Program / Dakta Investigasi /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 24/11/2019 21:18 WIB

Nestapa Kerang Hijau di Teluk Jakarta

Kerang hijau yang dijual di Pasar Ikan di Kali Adem Muara Angke (Dakta/Asiyah)
Kerang hijau yang dijual di Pasar Ikan di Kali Adem Muara Angke (Dakta/Asiyah)

DAKTA.COM - Jumlah penduduk di DKI Jakarta dan sekitarnya terus meningkat hampir setiap tahunnya, ditambah lagi pesatnya pembangunan industri dengan tidak disertai pencegahan yang tepat, mengakibatkan pencemaran lingkungan baik air, udara, maupun tanah, saat ini tidak bisa terelakkan.

 

Aktivitas manusia (antropogenik) dan industri dari tahun ke tahun itu tidak bisa lagi terbendung, sehingga menghasilkan limbah padat, cair, dan gas, baik berupa senyawa B3 maupun senyawa non-B3.

 

Karena pengusaha yang abai dan pengawasan yang kurang membuat limbah berbahaya itu sampai juga ke perairan, sehingga mengganggu kehidupan biota laut.

 

Salah satu perairan yang sudah tercemar cukup parah, adalah Teluk Jakarta. Hal itu terlihat dari warna air yang butek cenderung menghitam.

 

Pesisir perairan di Kali Adem Muara Angke Jakarta Utara

 

Guru Besar Bidang Ekobiologi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Etty Riani, MS mengamini kondisi Teluk Jakarta yang sudah tercemar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

 

Kondisi Teluk Jakarta yang buruk itu membuat biota laut khususnya kerang hijau yang memiliki daya serap tinggi terhadap lingkungannya terkontaminasi logam berat seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr), dan timah (Sn) yang sangat tinggi sehingga membahayakan.

 

Hasil penelitian Prof Etty pada tahun 2004 menunjukkan bahwa konsentrasi rerata kandungan logam berat dalam sedimen di Teluk Jakarta masih rendah, yakni 2,173 ppm (Hg); 5,942 ppm (Pb); 0,439 ppm (Cd). 

 

Kemudian, data tahun 2011 membuktikan terjadi peningkatan logam berat pada sedimen yang cukup signifikan, yakin 20,08 ppm (Hg); 36,15 ppm (Pb); 2,002 ppm (Cd). 

 

Sedangkan Pada penelitian tahun 2014, rata-rata konsentrasi Hg, Pb, dan Cd dalam sedimen meningkat lagi secara signifikan sehingga konsentrasi rata-rata di Teluk Jakarta, berturut-turut menjadi 110,47; 63,73; 6,73 ppm.

 

Apabila dibandingkan dengan baku mutu sedimen laut dari Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan 2006, yakni 0,13 pada Hg; 30,20 pada Pb; dan 0,68 pada Cd, tentu itu menunjukkan bahwa sedimen Teluk Jakarta telah tercemar berat zat berbahaya tersebut.

 

“Kalau berbicara dari konsentrasi bisa dilihat dengan sangat baik, yang jelas konsentrasi logam berat yang terkontaminasi pada kerang hijau meningkatkannya dari tahun ke tahun. Jadi saat ini sudah tidak layak lagi dikonsumsi kerang hijaunya,” jelasnya.

 

Baca juga: Rintihan Hidup Teluk Jakarta

 

Menurut Prof Etty, ciri kerang hijau yang sudah memiliki kadar logam yang tinggi adalah kecacatan fisik, seperti cangkangnya menggembung atau menggendut. Padahal normalnya, cangkang kerang hijau itu pipih.

 

Kemudian, kalau daging kerang hijau dipenyek maka dia akan mudah sekali hancur, dari segi warna pun kerang hijau yang terkontaminasi terlihat kusam.

 

Kerang hijau yang dijual di Pasar Ikan Kali Adem Muara Angke

 

Sedangkan, kata Prof Etty, jika kerang hijau sudah dimasak maka perubahan fisiknya tidak akan tampak. Sebab logam berat memiliki ikatan Kovalen dan bersifat Irreversible artinya tidak dapat dipisahkan walaupun sudah dipanaskan dengan suhu yang tinggi sekalipun.

 

"Kalau dipanaskan dengan suhu tinggi pun tidak akan hilang logam berat dalam tubuh kerang, malah hancur juga tubuhnya. Saya selalu bilang hanya tuhan yang tahu kapan dia terlepas," ujarnya sambil tertawa.

 

Dampak Serius Konsumsi Kerang Hijau Beracun

 

Bagi penikmat makanan seafood, kerang hijau pasti tidak akan terlewatkan dalam setiap pembeliannya. Kerang yang hidupnya di dasar perairan ini memang sangat enak jika dimasak menggunakan sejumlah bumbu racik dan ditambahkan rempah-rempah khas Indonesia.

 

Dakta mendapat pengakuan dari penikmat kerang hijau, bernama Imelda warga Bintara. Ketika itu, Imelda mengonsumsi kerang hijau yang ia beli di Pasar Ikan, Muara Angke, Jakarta Utara. Namun setelah dimasak dan dikonsumsi, tanpa disadari ia merasakan perut melilit, pusing,  muntah-muntah, dan gatal-gatal di sekujur tubuh.

 

"Karena waktu itu mual banget akhirnya saya kerokan dan minum susu. Tapi kok masih gatel-gatel, pas cerita ke orang ternyata keracunan kerang hijau," tutur Ibu dua anak itu.

