Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 20/04/2023 11:00 WIB

Budaya Silaturahmi dan Halal Bihalal

Ketum ASPHRI Yosminaldi
Ketum ASPHRI Yosminaldi

Oleh: Dr. Yosminaldi, SH. MM - Ketua Umum ASPHRI, Pengamat/Konsultan Ketenagakerjaan & Staff Pengajar MSDM & Hub Industrial.

 

Secara harfiah, silaturrahim berarti menghubungkan kasih sayang. Hubungan kasih sayang yang sarat dengan nilai-nilai persaudaraan,kesetiakawanan, dan saling mengasihi baik antara sesama kaum muslim maupunantara kaum muslim dengan non-muslim. Hubungan itu tak jarang rusak akibat ulahdan tindakan kita sendiri.

 

Karena itulah, dalam bulan Ramadhan dan rangkaian sesudahnya, yakni Idul Fitri, kita dianjurkan menjalin kembali dan mempererat tali silaturrahim dengan saling maaf-memaafkan satu sama lain. Momentum seusai Idul Fitri menjadi sangat tepat dengan hadirnya apa yang biasa kita sebut sebagai 'halal bihalal', yakni suatu forum yang secara substantif sesungguhnya sangat baik dan mulia bagi perekatan dan wahana membangun persaudaraan satu dengan lainnya.

 

Jadi, sebagai sebuah wahana, antara silaturrahim dan halal bihalal saling melengkapi. Yang satu menghalalkan kepada yang lain dalam hal-hal yang baik tentunya, di mana puncak halal itu ya saling memaafkan. Sebaliknya, kita juga akan mendapatkan banyak manfaat dengan hadirnya forum tersebut, khususnya bila kita kaitkan dengan kondisi sosio-kultural saat ini. Dalam kondisi krisis multidimensi saat ini, halal bihalal maupun silaturrahim bisa menjadi alternatif solusi. Bangsa kita sekarang ini sudah diluar kendali.

 

Artinya, apa yang terjadi saat ini disebabkan hilangnya disorientasi, yakni pemerintah menjalankan pemerintahannya tanpa orientasi yang jelas, sementara rakyat terpenjara dalam kubang krisis dan tidak mendapatkan orientasi yang jelas dari pemerintah yang mereka percaya melalui pemilu itu. Disorientasi inilah yang sebenarnya sangat mengancam jalannya kita sebagai bangsa ke depan, apakah masih mampu “survive” secara wajar atau hanya menjadi bangsa dan negara yang terus terjerat dalam kubang krisis. Karena itulah silaturrahim dan halal bihalal menjadi sangat relevan, bahkan dapat menjadi stimulus bagi penyelesaian suatu masalah.

 

Substansi silaturrahim itu jelas ditegaskan dalam beberapa ayat Alquran dan Hadis Rasulullah. Bila halal bihalal, itu hanya istilah saja. Makna dan substansinya sama dengan anjuran atau nilai-nilai silaturrahim. Dasar silaturrahim itu misalnya dapat kita temukan dalam surat An-Nisaa' ayat 1, dengan penegasan kalimat arham, yang menjadi kata dasar silaturrahim.

 

Firman Allah SWT: ''Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kerabat. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.'' (An-Nisaa': 1) Juga dalam ayat yang menyebutkan, ''...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada...'' (QS: 24: 22), serta, ''Jika kamu menyatakan kebaikan atau menyembunyikannya atau memaafkan kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.'' (QS: 4: 149). Hadis Nabi juga banyak mengajarkan pentingnya silaturrahim.

 

Jadi, jelas silaturrahim dan halal bihalal adalah bagian dari perintah agama. Rasulullah sendiri telah memberi contoh bagaimana pentingnya silaturrahim itu kepada para sahabat. Beliau tak hanya menunggu didatangi, tapi bahkan Rasul terlihat sering mendatangi, menjalin silaturrahim baik dengan sesama umat Islam maupun dengan umat agama lain.

 

Sebagai sebuah tradisi, halal bihalal hanya ada di Indonesia. Secara keseluruhan, perayaan Idul Fitri memang kita rasakan keberadaannya di Indonesia. Kita tidak  menemukan,khususnya di negara-negara Timur Tengah, adanya perayaan ini. Bagi banyak negara di dunia Arab,  justru menjadikan Hari Raya Qurban (Idul Adha) sebagai hari raya yang lebih besar ketimbang Idul Fitri. Perayaannya sangat meriah justru di saat Idul Adha (Qurban) itu.

 

Peristiwa lebaran menjadi puncak saling silaturrahim itu, yang disebut halal bihalal. Kita harus kembali kepada makna hakiki dari silaturrahim dan halal bihalal itu sendiri. Memang harus diakui, selama ini halal bihalal lebih bersifat seremonial, sekalipun tidak menafikkan perayaan yang demikian juga mencerminkan syiar agama yang cukup baik. Hanya saja, agar lebih maknawi, pesan-pesan dari nilai spiritual halal bihalal itu yang mestinya mendapat prioritas pemahaman, sehingga akan menjadi landasan dalam setiap tindakan dan sikapkita.

 

 Selamat Idul Fitri 1444 H – Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Bathin.

Sumber : Dr. Yosminaldi, SH. MM - Ketua Umum ASPHRI, Pengamat/Konsultan Ketenagakerjaan & Staff Pengajar MSDM & Hub Industrial.
- Dilihat 3735 Kali
Berita Terkait

0 Comments