi dan berkomunikasi.[29] Menggeser kebiasaan kita. Jejaring social, portal berita online perlahan mengambil porsi dalam berbagi dan menyerap informasi. Efektivitas penyebaran informasi dalam dunia digital (internet) memang jauh lebih dahsyat ketimbang media massa cetak. Dunia seakan menjadi rata. Semua bisa memperoleh dan menyebarkan informasi dalam saat yang bersamaan. Penyebaran informasinya menghancurkan batas-batas geografis. Menghantam sekat-sekat budaya dan kebiasaan. [30]
 
Bagi sebagian umat Islam hal ini dimanfaatkan dengan menjamurnya portal berita Islam. Kemudahan mendirikan media massa digital mempercepat pertumbuhan media Islam. Namun kualitas pemberitaan, sumber yang valid, verifikasi berita serta pengemasan berita menjadi tantangan media massa islam digital agar bisa disimak berbagai segmentasi pembaca. Masih sering kita temukan media Islam online menyajikan berita yang tak jelas sumbernya dan akhirnya diketahui hanya hoax. Pembaca yang kritis lama kelamaan akan menanggalkan kepercayaannya dan meninggalkan media ini. Namun situasi yang lebih menarik terjadi pada dunia bernama jejaring sosial. Di sinilah muncul sebuah fenomena baru gerakan Islam di dunia maya. Sebuah gerakan yang dapat dibandingkan dengan fenomenaglobal activism.
 
Global activism dikenal sebagai gerakan yang mengatur melalui internet dan bereaksi secara cepat pada ancaman terhadap isu hak asasi manusia atau lingkungan di belahan bumi mana pun. Gerakan ini juga tidak terorganisir secara kaku dan hierarkis, serta secara geografis terpencar.Global activism terkenal akan gerakannya yang mendukung demonstrasi menolak WTO di Seattle pada tahun 1999. [31]
 
Sesungguhnya fenomena serupa global activism juga terlihat pada sebuah gerakan pemuda-pemudi Islam di dunia maya beberapa tahun belakangan ini. Gerakan bernama #IndonesiaTanpaJIL pantas kita cermati. Gerakan ini awalnya bersifat spontan, bukan bagian dari sebuah organisasi,  bahkan bersifat lintas harakah. Ibarat bola salju, gerakan ini  awalnya hanya segelintir, namun bergulir, menyatu dan semakin membesar karena musuh yang sama.
 
W. Lence Bennet, mengutip Gerlach dan Hines (1968) mengidentifikasi gerakan semacam ini dengan prinsip SPIN (Segmented, Polycentric, Integrated, Networks). Segmentation yang berarti gerakan ini dengan banyak segemen, melibatkan batasan yang cair antar kelompok, grup-grup yang informal, bahkan individu yang berbeda-beda, tetapi kelak akan dapat dikordinasikan. Polycentric dijelaskan sebagai kehadiran beragam pusat yang saling berkordinasi. Gerlach (2001) kemudian menjelaskan, gerakan SPIN ini tidak menggunakan kepemimpinan yang formal.  PrinsipIntegration berarti  cenderung kepada struktur horizontal dari aktivitas yang menyebar. Prinsip integrasi ini menyatu karena ikatan personal, adanya musuh yang sama, dan kemudahan mendapatkan informasi di internet. Ketrerbukaan menjadi kata kunci yang melintasi berbagai ideologi (atauharakah dalam kasus #IndonesiaTanpaJIL). Networks (jejaring), menjadi kunci dari segmented, polycentric, dan integration. Bentuk organisasi formal atau yang hirarkis tidak akan membatasi gerakan ini. Gerakan ini membentuk jejaring, dapat kembali menyatu pada isu-isu yang lain.[32]  Prinsip SPIN ini juga tampaknya dapat kita temukan pada gerakan #IndonesiaTanpaJIL.
 