 

Di sisi lain, seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Bekasi, Aca mengaku selama bertahun-tahun ia mengonsumsi kerang hijau, tetapi tidak pernah merasakan dampak apapun.

 

Menurut Aca, selama tidak berefek bagi kesehatannya, ia akan tetap mengonsumsi seafood itu. Meski begitu, ia mengaku akan lebih selektif dalam membelinya setelah mendengar informasi bahwa kerang hijau dari Teluk Jakarta sudah tercemar zat berbahaya.

 

"Yahh lebih selektif aja nanti dalam membeli kerang hijau, kalau lihat beritanya cukup serem juga efeknya, tapi saya sih belum pernah merasakan," ujar wanita bertubuh mungil itu.

 

Mengonsumsi kerang hijau beracun memang efek penyakitnya tidak berdampak langsung seperti halnya mengonsumsi makanan yang sudah basi. Tetapi apabila sering dikonsumsi dalam jumlah besar, maka dampak jangka panjangnya bisa memicu penyakit kanker.

 

Terlebih, kata Guru Besar bidang Keamanan Pangan dan Gizi, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, Ahmad Sulaeman bahwa kandungan logam berat pada kerang hijau bisa menggangu saraf sehingga berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan otak.

 

Ia menjelaskan, di beberapa daerah yang sudah dilakukan penelitian seperti di Bontang dan Samarinda, banyak warganya mengalami autisme. Ketika ditelisik lebih jauh, penyebabnya adalah karena daerah tersebut terdapat pertambangan. 

 

Peristiwa itu pun bisa dikaitkan dengan logam berat yang terkandung dalam tubuh kerang hijau dari Teluk Jakarta. Apalagi, jika biota laut itu dikonsumsi oleh ibu hamil maka bisa menyebabkan kecacatan dan autisme pada bayi.

 

"Dampaknya akan terjadi dalam jangka panjang. Bukan tiba-tiba keracunan atau mual. Tetapi muncul anak keturunannya mengalami kelainan seperti autisme," ungkapnya.

 

Perlu ditekankan bahwa tidak semua kerang hijau terkontaminasi zat berbahaya, masih banyak di luar perairan Teluk Jakarta yang masih sehat dan fresh.

 

Ahmad Sulaeman memaparkan segudang manfaat dari kerang hijau bagi kesehatan manusia. Seperti, protein, mineral, kalsium, lemak, omega 3, dan vitamin B12. Kemudian kandungan zinc pada kerang hijau yang tinggi mampu menjaga kebugaran. 

 

Tidak heran ada mitos yang berkembang di masyarakat apabila seorang pria ingin hebat atau kuat maka harus banyak makan kerang hijau karena tinggi kandungan zinc-nya. Terlebih, ketika pria mengalami ejakulasi, maka akan melepaskan 100 miligram zinc. Sehingga perlu ada asupan dari makanan, salah satunya kerang hijau ini.

 

Siasat Mengurangi Racun pada Kerang Hijau

 

Meski kerang sebetulnya tidak memiliki mekanisme dalam tubuhnya untuk menghilangkan racun, tetapi kata Prof Sulaeman, ada upaya agar bisa menghindari racun pada kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta.

 

Pertama, ketika membeli kerang pilih yang masih segar, dengan dilihat dari cangkang kerang masih tertutup. Kedua, setelah di rumah, cuci bersih kerang. Ketiga, rendam kerang hijau dengan air dingin dan berikan secukupnya garam. 

 

Keempat, simpan kerang hijau dalam kulkas sekitar 30-60 menit, agar racunnya keluar. Walaupun tidak menjamin semua racun akan keluar. Selanjutnya, baru kerang hijau dikeluarkan satu persatu dari kulkas. Terakhir bukalah cangkang kerang hijau.

 

Walau kerang hijau di Teluk Jakarta sudah tidak layak dikonsumsi, tetapi keberadaannya mampu menjadi bioindikator untuk melihat kualitas suatu perairan.

 

Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Muhammad Karim menjelaskan, ketika suatu perairan tercemar limbah dan menumpuk di dasar laut, maka kerang hijau akan mengonsumsi limbah tersebut.

 

Lama-kelamaan konsentrasi logam berat dalam tubuh kerang hijau meningkat. Apabila racun pada tubuhnya sudah melebihi ambang batas baku mutu dari EPA, maka kualitas perairan itu pun bisa dinyatakan tercemar.

 

"Artinya kerang ini salah satu indikator yang bisa menjadi ukuran untuk melihat tingkat pencemaran di suatu perairan. Jadi ketika konsentrasinya sudah melebihi ambang batas maka perairan itu sudah dianggap tercemar,” paparnya.

 

Di sisi lain, Prof Etty Riani menyarankan kepada pemerintah dan pihak terkait agar menaburkan kerang hijau di perairan Teluk Jakarta. Sebab kerang hijau ini bisa dimanfaatkan sebagai bioakumulator yang mampu mengakumulasi logam berat di dalam air. Sehingga perairan di Teluk Jakarta pun bisa menjadi jernih dan bersih kembali. 

 

"Intinya bukan untuk dikonsumsi tapi manfaatkanlah kerang hijau justru untuk mengambil logam berat yang ada di dalam air, sehingga logam berat yang ada di Teluk Jakarta menjadi berkurang,” pungkasnya.  (Asiyah Afifah)

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 901 Kali
Berita Terkait

0 Comments