Opini /
Follow daktacom Like Like
Sabtu, 02/05/2020 15:30 WIB

Pendidikan Bukan (hanya) Sekolah - Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Ilustrasi pendidikan 1
Ilustrasi pendidikan 1
Oleh: Budi Handrianto (Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor)
 
Hari ini tanggal 2 Mei biasa diperingati sebagai Hardiknas, Hari Pendidikan Nasional. Ketika kita bicara Pendidikan, maka yang terlintas di benak kita adalah sekolah. Lalu terbayang bangunan sekolah SD, SMP, SMA, SMK dan Perguruan Tinggi, guru-guru dan kurikulum di dalamnya. Selanjutnya terbayang carut marutnya pendidikan kita saat ini dan akhirnya kita malas memikirkannya. 
 
Bayangan seperti itu tentu tidak salah. Sebab kata top of mind dari pendidikan biasanya yang muncul adalah kata sekolah. Tapi menganggap sekolah adalah pendidikan atau pendidikan hanya sekolah, itu keliru besar. Sekolah adalah pendidikan formal. Masih ada pendidikan non-formal dan informal. Pendidikan non-formal seperti kursus-kursus atau sekolah tak berijazah, bimbingan belajar dan sebagainya tidak hendak saya bahas di sini. Saya ingin membahas pendidikan informal, yang menurut saya merupakan porsi penting dalam dunia pendidikan kita saat ini, tapi sering terabaikan.
 
Jenis pendidikan informal terpenting adalah pendidikan dalam keluarga. Ayah adalah kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan keluarga. Sebab, Allah sudah memberikan peringatan bagi para kaum ayah, "Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS at-Tahrim: 6). Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini, "Jagalah keluargamu dari api neraka artinya addabahum wa allimhum. Didiklah mereka dengan adab (akhlak, sopan santun, etika, budi pekerti) dan  ajarkanlah ilmu kepada mereka." Maka, tugas mendidik anak yang utama adalah orang tua, terutama ayah. Bukan sekolah, bukan guru.
 
Menjadi sosok ayah pendidik di masa "lockdown" saat ini sungguh terasa efektif. Kita bisa melihat detil perilaku anak-anak kita, baik fisik, perkataan maupun tingkah lakunya. Saya pun baru menyadari anak remaja saya jerawatan. Kita berinteraksi 24 jam bersama mereka, membersamai mereka, mendidik dan mencetak mereka menjadi orang baik (a good man) seperti yang kita inginkan. 
 
Ketika shalat jamaah di rumah, kita bisa menjadi contoh sebagai seorang imam yang baik, gerakan maupun bacaan shalatnya. Jika anak sudah dewasa maka bisa gantian menjadi imam. Selain memastikan gerakan dan bacaan shalat mereka benar, kita juga bisa memeriksa hafalan surat anak-anak. Setelah shalat kita bisa adakan kultum dengan -misal membaca salah satu kitab hadits atau tazkiyatun nafs. Di situ kita bisa mengajarkan, memberikan nilai (value), mengarahkan bahkan hingga mengindoktrinasi kepada anak. Dan ketika di luar jam shalat kita praktekkan terus ada yang khilaf, semua saling mengingatkan dan meluruskan karena sudah dibaca bersama-sama hadits atau perkataan ulama. Tapi kewajiban meluruskan kesalahan ada pada diri ayah.
 
Bagian tersulit dari pendidikan di keluarga -dan ini adalah -yang paling efektif, menjadi teladan bagi anak. Anak akan melihat dan memperhatika apakah yang dikatakan sang ayah sesuai atau tidak dengan kelakuannya. Perilaku kita juga diamati oleh anak untuk dijadikan role model. Kalau tidak tidak bagus ya seperti itulah nanti anak-anak kita. Semua yang sudah kita ajarkan, berlakukan dan penegakan aturan (law enforcement) akan sia-sia jika orang tua, terutama ayah, tidak bisa memberikan keteladanan. Namun jika bisa menjadi teladan, akan mendorong keberhasilan mendidik anak lebih efektif. Contoh yang keliru, ketika masuk waktu adzan, sang ayah teriak, "Ayo anak-anak ambil air wudhu terus shalat ya. Nanti Bapak nyusul, sedang sibuk kerja nih...." Dalam hati sang anak pasti akan bertanya-tanya ayahnya serius atau tidak dalam menyuruhnya shalat. Baiknya, waktu adzan tiba, ayahnya sudah wudhu, gelar sajadah dan memanggil anak-anaknya shalat. Dia sudah berdiri di atas sajadah sehingga tinggal menyuruh salah satu anaknya, "Qomat!"
 
