Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 04/09/2017 10:00 WIB

Membangun Nasionalisme yang Melampaui Urusan Sea Games

SEA Games 2017
SEA Games 2017
Oleh: Khairul Anwar, Kandidat Ph.D di CASIS - UTM
 
Gegap gempita dan perhelatan Sea Games 2017 di Kuala Lumpur baru saja berlalu. Sportivitas, nilai-nilai kejujuran, dan persaudaraan yang diusung dalam perhelatan olahraga antar-bangsa ASEAN ini adalah hal penting yang perlu kita jaga bersama. 
 
Rivalitas di dunia olahraga itu baik, tetapi menjadi buruk ketika berubah jadi saling menghina dan aksi rasialis. Banyak berita yang bertebaran di laman media sosial, dan kemudian disikapi oleh kalangan tertentu dengan amarah dan sumpah serapah. 
 
Tindakan-tindakan semacam ini dapat mengikis rasa persatuan antar-bangsa yang telah terjalin sekian lama.
 
Para pengolah berita yang gemar menggoreng isu-isu atau cerita bombastis turut memperkeruh suasana. Pemberitaan diarahkan kepada permasalahan klaim budaya dan pembuktian negara mana yang paling superior. Isu-isu sensitif dan sentimen coba digiring ke dalam “ranah politik” yang berujung pada sikap saling-menyalahkan. 
 
Semangat olahraga malah melenceng jauh menjadi sentimen antar negara yang kurang perlu. Caci maki dan saling merasa diri yang paling baik bertumpuk dengan alasan nasionalisme.
 
Hasil goreng-goreng berita dan kegamangan sebagian kaum muda dalam menyaring berita menghasilkan suasana yang agak menghangat. Sengketa budaya kembali mencuat, dipelintir sedemikian rupa seolang-olah itulah harga diri dan hakikat jati diri bangsa. Padahal, tentu lebih membanggakan jika amarah yang membuncah itu dikelola menjadi sesuatu yang bermartabat dan berwibawa. 
 
Kepala menjadi tegak jika harga diri itu diejawantahkan dalam bentuk penegakan hukum seadil-adilnya, berdikari secara ekonomi, pengamalan adat resam bangsa, dan yang paling inti terletak pada jiwa dan raga yang mencerminkan nilai-nilai adab Islam yang luhur.
 
Mari sejenak kita keluar dari pusaran kemarahan yang hanya berupa permainan (la‘ib) dan hiburan melalaikan (lahw) ini. Akan lebih menyenangkan untuk sekadar ikut merasakan keakraban perbincangan orang-orang tua di kedai kopi, keteduhan di pasar-pasar tradisional, dan kedamaian yang asri di kampung halaman. 
 
Ternyata kebingaran perang harga diri negara akibat Sea Games tidak sekeruh yang diberitakan. Keriuhan itu hanyalah terjadi di media sosial oleh oknum “keyboard warrior” yang tengah meluahkan emosi yang membuncah akibat kekeliruan menyikapi keadaan sosial melebihi kepentingan makna agama dan kebangsaan.
 
Sejatinya sebagian budaya yang diributkan itu sudah ada jauh sebelum bangsa Melayu dipecah-belah oleh penjajah. Jangan-jangan kita telah abai akan jati diri sebagai bagian dari kepulauan Indonesia-Melayu. Atau mungkin kita pura-pura lupa ajaran saka guru mengenai sopan santun dalam bertutur kata dan mengayak fikiran tentang keluhuran agama Islam. 
 
Cerminan jati diri kebangsaan kita telah benar-benar buram oleh nafsu amarah sehingga kita lupa tengah menghadapi krisis intelektual dan moral yang akut. Kita pun mengalami keburaman ilmu dan sejarah, ketidaktahuan akan nilai-nilai agama, dan kealpaan pada peristiwa besar di masa silam yang berhasil mengubah jiwa dan raga bangsa Melayu.
 
Dari sekian banyak gesekan itu, sebenarnya kita bisa menyikapi masalah secara proporsional dan dengan hati yang jernih. Mengendalikan emosi dan amarah menjadi sebuah ikatan persaudaraan yang menenangkan batin. 
 
