Polrestra Bekasi Siapkan 7 Bus Untuk Pemudik Motor
Diposting Pada 25 Aug 2011
BEKASI, DAKTACOM : Polresta Bekasi akan menyiapkan 7 kendaraan bus yang berlokasi di check point Kedungwaringin Kabupaten Bekasi untuk digunakan para pemudik sepeda motor yang membawa penumpang melebihi batas guna menghindari terjadinya kecelakaan.
“Mulai tanggal 27 agustus atau H-3 menjelang lebaran pihak kami akan menyiapkan bus yang diperuntukan bagi para pemudik yang menggunakan sepeda motor dan berpenumpang maupun membawa barang melebihi kapasitas sehingga pihaknya menyarankan untuk menaiki bus yang sudah dipersiapkan tersebut”, kata Kapolresta Bekasi Kombespol Wahyu Hadiningrat saat mendampingi jajaran wakil Bupati Bekasi untuk melihat kesiapan check point di Kedungwaringin.
Direncanakan bus yang dipersiapkan dilokasi check point di Jl. Rengas Bandung Kedungwaringin tersebut berjumlah 7 armada dengan jurusan Cirebon dan Solo Jawa Tengah dan dipergunakan untuk menghindari terjadinya kecelakaan terutama sepeda motor yang saat ini hampir mendominasi pada arus mudik kali ini.
Rekan Dakta, Kapolresta Bekasi Kombespol Wahyu Hadiningrat menambahkan di lokasi check point sendiri terdapat berbagai pelayanan seperti pemeriksaan kesehatan maupun perbaikan kendaraan yang kesemuanya tidak dipungut biaya dan khusus untuk bagi para pemudik yang menuju kampung halaman dan demi kelancaran mudik bagi masyarakat.
Wahyu juga menghimbau kepada para pemudik untuk berkendara dengan aman dan juga mematuhi aturan lalu lintas serta menyiapkan kondisi kendaraan agar kegiatan mudik yang dilakukan berjalan aman dan lancar. (Ardi Mahardika/Dakta)
(25/08) Polresta bekasi akan menyiapkan 7 kendaraan bus berlokasi check point Kedungwaringin untuk digunakan para pemudik sepeda motor yang membawa penumpang melebihi batas.
Dishub Harus Menindak Bus Angkutan yang Menaikan Tarif Diatas Kewajaran
Diposting Pada 25 Aug 2011
CIKARANG, DAKTACOM : Wakil Bupati Bekasi Darip Mulyana mendesak Dinas Perhubungan untuk menindak bus angkutan yang menaikan tarif diatas kewajaran setelah melakukan sidak ke terminal Cikarang pada hari ini.
Wakil Bupati Bekasi Darip Muyana ketika sidak ke terminal Cikarang bersama rombongan Pemda dan Polresta Bekasi menemukan sejumlah angkutan menaikan tarif diatas batas kewajaran yakni 20 persen yang telah ditetapkan oleh Kementrian Perhubungan, diantaranya jurusan Bandung Cikarang yang semula 35 Ribu menjadi 42 ribu.
Darip menambahkan dirinya mendesak kepada Dinas Perhubungan untuk menegur kepada angkutan umum yang beroperasi di terminal Cikarang agar tidak menaikan tarif seenaknya dan angkutan mempermainkan penumpang dengan menaikan tarif tanpa pemberitahuan pada kegiatan mudik pada tahun ini.
“Kami menemukan bahwa kegiatan tes urin bagi para awak bus belum juga dilakukan oleh Dinas Perhubungan, padahal kegiatan mudik sudah berjalan dan saat ini memasuki H minus 5. Dan tes urine juga dianggap perlu untuk menekan angka kecelakaan, serta meminta dinas terkait agar segera melakukan tes tersebut”, kata Wakil Bupati Bekasi Darip Mulyana dalam sidaknya kali ini.
Untuk melayani penumpang pada masa mudik kali ini, terminal Kalijaya menyiapkan sebanyak 203 kendaraan bus dan menyiagakan 73 kendaraan cadangan apabila dibutuhkan, namun melihat kondisi arus mudik pada hari ini, kendaraan tersebut dinilai cukup untuk melayani penumpang. (Ardi Mahardika/Dakta)
(25/08) Wakil Bupati Bekasi Darip Mulyana mendesak Dinas Perhubungan untuk menindak bus angkutan yang menaikan tarif diatas wajar setelah melakukan sidak hari ini.
