Nasional / Kesehatan /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 01/08/2017 13:29 WIB

Tahun 2017, Indonesia Masih Berjuang Lawan Malaria

Ilustrasi nyamuk
Ilustrasi nyamuk

JAKARTA_DAKTACOM: Menuju Malaria Free Asia Pasicif di tahun 2030, ternyata malaria masih jadi ancaman di dunia, terutama di Indonesia. Tahun 2015, sebanyak 438 ribu orang meninggal karena malaria dan 3,2 juta orang memiliki risiko terjangkit malaria di seluruh dunia.

Hal ini disampaikan oleh Ric Price, Profesor pengobatan tropis dari University of Oxford, saat acara 6th Eijkman International Conference, Selasa (1/8/2017), Pegangsaan Timur, Jakarta.

Meskipun seluruh dunia telah mengalami penurunan angka malaria yang cukup baik, namun dari total penyebarannya India dan Indonesia masih menjadi negara dengan ancaman malaria yang mengundang perhatian di antara negara Asia lainnya.

Menurut Prof Price, halangan terbesar dari pengobatan malaria di berbagai negara seperti Indonesia adalah keterbatasan akses untuk mendapatkan pengobatan seperti misalnya yang terjadi di Papua.

Selain itu, kurangnya kualitas obat yang ada membuat pengobatan untuk penyakit ini masih kurang baik. "Bahkan ada obat palsu, harus dipastikan obat yang diberikan berkualitas," ujar Prof Price.

Ditambah kontrol yang dilakukan untuk mencegah penyebaran parasit malaria plasmodium vivax dengan kelambu dan obat semprot dinilai masih kurang efektif. Dari segi diagnosis penyakit malaria pun menurut Prof Price masih dilakukan dengan kurang baik.

Din Syafruddin dari Eijkman Institute for Molecular Biology, berkomentar pencegahan untuk malaria sendiri memang sudah menjadi isu yang penting bagi Indonesia. Pembasmi nyamuk yang menjadi penyebar malaria sebetulnya sudah banyak dijual dipasaran "tapi kami masih sedang melakukan pengembangan formula," tuturnya.

Editor : Dakta Administrator
Sumber : detikHealth
- Dilihat 877 Kali
Berita Terkait

0 Comments