Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 01/05/2017 12:00 WIB

Jilbab, Hijab, dan Muslimah Gagap

Ilustrasi Jilbab
Ilustrasi Jilbab
Oleh: Fathiannisa Cesaria, Pegiat Komunitas Nuun
 
Seorang Muslim semestinya mengenali batas-batas aurat yang harus dijaganya. Bagi laki-laki, menggunakan pakaian pada umumnya, sekadar kaos dan celana panjang misalnya, sudah menutup aurat. 
 
Batas aurat laki-laki memang hanya dari pusar hingga lutut. Sementara untuk perempuan, seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan, sehingga berpakaian sekadar atasan dan bawahan sering disebut belum menutup aurat.
 
Menutup sendiri bermakna memberi batas sehingga tak terlihat isinya dan terjaga keamanannya. Maka menutup aurat yang masih memperlihatkan isi karena bahan penutupnya ketat dan terawang belumlah menutup aurat, kan tidak ketutupan. 
 
Pakaian macam begitu belum bisa menjaga keamanan tubuh dari mata liar manusia dan menjaga pemakainya dalam batin yang senantiasa terpaut kepada Allah Yang Maha Melihat. 
 
Selama aurat terjaga dengan baik, kita boleh-boleh saja menggunakan model dan bahan pakaian serta warna apa saja. Untuk itu berkembanglah berbagai rancangan, gaya, hingga penamaan dalam berpakaian. Termasuk soal selembar kain penutup kepala para muslimah, kerudung. 
 
Sebelum 1980-an, kita masih lebih biasa menggunakan kata kerudung untuk menyebut kain penutup kepala Muslimah.  Di tahun 1984 muncul album qasidah dari Bimbo berjudul Aisyah Adinda Kita yang berkolaborasi dengan Taufiq Ismail sebagai penulis liriknya. Melalui album itu, Taufiq Ismail mulai memopulerkan kata jilbab dalam lirik Aisyah Adinda Kita.  
 
Aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
Angka SMP dan SMA sembilan rata-rata
Pandai mengarang dan organisasi
Mulai Muharam 1401 memakai jilbab menutup rambutnya
Busana muslimah amat pantasnya
 
Kemudian pada tahun 1986, Emha Ainun Nadjib membacakan puisi panjang berjudul Lautan Jilbab pada Pentas Seni Ramadhan di halaman Gelanggang Mahasiswa dan Boulevard UGM, yang dihadiri ribuang orang. Begini penggalan awalnya:
 
Di Padang Mahsyar
Di padang penantian
Di depan pintu gerbang janji keabadian
Aku menyaksikan beribu-ribu jilbab
Berjuta-juta jilbab
Tidak….!
Aku menyaksikan bermilyar-milyar jilbab 
Lautan jilbab lautan putih
 
Dari situ, bersama dengan Jamaah Shalahuddin UGM dipersiapkanlah sebuah pementasan teater dari puisi panjang Emha Ainun Nadjib ini. Pementasan teater puisi Lautan Jilbab ini mulai dilakukan pada 9-10 September 1988 di Gelanggang Mahasiswa UGM. 
 
Pementasan ini berjudul Teatrikalisasi Puisi Lautan Jilbab dan dihadiri tak kurang dari 6000 orang. Guliran pementasan teatrikalisasi puisi ini sampai ke Surabaya, Madiun, Malang, hingga ke Makasar pada 1989. Teater ini menggiring kita pada ketundukan dan ketaatan pada Tuhan sekaligus mengobarkan perlawanan, perjuangan, juga pembudayaan jilbab ke seantero Indonesia. 
 
Pada tahun 1990, qasidah Jilbab Putih yang diciptakan oleh M. Ali Sukarno pun dipopulerkan oleh Nasida Ria.
 
Jilbab, jilbab putih
Lambang kesucian
Lembut hati penuh kasih teguh pendirian
 
Hingga pada tahun yang sama, secara resmi kita memiliki ‘jilbab’ sebagai satu kosakata baru di dalam lema Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di sana, jilbab diartikan sebagai pakaian penutup aurat bagi muslimah, kerudung lebar yang dipakai untuk menutupi kepala dan leher sampai dada.
 
