Nasional / Ekonomi /
Follow daktacom Like Like
Senin, 22/04/2024 11:00 WIB

Serangan Iran ke Israel Bisa Akibatkan Inflasi di Indonesia

SERANGAN IRAN
SERANGAN IRAN

JAKARTA, DAKTA.COM - Serangan Iran ke Israel pada Sabtu (13/4/2024) yang lalu bisa memberikan dampak ke perekonomian Indonesia, salah satunya adalah inflasi.

 

"Dampaknya akan sangat tergantung seberapa jauh eskalasi serangan tersebut, dan ini tergantung respons dari Israel dan sekutunya," jelas Senior Fellow Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Krisna Gupta.

 

Krisna menambahkan, dampak lain yang akan sangat terasa adalah pada sektor energi karena mayoritas minyak yang melewati jazirah Arab, dikapalkan untuk Pasar Asia.

 

Harga minyak diperkirakan akan naik, terutama jika Amerika Serikat dan sekutunya memberikan sanksi ke minyak Iran dan mempersulit penjualannya. 

 

Kenaikan harga minyak nantinya akan berdampak pada APBN 2024 karena dapat mengubah besaran belanja dan defisit. Selain itu, kenaikan harga minyak juga bisa menyebabkan kenaikan harga BBM bersubsidi dan hal ini akan menambah anggaran subsidi.

 

Sebagai importir Bahan Bakar Minyak (BBM), tentu hal ini bisa mengakibatkan inflasi bagi Indonesia. 

 

"Namun, saya rasa masih ada channel lain bagi Iran untuk menjual minyak karena mereka sudah pernah kena sanksi sebelumnya dan sudah punya cara mengurangi dampak sanksi tersebut," tambah Krisna.

 

Jika ketegangan antara Iran dan Israel masih terus berlanjut kedepannya, Pemerintah Indonesia juga harus segera mencari cara agar dapat meminimalisir dampak yang bisa dirasakan.

 

Pemerintah bisa turut mendorong Israel untuk menahan diri, karena saat ini agresi Israel sudah mendapatkan banyak kritik bahkan dari AS dan sekutunya.

 

Hal inilah yang bisa jadi membuat Israel tidak melakukan respons yang ekstrem dari serangan Iran yang lalu. 

 

Saat ini, yang bisa dilakukan adalah terus mengutamakan diplomasi. Juga perlu untuk terus koordinasi dengan Bank Indonesia mengingat inflasi minyak, jika terjadi, akan membuat Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar untuk mengimpor BBM dan mendorong rupiah makin terdepresiasi terhadap dolar, sesuatu yang sudah cukup menyulitkan saat ini.

 

Reporter : Warso Sunaryo
- Dilihat 292 Kali
Berita Terkait

0 Comments