Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 30/08/2017 09:15 WIB

Ketupat di antara Bid’ah dan Himpitan Modernitas

ketupat lebaran
ketupat lebaran
Oleh: Tri Subhi Abdillah, Pimred Komunitas Nuun
 
Bangsa Indonesia adalah bangsa agraris. Bangsa penanam padi. Lebih dari setengah bangsa kita berpakan pokok nasi. Namun bukan hanya nasi, beras yang berasal dari padi itu kita olah juga menjadi beragam panganan. Kadang padi digiling jadi tepung, menjadi bahan kue-kuean. 
 
Kita juga mengenal lontong, lemper, leupeut sebagai olahan lain berbahan beras. Salah satu yang khas ialah ketupat. Makanan yang punya nilai “lebih” bagi bangsa kita. Ketupat mengukuhkan bangsa kita sebagai bangsa yang amat lekat dengan padi, beras dan tentu saja budaya agraris yang telah berusia berabad sekaligus mengukuhkan identitas keislaman kita. Hanya kelakuan Orde Baru yang membuat bangsa kita agak berpaling pada mie instan dan membuat negara ini bergantung pada impor gandum. Sebelum itu, beras segala-galanya.
 
Berbeda dengan beberapa bangsa yang menjadikan makan sekadar mengisi usus, bangsa kita gemar memaknai makanan dengan lebih dalam. Ketupat boleh jadi secara lahir hanya panganan belaka. Namun (menurut beberapa kisah lisan) Sunan Kalijaga telah menjadikan ketupat sebagai sarana perenungan. Tempat bermuhasabah, menimbang-nimbang diri. Ketupat dikenal juga sebagai kupat. Orang Sunda memiliki panganan daerah yang namanya kupat tahu. Di Kabupaten Kuningan dikenal “hucap”, kupat tahu kecap. Masih menurut beberapa tuturan lisan, kupat juga bermakna ngaku leupat (mengaku salah).
 
Bisa jadi ini hanya permainan bunyi dan simbolisasi yang memang digemari bangsa kita. Hingga hari ini ketupat selalu dijadikan panganan khas setiap Idul Fitri. Ada seorang Barat di masa silam (namanya Hermanus Johannes de Graaf, bisa dicari di Google) yang menyebut ketupat sebagai tradisi orang pesisir, orang-orang yang hidup dekat laut. Alasannya sederhana saja, kelapa ialah tanaman khas daerah pesisir. Nampaknya orang Barat ini lupa kalau di daerah pegunungan pun banyak tumbuh pohon kelapa. Di Bandung, Garut, Kuningan dan dataran tinggi lain, kelapa amat akrab dengan kehidupan. Di Tengger yang jauh amat tinggi dari laut pun daun kelapa muda digunakan untuk menjanur. Lebih pelik lagi, isi kupat atau ketupat ialah beras yang lebih cocok ditanam di dataran tinggi.
 
Ketupat memang perlu difahami dalam kerangka tradisi orang kita yang gemar menyimbolkan sesuatu. Kematian disimbolkan bendera kuning, pernikahan ditandai dengan janur dan kehadiran bayi disimbolkan dengan macam-macam upacara. Ketupat (lebaran) ialah simbol dari kebersediaan mengakui kesalahan dan kekurangan diri, ketepatan dan juga kesabaran. Paling tidak begitu yang pernah penulis dengar.
 
Pada masa-masa dahulu, membuat ketupat ialah sebuah laku yang panjang. Orang tidak membeli janur ketupat di pasar, tetapi mengambil di ladang. Menganyam janur-janur muda menjadi wadah ketupat ialah sebuah pengalaman yang khas. Menganyam ketupat ini bukan perkara yang mudah. Ada pola dan rumus tertentu yang perlu dipelajari. Kesabaran, ketepatan dan ketelatenan dilatih dalam laku ini. Pada awalnya tidak terlalu mudah, tetapi kalau kita pelajari dengan seksama dan mencobanya berkali-kali, dapat pula kita membuat anyaman ketupat yang baik.
 
Setelah selesai anyaman ketupat itu, kita harus mempersiapkan beras sebagai isiannya. Baiknya beras untuk ketupat direndam dalam air dan diberi sedikit kapur selama setengah sampai satu jam. Mengisikan beras yang telah direndam ke dalam anyaman ketupat, juga memerlukan tingkat rasa tertentu. Besar anyaman dan jumlah beras yang dimasukan akan menentukan kemengkalan ketupat ketika matang. Salah ukur, ketupat bisa terlalu lembek atau malah tak padat (orang Sunda menyebutnya bear).
 
Untuk matang, ketupat harus direbus selama 5 sampai 6 jam dengan api sedang. Pada masa lalu, ketupat dimasak di tungku menggunakan kayu bakar. Mengatur besaran nyala api di kayu bakar merupakan kemahiran lain yang musti dimiliki agar mendapat ketupat dengan mutu yang baik. Terakhir, ketupat yang telah matang harus segera diangkat dan digantung. Dibiarkan terangin-angin.
 
