Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 08/05/2017 06:30 WIB

Tradisi dan Modernisme: Mengurai Benturan

Ilustrasi modernisme
Ilustrasi modernisme
Oleh: Andika Saputra – Pemimpin Redaksi Komunitas-Kultura
 
Belakangan ini tradisi semakin sering dibincangkan seiring isu-isu terkait dengannya diangkat dan menarik perhatian banyak kalangan. Dalam perbincangan mengenai tradisi, paling tidak secara teoritik ilmu budaya terdapat dua kalangan yang mengambil posisi berseberangan, yaitu pihak pengusung tradisi dan pihak penentang tradisi. 
 
Sebenarnya yang dimaksud penentang tradisi secara harfiah, yaitu pihak yang mengambil sikap keluar dari tradisi dan menegaskan posisinya berada di luar tradisi hanya berada dalam ranah pemikiran saja. Sementara dalam realitas keseharian kita dapati pihak penentang tradisi mengambil sikap keluar dari wilayah suatu tradisi dan memasuki wilayah tradisi yang lain. 
 
Tidak bisa dibayangkan dan tidak ditemukan referensinya dalam realitas seorang manusia atau sekelompok manusia dapat hidup di luar tradisi atau dalam sebuah ruang hampa tradisi.
 
Bagi pihak pengusung, tradisi memiliki peran yang sangat sentral berkaitan dengan identitas masyarakat dan perekat anggota masyarakatnya. Bisa dipahami jika segala bentuk penentangan terhadap tradisi tidak saja dianggap ancaman terhadap tradisi, tapi juga ancaman bagi seluruh masyarakat pengusungnya. 
 
Sementara bagi pihak yang berseberangan, tradisi yang tentu saja memiliki hubungan erat dengan masa lalu dianggap tidak lagi relevan dengan semangat zaman kini. Bagi kalangan ini untuk mencapai kondisi masyarakat yang berkemajuan, tradisi mutlak harus ditinggalkan dan digantikan dengan bentuk budaya baharu yang lepas dari nuansa masa lalu. 
 
Belum lagi jika perbincangan tradisi dikaitkan dengan Islam secara khusus, kebanyakannya langsung menolak tradisi secara apriori dengan anggapan segala bentuk tradisi adalah bid’ah, bagaikan penyakit dalam agama yang harus segera disingkirkan atas nama pemurnian maupun pembaharuan.
 
Kini tradisi mendapatkan tantangan terbesarnya dari modernisme yang merupakan paham kebaharuan. Tradisi mulai disudutkan dan disingkirkan seiring merasuknya modernisme ke seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan umat Islam. 
 
Tidak bisa dihindari kemunculan modernisme turut pula memunculkan polemik antara pihak pengusung tradisi dengan pengusung modernisme. Benturan yang selain disebabkan paham modernisme itu sendiri juga disebabkan ketidakpahaman dan kesalahpamahan terhadap tradisi, bahkan oleh pengusungnya. Ketidakpahaman dan kesalahpahaman terhadap tradisi salah satunya memunculkan sikap menutup diri kalangan pengusung tradisi terhadap segala bentuk pencapaian baharu yang dianggapnya ancaman bagi tradisi yang dimiliki. 
 
Sikap menutup diri menjadikan tradisi statis yang pada akhirnya mendorong munculnya sikap sebagian pengusung tradisi menjadi penentang tradisi didasari anggapan bahwa tradisi tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman dan perubahan pola kehidupan masyarakat. Lebih luas lagi berkembanglah anggapan bahwa tradisi menjadi penyebab bagi kejumudan, sehingga berpihak pada tradisi berarti berpihak pada kejumudan dan keterbelakangan.
 
Tulisan ini hendak mengurai benturan yang terjadi antara tradisi dan modernisme dengan menjabarkan tradisi secara konseptual kemudian mengkaitkannya dengan modernisme untuk mengetahui anggapan-anggapan modernisme yang memunculkan sikapnya terhadap tradisi dan untuk menunjukkan bahwa tradisi tidaklah statis dan tradisi tidaklah tertutup terhadap kebaharuan. 
 
Diharapkan tradisi di tengah dominasi modernisme tidak lagi dipandang sebagai biang kerok penyebab kejumudan, bahkan secara bijak, konstruktif, dan kreatif dapat memanfaatkan tradisi untuk mencapai kemajuan.
 
