Nasional / Ekonomi /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 26/05/2023 20:00 WIB

Relaksasi Impor Jagung Dibutuhkan untuk Bikin Harga Telur Terjangkau

TELUR 1
TELUR 1

 

JAKARTA, DAKTA.COM - Pemerintah perlu merelaksasi impor jagung untuk menstabilkan harga telur.  Kenaikan harga telur yang terjadi selama hampir sepekan ini, salah satunya, disebabkan oleh tingginya harga jagung yang merupakan bahan utama pakan ternak.

 

 

‘’Relaksasi impor diperlukan untuk merespons kebutuhan jagung untuk pakan ternak karena pasokan domestik belum mencukupi kebutuhan ini. Sayangnya impor jagung pakan ternak masih restriktif karena hanya terbuka untuk BUMN dengan API-U,’’ terang Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi.

 

 

Data Kementerian Perdagangan (Kemendag, 2023) menunjukkan, ada kenaikan harga jagung yang signifikan di tingkat petani sejak awal tahun 2023. Antara Januari dan Februari 2023, harga jagung di tingkat petani meningkat sebesar 45,57% dari Rp4.049/kg menjadi Rp5.894/kg. 

Harga tersebut semakin meningkat pada Maret 2023 mencapai Rp 6.008/kg. Apalagi, harga jagung terbaru untuk peternak sudah melebihi Harga Acuan (HAP) Rp 5.000/kg seperti yang ditunjukkan Peraturan Badan Pangan Nasional No.5/2022. 

Data Databoks Katadata menunjukkan, rata-rata harga jagung internasional seminggu terakhir adalah USD589,39 per bushel. Harga rata-rata ini naik dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat USD589,32 per bushel.

 

Berdasarkan data Food Monitor yang dihimpun CIPS dari United States Department of Agriculture (USDA), rata-rata produksi jagung Indonesia 2018-2022 hanya mencapai 12,28 juta ton. Sementara rata-rata tingkat konsumsi tahunannya diperkirakan melebihi 13,26 juta ton. 

 

Selisih antara produksi domestik dan kebutuhan ini dipenuhi dengan impor. Faktor lain yang mempengaruhi ketersediaan dan harga jagung antara lain adalah produksi jagung yang tidak stabil sepanjang tahun. 

 

Selain itu, biaya transaksi yang tinggi yang harus ditanggung industri pemakai (peternak dan pabrik pakan) turut mempengaruhi harga jagung. Hal ini timbul karena panjangnya rantai distribusi domestik yang melibatkan petani jagung, pengepul, pedagang, dan penggilingan, sebelum tiba di industri pengguna. Jagung domestik juga kurang diminati industri pengolahan bahan makanan karena kadar air dan tingkat aflatoksin yang tinggi. 

Jagung domestik umumnya dipanen secara manual dengan tingkat kadar air yang masih tinggi, sebagian mencapai lebih dari 35 persen, lalu dikeringkan dengan cara dijemur dan disimpan dengan tingkat kadar air 16-17 persen. Proses ini memakan  waktu lama, rawan memunculkan pertumbuhan jamur dan dapat menimbulkan biaya tambahan untuk pengeringan.

Sayangnya, Permendag 25/2022 (Perubahan atas Permendag 20/2021) hanya memperbolehkan BUMN dengan API-U untuk mengimpor jagung pakan ternak. Seharusnya pemenuhan kebutuhan jagung perlu didukung dengan membuka lisensi impor untuk pihak swasta. 

Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan untuk membuka kesempatan bagi swasta untuk impor jagung pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. 

Karena telur ayam merupakan sumber protein utama di Indonesia, harga yang tinggi tentu akan mempengaruhi konsumsi protein, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Relaksasi impor jagung memungkinkan penurunan harga bagi konsumen akhir karena komposisi jagung dalam pakan hewan ternak mencapai 50 persen.

Impor jagung akan menurunkan biaya produksi ayam sehingga menguntungkan, tidak hanya untuk produsen ayam tetapi juga konsumen, terutama yang berpenghasilan rendah, dengan akses kepada ayam dan telur yang lebih terjangkau. Selain itu, jagung juga merupakan salah satu komponen bahan konsentrat pakan olahan yang digunakan oleh peternak ruminansia seperti sapi dan kambing. 

Menghapuskan proteksi perdagangan untuk jagung juga memungkinkan Indonesia melakukan modernisasi industri ayam, menjadikannya lebih efisien dan mungkin mengembangkan keunggulan komparatifnya di masa depan.

“Jika kenaikan harga jagung tidak segera teratasi, pemerintah dan masyarakat perlu waspada dengan kemungkinan terus meningkatnya harga telur dan komoditas seperti daging ayam, unggas, dan daging sapi  ke depannya,” tandas Azizah.

 
Sumber : CIPS
- Dilihat 854 Kali
Berita Terkait

0 Comments