Catatan Akhir Pekan /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 03/02/2019 14:24 WIB

Universitas Terbaik: Apa Kriterianya?

Ilustrasi pendidikan Islam
Ilustrasi pendidikan Islam
DAKTA.COM - Oleh: Dr. Adian Husaini, Pendiri Pesantren at-Taqwa, Depok
 
Pada bulan Desember 2018 sampai Januari 2019, saya mengisi sejumlah orasi ilmiah di beberapa kampus atau Perguruan Tinggi Islam (PTI). Ada yang berbentuk Sekolah Tinggi, Institut, juga Universitas. Dalam beberapa acara itu, saya mendengar uraian tentang visi dan misi beberapa PTI tersebut. Ada pimpinan PTI yang menyampaikan visi, bahwa kampusnya ditargetkan akan menjadi 10 universitas terbaik di kotanya pada tahun 2030. Ada juga kampus Islam yang menargetkan untuk menaikkan ranking universitasnya dari ranking sekian ke ranking sekian. 
 
Kepada para akademisi, khususnya dosen dan mahasiswa di kampus-kampus tersebut, saya mengajak untuk berpikir ulang tentang kriteria kampus atau universitas  terbaik. Sepatutnya, para akademisi muslim menilai kriteria utama kampus terbaik berdasarkan nilai-nilai Islam itu sendiri.  Misalnya, berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW bahwa manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi sesama; dan manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya; juga, orang terbaik adalah yang belajar dan mengajarkan al-Quran. 
 
Jadi, jika suatu PTI menghasilkan lulusan-lulusan yang memahami dan mengamalkan al-Quran, berakhlak mulia, dan bermanfaat pada sesama manusia, maka kampus itu sejatinya telah menjadi PTI terbaik. Kriteria utama kampus terbaik – menurut Islam – itu harus menjadi pandangan dan keyakinan para akademisi muslim. Dan itu pula yang kemudian disosialisasikan kepada para siswa SMA yang muslim dan para orang tua. 
 
Aneh, jika satu PTI yang telah melahirkan orang-orang yang shaleh dan aktif berdakwah di tengah masyarakat, tidak merasa sebagai kampus terbaik. Akibatnya, siswa-siswa muslim yang pintar di SMA-SMA—yang mungkin juga di bawah naungan lembaga pendidikanya --  justru tidak tertarik untuk menimba ilmu di PTI-nya sendiri.  Mereka masih memiliki pemahaman, bahwa kampus terbaik adalah yang paling bergengsi dan dianggap paling berpeluang untuk menghasilkan uang yang melimpah. 
 
Itu artinya, soal iman, taqwa, dan akhlak mulia, tidak dianggap sebagai kriteria terpenting dalam penilaian suatu kampus terbaik.  Masalah ini terkait dengan pandangan alam (worldview) dan adab. Bagaimana mamahami dan menyikapi suatu ilmu pengetahuan dengan benar dan proporsional.  Apakah ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, sunnah, atau mubah, lebih dipentingkan daripada ilmu-ilmu yang  fardhu ain? Apakah pelajaran ilmu ekonomi, sosiologi, budaya, kedokteran, diletakkan di atas penguasaan dan penanaman aqidah, syariah, dan akhkak mulia? 
 
Pada tahun 2018, Kemenristekdikti mengeluarkan daftar ranking universitas di Indonesia. Dari 100 urutan teratas, muncul nama Universitas  Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada ranking ke-29, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-36 dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ke-38.
 
Dalam beberapa kali acara pengajian di Universitas Muhammadiyah Malang saya sampaikan, betapa bersyukurnya kita, sebagai muslim di Indonesia, di Kota Malang ada satu universitas Islam yang megah dan hebat. Tentu ini terkait kerja keras yang luar biasa. Namun, saya sempat menyampaikan “candaan” lumayan serius: “Apakah kita ridha nama Nabi Muhammad saw diletakkan di bawah nama Gajah Mada?” 
 
Saya berharap, dalam beberapa tahun mendatang, seluruh anak-anak terpandai di SMA-SMA Islam – minimal yang berada dalam naungan Muhammadiyah -- akan menjadikan UMM sebagai tujuan utama kuliah mereka. Jika tidak diterima di UMM, barulah mereka mengalihkan tujuan kuliah mereka ke UI, ITB, UGM, IPB, dan sebagainya. Sebab, para calon mahasiswa dan orang tua mereka yakin, di UMM itulah mereka dididik menjadi orang yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan profesional. 
 
