Harokah Islamiyah /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 03/05/2020 11:03 WIB

Puasa dan Suami-Istri (1)

Ilustrasi sepasang suami dan istri
Ilustrasi sepasang suami dan istri
DAKTA.COM - Oleh: Abdullah Mahmud
 
Ketika orang itu bujangan akan merasakan hidupnya terasa gelisah, ada yang kurang dan tidak jarang kesepian. Ada penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ali Albar bahwa umur menikah yang bagus itu 18 sampai 30 tahun, tapi terbagus umur 24 sampai 26 tahun. Hal itu ditinjau dari berbagai segi. 
 
Seperti dilihat secara psikologis, kematangan kepribadian, cara berfikir yang dewasa. Secara sosiologis dan secara kedokteran karena kromosom yang dihasilkan umur segitu bisa membuat keturunan cerdas dan lainnya. Pantas kalau Nabi Muhammad SAW menikah ketika umur 25 tahun. Puncak perkawinan yang ideal.
 
Mengapa orang menikah? Karena ingin bahagia dunia sampai di akhirat 
 
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum, 30: 21)
 
"Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan." (QS. Az-Zukhruf 70)
 
Begini penjelasannya, the basic needs of human being itu ada 3:
 
Pertama, manusia itu butuh Allah Sang Khaliq untuk membimbingnya ke jalan yang benar.
Kedua, butuh hidup (sandang, pangan dan papan).
Ketiga, dia butuh pasangan hidup. Itulah yang disebut bahasa Alqur'an dan Assunnah dengan fitrah 
 
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum, 30: 30).
 
Rasulullah SAW menafsirkan: “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Bila agama seseorang itu bagus sesuai dengan Islam dan dijalankan dengan konsekuen maka hubungan dan ibadahnya kepada Allah bagus, hidupnya akan terarah sesuai dengan aturan Islam, serta rumah tangganya akan diwarnai yang islami, indah sekali. Niatnya ibadah, aktivitasnya mengikuti petunjuk Allah dan goalnya ingin meraih surga bersama.
 
Ramadhan adalah kesempatan suami dan istri harus membuat komitmen baru untuk mengarahkan hidup sesuai dengan arahan Allah dan saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan,
 
"Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah, 4: 16).
 
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Maidah, 4: 2).
 
Puasa itu perisai dari syahwat yang menyimpang, makanya pemuda dan pemudi yang mampu menikah tapi belum bisa melaksanakan karena suatu sebab; dianjurkan untuk puasa:
 
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa, karena (puasa) akan menjadi tameng bagi dirinya." (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Suami-istri itu ada 4 model, yakni:
 
Pertama, suami benar dan istri benar; seperti Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Muhammad SAW.
 
"Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)." (QS. An-Nur, 4: 26).
 
Kedua, suami benar tapi istri tidak benar karena kafir; seperti istri Nabi Nuh dan Nabi Luth alaihimassalam.
 
"Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS. At-Tahrim, 66: 10).
 
Ketiga, istri benar tapi suami tidak benar, kafir; seperti Asiyah dan suaminya Fir'aun,
 
"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim” (QS. At-Tahrim, 66: 11)
 
Keempat, Suami tidak benar dan istripun tidak benar, kafir, dan keduanya di neraka seperti Abu Lahab dan istrinya,
 
"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). (QS. Al-Lahab, 111: 4).
 
 
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Abdullah Mahmud
- Dilihat 1159 Kali
Berita Terkait

0 Comments