Seluruh rangkaian peristiwa di atas sebetulnya merupakan peristiwa budaya yang lahir dari persoalan politik yang mengemuka saat itu. Sejak 17 Maret 1982 Ditjen Pendidikan dan Menengah mengeluarkan SK 052/C/Kep/D.82 yang mengatur bentuk dan penggunaan seragam sekolah di sekolah-sekolah negeri. 
 
Sudah mafhum bagi kita bahwa Orde Baru menghendaki keadaan negara yang stabil demi menunjang pembangunan dan percepatan kesejahteraan sosial. Hal ini ditandai pula dengan upaya-upaya penyeragaman di berbagai lini kehidupan, termasuk perapihan seragam sekolah. Warna, model, dan bahan harus seragam. Harus sama persis. Ukurannya saja yang boleh berbeda.
 
Pada SK itu, seragam sekolah adalah celana serta kemeja bagi murid laki-laki dan rok selutut serta kemeja bagi perempuan. Tidak ada penutup kepala selain topi. 
 
Artinya, menggunakan seragam yang menutup aurat Muslimah adalah pelanggaran terhadap aturan pemerintah. Hal ini bahkan dinilai sebagai penentangan dan penantangan umat Islam di Indonesia. Mengancam kepentingan bangsa.
 
Meskipun demikian, tidak sedikit pelajar berjilbab yang tetap kukuh pada pendiriannya untuk menutup aurat selama di sekolah. Pemerintah sendiri melalui menteri Noegroho Notosoesanto memberi alternatif untuk membantu kepindahan para pelajar ini ke madrasah. 
 
Katanya, “Mana lebih penting, kerudung atau sekolah?” Beberapa ada yang pindah sekolah, sebagian menanggalkan jilbabnya, tetapi sebagian lainnya memilih bertahan dan berjuang.
 
Para pelajar Muslimah ini tidak hanya memandang jilbab sebagai haknya yang direnggut pemerintah. Lebih penting dari itu, sesungguhnya mereka tengah mendobrak penghalang terhadap kewajiban dirinya untuk taat kepada Allah Yang Maha Suci. 
 
Dari situ, kata jilbab tidak hanya jadi populer dan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia adalah perlawanan kepada kesewenang-wenangan. Kata jilbab bukan hanya soal penuntutan hak. Ia mewakili upaya seorang hamba untuk tunduk-patuh kepada Penguasa Yang Maha Adil Timbangannya.
 
Perjuangan ini menjadi salah satu peristiwa penting di negeri ini dan kita mengenalinya dengan Revolusi Jilbab. Buahnya adalah dikeluarkannya SK Dirjen Dikdasmen No 100/C/Kep/ D/1991 tentang seragam baru yang mengakomodir penggunaan jilbab. 
 
Pembolehan ini memang tidak segera berlangsung mulus. Namun demikian, dapat kita saksikan dari hari ke hari Muslimah berjilbab di Indonesia semakin banyak jumlahnya. Ada lantunan doa terus menerus yang terkabul dalam Aisyah Adinda Kita.
 
Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah, Aisyah adinda kita
 
Akan tetapi, ketimbang jilbab, Aisyah era milenial di Indonesia lebih senang menggunakan istilah hijab sebagai penutup kepala. Sejak kemunculan Hijabers Community pada tahun 2009, istilah hijab pelan-pelan menemani penyebutan jilbab sebagai penutup aurat bagian kepala para Muslimah.
 
Jilbab berasal dari bahasa Arab al jalb yang berarti menjulurkan/memaparkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain, juga jalaba yang berarti menghimpun atau membawa. 
 
Dalam penelaahan sambil lalu pada beberapa rujukan, diketahui bahwa jilbab memiliki beberapa makna. Pertama, kain yang sangat lebar. Kedua, kerudung untuk menutupi kepala hingga dada. Ketiga, pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Keempat, selendang untuk menutupi bagian atas yang dipakai di atas kerudung. Sementara hijab berarti tabir atau penghalang, bisa berupa tirai, papan, pintu, atau kain. Dalam Al Munawir, hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi atau terlarang untuk menggapainya. 
 