*****
 
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah budaya dan tradisi dianggap memiliki pengertian yang sama sehingga penggunaannya seringkali dipertukarkan dengan bebas begitu saja. Berbeda dalam pengkajian ilmu, sebagai simbol ilmu kedua istilah tersebut memiliki takrif yang berbeda yang membatasi penggunaannya dan sebagai bagian dari sistem konseptual yang sama keduanya saling berkaitan erat. Kaitan erat antara budaya dan tradisi dapat diketahui dari takrif tradisi, yaitu budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi yang hingga kini masih diamalkan oleh pengusungnya. Takrif tradisi yang bersandar pada budaya menjadikan antara budaya dan tradisi tidak bisa dipisahkan. Pemisahan antara keduanya menjadikan tradisi sebagai simbol ilmu kehilangan maknanya yang berarti tidak lagi berguna dan dapat digunakan.
 
Berdasarkan takrifnya sebagaimana di atas, sebuah budaya disebut sebagai tradisi jika telah memenuhi dua syarat, yaitu (1) telah mengalami pewarisan; dan (2) masih diamalkan hingga kini oleh pengusungnya. Sebuah budaya yang pernah diwariskan tapi tidak lagi diamalkan oleh pengusungnya atau pewarisannya terhenti dan digantikan dengan wujud budaya yang lain lumrah disebut dengan istilah tradisi masa lalu yang merupakan bagian dari khazanah budaya yang dimiliki suatu masyarakat. Istilah khazanah budaya yang mencakup tradisi masa lalu bagaikan lemari besar yang di dalamnya tersimpan rapi seluruh budaya masyarakat pengusungnya sejak pertama kali mencipta budaya, sehingga dapat dipahami sebuah tradisi yang tidak lagi diwariskan tidak berarti hilang selamanya jika disimpan rapi dalam lemari khazanah budaya, baik dalam bentuk tulisan, prasasti, tradisi oral atau ingatan kolektif pengusungnya yang sewaktu-waktu bisa saja dihadirkan, diamalkan dan diwariskan kembali.
 
Sebagaimana telah disampaikan, sebagai simbol ilmu keduanya memiliki perbedaan. Istilah budaya memiliki konteks pembahasan sinkronik yang dibatasi pada satu lapisan waktu tertentu dengan penekanannya pada penciptaan budaya, akulturasi, asimilasi, maupun Islamisasi budaya. Sementara istilah tradisi memiliki konteks pembahasan diakronik, yaitu beberapa lapisan waktu yang berurutan dengan penekanannya pada pewarisan budaya, tanggapan generasi penerima terhadap budaya yang diwariskan, wujud budaya setelah diwariskan. Memang perbedaan keduanya tidaklah ketat dan dalam perbedaannya pun masih saling kait mengkait. Sebagai contoh, akulturasi yang merupakan lingkup bahasan budaya mengenai perubahan suatu budaya dapat mengambil masa waktu yang panjang hingga beberapa kali pewarisan yang menjadikannya masuk lingkup bahasan tradisi.
 
Dilihat dari unsur pembentuknya, budaya begitu pula tradisi memiliki dua unsur pembentuk, yaitu unsur lahir dan unsur batin, unsur yang terlihat dan unsur yang tak terlihat, unsur fisik dan unsur non fisik. Jika dilihat sebagai lambang, budaya dan tradisi memiliki unsur penanda dan petanda. Penanda merupakan unsur fisik dari lambang sementara petanda merupakan unsur non fisik atau makna yang dilekatkan pada unsur fisiknya. Sebagai contoh yang sederhana, lampu lalu lintas warna merah merupakan penanda yang memiliki makna perintah untuk berhenti. Dengan demikian lampu lalu lintas merupakan budaya dan karena telah dan masih terus diwariskan serta diamalkan hingga kini maka disebut tradisi.
 
Berdasarkan unsur pembentuknya terdapat pula perbedaan antara budaya dan tradisi. Tidak sebagaimana budaya, tradisi memiliki unsur yang terus berkelanjutan (continuity) seiring pewarisannya dan unsur yang mengalami perubahan (change) seiring dengan perubahan zaman, tempat, kebutuhan dan tantangan kehidupan pengusungnya. Unsur continuity tradisi merupakan benang merah yang menghubungkan dan mengikat generasi pencipta budaya dengan generasi-generasi pewarisnya. Tanpa unsur continuity suatu budaya yang diwariskan tidak dapat disebut sebagai tradisi karena berarti telah mengalami perubahan secara keseluruhan. Sementara unsur change menjadikan tradisi dalam pewarisannya tidak statis, dinamis dan selalu baharu yang menuntut generasi penerimanya memiliki daya kreatif dan konstruktif agar dapat menyegarkan kembali tradisinya.
 
