Opini /
Follow daktacom Like Like
Sabtu, 16/05/2020 10:43 WIB

Baitul Arqam Daring : Usaha Merawat Semangat Bermuhammadiyah

Hamluddin Dosen Istitut Bisnis Muhammadiyah Bekasi
Hamluddin Dosen Istitut Bisnis Muhammadiyah Bekasi
Oleh: Hamluddin
(Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi)
 
Pandemi corona virus yang telah berlangsung sejak bulan Maret 2020 telah melemahkan seluruh sendi kehidupan bermasyarakat. Sebagian kita mampu bertahan, namun tak sedikit ikut terkapar karena dampak dari melemahnya sektor ekonomi yang berlangsung secara cepat dan massif.
 
Apakah warga Muhammadiyah ikut terkapar ? ataukah sebaliknya, mampu bertahan selama musim pandemi yang belum jelas sampai kapan berakhirnya? Bagi warga Muhammadiyah, pertanyaan ini merupakan koreksi atas eksistensi gerakan yang telah berlangsung sejak organisasi itu berdiri pada 1912.
 
KH Ahmad Dahlan, selaku pendiri Muhammadiyah telah menanamkan ruh gerakan ini lebih dari seratus tahun yang lalu, yang dikenal dengan gerakan ‘tajdid’ atau gerakan pembaharuan. Filosofi gerakan terdapat pada amaliah warga persyarikatan yang mampu merefleksikan sistem adaptasi yang kuat pada kehidupan sosial-masyarakat meski berganti ganti zaman dan tantangan.
 
Maka tidaklah berlebihan jika menyebut Muhammadiyah merupakan bagian terpenting dari peradaban masyarakat muslim Indonesia. Ruh gerakan bermuhammadiyah ini diulas secara mendalam pada kegiatan Baitul Arqam untuk Dosen dan Karyawan Institut Bisnis Muhammadiyah yang berlangsung secara daring (online) pada Jumat dan Ahad (15 dan 17 Mei 2020), dengan tema Puasa Sebagai Peningkatan Iman dan Momentum Pengukuhan Ideologi Muhammadiyah bagi Dosen dan Karyawan IBM Bekasi.
 
Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) Dr. Muhammad Qorib M.Ag, sebagai pembicara pada acara tersebut menyampaikan bahwa Muhammadiyah selalu menggunakan dua pendekatan yang menyangkut masalah masalah ilmu pengetahun, yaitu: pendekatan bayani dan pendekatan burhani.
 
Pendekatan bayani merupakan refleksi keteguhan terhadap Al Qur’an dan As Sunnah yang dikonteksasi dengan situasi sosial yang sedang berkembang. Adapun pendekatan burhani, secara filosofis dimaknai sebagai kemahiran melakukan analisa-analisa sosial. Berangkat dari pendekatan ini, lahir juga pedoman hidup bermuhammadiyah yang menjadi pedoman hidup bermasyarakat bagi seluruh warga persyarikatan. Seperti, memegang teguh hal hal yang bersifat prinsip, bersifat aktual, pedoman bersifat mengikat setiap individu, bersifat kolektif dalam pergerakan, memiliki ketauladanan, rabbani (arif) dan memudahkan.
 
Baitul Arqam yang dilaksanakan secara daring (online) oleh IBM Bekasi adalah wujud dari pendekatan burhani yang telah dijabarkan di atas. Pandemi corona virus yang memaksa setiap warga untuk #DiRumahAja memerlukan gagasan yang bersifat aktual sebagai upaya merawat semangat bermuhammadiyah secara kolektif, meski berjarak sehingga hanya bisa dilakukan dengan memanfaatkan layanan teknologi informasi.
 