JAKARTA, DAKTACOM : DPR RI mengirim surat pemberhentian mantan Bendahara Umum PD Muhammad Nazaruddin sebagai anggota DPR RI kepada ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini.
“Hari ini (Kamis, 25/8) surat pemberhentian saudara Nazar dikirim ke Presiden,” kata Ketua DPR RI Marzuki Alie saat dihubungi, Jakarta, Kamis.
Marzuki menambahkan, dengan telah dikirimnya surat pemberhentian Nazaruddin tersebut, Presiden SBY mempunyai waktu 14 hari untuk mengeluarkan keputusan presiden apakah menerima Pemberhentian Antar Waktu (PAW) Nazar atau tidak.
“Tinggal tunggu dari presiden, paling lambat 14 hari, begitu keluar Kepres langsung PAW pelantikan,” kata Marzuki lagi.
Menurut Marzuki, surat pemecatan dari Partai Demokrat dikirim kepada DPR RI awal Juli 2011. Pada hari yang sama juga, Marzuki langsung mengirim surat kepada Komisi Pemilihan Umum untuk memverifikasi dan mencari calon penggantinya. Dalam tempo kurang dari tujuh hari KPU langsung memberikan surat jawaban kepada DPR yang isinya pengganti Nazar di Parlemen adalah Siti Romlah.
Perpres No. 52 Tahun 2011 Percepat Gaji PNS Jelang Lebaran
Diposting Pada 25 Aug 2011
BEKASI, DAKTACOM : Gaji yang dibayarkan setiap tanggal 1, kali ini ada kebijakan untuk dipercepat menjadi 26 Agustus untuk para PNS di seluruh Indonesia.
Seperti halnya di Kabupaten Bekasi pencairan gaji untuk seluruh PNS akan dipercepat dan turun pada tanggal 26 Agustus besok.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi Dadang Mulyadi menjelaskan, secara regulasi mempercepat pembayaran gaji tersebut mengacu kepada Peraturan Presiden (Perpres) nomor 52 tahun 2011, tanggal 20 Agustus 2011, yang isinya pembayaran gaji Pegawai Negeri dan pejabat negara, bulan September ini dapat dicairkan pada 26 Agustus 2011.
“Berdasarkan arahan pemerintah pusat pihaknya siap mempercepat pencairan gaji pada esok untuk seluruh PNS di Kabupaten Bekasi tidak terkecuali PNS golongan 3 yang gajinya ditransfer melalui Bank yang telah ditentukan”, jelas Dadang.
Dadang Mulyadi juga berpesan kepada seluruh PNS di Kabupaten Bekasi untuk tidak menghabiskan uang gajinya dikarenakan gaji tersebut tentunya untuk mencukupi kebutuhan hidup selama September nanti dan bukan hanya dipakai untuk kebutuhan lebaran saja.
Selain mempercepat pencairan gaji bulan September para PNS beberapa minggu yang lalu juga telah diberikan tunjangan daerah. (Ardi Mahardika/Dakta)
Lebaran Kian Dekat, Jalur Mudik Menuju Merak Masih Gelap
MERAK, DAKTACOM : Jalur mudik di Kota Cilegon menuju Terminal dan Pelabuhan Merak, Masih gelap, sejumlah titik rawan kecelakaan masih juga belum dipasang Penerangan Jalan Umum (PJU) sampai sekarang.
“Sudah H-5 tapi sejumlah titik menuju Pelabuhan dan Terminal Terpadu Merak (TTM) masih saja dibiarkan gelap,” kata salah seorang tokoh pemuda di Pulomerak, Helmy, Kamis (25/8).
Berdasarkan hasil pantauannya, dua titik rawan kecelakaan dari Tegal Wangi sampai Pulomerak hingga kini belum dilengkapi dengan PJU. “Satu titik di Tegal Wangi dan satu titik lagi di tikungan Sangkanila Merak, sepanjang Vopak sampai Hotel Mangku Putra,” tambah Helmy.
Padahal, kata dia, saat ini pemudik roda dua yang melintas jalan tersebut pada malam hari sudah mulai ramai. “Tadi saja saya melihat gerombolan pemudik roda dua sudah mulai berdatangan. Dan terus terang saja, melihat kondisi gelapnya jalan di Merak dan Tegal Wangi, khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan bersama,” ujarnya.