Jika kita telaah, dalam menentukan ranking universitas, Kemenristekdikti tidak memasukkan kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia. Diantara kriteria yang digunakan adalah: presentasi dosen berpendidikan S3, presentasi dosen berpangkat lektor kepala dan guru besar, rasio jumlah mahasiswa terhadap dosen, akreditasi institusi BAN-PT, akreditasi program studi BAN-PT, jumlah program studi terakreditasi internasional, jumlah mahasiswa asing, kerjasama perguruan tinggi, jumlah artikel ilmiah terindeks per jumlah dosen, dan sebagainya. 
 
Jadi, sepintar dan se-soleh apapun para dosen di universitas, jika tidak berpangkat lektor kepala atau professor, maka akan dinilai rendah. Sebanyak apa pun bukunya dan sehebat apa pun, serta semanfaat pun pemikiran para dosen, jika tidak tertulis dalam jurnal terakreditasi, maka akan berdampak pada pengurangan nilai akreditasi kampusnya. 
 
Saya menghargai kriteria-kriteria versi Kemenristekdikti itu. Tetapi, biasanya PTI memproklamasikan  visi-misi kampusnya yang menekankan pada aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia. Dan memang, itulah sebenarnya kriteria terpenting untuk menentukan keberhasilan pendidikan nasional, sesuai UUD 1945 pasal 31 (c). Bahwa, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 
 
Jika pemerintah belum menggunakan kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia sebagai indikator penting peringkat suatu universitas, seyogyanya kampus Islam membuat kriteria pemeringkatan sendiri yang menjadikan aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia sebagai indikator utama pemeringkatan. Setelah iman, taqwa, dan akhlak mulia, barulah disusun indikator-indikator lainnya. 
 
Para akademisi Muslim sepatutnya yakin, bahwa jika iman taqwa dan akhlak mulia digunakan sebagai indikator utama, pasti kampus itu akan menjadi yang terbaik. Orang yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia, pasti akan menjadi orang baik dan berprestasi tinggi. Sebab, mereka bukan orang jahat, bukan pemalas, bukan pendengki, bukan yang pesimis, bukan yang egois, bukan serakah jabatan, dan sebagainya. 
 
Sebaliknya, orang-orang yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia, adalah orang-orang yang haus ilmu, cinta ibadah, ikhlas, pekerja keras, profesional, penyayang pada sesama, pecinta kebersihan dan keindahan, pejuang kebenaran, benci korupsi, benci keculasan dan kemunafikan, dan sebagainya. Sifat-sifat mulia inilah yang sebagiannya dikenal sebagai ‘soft-skill’ yang sangat diperlukan dalam meraih kesuksesan dalam kehidupan. 
 
Jadi, jika kampus Islam benar-benar menjadikan kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia, sebagai indikator utama prestasi sivitas akademikanya, pastilah kampus itu akan menjadi yang terbaik. Akhlak mulia bukan hanya ditulis dan diajarkan. Tetapi, benar-benar dicontohkan, dibudayakan, dan ditegakkan kedisiplinan dalam penerapannya oleh para dosen, mahasiswa, dan semua tenaga kependidikan. 
 
Jika konsep kampus terbaik ini menjadi keyakinan para akademisi muslim, dan kemudian disosialisasikan kepada para siswa SMA muslim, maka insyaAllah anak-anak pintar akan menjadikan kampus-kampus Islam sebagai tujuan utama kuliah mereka. Kampus adalah tempat untuk mengembangkan kepribadian mulia dan keilmuan. Kampus Islam akan lebih cepat berkembang menjadi kampus hebat jika menjadi tujuan utama anak-anak pintar berkuliah. Mahasiswa yang diterima di kampus itu benar-benar ‘disaring’; bukan ‘disarung’! 
 
Apa itu bisa? Jawabnya: bukan hanya bisa, tetapi WAJIB! Sebab, itulah amanah al-Quran, bahwa umat Islam harus menjadi ‘umat terbaik’ (khaira ummah). Dengan itu, mereka akan mampu menjalankan amanah untuk menegakkan kehidupan yang adil dan beradab di muka bumi. Nabi Muhammad saw sudah mengingatkan, bahwa mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada mukmin yang lemah. 
 
Sekarang, Saatnya! 
 
Patut disyukuri, dalam kurun 25-30 tahun terakhir, terjadi kebangkitan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia, khususnya, pada tingkat TK, dasar, dan menengah. Kini, banyak kalangan menengah dan atas muslim tak segan mengirim anaknya ke sekolah-sekolah Islam, atau bahkan ke pondok-pondok pesantren. Dan bagi sebagian orang, bayar mahal pun tak soal. 
 
