Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 14/08/2017 07:30 WIB

Fangirling, Patah Hati dan Idol Syariah

muzammil hasballah dan sonia ristanti menikah
muzammil hasballah dan sonia ristanti menikah
Oleh: Fathiannisa Cesaria, Pegiat Komunitas Nuun
 
Fanatisme kepada sang idol, dalam level tertentu dapat membawa kehidupan seseorang menjadi amat sensitif, berlebihan. Para fans ini, bisa jadi, lebih tinggi harga diri dan pembelaannya pada sang idol ketimbang idol itu sendiri terhadap dirinya. Hanya tersentil atau tersinggung sedikit saja perihal idol-nya, para fans ini bisa mengamuk tak karu-karuan, menyerang  penyentil atau penyinggung sang idol. Kita bisa melihat tindakan seperti itu pada kasus Ibu Elly Risman yang prihatin akan rencana kehadiran gilrband SNSD asal Korea ke Indonesia pada pertengahan Agustus 2017 ini.
 
Dalam keprihatinannya itu, Ibu Elly berkomentar bahwa girlband SNSD ini merupakan simbol seks, perzinaan, dan pelacuran. Secara serta-merta, menyatakan suatu girlband yang pekerjaannya menari dan menyanyi sebagai simbol pelacuran mungkin tidak pas. Lagipula, tak ada anggota grup SNSD yang secara terbuka dan terang-terangan menyatakan dirinya pernah melacur atau berhubungan badan sebelum melakukan pernikahan.
 
Kita tak bisa menutup mata dan tak mengakui bahwa pakaian gilrband SNSD saat tampil biasanya amat terbuka dan terang-terangan menunjukkan lekuk serta lenggoknya. Jika ibu-ibu kita khawatir anak dan cucunya meneladani yang semacam ini tentu adalah suatu kewajaran. Namun, dalam hal ini, perlu difahami, Ibu Elly termakan berita hoax yang menuliskan bahwa SNSD diundang pada acara resmi upacara proklamasi kemerdekaan 2017 di istana negara. Padahal, yang sebenarnya adalah untuk pembukaan SEA Games. Tetapi, yang jauh lebih penting dari itu: yang terjadi pada penggemar mereka. Tengoklah reaksi sebagian fangirl SNSD dan K-Pop kepada Ibu Elly. Ribuan kata-kata hujatan menyerbu Ibu Elly Risman tanpa ampun. Ibu yang mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan anak ini dihabisi dengan kata-kata: bangsat, goblok, tolol, tak punya otak, dan sebutan memilukan lainnya di sosial media.
 
Fangirling adalah suatu kata kerja yang menunjukkan perilaku obsesif, pengabdian, dan semangat yang tinggi seorang penggemar dalam mengidolakan sesuatu. Idol-nya ini bisa penyanyi, grup penyanyi, aktor, aktris, musisi, atau tokoh fiksi dalam film, novel, komik, dan lain sebagainya. Kata ini memang belum masuk ke dalam kamus bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris secara resmi. Akan tetapi, kamus Urban daring, urbandictionary.com, mencatatnya sebagai, (1) the reaction a fangirl has to any mention or sighting of the object of her "affection". These reactions include shortness of breath, fainting, highpitched noises, shaking, fierce head shaking as if in the midst of a seizure, wet panties, endless blog posts, etc. (2) a gathering of two or more fangirls in which they proceed to waste endless amounts of time ogling, discussing/arguing, stalking, etc. the object of their "affection".
 
Definisi tersebut menggambarkan bahwa fangirling, yang mengandung kata girl, tidak hanya aktivitas menggemari idola yang berlaku bagi penggemar perempuan saja. Kata ini berlaku umum. Selain itu, reaksi  fangirl manakala berjumpa atau sekadar melihat sang idol (dalam bentuk gambar sekali pun) bisa sampai menjerit-jerit, gemetar, seolah-olah kejang, sesak napas, bahkan pingsan. Boleh dikatakan, fangirling adalah aktivitas menggemari idol dengan dedikasi, totalitas, dan loyalitas yang tinggi dalam segala cara yang mungkin ditempuh. Mereka ini senang sekali memuat dan membahas segala hal tentang sang idol, tanpa kenal waktu dan tempat. Mereka tak segan dan tak pula takut miskin untuk mengeluarkan banyak uang demi membeli album, novel, buku, komik, merchandise, atribut, tiket pertunjukan, atau produk apa pun yang berhubungan dengan sang idol.
 
