Mutiara Hikmah /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 25/04/2017 06:00 WIB

Lembut dan Merakyat, Ciri Pemimpin Muslim Sejati

Ilustrasi Pemimpin
Ilustrasi Pemimpin
Oleh Ayub El Marhoum, Pegiat Forum Santri Cendikia
 
Pandangan manusia tentang sosok pemimpin ideal memang berubah sesuai zaman, mengikut siapa yang jadi pedoman. Berabad lamanya para agamawan dan failasuf mencoba merumuskan sosok pemimpin sejati. Plato merasa bahwa pemipin terbaik adalah dia yang bisa mewujudkan negara para bijak bestari, negara filosof.
 
Ia menganjurkan agar tampuk kepemimpinan diberikan kepada para filsuf. Al-Farabi memiliki konsep serupa tentang pemimpin muslim ideal. Namun pemikiran Plato dianggap terlalu mustahil. Negara Plato dan pemimpin idealnya hanyalah utopia.
 
Salah satu penganjur teori kepemimpinan lainnya adalah Nicolo Machiavelly. Pemikir Italia ini berpendapat bahwa Il Principe, seorang pangeran sejati, adalah dia yang bisa meraih segala inginnya dengan menggunakan segala yang mungkin. 
 
Tujuan menghalalkan segala cara. Penakluk-penakluk kejam dunia dikenal suka membaca karyanya. Napoleon dari Prancis bahkan Hitler konon adalah penggemar teori-teori Machiavelli. Konsep yang berbahya tentang pemimpin memang melahirkan pemimpin yang brutal.
 
Teka-teki seputar pemimpin yang  juga mengusik benak para pemikir adalah apakah pemipin itu dicipta atau dilahirkan? 
 
Sebagian tokoh, semisal Francis Galton, mengemukakan bahwa seseorang memang terlahir sebagai pemimpin. Simpulan ini diperolehnya setelah meneliti keluarga-keluarga bangsawan pengauasa. 
 
Di dalam bukunya, Hereditary Genius And Inquiries Into Human Faculty And Its Development atau lebih sering disingkat menjadi Hereditary Genius (1869), Galton meneguhkan teori hereditas. Jika ingin memilih pemimpin terbaik, carilah dari ayah yang memang punya sejarah kepemimpinan yang baik.
 
Namun teori hereditas tidak diterima begitu saja. Terbukti ada banyak keluarga bangsawan yang justeru melahirkan pewaris lemah lalu berujung runtuhnya kerajaan. Kenyataan ini membuat tokoh lain memikirkan kemungkinan sebaliknya. Cecil Rhodes, menganggap bahwa pemipin bisa dibentuk dengan pendidikan yang benar. 
 
Mungkin karena keyakinannya ini, Rhodes menginvestasikan harta yang ia peroleh dari pertambangannya yang kaya di Afrika untuk pendidikan. Dialah yang menjadi perintis Beasiswa Rhodes yang masih ada hingga kini.
 
Di luar semua teori di atas, semua pemikir bahkan orang awam pun akan setuju bahwa seorang pemipin haruslah memiliki sifat-sifat mulia yang diakui universal. Siapapun pasti ingin dipimpin oleh seorang yang jujur amanah, cerdas cendekia, dan berpribadi kesatria. 
 
Sistem demorasi yang kini mendunia memungkinkan semua orang untuk langsung memilih pemimpin idamannya. Mereka semua mendamba seorang yang bukan hanya cakap mengemudi negara, tapi juga bisa menjadi teladan utama.
 
Demikianlah adanya hingga era social media menimbulkan anomalinya. Ada sebuah tren unik  yang akhir-akhir ini mengemuka di masyarkat kita mengenai gambaran ideal seorang pemimpin. Terjadi sebuah perubahan pola pikir yang sungguh menghawatirkan.  
 
Mungkin karena begitu gencarnya media menyusupkan imaji-imaji kepemipinan ideal yang semu ke sum-sum kesadaran umum masyarkat, hingga mereka pun menerima pola pikir aneh itu. Kini, mulai muncul anggapan bahwa pemimpin yang baik tidak harus bersikap lemah lembut, tidak harus sopan, cukuplah dia jujur.
 
Saat ini, kesopanan berbicara diidentikan dengan kepandaian menyimpan dusta. Sedangkan ucapan yang bertabur serapah dipersepsi sebagai bentuk kejujuran yang brutal tapi dibutuhkan.  Rakyat, katanya, butuh pemimpin yang tanpa tedeng aling-aling melawan mafia. Kefasihan berkata kasar adalah bentuk keberanian itu.
 
Sebenarnya ini bukan hanya fenomena di negeri kita saja, di Amerika Serikat pun demikian ternyata. Salah satu alasan popularitas Donald Trump yang mengagetkan semua pengamat politik adalah lidahnya yang liar dan tindak tanduknya yang jauh dari sopan. 
 