Sebelumnya, Kapolres Cilegon, AKBP Umar Suraya Fana, mengatakan pihaknya sudah meminta kepada pihak PT Vopak Teminal Merak dan Hotel Mangku Putra, agar memasang lampu dadakan agar jalan menjadi terang. “Kami sudah bicarakan kepada dua pihak tersebut, agar tempat itu untuk dipasang lampu dadakan pada H-7, karena jalan tersebut kalau malam gelap,” katanya.
Namun sampai sekarang jalan itu belum juga dipasangi lampu dadakan.
Dalam sebuah buku Sejarah untuk siswa SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006), diuraikan satu bab khusus berjudul “Perkembangan Kristen di Indonesia”. Bab ini dibuka dengan uraian berikut: “Mengapa perlu mempelajari bab ini? Penyebaran Kristen di Indonesia berintikan damai dan cinta kasih. Namun, karena intervensi politik Barat, timbul kesan penyebaran Kristen identik dengan kolonialisme dan imperialisme. Dengan mempelajari bab ini, kita diajak untuk semakin sadar betapa campur tangan politik dapat merusak nilai-nilai luhur yang terkandung pada setiap agama.”
Pada bagian selanjutnya dijelaskan tentang kendala penyebaran agama Kristen di Indonesia: “Para penguasa dan penduduk setempat mencurigai para rohaniwan sebagai sekutu Portugis ataupun Belanda. Tindakan penindasan yang dilakukan para pedagang maupun pemerintah kolonial menimbulkan kesan bahwa Kristen identik (sama saja) dengan kolonialisme. Padahal para rohaniwan selalu datang dengan maksud damai.” (hal. 61)
Inilah salah satu contoh materi sejarah yang diajarkan kepada para pelajar SMP. Benarkah isi buku pelajaran sejarah tersebut? Ada baiknya kita simak penjelasan dari kalangan Kristen sendiri!
Pada tahun 2010, juga rangka memperingati 150 tahun Huria Kristen Batak Prostestan, Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, bekerjasama dengan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Ecole francaise d,Extreme-Orient, dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menerbitkan sebuah buku berjudul Utusan Damai di Kemelut Perang, Peran Zending dalam Perang Toba: Berdasarkan Laporan L.I. Nommensen dan Penginjil RMG Lain, karya Prof. Dr. Uli Kozok, seorang professor kelahiran Jerman.
Prof. Uli Kozok membuka bukunya dengan sebuah kutipan seorang tokoh Gereja se-Dunia, Ph. Potter: “Gerakan penginjilan […] bermula bertepatan dengan waktu munculnya kolonialisme, imperialisme dan – sebagai akibatnya – rasisme. Oleh sebab itu maka gerakan penginjilan secara hakiki terkait dengan sejarah rasisme.”
Berdasarkan dokumen-dokumen di lembaga misi di Jerman yang mengirimkan Nommensen ke Tanah Batak, yaitu Rheinische Missions-Geselschaft (RMG), Prof. Uli Kozok menemukan fakta pengakuan Ludwig Ingwer (L.I.) Nommensen, tokoh misionaris Jerman di Tanah Batak, bahwa dia bergabung dengan pasukan Belanda untuk melawan gerakan perlawanan para pahlawan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja XII. Laporan Berichte Rheinische Missionsgeselschaft (BRMG), menunjukkan, para penginjil justru bersekutu dengan tentara penjajah dalam menumpas perlawanan Sisingamangaraja XII. Lebih jauh Prof. Kozok mencatat:
“Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan permintaan Nommensen, sehingga terbentuk koalisi Injil dan pedang yang sangat sukses karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama: Sisingamangaraja XII yang oleh zending dicap sebagai “musuh bebuyutan pemerintah Belanda dan zending Kristen.” Bersama-sama mereka berangkat untuk mematahkan perjuangan Sisingamangaraja. Pihak pemerintah dibekali dengan persenjataan, organisasi, dan ilmu pengetahuan peperangan modern, sementara pihak zending dibekali dengan pengetahuan adat istiadat dan bahasa. Kedua belah pihak, zending Batak dan pemerintah kolonial, saling membutuhkan dan saling melengkapi, dan tujuan mereka pun pada hakikatnya sama: memastikan bahwa orang Batak “terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa. (BRMG 1882:202)” (hal. 92).