Pada definisi kedua tersebut, fangirling juga berarti pertemuan dua atau lebih fangirl yang bertujuan untuk membahas, menguntit, sampai berdebat mengenai sang idol tanpa terbatasi waktu. Dari sini, lahirlah istilah fandom yang merupakan singkatan dari fans kingdom atau kerajaan para penggemar fanatik tersebut. Fandom adalah komunitas tempat para fan berkumpul dan membahas idol mereka. Ada fandom yang mengadakan pertemuan rutin; ada pula yang sekadar berkumpul di forum-forum internet. Aktivitas fangirling yang paling menonjol, tak kenal waktu, sekaligus mudah untuk ditelusuri, memang terjadi di dunia maya.
 
Pada dasarnya, fenomena fangirling ini bukan sesuatu yang sangat baru. Sejak dahulu, kelakuan fan kepada idolanya memang bisa terlampau ekstrem dan tak terduga. Istilah ini sendiri, pada awalnya, digunakan bagi para penggemar drama, artis, dan penyanyi dari Jepang. Akan tetapi, di Indonesia, istilah ini baru benar-benar populer setelah derasnya serbuan hallyu wave di tahun 2012.
 
Hallyu Wave atau gelombang Korea merupakan istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia yang mulai dipasarkan sejak tahun 1990-an. Hallyu wave dimulai dengan penayangan drama seri korea yang populer dengan sebutan k-drama di berbagai negara. Trans TV adalah stasiun televisi pertama yang menayangkan k-drama di Indonesia dengan judul Mother Sea. Namun, Trans TV tidak sesukses Indosiar yang menayangkan k-drama Endless Love. Serial ini mampu menghanyutkan perasaan masyarakat Indonesia sehingga masih terkenang hingga kini. Sejak saat itu, stasiun-stasiun televisi swasta seperti berlomba-lomba menayangkan beragam k-drama.
 
Dari k-drama, mulai dikenalah aktris dan aktor Korea. Setelah situ, orang-orang pun mulai tertarik dengan musik pop korea yang menjadi lagu pengiring (soundtrack) k-drama. Lagu pengiring itu lazimnya dibawakan oleh penyanyi Korea yang juga anggota grup idol di sana. Misalnya, meledaknya drama Boys Before Flower membuat boyband SHINee, T-MAX, dan SS501 terkenal di Indonesia. Sejak itu, perlahan tapi pasti, mulai menjamurlah fangirl dan fandom K-Pop di Indonesia. Pada tahun 2012, konser-konser penyanyi dan boyband Korea pun mulai diadakan di Indonesia dan laku keras. Bahkan, saking membludaknya jumlah penonton, konser boyband Super Junior yang kala itu sedang amat populer sampai harus diadakan selama tiga hari padahal rencananya hanya satu hari.
 
Di dalam fangirling, ada anasir pemujaan, penggantungan harapan dan pemberhalaan terhadap idol.  Kita sering, dengan mudah, dapat menjumpai muatan-muatan mengenai  delusi fan kepada idol-nya di internet. Idol bagi para fan adalah sosok sempurna yang diidam-idamkan. Para fan telah menyediakan dirinya melakukan segala upaya untuk menyukseskan karir sang idola. Fandom juga siap melibas apa pun yang menghalangi jalan sang idol menuju kesuksesan, termasuk seorang ibu seperti Elly Risman. Loyalitas semacam inilah yang pada akhirnya menimbulkan perang kata-kata di sosial media. Maka tak heran jika kita sering menemukan fanwar atau perang antarfan di sosial media hingga berbulan-bulan lamanya. Para idol tidak hanya memiliki fan sejati yang siap membela sampai mati, mereka juga punya haters atau pembenci setia yang siap menjatuhkan popularitasnya.
 