Metode ketadanan atau role model ini adalah metode pendidikan yang efektif tapi tidak gampang. Ketika dulu saya kerja sebagai profesional di Bidang HRD, jika seorang manager akan diangkat sebagai General Manager atau Pimpinan Unit tertentu maka selain ditraining, dia diikutkan kemana saja Pak Direktur pergi. Jadi selama di kantor dia menguntit atasannya terus (kecuali ke toilet tentunya). Kadang sampai di toilet pun diikuti karena obrolannya belum selesai. Jadi bagaimana kerja seorang bos ini ia tahu secara langsung. Bagaimana ia memanggil anak buah, rapat dengan pimpinan lain, ketemu kolega, memeriksa pekerjaan lapangan, menelpon, bikin email dan sebagainya dia ikuti dan dia catat. Begitulah kalau kira-kira mau jadi direktur. Tiga bulan ikut boss dia sudah bisa "dilepas". Maka, di tempat lama saya kerja tersebut tidak ada pimpinan yang tidak perform dan tidak ada pimpinan yang direkrut dari luar (pro-hire), semuanya promosi dari bawah.
 
Kita balik jauh ke belakang. Mengapa para sahabat Nabi saw semuanya hebat-hebat?  Abu Bakat, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Bilal, Khalid bin Walid dan masih banyak lagi. Karena mereka mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah dengan metode pengarahan dan keteladanan. Banyak orang bertanya mengapa Abu Hurairah, sahabat Nabi saw yang hanya bersama Nabi selama 2-3 tahun tapi meriwayatkan hadits paling banyak (5.374 hadits)? Karena setelah memeluk Islam tahun 7 H setelah perang Khaibar, Abu Hurairah "nempel" terus dengan Nabi saw sehingga kehidupan Nabi sampai detil pun ia tahu.
 
Maka, manfaatkan dan efektifkan pendidikan informal keluarga ini. Pendidikan keseluruhan di negeri ini akan kuat jika pendidikan informal keluarga juga kuat. Ketahanan keluarga akan terbentuk dengan rasa tanggung jawab seorang ayah agar anaknya to be a goodman, juga akibat dorongan ayat al-Quran di atas. Jika masa lock down selesai, ketika menyerahkan sang anak kepada guru, kita pun tambah perhatian karena pada dasarnya tanggung jawab tetap pada dirinya. Jika anaknya mau masuk pondok, orang tuanyalah yang berkata kepada guru, musyrif atau wali asrama, "Ini anak saya sudah saya biasakan shalat tahajud, puasa senin kemis, tilawah sehari sejuz, dan ibadah painnya, tolong diteruskan dan jangan kendor ya, ustadz." Bukan malah sebaliknya ketika orang tua mengambil anaknya saat liburan ustadznya yang bilang seperti itu kepada kita.
 
Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirimkan putranya kepada Imam Al-Ashma’i, salah satu ulama besar yang menguasai bahasa Arab untuk belajar ilmu dan adab. Di sebuah kesempatan Harun Ar-Rasyid menyaksikan Al-Ashma’i sedang berwudhu dan membasuh kakinya, sedangkan putra Harun Ar-Rasyid menuangkan air untuk sang guru. Setelah menyaksikan peristiwa itu, Harun Ar-Rasyid pun menegur Al-Ashma’i atas tindakannya itu, “Sesungguhnya aku mengirimkan anakku kepadamu agar engkau mengajarinya ilmu dan adab. Mengapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya lalu membasuh kakimu dengan tangannya yang lain?”
 
Di hari pendidikan nasional ini, semoga kita menjadi sosok seorang ayah panutan layaknya Khalifah Harun al Rasyid yang mampu menegur guru yang keliru ketika mendidik anaknya. Karena ia merasa tanggung jawab mendidik anak adalah tanggung kawabnya. Bukan malah protes dan marah-marah ke sekolah karena anaknya dihukum oleh guru.
Editor : Dakta Administrator
Sumber : Opini Budi Handrianto
- Dilihat 944 Kali
Berita Terkait

0 Comments