Sejalan dengan suksesnya pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah, maka aneka Perguruan Tinggi Islam (PTI) pun dibuka, menyusul puluhan kampus Islam yang sudah berkiprah di Indonesia berpuluh tahun lamanya. Sayangnya, hingga kini, kampus-kampus Islam itu belum menjadi tujuan utama murid-murid pintar lulusan SMA Islam. Berbagai SMA Islam masih mengutamakan kriteria sukses pendidikannya pada tingkat penerimaan di perguruan tinggi negeri (PTN). 
 
Kebangkitan sekolah-sekolah Islam telah meluluskan ribuan murid-murid SMA Islam berkualifikasi tinggi, akademik maupun  akhlaknya. Logisnya, murid-murid  terbaik di SMA Islam itu memilih PTI sebagai tujuan utama kuliahnya. Di PTI itulah para mahasiswa dididik serius menjadi ilmuwan beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan memiliki jiwa dakwah yang kuat. Ini sejalan dengan pasal 31 (c) UUD 1945.  
 
Dengan menyandang nama Islam, nama Nabi Muhammad, atau nama ilmuwan Muslim tertentu, sudah saatnya PTI memiliki jari diri sebagai lembaga pendidikan Islam sejati. Di PTI inilah para mahasiswa dididik dengan konsep pendidikan Islam yang baku: “taadabû tsumma ta‘allamû”. Yakni,  penanaman adab dan akhlak mulia serta penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. 
 
PTI adalah Jaamiah atau Kulliyyah. PTI bertujuan membentuk manusia yang kulliy, insan kamil, bukan manusia parsial (juz’iy). Dalam rumusan  Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man.”
 
Merujuk rumusan itu, inti kurikulum lembaga pendidikan Islam, termasuk PTI,  adalah penanaman nilai-nilai keadilan, yang dilandasi dengan tazkiyyatun nafs (pensucian jiwa). Maka, sudah saatnya, PTI bangkit dan berani membuat kriteria keunggulan akademik yang khas (unik) dan unggul --berbeda dengan institusi pendidikan sekular.
 
Sesuai konsep ini, proses pendidikan di PTI, diawali dengan proses penanaman nilai, untuk membentuk manusia beradab. Hanya mahasiswa yang adab atau akhlaknya baik saja yang boleh melanjutkan menuntut ilmu di Fakultas tertentu. Dan hanya mahasiswa yang adab atau akhlaknya baik saja yang layak diluluskan. Proses ini memerlukan keteladanan pimpinan dan dosen, pembiasaan penerapan nilai-nilai kebaikan, dan juga penegakan aturan. 
 
Model pendidikan “taadabû tsumma ta‘allamû” sudah lazim diterapkan dalam proses pendidikan para ulama di masa lalu. Al-Laits Ibn Sa’ad memberi nasehat kepada para ahli hadits: “Ta’allamul hilm qablal ‘ilmi!” Belajarkah sikap penyayang sebelum belajar ilmu!  Sebab, menurut Prof. Naquib al-Attas, inti pendidikan adalah penanaman adab dalam diri seorang manusia sebagai manusia.
 
Di era disrupsi atau revolusi industriu 4.0 – dimana proses pembelajaran semakin diarahkan ke bentuk PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) --  sudah saatnya, PTI menerapkan proses penanaman adab dan pensucian jiwa insan sebagai kurikulum intinya. Jangan meletakkan ilmu-ilmu yang mubah atau yang haram di atas pendidikan iman, taqwa, dan akhlak mulia! Di sinilah, pimpinan kampus dan dosen menjadi teladan hidup. 
 
Hanya orang yang mensucikan jiwanya saja yang akan sukses, meraih kemenangan. Sebaliknya, celakalah orang yang mengotori jiwanya. (QS 91:9-10). Rasululullah saw bersabda: “al-Mujaahidu man jaahada nafsahu”. Bahwa, seorang mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya. (HR Tirmidzi). Proses pensucian jiwa adalah perjuangan berat. 
 
Sekali lagi, sudah saatnya PTI bangkit dan menjadi teladan bagi Perguruan Tinggi lainnya. PTI adalah lembaga dakwah dan lembaga perjuangan. PTI bukan pabrik roti yang orientasi utamanya adalah meningkatkan jumlah produksi.  PTI harus unggul – terutama -- dalam kualitas iman, taqwa, akhlak mulia, dan profesionalitas lulusan nya. Jangan terjebak pada konsep yang salah! Jangan terjebak pada formalisme dan linierisme! Zaman sudah berubah. Intinya, jangan sampai lulusan PTI lebih buruk akhlaknya daripada lulusan PT lainnya. 
 
Yakinlah, bahwa manusia taqwa adalah manusia paling mulia! (QS 49:13). Manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya. Jika kaum muslim tidak yakin dengan konsep itu, lalu siapa lagi!!! 
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 509 Kali
Berita Terkait

0 Comments