Program / Dakta Investigasi /
Follow daktacom Like Like
Senin, 25/11/2019 08:50 WIB

Rintihan Hidup Teluk Jakarta

Para ibu di Kali Adem Muara Angke melepaskan daging kerang hijau dari cangkangnya (Dakta/Asiyah)
Para ibu di Kali Adem Muara Angke melepaskan daging kerang hijau dari cangkangnya (Dakta/Asiyah)

DAKTA.COM - Pagi itu seperti biasanya, para nelayan di Kali Adem, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara bergegas mencari kerang hijau untuk menunjang kehidupannya. Mereka biasanya berangkat ke perairan Teluk Jakarta mulai pukul 06.00 dan pulang pukul 12.00 WIB.

 

Setelah nelayan pulang, kerang hijau pun diangkut dari perahu motor yang terlihat sudah usang, kemudian para ibu pun langsung mencari tempat untuk melepaskan daging kerang dari cangkangnya yang selanjutnya direbus selama 35 menit, baru ditimbang dan dijual ke pelelangan melalui perantara bos.

 

Rata-rata mata pencaharian utama warga di Kali Adem, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara memang sebagai nelayan kerang hijau. Mereka umumnya berasal dari Indramayu yang mengadu nasib di perairan Teluk Jakarta.

 

Kerang hijau memang merupakan santapan seafood yang lezat untuk dinikmati. Apalagi kandungan gizi pada kerang hijau cukup tinggi. Eits, itu bagi kerang hijau yang habitatnya belum terkontaminasi zat berbahaya seperti logam berat.

 

Seperti diketahui, perairan Teluk Jakarta merupakan tempat bermuara air dari 13 sungai yang sudah tercemar parah akibat limbah industri dan rumah tangga. Hal itu tentu berdampak pada biota laut di sana, khususnya kerang hijau yang memiliki daya serap tinggi terhadap lingkungannya. Bagaimana kondisi sosial nelayan di Kali Adem, Muara Angke, Teluk Jakarta, jurnalis Dakta mencoba untuk menelusurinya.

 

Perahu motor di Kali Adem Muara Angke (Dakta/Asiyah)

Kami pun bertemu dengan Rasta, seorang nelayan kerang hijau yang mengaku mencari kerang hijau dari beberapa titik di perairan Teluk Jakarta seperti Tanjung Priok, Ancol, Cilincing, hingga ke Pulau G Reklamasi. 

 

Para nelayan di Kali Adem Muara Angke mendapatkan kerang hijau dari budi daya yang dipanennya setiap 4-6 bulan. Namun tak jarang juga para nelayan mengambil liar kerang hijau yang menempel di terumbu karang atupun tembok-tembok apartemen.

 

Rasta yang berperawakan kurus dengan kulit yang gelap itu mengaku saat ini perairan di Teluk Jakarta memang sudah tercemar limbah industri dan rumah tangga. Meski begitu, Rasta tidak terlalu mempedulikannya, karena biar bagaimanapun di sana adalah tempat para nelayan mencari nafkah.

 

Namun ketika musim hujan datang, sangat berpengaruh bagi pendapatannya karena air laut naik. Akibatnya jumlah kerang hijau menjadi berkurang dan tidak sedikit yang mati.

 

"Kita mencarinya tidak selalu menetap, pas nyebur dan enggak ada, cari lagi. Biasanya (cari kerang hijau; red) di Tanjung Priok, Ancol, hingga ke Pulau G Reklamasi," katanya.

 

Penyebab Kerang Hijau Kini Beracun

 

Berbeda dengan Rasta, Khairul atau yang lebih akrab disapa Ali selaku 'Bos Kerang' menceritakan bahwa semenjak empat tahun terakhir karena adanya reklamasi di Teluk Jakarta, populasi kerang hijau menjadi berkurang sehingga mata pencaharian nelayan terganggu akibat pembangunan itu.