#IndonesiaTanpaJIL menjadi gerakan yang massif, terbuka, dan pada akhirnya mampu untuk membentuk suatu wacana yang mampu memberikan nilai-nilai postif pada umat Islam. Gerakan ini pada akhirnya mampu untuk beropini pada isu-isu lain, seperti perlawanan terhadap penyebaran minuman keras. Dan yang paling terpenting adalah, gerakan #indonesiaTanpaJIL mampu untuk merangkul, menyatukan, berbicara dengan bahasa anak muda, dan hidup dalam dunia mereka. Padahal isu yang dibahas pada gerakan ini bukan isu yang mudah dan populer. Atas fenomena positif gerakan dunia maya ini, sudah sepatutnya membuka mata umat Islam bahwa penguasaan media di internet (tertutama jejaring sosial) bukan saja mampu untuk menampilkan wacana tertentu, tetapi juga merupakan sebuah bahasa utama generasi mendatang. Dan bagi tiap muslim, sepatutnya sadar bahwa pemakaian jejaring social hendaknya tak sekedar emotional driven (seperti sekedar curhat belaka), namun jugafungtional driven.
 
Pergerakan laju informasi di dunia maya yang deras,  hampir tidak terbendung bagi generasi saat ini dan yang akan datang. Namun semua itu menuntut infrastruktur yang memadai bagi pertumbuhan dan penyebaran internet yang merata di Indonesia. Melihat ketimpangan pembangunan di Indonesia saat ini, sangat mungkin penggunaan internet di Indonesia hanya sebatas tempat-tempat tertentu seperti perkotaan, tanpa menyentuh daerah pedesaan. Di wilayah-wilayah yang belum terjangkau internet ini, televisi masih menjadi raja yang menguasai arus informasi media massa. Bagaimana pun juga, konsumsi atas media televisi masih jauh lebih unggul daripada internet. [33]
 
Televisi sejatinya belum tergantikan kedudukannya oleh internet. Televisi masih menjadi raja dalam ruang keluarga Indonesia. Internet mungkin mulai jadi primadona bagi generasi muda, tetapi bagi generasi orang tua mereka, televisilah yang menyerbu benak mereka dengan gelombang wacana. Fakta bahwa siaran televisI di Indonesia masih cuma-cuma, (kecuali untuk tv kabel), merupakan berkah sekaligus bencana bagi keluarga di Indonesia. Menurut Garin Nugroho, “Televisi adalah urbanisasi kesadaran yang terus menerus terbuka, tidak terbatas, dan mampu mewujudkan dunia ke dalam rumah. Karena itu ia dapat memperkembangkan sekaligus memperlemah pikiran manusia.”[34]
 
Siaran televisi tidak menyeleksi penontonnya. Pria, wanita, kanak-kanak atau dewasa, semua menjadi pemirsanya, tanpa ampun, menerima informasi, terlepas apakah tayangan itu cocok atau tidak. Arus informasi televisi memang begitu deras. Hampir 24 jam tayang membuat televisi menjadi bagian dari keluarga Indonesia. Anak-anak dipaksa untuk menyesuaikan dengan dunia orang dewasa. Suka atau tidak. Baik atau buruk. Ia hadir ke dalam ruang keluarga kita. Saat ini, semua aspek dalam kehidupan menggunakan televisi sebagai medianya. Tak salah ketika Garin Nugroho mengatakan, “Televisi kini telah menjadi meta-medium, sebuah instrumen yang tidak hanya mengarahkan pemirsa akan dunia namun juga pengetahuan pemirsa akan cara mendapatkan pengetahuan.”[35]
 
Bahkan televisi kini dianggap memenuhi kebutuhan individu untuk memberinya, identitas, aspirasi dan inspirasi. Dengan pengaruh televisi yang sangat besar, tak mungkin bagi umat untuk mengesampingkan media ini sebagai senjata untuk berdakwah. Untuk menguasai wacana dalam masyarakat. Namun seringkali, televisi dianggap tak mungkin untuk mengusung nilai-nilai ideal. Satsiun televisi hidup dari pasar. Bernafas dengan iklan. Rating menjadi “tuhan” bagi dunia layar kaca. Akhirnya stasiun televisi menjadi budak bagi nafsu untuk menyajikan informasi secepat-cepatnya dan meraup penonton sebanyak-banyaknya. Televisi adalah dunia pameran perhatian tiap detik. Artinya daya hidup televisi tergantung kemampuan untuk menciptakan pertunjukan yang memikat. Bahkan berita televisi tak lagi ditentukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh faktor di luarnya, seperti ekonomi dan politik. Dengan berbagai rintangan yang mengintai, mungkinkah, hadir stasiun televisi Islami yang bebas dari pengaruh pasar? Yang mampu melepaskan dari belenggu tuhan palsu bernama rating?
 