Dalam psikologi, kondisi terlampau mengidolakan sesuatu dikenal sebagai celebrity worship syndrome (CWS). Ada delusi di dalam jiwa para fan bahwa ia memiliki ikatan khusus dengan sang idol hingga meyakini, dalam jarak sejauh apapun, sang idol dapat merespons kebutuhannya. Mereka yakin, walau terhalang jarak, idol adalah sosok yang dapat diraih, bahkan dinikahi. Fantasi ini dapat terus berkembang hingga seolah-olah sang idol adalah kekasih dambaan yang berkarya khusus untuknya. Dari sinilah, rasa marah fan dapat muncul apabila idol diserang atau diganggu fihak lain. Bahkan, mereka bisa memiliki kecemburuan yang dalam apabila sang idol menikah dan berkeluarga. Fikirannya telah tersita dengan terus memikirkan sang idol hingga bersedia merugikan diri (tanpa merasa rugi) dan fihak lain yang dianggap mengganggu atau merebut idol-nya. Fikiran mereka yang dipenuhi delusi tentang sang idol ini dapat membawa kepada tindakan-tindakan yang di luar nalar. Mereka akan kesulitan membedakan kenyataan dengan khayalan.
 
Berbagai bentuk aktivitas fangirling biasanya berupa fan art, fan fiction, fan speak, dance cover, song cover, fan war, menyesuaikan dandanan, tata rambut, dan fesyen persis sang idol, hingga merayakan ulang tahun sang idol dengan lumayan besar-besaran meskipun ia entah berada di mana dan sedang melakukan apa. Fangirling, pada akhirnya, cenderung dikenal sebagai perilaku fanatik yang menyebalkan dari para penggemar kepada idol dari hallyu wave.
 
Yang sesungguhnya tengah dibela dan diperjuangkan oleh para fangirl dan fandom semacam ini, sebetulnya, adalah eksistensi sang fan sendiri. Sebagai manusia, kita pasti memerlukan jati diri. Kita bisa mengambil jati diri dari asal-usul orang tua kita, melalui perenungan mendalam atau asal comot dari hal-hal yang baru kita lihat dan langsung disukai. Bagi para fan, sosok idol adalah kediriannya. Dedikasi, totalitas, dan loyalitas dalam menggemari hal tersebut, sebetulnya, adalah untuk memenuhi kebutuhan ego dan dirinya juga.
 
Kedaulatan jiwa seseorang seolah-olah terpenuhi dengan menyaksikan, menuruti, memuja, hingga melindungi sang idol. Dengan demikian, ketika sang idol “disentuh”, para fan ini merasa yang “disentuh” adalah juga dirinya. Mereka cenderung tidak terima dan melawan balik jika sang idol mendapat penghinaan atau sesuatu yang dianggapnya penghinaan. Tanpa sepenuhnya disadari, perilaku semacam itu sebetulnya demi mempertahankan jati diri sang fan sendiri yang turut merasa direndahkan.
 
Para fan yang menemukan dirinya dalam sosok idol-idol ini telah habis-habisan dikomodifikasi. Budaya fangirling diciptakan dan dikonsumsi sendiri oleh para fan. Mereka diiming-imingi oleh definisi kebaikan dan kemurnian cinta dan kata-kata manis lainnya atas sang idol. Padahal harta sekaligus jati diri para fan tengah diperas kuat-kuat. Industrialisasi budaya pop Korea telah mengantarkan sebuah generasi pada tindak fanatisme dan jauh dari kekokohan jati diri. Para idol pun sama, dieksploitasi. Mereka dituntut berpenampilan keren, menjaga citra diri, tampil modis dan sedap dipandang, atau dalam cara-cara apa saja yang dapat memuaskan fannya. Mereka kehilangan jati dirinya sambil diming-imingi pula oleh harta dan popularitas. Seluruh kehidupannya dipaksa untuk dimiliki dan sesuai harapan para fan, nyaris seutuhnya. Tidak lagi ada hal pribadi yang boleh disimpan sosok idol. Rahasia idol adalah milik para fan. Tak sedikit idol yang mengalami depresi hingga mati bunuh diri.
 