Hubungan antara unsur pembentuk tradisi dengan aspek continuity-change tergantung pada kedudukan masing-masing unsur tersebut bagi pengusungnya yang tidak dapat digeneralisir. Sebagai contoh, Roland Barthes dalam memandang Menara Eifel sebagai warisan budaya yang dimiliki masyarakat Prancis beranggapan unsur penandanya merupakan unsur yang terus berkelanjutan (continuity), sementara unsur petandanya merupakan unsur yang mengalami perubahan (change) yang harus senantiasa disegarkan dikarenakan makna Menara Eifel ketika dahulu dibangun tidak lagi relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan kondisi kehidupan masyarakat Prancis seiring zaman. Dengan pembaharuan secara terus menerus unsur petandanya, Menara Eifel mendapatkan alasan dan legitimasi untuk terus berada di tengah masyarakat Prancis. Berlainan dengan pandangan Barthes, terdapat pula suatu masyarakat yang menempatkan unsur petanda tradisi lebih tinggi dari unsur penandanya yang menjadikan seiring pewarisan terjadi perubahan pada wujud fisik tradisi sementara petanda yang melekat di balik wujud fisiknya terus berkelanjutan.
 
*****
 
Modernisme sebagai sebuah paham kebaharuan berdiri di atas keyakinan terhadap gerak sejarah ke depan secara progresif. Selain berorientasi ke arah depan, modernisme memutus hubungan manusia dengan masa lalu yang tidak dapat dilepaskan dari pahitnya pengalaman hidup manusia Barat di tengah hegemoni gereja sebagai institusi agama yang membelenggu seluruh aspek kehidupannya. Modernisme muncul menawarkan kebebasan dan kemajuan berdasarkan nilai-nilai yang sepenuhnya lepas dari masa lalu, nilai-nilai yang sepenuhnya baharu yang menjadikan modernisme bak ‘penyelamat’ bagi masyarakat Barat untuk dapat keluar dari kelamnya masa lalu.
 
Untuk dapat memutus hubungan manusia dengan masa lalu, modernisme melakukan pengosongan lemari khazanah budaya yang dimiliki suatu masyarakat diantaranya dengan cara penghancuran artefak, penjajahan budaya, produksi ilmu yang ditujukan untuk memenuhi kepentingan modernisme, dan penanaman nilai-nilai baharu melalui institusi pendidikan untuk memunculkan generasi yang ahistoris yang tidak lagi mengenal masa lalu bahkan generasi pendahulu. Manusia secara kesejarahan diputus dari masa lalunya dan secara genealogis kultural diputus dari generasi pendahulunya.
 
Berdasarkan penjelasan singkat perihal tradisi dan modernisme di atas, terdapat perbedaan yang jelas antara tradisi dan modernisme. Pertama, modernisme mengambil sikap menolak masa lalu sementara tradisi memiliki ikatan yang kuat dengan masa lalu melalui unsur pembentuknya yang berkelanjutan (continuity). Bagi modernisme, tradisi yang mengikat masa kini dengan masa lalu merupakan hambatan bagi manusia mencapai kemajuan dan nilai-nilai masa lalu yang melekat padanya menghambat manusia mencapai kebebasan.
 
Kedua, modernisme berkeyakinan kemajuan hanya dapat dicapai melalui kebaharuan secara terus menerus sementara tradisi yang dibentuk oleh unsur yang berkelanjutan (continuity) dan unsur yang senantiasa berubah (change) menjadikannya tidak dapat berubah secara keseluruhan. Bagi modernisme, suatu budaya yang telah selesai dicipta hari ini dianggap baharu hanya pada hari ini. Seiring dengan pergantian waktu, budaya tersebut telah menjadi bagian dari masa lalu, tidak lagi baharu dan karenanya harus ditinggalkan demi mencapai kemajuan yang lebih tinggi melalui penciptaan budaya baharu yang tidak memiliki kaitan dengan budaya yang telah lalu.
 
Ketiga, modernisme hanya menerima budaya tanpa pewarisan sebagai konsekuensi dari keyakinannya terhadap kebaharuan yang terus menerus yang berarti penolakan modernisme terhadap tradisi tidak saja penolakannya terhadap wujud tradisi dalam ruang realitas tapi lebih mendasar lagi, yaitu penolakannya terhadap istilah tradisi sebagai simbol ilmu.
 
Keempat, modernisme sebagai paham kebaharuan hanya mengenal makna tunggal bagi unsur petanda budaya yang diciptanya, yaitu kebaharuan, sehingga yang dimaksud modernisme dengan kebaharuan budaya ialah kebaharuan secara terus menerus unsur penandanya. Modernisme mencipta budaya dengan unsur penanda yang terus berubah menjadi semakin baharu dan semakin maju. Keyakinan modernisme yang demikian memunculkan formalisme, yaitu suatu paham tentang penampakan luar yang mencakup bentuk, garis, warna, tekstur dan sebagainya yang pada akhirnya terangkum menjadi rumusan baku estetika formalisme. Jelas tampak sekali perbedaan antara tradisi dengan modernisme pada poin bahasan ini sekaligus menampakkan kontradiksi dalam paham modernisme itu sendiri. Modernisme yang menolak pewarisan budaya pada praktiknya melakukan pewarisan makna tunggal dalam setiap penciptaan budaya yang dilakukan.
 