Investasi sebuah stasiun televisi sangatlah mahal. Sekitar tahun 1993 saja, untuk mendirikan sebuah stasiun televisi, dibutuhkan investasi sekitar 100 milliar. Dengan biaya operasional 5 hingga 10 miliar (dengan nilai saat itu). [36] Sangat sulit untuk kembali modal atau bertahan hidup dengan nilai sebesar itu, tanpa mempehambakan diri pada rating atau selera pasar. Namun faktor penyesuaian konten siaran terhadap iklan hanya akan menggadaikan akidah serta menjual nilai-nilai Islam pada rupiah.
 
Titik terang mulai terlihat ketika ada pihak yang memberikan jalan keluar bagi sebuah stasiun TV Islami yang berdiri kokoh tanpa terhempas rating. Stasiun TV Islami yang mungkin hidup tanpa iklan. Tetapi ia hidup dari kocek umat sendiri. Hidup dari zakat umat Islam di Indonesia. Potensi zakat di Indonesia berkisar 217 triliun rupiah. Namun pada tahun 2012 baru terserap hanya2,73 trilun. [35] Jika saja umat dapat menyisihkan sebagian zakatnya untuk dakwah melalui TV, maka umat akan memiliki sebuah stasiun TV yang terbebas dari rating, dan hidup lantang memperjuangkan nilai-nilai Islam. Sebuah alternatif tayangan, pendidikan serta suara, akan hadir di ruang keluarga hampir setiap rumah di Indonesia. Menyapa dengan cahaya Islam, merangkul keluarga dengan tauhid. Bukan tidak mungkin hal ini dilakukan. Namun hal ini menuntut ego setiap muslim dan kelompoknya untuk bersatu. Menghindari perpecahan. Inilah solusi yang mungkin dilakukan untuk menyuarakan nilai Islam sekaligus aspirasi umat. Terhindar dari propaganda media sekuler, serta menguasai wacana dalam masyarakat.
 
Di masa depan, dengan adanya konvergensi media, internet dan televisi akan menjadi semakin menyatu. [37] Namun selain faktor penguasaan media, sangat mendesak untuk membekali umat dengan pemahaman akan media massa dan lingkupnya (jurnalisme & analisis wacana). Pendidikan jurnalistik perlu diberikan kepada pelajar-pelajar muslim sejak usia muda. Dengan melatih mereka untuk membaca dan menulis secara tekun, akan membawa mereka pada penguasaan wacana. Kelak diharapkan akan lahir jurnalis-jurnalis yang mengusung Islam sebagai pandangan hidup. Yang mampu memilah dan mengecek kebenaran sebuah fakta. Melakukan verifikasi dengan landasan kejujuran. Menurut Walter Lippman, pendidikan jurnalisme harus dijadikan pelajaran tentang pembuktian dan verifikasi sebagai unsur terpentingnya. [38 ]
 
Umat Islam juga perlu membentuk media watch. Lembaga ini akan menjadi garda terdepan dalam melihat perkembangan media massa, menganalisis wacana yang diusung oleh media-media sekuler, menggunakan pisau analaisis wacana dengan perspektif Islam. Bahkan jika diperlukan dapat membongkar ketidakjujuran dalam berita yang dilakukan oleh media massa. Penggunaan dana dari umat, untuk lembaga seperti ini setidaknya mampu membuat media watch ini memainkan perannya lebih leluasa dan bebas dari intervensi.
 