“Saya menyambut gembira Baitul Aqram daring yang dilaksanakna IBM Bekasi, sebagai refleksi gerakan bermuhammadiyah. Dalam memahami dan mempelajari Muhammadiyah kita memerlukan tiga pendekatan: Pertama, pendekatan sejarah (culture) di mana kita berusaha mentrasfer semangat para pendiri Muhammadiyah untuk kita aktialisasikan dalam kehidupan sehari-hari di masa kini. Kedua, pendekatan struktural (structure) untuk bisa memahami orientasi kerja organisasi ini untuk kemaslahatan ummat manusia. Dan ketiga, adalah pendekatan ideologis (ideology) agar tidak kehilangan visi dan misi dalam bermuhammadiyah,” terang Dr Muhammad Qorib.
 
Muhammadiyah telah meletakkan konsep habluminallah wa habluminannas atau hubungan vertikal kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan hubungan horizontal kepada sesama manusia secara proporsional. Kepada Sang Pencipta, manusia hanya boleh tunduk dan patuh kepada Allah; “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya,.. ” (Q.S. An Nisa: 59)
 
Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Drs. H Jamjam Erawan mengungkapkan bahwa tauhid kepada Allah ini melahirkan tujuh cabang perilaku dalam bermuhammadiyah. Di antaranya, selalu berpikir baik atau husnudzon, mengucapkan hal hal yang bersifat mulia, memiliki kesenangan dalam bersyariah, gemar memberi atau berinfak, pandangan-pandangannya melahirkan refleksi, dan senang makanan makanan halal.
 
Sehingga, kata Ustadz Jamjam, tilawah (kegiatan membaca) dalam Muhammadiyah tidak sekadar tilawah Al Qur’an tetapi juga tilawah sosial. Warga Muhammadiyah haruslah memiliki kepedulian sosial yang tinggi yang diimplementasikan dalam sikap sikap di atas. Membantu kebutuhan pokok warga miskin dan warga yang terdampak dari krisi akibat Covid-19, mengeluarkan zakat mal dan zakat fitra, dan berinfak secara rutin adalah contoh dari amaliyah Muhammadiyah. Hal ini bersandar pada Hadits Nabi Muhammad SAW: khairunnas anfa’uhum linnas, yang maknanya sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat kepada sesamanya. (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits disahkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ nomor 3289).
 
Pokok pikiran Muhammadiyah dirumuskan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo, pada tahun 1945 dan disahkan pada tahun 1951. Pokok pikiran ini telah ditulis dalam AD/ART Muhammadiyah yang memiliki enam pokok pikiran, yakni; hidup hanya tunduk dan patuh kepada Allah, tauhid melahirkan melahirkan perilaku, Allah menjadi landasan nilai, terus berjuang menegakkan Agama Islam, mengikuti Rasul, dan melancarkan amal usaha Muhammadiyah.
 
Perjalanan panjang dari pokok pikiran Muhammadiyah itu adalah terselenggaranya pendidikan pada 36 universitas, 70 sekolah tinggi, 55 akademi, 4 politeknik. Memiliki 1132 Sekolah Dasar (SD), 1769 Madrasah/Ibtidaiyah (MI), 1184 SMP, 534 MTs, 511 SMA, 263 SMK, 172 MA, dan 67 Pondok Pesantren.
 
Inilah hasil gerakan tajdid Muhammadiyah. Maka secara amaliah dapat dikatakan bahwa organisasi yang didirikan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ini merupakan organisasi dengan amaliah terbesar di Indonesia. Selain pendidikan, ada pelayanan kesehatan, dan berbagai layanan di sektor ekonomi. Sebuah investasi sosial bagi Muhammadiyah, sekaligus investasi akhirat bagi setiap orang yang mengabdi di dalamnya. Hasil ini hanya dapat diperoleh dengan semangat dan keteguhan hati. Mengutip ucapan KH Soekandar Ghazali, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi, bahwa risalah kenabian haruslah disyiarkan secara ikhlas agar mendapat ridho Ilahi. Sebagaimana harapan yang terkandung dalam nama ‘Muhammadiyah’, yaitu orang orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Berjuang penuh keikhlasan demi mengharap ridho Ilahi.**
Editor : Dakta Administrator
Sumber : Opini Hamluddin
- Dilihat 800 Kali
Berita Terkait

0 Comments