 

Lebih lanjut ia menceritakan dampak dari dibangunnya pulau reklamasi di Teluk Jakarta, yakni menurunnya kualitas dan kuantitas dari si hijau itu.

 

"Terganggu secara langsung tidak, tapi berpengaruh pada pendapatan nelayan. Seharusnya yang tadinya kerang hijau gede-gede, jadi kaget karena harus beradaptasi lagi," terangnya.

 

Baca juga: Nestapa Kerang Hijau di Teluk Jakarta

 

Menurutnya, walaupun pembangunan pulau reklamasi sudah terhenti, tetapi pulau yang sudah jadi, akan tetap menghasilkan limbah yang kemungkinan dilepas bebaskan ke laut dan berpengaruh terhadap biota laut di sana. 

 

"Memang kerang hijau di sini sudah mengandung merkuri, dan menjadi berbahaya kalau makannya satu kilo sehari, tapi kalau cuma dua sendok itu enggak akan berpengaruh. Balik lagi sih, semuanya kalau berlebihan pasti mati," tutur pria berusia 39 tahun itu.

 

Pria yang merantau dari Sumatera ini memaparkan ciri kerang hijau yang tinggi kandungan merkurinya, yakni cangkangnya berwarna coklat pekat seperti lumut dan daging kerang berwarna kusam.

 

"Itu bisa dipastikan tinggi kandungan merkurinya. Dan bisa langsung berefek seperti kepala pusing," ujarnya.

 

Sedangkan, kerang hijau yang masih sehat adalah cangkang kerangnya berwarna hijau muda seperti daun dan dagingnya pun tidak terlalu kusam.

 

Pasar ikan di Kali Adem Muara Angke

Ketika ditanya, apakah daging kerang yang beracun itu masih dimanfaatkan, Ali mengatakan bahwa daging kerang hijau itu tetap dicampurkan dengan daging kerang hijau yang masih bagus lalu dijual ke pelelangan ataupun pasar ikan.

 

Rata-rata para nelayan di Kali Adem Muara Angke menjual kerang hijau yang masih ada cangkangnya seharga Rp10-11 ribu per kilogram. Sementara, yang sudah berupa daging dan direbus seharga Rp40-50 ribu per kilogram.

 

Kesejahteraan Masyarakat di Kali Adem

 

Dengan penghasilan yang tidak tetap karena tergantung kondisi dan situasi, para anak nelayan di Kali Adem, Penjaringan, Muara Angke, Jakarta Utara mayoritas tidak bersekolah.

 

Anak-anak di Kali Adem Muara Angke yang sedang bermain

Rata-rata aktivitas mereka hanyalah bermain dan membantu orang tuanya untuk melepaskan daging kerang hijau dari cangkangnya.

 

Ali menyebut, sebenarnya pernah ada sekolah gratis di wilayahnya itu, tetapi kini tidak berlanjut karena beberapa faktor.

 

Ketika dikulik lebih lanjut, Ali mengaku warga di sini pernah mengajukan permohonan untuk menyekolahkan anaknya. Namun, dipersulit karena mereka belum ber-KTP DKI Jakarta, kalaupun tetap memaksa ingin menyekolahkan anaknya, mereka harus membayar sejumlah uang sebagai "salam tempel" kepada oknum.

 

"Saya menyarankan pemerintah, coba deh seperti zamannya Soeharto. Sekolah enggak perlu ribet harus dipertanyakan KTP dan pakai seragam. Yang pentingkan niatannya baik mau menuntut ilmu," pungkasnya.

 

Sejatinya, masyarakat di Kali Adem Muara Angke menyadari kalau kerang hijau yang menjadi mata pencahariannya sudah tercemar logam berat dikarenakan limbah yang tidak terbendung. Namun, mereka masih berharap setidaknya pekerjaan ini mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. 

 

Mereka juga berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih bagi warga di sana, karena biar bagaimanapun mereka merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama. (Asiyah Afifah)

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 827 Kali
Berita Terkait

0 Comments