Dalam perang menumpas perjuangan Sisingamangaraja XII, pihak zending Kristen berhasil meyakinkan ratusan raja di tanah Batak agar berhenti mengadakan perlawanan dan menyerah kepada kekuasaan Belanda:
“Dukungan dan bantuan para misionaris yang mendampingi ekspedisi militer hingga ke Danau Toba juga mempunyai tujuan lain, yaitu meyakinkan masyarakat bahwa perlawanan mereka sia-sia saja dan mendesak mereka agar menyerahkan diri.” (JB 1878:31). (hal. 93).
Sementara, para raja yang tidak mau menyerah, didenda dan kampung mereka dibakar. Atas jasa para misionaris, terutama Nommensen dan Simoncit, pemerintah kolonial Belanda memberikan penghargaan resmi, melalui sebuah surat: “Pemerintah mengucapkan terimakasih kepada penginjil Rheinische Missions-Geselschaft di Barmen, terutama Bapak I. Nommensen dan Bapak A. Simoncit yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah diberikan selama ekspedisi melawan Toba. (BRMG 1879:169-170).” (hal. 93-94).
Selain surat penghargaan, para misionaris juga mendapat hadiah sebesar 1000 Gulden dari pemerintah kolonial yang dapat diambil setiap saat. Kerjasama antara misionaris Kristen dan penjajah Belanda berlangsung sampai Pahlawan Sisingamangaraja XII tewas dalam pertempuran tahun 1907. Dukungan kaum misionaris kepada pemerintah penjajah juga dimaksudkan untuk mencegah masuknya Islam ke Tanah Batak. (BRMG 1878:94).
Sikap pro-penjajah dari kaum Misionaris bukan hanya saat Perang Toba melawan Sisingamangaraja XII. Sikap para misionaris Kristen ini masih terus berlangsung di kemudian hari. BRMG 1897: 278-279 menulis laporan berjudul “Wie weiter auf Sumatra?” (Bagaimana Kelanjutannya di Sumatra?). Batakmission mengaku mengalami kendala untuk melakukan misi Kristen di Samosir, sebab Samosir masih merupakan “Tanah Batak Merdeka”. Selanjutnya, BRMG mencatat:
“Oleh sebab itu, “dapat dimengerti bahwa penginjil kita sangat menghendaki agar pemerintah Belanda menduduki Samosir.” Lagipula, konferensi penginjil tahun 1897 telah memutuskan bahwa “penginjilan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan dengan lebih banyak sukses di bawah perlindungan pemerintah Eropa.” (hal. 103).
Menurut catatan sejarah, kerjasama misionaris Kristen Batak dengan penjajah Belanda diakui dengan bangga oleh para misionaris Batak. Belanda juga mempersenjatai kaum Kristen Batak dengan 50 bedil. Sebab, jika orang Batak menjadi Muslim, mereka tidak mungkin setia kepada pemerintah penjajah. BRMG 1878:154 mencatat:
“Betapa orang Batak Kristen dapat diandalkan tampak jelas sekarang. Sebagai orang Islam, orang Batak takkan mungkin menjadi rakyat yang patuh pada Belanda. […] memang benar orang Silindung yang Kristen adalah teman setia Belanda, dan pasukan bantuan mereka berperang bersama pasukan Belanda.”. (hal. 106).
Dalam surat-surat yang dikirim tokoh misionaris I. Nommensen, tampak jelas digunakannya istilah “musuh” untuk Sisingamangaraja XII dan rakyat Batak yang berusaha mempertahankan kemerdekaan mereka. Misalnya, dia tulis: “Setelah kami bekerja dengan tenang selama beberapa hari, musuh kami yang jahat bergerak lagi”… “Kebanyakan musuh berasal dari daerah sekitar Danau Toba, dari Butar dan Lobu Siregar, digerakkan oleh Sisingamangaraja, seorang demagog yang menghasut dan mencelakakan rakyatnya.” (hal. 107).
Dalam suratnya yang lain, Nommensen mencatat: “Hal yang paling penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah zending kita bisa masuk… (BRMG 1882:302).” (hal. 108).