Bagi penggemar politisi rasis Islamofobik ini, Trump dianggap sosok yang “speaks his mind” percaya diri menyemburkan apapun isi mindanya. Kata mereka, sosok demikian lebih disukai daripada sosok flamboyan seperti Obama atau sopan seperti Hillary  yang di belakangnya ada segudang dusta.
 
Tren ini sepintas terlihat menggelikan tapi sesungguhnya ia mengerikan, apalagi jika umat Islam pun turut manut. Pola pikir ini berbalik sepenuhnya dengan kriteria pemimpin yang telah diajarkan Islam kepada pemeluknya. 
 
Maka tak pantas jika mereka justru tenggelelam dalam propoganda sosial media. Umat Islam harus kembali ke al-Qur’an dan lebih giat lagi menelusuri sirah. Semuanya untuk menemukan sosok pemipin terbaik yang pernah jalan di muka bumi. Sosok pembangkit peradaban yang diakui di Barat dan di Timur sebagai negarawan sejati.
 
Sosok tersebut tak lain adalah Rasulullah saw. Berbicara tentang kejujuran tak perlu lagi berpanjang lebar. Ia yang dijuluki Sang Terpercaya sejak masih belia. Tak hanya jujur ia juga cerdas dan punya kemampuan komunikasi yang piawai luar biasa. Semua kualitas ini terhimpun dalam empat sifat beliau yang kita semua kenal; shiddiq, amanah, fathanah, tabligh.
 
Dimensi ideal kepemimpinan Rasul yang langsung dibimbing wahyu sangat luas. Ia melampaui teori hereditas atau teori pembentukan. Namun dalam tulisan ini ada satu dimensi dari kepemimpinan Rasulullah yang perlu kembali kita renungi. 
 
Apalagi jika mengingat adanaya anggapan tidak normbal bahwa berlaku tak sopan serta kasar adalah bentuk kepemimpinan idaman. Dimensi ini terekam dalam pujian Allah kepada Muhammad saw di dalam surah Ali Imran : 159.
 
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”
 
Buya Hamka menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah memuji kepiawaian Rasul-Nya dalam memipin umat yang baru dibentuk itu. Kiat tersebut adalah sikap berlemah lembut (layyin) Rasulullah. Kemuliaan sikap lembah lembut itu makin terpahami jika mengingat konteks ayat ini.  
 
Para mufassir menyatakan bahwa sababunnuzul ayat ini terkait kejadian-kejadian di perang Uhud. Ketika itu pasukan muslim menderita kerugian besar, banyak yang syahid dan Rasul sendiri hampir saja celaka. Semua karena adanya pasukan yang tidak patuh pada aturan disebabkan silau harta rampasan. 
 
Terhadap para disertir itu Rasulullah tidak menumpahkan amarah, beliau justru menujukan sikap lemah lembut.
 
Di sini Rasulullah menunjukan kualitas pemipin sejati. Ia mengerti keadaan umat yang sedang shock setelah diguncang kekalahan perang. Sebenarnya beliau sebagai pemipin berhak marah kepada bawahan yang tidak kompeten, sesuatu yang kini banyak dipertunjukan lalu dipuji-puji orang. 
 
Namun Rasulullah bukan tipe pemipin demikian. Ia malah bersikap lembut. Sikapnya inilah yang kemudian mempersolid umat Islam. disebutkan di ayat itu, jika saja Rasul bersikap kasar, orang-orang yang kaget sehabis kalah itu pasti akan lari dari jamaah muslimin.
 
Ada pula petunjuk langsung dari Allah kepada Rasul-Nya tentang cara terbaik yang perlu beliau lakukan selanjutnya. Beliau yang telah berada di bawah bimbingan wahyu masih diperintahkan untuk senantiasa bermusyawarah. 
 
Tidak boleh otoriter, tiada ruang bagi pengambilan keputusan sepihak. Inilah dasar utama kepemipinan Islam yang bahkan diadopsi oleh para pendiri bangasa ini ke dalam sila keempat Pancasila.
 
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa apapun teori yang dibuat manusia tentang kepemipinan akan selalu cacat sehingga wahyulah yang menjadi rujukan. Petunjuk Allah itu mewujud di dalam sosok Baginda Rasulullah saw. Beliau jujur, cerdas, amanah, dan piawai beretorika. 
 
Di atas semua itu, gaya kepemipinann yang lembut dan merakyat, menghargai pendapat bawahan bahkan dipuji langsung oleh Allah. Maka masihkah umat Islam mau percaya pada kriteria pemipin lain? Kriteria yang dibesarkan oleh gelombang buzz media sosial tak bertanggung jawab?
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : santricendikia.com
- Dilihat 246 Kali
Berita Terkait

0 Comments