Di beberapa keluarga, cara membuat panganan ini telah diwariskan turun temurun. Bagi yang mengalami penurunan laku ini, tentu dapat merasakan banyak hal. Bayangkan, kita melakukan tindakan yang (nyaris) sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh orang tua, kakek-nenek, bebuyut dan moyang kita. Pada suatu masa di sebuah malam lebaran yang sama, mungkin kakek-nenek kita melakukan gerakan yang sama, persis seperti yang kita lakukan di masa kini. Di waktu yang terjarak rimbunan tahun kita menghayati cara dan rasa yang sama.
 
Kita melakukan apa yang ibu-bapak lakukan. Setiap tahun, di penghujung Ramadan, kita menuntun tangan-tangan kita, menganyam janur menjadi ketupat. Menakar beras dengan ukuran yang sama. Merebus dengan cara yang sama. Di dalam laku membuat ketupat sesungguhnya terhubung batin kita dengan orang tua kita. Setiap tahun, lidah kita menziarahi kelezatan yang seperti itu, dan batin menelusuri ingatan, bertemu pada rasa yang sama, yang dialami banyak orang dalam berbagai zaman. Melakukan apa yang telah dilakukan leluhur kita, merasakan apa yang dirasakan. Menjaga cara, menjaga laku, menata rasa. Bersilaturahim dengan berbagai masa.
 
Di dalam ketupat kita melestarikan gerak dan perasaan. Kita mengawetkan kenangan dan nilai. Kemana pun kita, di mana pun kita, setahun sekali kita merenungkan ajaran Sunan Kalijaga. Dalam aroma bau ketupat, dalam asap wangi janur kita menimbang diri, menyuburkan batin dengan keterbukaan untuk mengakui kesalahan pribadi. Ngaku leupat.
 
Ada waktu untuk menjeda di malam lebaran. Meninggalkan riuh modernitas dan hasutan media. Beristirahat dari hiruk pikuk derasan kata. Menyingsingkan lengan baju dan jari-jari kita mulai menganyam janur. Melakukan gerakan yang sama sebagaimana tahun-tahun terdahulu. Menelusur dan mengingat hingga ke masa kanak, mengenang bagaimana dulu bapak-ibu atau kakek-nenek mengajari kita membuatnya. Mengunjungi kembali masa di mana kita begitu dekat dengan pohon kelapa, sawah, bau kayu bakar dan suara takbiran yang syahdu. Lantas di antara sekala tindakan itu kita membuka diri, mengakui kesalahan-kesalahan diri dan memohon ampun pada Allah Sang Pemurah.
 
Sebagai sebuah tradisi yang memang diciptakan, ngupat di malam lebaran tentu saja boleh tidak dilaksanakan. Tidak ada pula larangan untuk melaksanakannya. Boleh saja kita bersenang-senang di malam lebaran. Melaksanakan dan meninggalkan ketupat lebaran ialah hal yang sebenarnya biasa saja dalam hidup.
 
Ketupat di malam lebaran memang telah mendapat tantangan dari beragam sudut. Orang-orang dengan pandangan tertentu menganggapnya bid’ah, laku yang sama sekali tidak pernah dilakukan dan apalagi diajarkan Nabi Suci. Kita tahu nabi tak pernah makan nasi dan bersawah, apalagi membuat ketupat.
 
Sementara orang-orang yang merasa lebih modern menganggap prosesi membuat ketupat sebagai sesuatu yang membuang-buang waktu dan tenaga. Ribet dan merepotkan. Banyak hal yang lebih produktif di malam lebaran yang bisa dilakukan selain membuat ketupat.
 
Ada pula orang yang mengajak kita untuk selalu lebih terbuka. Berani menerabas apa yang biasa dilakukan. Tidak membuat ketupat di malam lebaran dianggap melawan kejumudan, sebuah perjuangan melawan kebebalan tradisi.  Tindakan sekonyol ini mungkin saja dilakukan. Nampak hebat dan kegagah-gagahan dengan berani tidak membuat ketupat di hari lebaran boleh jadi pernah difikirkan oleh orang-orang yang butuh perhatian. Tentu kita tak memungkiri ada banyak tradisi yang tak baik, tetapi melawannya dengan cara tak membuat ketupat di hari lebaran ialah tindakan kebocah-bocahan.
 
Ketupat bukan sebuah kewajiban yang harus dipertahankan habis-habisan. Namun bukan pula laku terlarang yang harus dibasmi sehingga anak cucu kelak tak mengenalnya lagi. Laku ini hanya sarana untuk mengingat dan menimbang diri, bersilaturahim rasa dengan para leluhur. Mengingat apa yang pernah dirasakan dan diajarkan orang tua dahulu. Kita boleh meninggalkannya, tak lagi membuat ketupat di malam lebaran.
 
Panganan ini boleh terus menurus dibid’ahkan atau dianggap laku sia-sia yang merepotkan. Kita bisa mencerabut dan mencamapakan ketupat sejauh-jauhnya. Tapi kita juga akan kehilangan cara, untuk merasakan apa yang telah puluhan generasi lakukan dan rasakan selama berabad. Tanpa ketupat, batin kita tak akan berkesempatan menziarahi kelezatan yang (nyaris) sama seperti yang dirasakan bebuyut kita ketika membuat ketupat.
 
Kegemaran membid’ahkan dan menihilkan nilai-nilai tradisi bisa jadi telah mengantarkan kita pada kehidupan yang lebih ringkas. Tapi kita juga telah lama terjebak dalam kesunyian batin yang tak sudah-sudah.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 864 Kali
Berita Terkait

0 Comments