Nasional / Sosial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 14/10/2019 13:24 WIB

Alumni IPB Bantu Korban Gempa Ambon

Alumni IPB salurkan bantu kepada korban gempa di Ambon
Alumni IPB salurkan bantu kepada korban gempa di Ambon
MALUKU, DAKTA.COM - Aksi Relawan Mandiri (ARM) Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA-IPB) yang hadir di Ambon sejak Sabtu (12/10) menyampaikan bantuan dari donatur jama'ah Masjid Alumni IPB berupa logistik dapur umum dan paket nutrisi anak.
 
Relawan badan otonom HA-IPB itu juga menghibur anak-anak pengungsi dengan kegiatan psikososial disertai hadiah balon dan permen
 
"Kipas angin ini sangat bermanfaat bagi kami, terima kasih Alumni IPB,'' ucap Ny Daim saat menerima sumbangan berupa kipas angin dari ARM HA-IPB di pengungsian Desa Liang, Maluku Tengah, Ahad (13/10).
 
Ny Daim salah satu dari sejumlah keluarga pengungsi penerima bantuan. Mereka para guru MTs dan MA Al Anshor Dusun Tanah Merah, Desa Liang, Kec Salahutu, Malteng.
 
Guru-guru dan 135 santri MTs dan MA Al Anshor sedang belajar di kelas pada Kamis pagi, 26 September lalu, ketika gempa menderu. 
 
Lindu 6,2 SR yang berpusat dangkal di darat sedalam 10 km itu memakan korban jiwa, raga, dan bangunan di Maluku serta Maluku Tengah.
 
Gempa susulan 5,2 SR menggebrak pada 10 Oktober. Korban kembali berjatuhan.
 
Tercatat 39 korban tewas, ratusan terluka, dan ratusan rumah serta bangunan, rusak. Termasuk sebagian bangunan di Ponpes Al Anshor Liang.
 
Dua gedung sekolah serta beberapa pondok guru pesantren itu rusak berat. Akibatnya, semua guru, santri, dan karyawan Al Anshor, mendadak jadi pengungsi di Pondok sendiri. Mereka tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan di lapangan pesantren.
 
''Kalau malam hari hujan atau mati listrik, kami sangat kerepotan,'' tutur Ustadz Daim, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M Natsir Tambun, Bekasi. ''Terutama para guru yang punya balita seperti kami,'' imbuhnya.
 
Ia bersyukur mendapatkan bantuan kipas angin dari Alumni IPB karena cuaca di sana sangat panas sehingga tidak nyaman di tenda. 
 
''Cuaca panas biasanya dari jam 10 pagi hingga 3 sore. Kami tidak bisa bekerja, karena balita kami tidak bisa tidur lantaran kegerahan,'' terang Ny Daim. **

 

Reporter : Elnoordiansyah
Editor : Asiyah Afiifah
- Dilihat 397 Kali
Berita Terkait

0 Comments