Fanatisme rupanya jadi suatu cara berfikir dan merasa yang efektif untuk memperoleh keuntungan berlipat ganda. Hal yang ditanam, dipupuk, dan dirawat demi industri ini berbuah ke cara berfikir dan menanggapi persoalan secara emosional, militan, dan main terabas. Perilaku fanatik dalam cara dan bentuk apa pun memang hanya akan membuat kita kehilangan kesadaran akan diri dan sekitar kita. Jika sampai begitu, kita bisa cenderung defensif dan kesulitan menerima masukan, alih-alih nasihat. Tak ada yang benar kecuali sang idol. Tak ada kebenaran kecuali sang idol.
 
Para muslim dan muslimah juga terkena dampak dari hallyu wave ini. Tidak sedikit dari muslimah, berjilbab, usia remaja maupun dewasa yang menggandrungi K-Pop serta K-drama. Sebagiannya tak malu-malu menjadi fangirl sejati, sebagian lainnya mengikuti secara diam-diam, tetapi ada sebagian lagi yang berusaha menghindari fangirling ini dengan cara-cara tertentu, misalnya berhenti dari segala aktivitas fangirling atau menggeser idol-nya kepada sosok yang dinilai lebih Islami.
 
Pemilik akun Instagram @soniaristanti memuat foto dirinya bersama suami dengan caption:
“Every girl dreams about a guy singing her favourite song.
But... We Muslimah's always wish a guy who will recite our favourite surah...”
 
Muslimah berjilbab dan bercadar yang baru melangsungkan pernikahan dengan Muzammil Hasballah awal bulan Juli 2017 ini mengunggah foto tersebut pada 30 Juli 2017 dan disukai oleh 56.521 orang. Kata-kata tersebut dikutip dari gambar Instagram akun @thepowerofdua yang dimuat pada 20 Juli 2017.  Kutipan ini mungkin dapat mewakili perasaan dan fikiran sebagian muslimah yang masih kecantol dengan gaya fangirling.
 
Ada saja muslimah yang tidak sepenuhnya sadar masih hidup di dalam fantasi cerita Disney yang telah mewarnai hidupnya sejak kecil. Dambaan akan pangeran tampan berkuda putih yang gagah dan tegap untuk menjadi kekasih masih lekat di jiwanya. Namun, karena seorang muslimah semestinya tidak mementingkan menonjolkan penampilan fisik, maka cukuplah sang pangeran ini adalah sosok saleh yang indah bacaan Al-Qur’annya dan banyak hafalannya. Tak usah pandai bernyanyi atau merayu, cukup Abang bacakan Al-Qur’an buat Adik setiap habis shubuh. Jangan-jangan, begitulah seloroh hati para muslimah ini.
 
Bagi muslimah, paling tidak, bentuk fangirling yang berlaku adalah soal fantasi terhadap percintaan dan keromantisan halal serta kehidupan rumah tangga penuh bunga. Sekali lagi, tak perlu tampan-tampan amat, yang penting hafal Al-Qur’an atau merdu bacaan Al-Qur’annya saat mengimami sholat. Ada dambaan untuk didendangkan, eh, maksudnya diperdengarkan bacaan Al-Qur’an merdu dalam keseharian. Padahal sepertinya, persoalan rumah tangga tak langsung selesai setelah 30 juz Al-Qur’an selesai dihafalkan atau Al Quran dikhatamkan setiap tiga hari sekali.
 
Fatih Seferagic, Faisal Latief, Mishari Al-Baghli, Muzammil Hasballah, Hamas Syahid Izuddin, serta Ibrohim Fadlannul Haq adalah para qari penghafal Al-Qur’an yang sedang hit. Industri media seperti tengah meng-idol-kan para qari ini dengan berbagai judul berita semacam “Empat Cowok Tampan Pelantun Alquran, Bikin Semangat Ibadah Subuh”. Para muslimah yang sudah tak lagi fangirling-an seperti disasar dalam komodifikasi lain yang diusahakan bercitra syariah.
 