Bukankah melihat sekian banyak persamaan itu jauh lebih menenangkan dibanding mengangkat isu perbedaan yang bilangannya tidak seberapa itu? Kita mesti kembali menengok sejarah cerdik cendikia bangsa ini dalam usaha merekatkan dan menyatukan unsur-unsur masyarakat dalam perspektif yang lebih luhur, yakni penjiwaan terhadap nasionalisme dan kebangsaan sesuai dengan makna dan tujuan sejati dari yang diperjuangkan oleh para ulama dan syuhada.
 
Inti penyatuan ini, dalam rumusan S.M.N. Al-Attas, bermula dengan kehadiran Islam yang mengangkat martabat bahasa Melayu di kepulauan Melayu-Indonesia, peristiwa yang kelak akan membangkitkan kesadaran yang menyatupadukan semangat dan pemikiran kebudayaan masyarakat di kawasan ini. 
 
Semangat perpaduan (sentiment of solidarity) dalam konteks persatuan dan nasionalisme warga pada sebuah negara, menurut beliau, timbul karena beberapa faktor utama, yaitu faktor bangsa, bahasa, pengalaman sejarah yang panjang, dan tentunya agama. Unsur-unsur inilah yang menumbuhkan rasa persatuan dalam perbedaan (bhinneka tunggal ika), serta semangat patriotik yang adil pada tiap-tiap warga negara.
 
Kelak, faktor-faktor ini jugalah yang memicu semangat rakyat, yang selama ratusan tahun dipakai untuk berjuang mengusir penjajah dari tanah ibu pertiwi. Sebuah landasan tatanan nilai yang luhur bagi menyadarkan fikiran dan batin mengenai tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam, yakni (i) hilangnya adab; (ii) kekacauan ilmu pengetahuan; (iii) kedua faktor tersebut akan melahirkan para pemimpin yang tidak punya kredibilitas dan kelayakan. 
 
Selain itu, juga keharusan untuk mempertahankan diri dari pengaruh ragam kebudayaan Barat dan modernitas yang penuh dengan kehampaan batin. Dari lingkaran tantangan besar ini, kita harus memulai menangani masalah akhlak (adab), yakni sebuah kesadaran dalam jiwa untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya, berdasarkan ilmu dan hikmah.
 
Berdasarkan pada ciri dan identitas bangsa tersebut, kita kemudian bisa lebih yakin menaruh harapan di masa depan untuk menjadi manusia yang hidup secara adil dan beradab; persatuan yang kukuh; kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksanaan, dan adat bermusyawarah; keadilan sosial bagi seluruh rakyat; hingga pada puncaknya kembali mengenal dan mengakui fitrah yang pernah kita lafazkan di masa ‘ālam al-mīthāq’, yaitu nazar Allah Swt. sebagai Ketuhanan Yang Maha Esa.
 
Mudah-mudahan dengan kearifan identitas bangsa tersebut, kita dapat terus menebar rasa damai yang merangkul semua golongan, berusaha berjuang dan menyambung tongkat estafet cita-cita luhur, serta mengajarkannya kepada generasi penerus bangsa. 
 
Pada akhirnya, tidak ada penghalang agar kita bisa saling berjabat tangan sembari terus merawat tradisi, bangsa, dan agama. Di momen kemerdekaan ini, izinkan saya mengulurkan tangan sembari mengucapkan, "Selamat Menyambut Hari Kemerdekaan Negara Malaysia yang ke-60". Semoga kemerdekaan tanah bertuah ini kelak membawa kepada kedaulatan, keadilan, dan kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya. Amin.
 
***
 
Ide tulisan singkat ini disadur dalam buku Islam and Secularism, bab iv, “The Muslim Dilemma” karya Prof. S.M.N. Al-Attas dan Syarahan Umum beliau tentang “Makna Kebangsaan” di Institut Tadbiran Awam Negara (INTAN), Kampus Utama INTAN - Bukit Kiara, pada hari Sabtu 10 Mei 2014.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 203 Kali
Berita Terkait

0 Comments