Hanya dengan menguasai media massa, maka umat Islam akan terbendung dari wacana menyimpang yang ditelurkan media-media sekuler. Adalah tindakan sia-sia untuk membenci dan mengutuk media massa. Sebaliknya menjadi media massa adalah tindakan yang mulia. Karena media massa seharusnya menjadi ladang untuk menyeru pada kebaikan dan membasmi kemungkaran. Media massa sudah sepatutnya menjadi corong dakwah untuk kebaikan masyarakat luas.
 
 
Rujukan:
1. Chomsky, Noam. Politik Kuasa Media. Yogyakarta. Pinus Book Publisher. 2006.
2. Eriyanto. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
3. Eriyanto. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
4. Ibid
5. Ibid.
6. Eriyanto. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
7. Ibid.
8. Ibid.
9. Ibid.
10. Kovach, Bill & Tom Rosenstiel. Elemen-elemen Jurnalisme. Institut Studi Arus Informasi dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Jakarta. 2004.
11. Eriyanto. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
12. Ibid.
13. Kovach, Bill & Tom Rosenstiel. Elemen-elemen Jurnalisme. Institut Studi Arus Informasi dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Jakarta. 2004.
14. Al Seini, Sayed. The Islamic Concept of News. The American Journal of Islamic Social Sciences. 3 (2). 1986.
15. Said, Edward W. Covering Islam. Bias Liputan Dunia Barat Atas Dunia Islam. Yogyakarta. Ikon Teralitera. 2002.
16. Eriyanto. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
17. Eriyanto. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
18. Eriyanto. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
19. Eriyanto. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
20. Eriyanto. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
21. Hakim:Penangkapan dan Penahanan Habib Rizieq Sah.www.tempointeraktif.com. Selasa 24 Juni 2008.
22. Eriyanto. Analisis Wacana. Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta. LKiS. 2012.
23. Natsir, Mohammad. Capita Selecta 2. Jakarta. PT Abadi. 2008
24. Gee, John Richard. Globalisation of Media Ethics and Localisation of Media Values.
25. PO
26. Said, Edward W. Covering Islam. Bias Liputan Dunia Barat Atas Dunia Islam. Yogyakarta. Ikon Teralitera. 2002.
27. 2015, Jumlah Pengguna Internet di RI tembus 100 juta.www.vivanews.com. 22 April 2013. Diunduh 16 Mei 2013.
28. Lihat http://allfacebook.com/quintly-january-statistics_b109956diunduh pada 16 Mei 2013 dan http://www.techinasia.com/indonesia-social-jakarta-infographic/diunduh pada 16 Mei 2013.
29. Luthfie, Nukman. Sarapan Baru: Aktivitas Social Media.8 April 2010.http://www.virtual.co.id/blog/online-behavior/sarapan-baru-aktivitas-social-media/ diunduh pada 16 Mei 2013.
30. Friedman, Thomas L. The world is flat. Jakarta. Dian Rakyat. 2006.
31. Bennet, Lance W. New Media Power: The Internet and Global Activism dalam Contesting Media Power, edited by Nick Couldry and James Curran, Rowman and Littlefield. 2003.
32. Ibid.
33. Lihat http://www.marketing.co.id/blog/2013/04/22/tv-masih-dominan-internet-terus-berkembang/ diunduh pada 7 Mei 2013 dan lihat Nielsen Newsletter edisi 15 (31 Maret 2011).
34. Nughroho, Garin. Kekuasaan dan Hiburan. Yogyakarta. Yayasan Bentang Budaya. 1998.
35. Ibid.
36. Ibid.
37. Potensi Zakat Indonesia Baru Terserap Satu Persen.http://www.antaranews.com/berita/371882/potensi-zakat-indonesia-baru-terserap-satu-persen. 29 April 2013. diunduh pada 16 Mei 2013.
38. Kovach, Bill & Tom Rosenstiel. Elemen-elemen Jurnalisme. Institut Studi Arus Informasi dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Jakarta. 2004.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Komunitas Kultura
- Dilihat 602 Kali
Berita Terkait

0 Comments