Galeri Dakta /
Follow daktacom Like Like
Senin, 03/09/2018 11:47 WIB

Ketua Adat: Gempa Lombok Terjadi karena Maksiat Merajalela

Ketua Adat Desa Sembalun, Rahman Sembahulun bersama Ketua Koordinator Dakta Peduli, Syifa Faradila
Ketua Adat Desa Sembalun, Rahman Sembahulun bersama Ketua Koordinator Dakta Peduli, Syifa Faradila
LOMBOK, DAKTA.COM - Radio Dakta kembali melanjutkan pendistribusian bantuan logistik di Desa Sembalun, Lombok Timur, NTB pada Senin (3/9). Sekaligus melihat masjid yang akan dilakukan rehabilitasi melalui program Dakta Peduli yang diamanatkan pendengar setia Radio Dakta.
 
Ketua Adat Desa Sembalun, Ust. Dr. A. Rahman Sembahulun, ME.Ed. mengungkapkan bahwa kemungkinan terjadinya gempa di Lombok karena maksiat yang merajalela dan warga yang meninggalkan budaya keislamannya.
 
"Kalau kita lihat secara adat, kita sudah mulai meninggalkan budaya jati diri kita yang terkenal dengan manusia Sembalun yang berjiwa lurus, tulus, ikhlas, jujur, dan adil. Tapi sekarang sudah berubah menjadi berjiwa materialistis. Kemudian terkenal juga dengan budaya gotong royong atau saling bantu dan kini sudah berubah menjadi individualis bahkan cenderung egois," jelasnya kepada Dakta, Senin (3/9).
 
Menurutnya hal itu yang mungkin menyebabkan Allah SWT memperingati para warga Lombok khususnya Sembalun agar kembali kepada budaya Islam.
 
"Itu yang mungkin menyebabkan Tuhan sudah mulai bosan dengan tingkah laku atau ulah kita menjadi manusia yang gemar dengan dosa. Dosa-dosa besar banyak yang kita anggap biasa, maksiat yang bisa dikatakan sudah merambah dan merajalela," tuturnya.
 
Namun ia mengatakan, sebenarnya hal itu bukan dilakukan oleh orang Sembalun, tetapi karena terbukanya Desa Sembalun yang menyebabkan terjadinya degradasi sosial dari luar daerah dan internasional. Padahal, lanjutnya, Sembalun mempunyai makna saling topang atau melakukan apa-apa bersama-sama dalam hal ini bersama-sama menyembah kepada yang di atas yaitu Allah SWT.
 
Dengan adanya peringatan gempa bumi ini, lanjutnya, warga Sembalun semakin meningkatkat ketaqwaan dan ibadahnya kepada Allah SWT. Dengan didirikannya mushola di setiap tenda.
 
"Masyarakat karena memang bersedih tapi kita melihat gairah masyarakat untuk kembali kepada kearifan lokal dan jati diri keislaman serta cenderung meningkatkan ibadahnya. Sehingga sekarang marak dimana-mana camp selalu ada mushola walaupun hanya di terpal," ungkapnya.
 
Ia berharap setelah terjadinya gempa yang berkali-kali di Lombok ini, masyarakat Desa Sembalun dapat bangkit secara ekonomi, dan kembali kelapa jati diri budaya Islam. **
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 2479 Kali
Berita Terkait

0 Comments