Kelima, modernisme yang hanya mengenal makna tunggal bagi unsur petanda, yaitu kebaharuan menjadikan budaya yang diciptanya sepenuhnya bersifat keduniawian yang bersifat di sini kekinian tanpa muatan nilai-nilai spiritual. Penolakan modernisme terhadap dimensi spiritual merupakan konsekuensi dari kehadirannya yang disokong oleh sekularisme. Sementara tradisi yang lahir dari rahim agama memuat makna yang mendalam yang merupakan hasil dari pemahaman dan penghayatan generasi pencipta budaya terhadap agama atau keyakinannya. Ikatan tradisi yang begitu kuat dengan agama atau keyakinan menjadikan tradisi memuat nilai-nilai spiritual, tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan duniawi-fisikal. Dari sudut pandang ini, benturan yang terjadi antara tradisi dan modernisme merupakan kelanjutan dari benturan antara agama dan sekularisme.
 
Keenam, sebab menghendaki budaya yang selalu baharu, modernisme melakukan lompatan pada setiap lapisan waktu yang menjadikan setiap lapisan waktu yang dilaluinya tidak saling terkait. Hari ini hanyalah baharu jika dilihat dari hari ini, tapi akan menjadi masa lalu jika dilihat pada esok hari, dengan kata lain antara hari ini dengan hari esok tidak ada kesinambungan selain perubahan. Berbeda dengan tradisi yang melihat waktu secara berkelanjutan dan berurutan yang menggambarkan proses pewarisannya dari generasi ke generasi secara berurutan. Lompatan waktu yang dilakukan modernisme menghasilkan pecahan-pecahan budaya dalam pengertian budaya yang diciptanya pada suatu lapisan waktu tidak memiliki keterkaitan dengan lapisan waktu sebelum dan setelahnya. Sementara tradisi sejak awal telah menghasilkan budaya yang utuh di tangan generasi penciptanya. Perubahan pada salah satu unsur pembentuknya seiring dengan pewarisan tradisi tidak menunjukkan bahwa tradisi tidak utuh, tapi merupakan mekanisme yang dimiliki tradisi untuk menjaga keutuhannya.
 
*****
 
Sebagaimana pemaparan di atas, terdapat 6 poin perbedaan antara tradisi dan modernisme sejauh yang dapat saya pahami. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan perbedaan asas yang menyebabkan tertutupnya ruang kompromi, sehingga terjadinya benturan antara keduanya tidak dapat dielakkan. Walaupun begitu tidak berarti keduanya harus didudukkan secara berhadap-hadapan yang pada titik tertentu memunculkan sikap menutup diri kalangan pengusung tradisi terhadap pencapaian baharu yang telah diraih modernisme.
 
Telah dipaparkan bagaimana tradisi tidaklah anti terhadap kemajuan dan kebaharuan. Tradisi tidaklah statis, bahkan dinamis dan terbuka terhadap pencapaian-pencapaian baharu. Mempertahankan tradisi tidak berarti menjadikan generasi penerimanya pasif, jumud, dan terbelakang. Dengan dipahaminya tradisi secara benar, pengusungnya dapat bersikap kritis terhadap modernisme dengan tidak menutup diri darinya dan tidak pula menjadi bagian darinya. Tradisi melalui mekanisme pembaharuan yang dimilikinya dapat menerima pencapaian positif yang telah diraih modernisme, tentu hal ini menuntut daya kreatif, konstruktif, dan inovatif pengusung tradisi.
 
Saya hendak mengakhiri tulisan ini dengan sebuah perkataan, modernisme bukanlah musuh bagi tradisi, tapi merupakan tantangan yang jika digunakan dengan benar dapat memberi manfaat bagi tradisi dan pada akhirnya peningkatan kualitas kehidupan pengusung tradisi. Dengan menjaga kelangsungan hidup tradisi, lambat tapi pasti modernisme akan meredup dan tersingkir sebab tradisi dapat memanfaatkan modernisme untuk kelangsungannya sementara modernisme tak memiliki keinginan sedikitpun terhadap tradisi.
 
Allahu a’lam bishawab.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Komunitas Kultura
- Dilihat 116 Kali
Berita Terkait

0 Comments