Di dalam KBBI sendiri hijab memiliki tiga makna. Pertama, dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain. Kedua, dinding yang membatasi hati manusia dan Allah. Ketiga, dinding yang menghalangi seseorang dari mendapat harta waris. Rupanya hijab memiliki makna yang lebih umum ketimbang jilbab.
 
Dalam perkembangannya, tidak sedikit Muslimah yang agak kebingungan soal sebutan yang benar tentang pakaian yang menutup auratnya. Apakah itu jilbab, hijab, kerudung, khimar, atau ada yang lainnya? 
 
Ada yang bilang bahwa jilbab itu busana yang menutup seluruh aurat perempuan, kain yang menutup bagian kepalanya saja itu kerudung atau hijab. Ada pula yang bilang sebaliknya. Sementara di tempat lain ada yang mengatakan kerudung itu hanya menutup bagian kepala, kalau khimar lebih besar dari kerudung, sementara jilbab lebih besar lagi dari khimar, dan seterusnya, dan seterusnya.
 
Penggunaan kata hijab yang pelan-pelan mendampingi penggunaan istilah jilbab dan kerudung mulai muncul seiring maraknya hijab clothing di Indonesia, baik di pusat perbelanjaan maupun pasar dalam jaringan. Clothing itu istilah yang berasal dari kata bahasa Inggris clothe yang artinya pakaian. 
 
Clothing memiliki makna yang sama dengan garmen yakni industri yang memproduksi pakaian jadi dan perlengkapan pakaian. Jadi hijab clothing adalah industri yang memproduksi pakaian jadi Muslimah dan perlengkapannya. Sebut saja Rabbani, Zoya, Elzatta, Shafira, Hijab Alila, Zizara, Sunrise Label, Syahida Hijab, Sashmira, Zashi, hingga Meccanism.
 
Diakui atau tidak, kata hijab sebagai jilbab mulai dipopulerkan oleh Hijabers Community, kumpulan pelaku bisnis fesyen jilbab di Indonesia. Hijabers Community sendiri merupakan ide dari tiga desainer Muslimah muda: Ria Miranda, Dian Pelangi, dan Jenahara Nasution yang memproduksi hijab clothing dengan merek nama mereka sendiri. 
 
Mereka bertiga membawa busana Muslimah ke dalam pangggung fesyen dan butik-butik mahal. Boleh jadi berkat kehadiran mereka, Jakarta Fashion Week yang disebut sebagai perhelatan fesyen terbesar di Asia pun mulai menghadirkan fashion jilbab eh maksudnya hijab. Mungkin karena istilah hijab lebih populer dalam panggung fesyen internasional, nama ini pun kerap dipakai dalam memperkenalkan karya-karya mereka di dunia internasional.
 
Lalu kita juga mulai mengenal hijab tutorial dan hijab class. Hijab tutorial adalah program bimbingan penggunaan hijab yang ditayangkan dalam jaringan maupun majalah dan buku-buku. Sementara hijab class adalah kelas-kelas informal untuk pelatihan tata cara menggunakan dan menghias hijab. 
 
Kedua sarana ini bertujuan menambah wawasan kita tentang cara-cara berhijab yang keren, modis, dan trendi. Dari sini jilbab pun mulai menyentuh kalangan sosialita dan selebriti yang gemar bergaya. Dunia industri hiburan yang sangat lekat dengan eksploitasi pada tubuh, khususnya perempuan, mulai diisi artis-artis yang menggunakan jilbab. 
 
Mereka kukuh pada batas-batas yang perlu dijaga dan tak terlalu khawatir lagi kehilangan job. Demi menguatkan keimanan, mereka pun mendeklarisikan diri sebagai manusia berhijrah. Berangkat dari dunia keartisan yang gempita namun suram, menuju kepada cahaya kebenaran dan kepatuhan.
 