Beberapa waktu lalu, selepas pengumuman pertunangan Song Song couple, banyak fangirl yang merasa sedih dan kecewa, meski tak sedikit pula yang turut bersyukur dan berbahagia. Setelah lamaran Hamish Daud kepada Raisa terjadi, ditahbiskan sebagai hari patah hati nasional. Pertunangan pasangan Song Hye Kyo dan Song Joong Ki pun disebut sebagai hari patah hati internasional. “Cabik saja hati adek, Bang.” ujar sebuah meme yang ditujukan kepada Song Joong Ki.
 
Pada pertunangan Hamish dan Song Joong Ki, para muslimah bisa jadi tak terlalu ambil peduli. Yang tak disangka-sangka dan cukup mengejutkan, setelah Hamish Raisa dan Song Song, Muzammil Hasballah, qari penghafal 30 juz Al-Qur’an lulusan ITB asal Aceh itu mengumumkan hari pernikahannya di sosial media dua hari sebelum diberlangsungkan. “Bang Amil jahat banget sama, Neng!” ujar seseorang di kolom komentar foto undangan pernikahan Muzammil yang dipampang di Instagram-nya.
 
Fangirl Muzammil yang kemudian disetujui oleh kebanyakan warganet menyebut bahwa 7 Juli 2017,  hari pernikahan idol-nya ini, sebagai hari patah hati dunia akhirat. Patah hati para fangirl Muzammil sudah melebihi tingkat nasional dan internasional. Patah hati yang ini sudah terasa sampai akhirat meskipun kita belum merasakan alam akhirat yang sebenarnya. Patah hati yang menghebohkan sosial media ini perlu membawa-bawa kata akhirat untuk menegaskan bahwa kali ini, fangirl, bentuk patah hati, hingga idol tersebut bercitra syariah dan bernilai Islam.
 
Kita mudah sekali jatuh kagum pada polesan dan pulasan yang terkesan Islami. Kita ini gemar sekali memaksakan istilah-istilah tertentu untuk menunjukkan sampul yang tak selalu bersesuaian dengan isi di balik sampul. Kita cepat percaya dan manggut-manggut pada keindahan kata-kata yang jika dicari maknanya, ternyata, hampa dan sekadar penyenang hati sesaat. Kita terlalu sering menjebak dan mengabdikan diri pada berhala, tuhan-tuhan palsu yang tak bisa apa-apa. Bahkan, kita sanggup berbahagia pada kepalsuan macam itu padahal di dalam hati ada penyakit yang menggerogoti.
 
Jika manusia mampu bertindak pada kadar fangirling yang demikian kuat dan kokoh, semestinya kita bisa tanpa terkecuali untuk memuja, mengabdi, setia, menguntit, membahas tiada henti, menyerahkan hidup, bertuhankan dan berkarya atas nama Tuhan Yang Sejati, Raja dari segala raja yang menguasai dan menciptakan alam semesta, Allah subhanahu wata’ala. Kita telah terbukti mempunyai bakat alami melakukan hal-hal semacam itu secara gila-gilaan dan tanpa pengendalian. Kita hanya perlu lebih dalam menggali kedirian. Kita perlu ingat akan sebuah janji yang pernah kita ikrarkan kepada Tuhan. Kita mesti juga teguh hati untuk mengenali hakikat penciptaan diri serta alam semesta. Semua itu agar kita dapat merasa dan berfikir dengan wajar, lantas pada akhirnya, bertindak dalam timbangan yang mengantarkan pada kerelaan Allah atas waktu, jiwa, dan seluruh kehidupan yang dipinjamkan-Nya.
 
Satu lagi, berhentilah menertawakan, mengejek, atau jijik pada kelakuan para fangirl, baik yang syariah maupun tidak, kalau masih dendam kesumat dan mengamuk tak terkendali di sosial media saat idol politiknya “dicolek” barang sedikit. Lah, situ fangirl juga?
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 950 Kali
Berita Terkait

0 Comments