Sebelum memasuki panggung fesyen Indonesia dan digarap oleh desainer kenamaan, jilbab dianggap terlalu sederhana, kuno, bahkan kampungan. Jilbab terlalu identik dengan anak pesantren dan aktivis dakwah yang kurang gaul. Setelah masuk ke dalam utak atik dunia fesyen, jilbab disebut hijab, jadi lebih kekinian dan bergengsi. 
 
Hijab sebagai produk fesyen yang dipakai kalangan selebriti seolah-olah telah mengangkat harkat dan martabat jilbab dan muslimah ke atas panggung gemerlap sehingga tak lagi dipandang sebelah mata. Hijab sempat pula dipakai menjadi judul sebuah film pada 2015 garapan Hanung Bramantyo, yang dikecam dan kurang diminati karena menuai kontroversi dalam pemaknaannnya.
 
Dalam masa-masa mulai populernya istilah hijab, para Muslimah pun makin disibukkan dalam seminar dan pengajian hijab, menghadiri fashion show hijab, mendatangi hijab class, masyuk berselancar ke toko-toko hijab dalam jaringan, hingga menontoni hijab tutorial untuk mengetahui cara paling mangkus agar tampak modis dan sedap dipandang mata walaupun repot saat hendak berwudhu. 
 
Sebetulnya tak ada yang salah jika kita mau menyebut jilbab, hijab, khimar, atau juga kerudung dalam keseharian. Asal kita sudah haqqul yaqin bahwa pakaian kita sudah menutup aurat tanpa bisa diterawang dan terlihat lekuk-lekuknya, kita boleh memakai dan menyebutnya apa saja.
 
Persoalannya, modernitas, merek, gengsi, tren, dan mode, nyaris mendikte dan membuat Muslimah lieur dalam berjilbab. Tak bisa kita pungkiri bahwa tabiat perempuan itu memang senang tampil, doyan dandan, dan diperhatikan. 
 
Para produsen tahu betul tabiat ini. Maraknya berbagai hijab clothing dan toko dalam jaringan yang menjual hijab adalah di antara bukti kalau muslimah jadi sasaran empuk industri.
 
Ketika muncul tren melilit jilbab, para Muslimah melilit jilbab. Saat datang tren hijab syar’i yang panjangnya menutup sampai paha, para Muslimah pakai yang begitu. Kala tiba tren hijab antem (anti tembam), semua muslimah tiba-tiba merasa tembam dan memakainya sambil yakin pipinya jadi lebih tirus.
 
Jangan-jangan kalau kita survei, tidak sedikit Muslimah yang memakai jilbab hanya sebagai kebiasaan. Boleh jadi ada Muslimah yang lebih senang menyebut hijab ketimbang jilbab tanpa benar-benar tahu apa maknanya. 
 
Atau bisa jadi para Muslimah ini tak pernah tahu, di negeri ini pemakaian jilbab pernah dilarang dan mengundang ribuan mahasiswa dan pelajar untuk demonstrasi menyerukan revolusi jilbab sekira 20 tahunan yang lalu.
 
Kita perlu khawatir ketika seorang Muslimah tidak lantas menjadi sebenar-benarnya Muslimah walau telah berhijab. Nilai seorang Muslimah tidak terletak pada merek, harga, warna, model, jumlah lapisan dan lilitan, atau bahkan panjang-pendek jilbabnya. Kemuliaan seorang Muslimah ada pada keinginan dan ikhtiar dirinya untuk mau mengenal dirinya, hakikat penciptaannya, dan pada akhirnya mengenal Tuhan Yang Maha Menciptakan.
 
Jangan sampai kita menjadi Muslimah yang bergaya dan tampak menawan dalam balutan hijab di hadapan manusia, tetapi ada hijab yang membatasi hati kita kepada Allah dalam rupa kesombongan, gengsi, mengagumi diri, doyan tampil, ingin diakui, dan dipuji.  
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 712 Kali
Berita Terkait

0 Comments