Sebuah surat tentang pentingnya penaklukan Toba oleh penjajah Belanda dan misi Kristen dalam rangka menghambat masuknya pengaruh Islam, ditulis oleh laporan BRMG 1882 (7): 202-205:
“Perang dan penaklukan Toba sangat mendukung dan mempercepat pembukaan pos penginjilan. Walaupun tidak secara langsung, para penginjil kita di Silindung memainkan peranan yang cukup besar dalam ekspedisi militer Belanda terhadap Toba. Upaya mereka untuk menyebarkan Injil di Silindung mendapatkan perlawanan dari Sisingamangaraja yang dulu maupun Sisingamangaraja yang sekarang. Karena sudah kehilangan sebagian besar kekuasaannya, keduanya berusaha memperoleh kembali pengaruhnya yang hilang dengan mengusir para penginjil. Sisingamangaraja terutama memusuhi agama Kristen, akan tetapin karena ia bersekutu dengan orang Aceh di Utara maupun dengan Batak Islam di Timur maka kegiatan mereka juga memusuhi pemerintah Belanda. Dengan demikian sangat bijaksana keputusan pemerintah untuk langsung bertindak memperluas dan memperkokoh kekuasaannya, mengingat tindak-tanduk orang Aceh dan jaringan mereka yang makin hari makin ketat dan luas.” (hal. 153-154).
Dalam bukunya, Prof Uli Kozok juga menunjukkan data bahwa hubungan erat antara misi Kristen dan Penjajahan memang sudah menjadi suatu kelaziman. Paus Pius XI, misalnya, melalui surat kabar Vatikan, Osservatore Romano, 24 Februari 1935, pernah secara eksplisit mengeluarkan pernyataan yang mendukung penjajahan:
“Penjajahan merupakan keajaiban yang diwujudkan dengan kesabaran, keberanian dan cinta kasih. Tiada bangsa atau ras yang berhak hidup terisolir. Penjajahan tidak berlandaskan penindasan tetapi berdasarkan prinsip moralitas tertinggi, penuh dengan cinta kasih, kedamaian dan persaudaraan. Gereja Katolik senantiasa mendukung penjajahan, asal dilaksanakan dengan jujur dan manusiawi tanpa menggunakan kekerasan. Oleh sebab itu kami melihatnya sebagai sesuatu yang memiliki daya dan keindahan yang luar biasa.” (hal. 85-86).
Bukan hanya kolonialisme, ideologi rasisme juga ditanamkan kepada para misionaris dari Rheinische Missions-Geselschaft (RMG). Seorang petinggi RMG, Ludwig von Rohden (1815-1889), berpendapat bahwa semua manusia adalah keturunan Nabi Nuh, yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ada lima warna kulit yang dimiliki keturunan Nabi Nuh itu: putih, kuning, merah, coklat dan hitam. Menurutnya, warna kulit ditentukan oleh kadar dosa masing-masing. Semakin berdosa sebuah bangsa, maka akan semakin hitam warna kulitnya. Kata Ludwig von Rohden dalam sebuah tulisannya:
“Secara bertahap-tahap manusia menjauhkan diri dari sumber kehidupan ilahi. Semakin jauh [sebuah bangsa] menjauhkan diri, semakin merosot moral dan kecerdasan, seiring dengan itu juga postur, bentuk tubuh dan warna kulitnya. Bangsa yang paling dekaden mendapatkan warna kulit paling hitam, dan bentuk tubuhnya menjadi mirip dengan binatang. Namun perbedaan hakiki antara manusia dan binatang masih tetap ada: ialah jiwa yang dihembuskan Allah kepada jasad sebagai bagian kehidupan ilahi.” (hal. 59).
Menurut Rohden, bangsa berkulit hitam bisa menjadi putih kulitnya jika mereka menjadi Kristen:
“Negro yang paling rendah derajat pun masih bisa diangkat menjadi manusia terdidik bila dididik dengan cara yang tepat melalui pengaruh Kekristenan yang bersifat menyembuhkan. Seiring dengan [proses penyembuhan] itu, maka raut muka yang kebinatangan menghilang, pandangan mata dan tubuhnya akan menjadi lebih sempurna, bahkan warna kulitnya secara turun-temurun bisa menjadi lebih putih.” (hal. 60).
Itulah fakta dan data tentang misi Kristen yang ditampilkan Prof. Uli Kozok – guru besar dan ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas Hawai. Gambaran misi Kristen yang berkolaborasi dengan penjajah itu jauh sekali bedanya dengan isi buku Sejarah yang kini diajarkan kepada anak-anak Muslim di sekolah-sekolah tingkat SMP.
Seyogyanya, para pimpinan sekolah Islam, para guru, dan orang tua sadar benar akan kekeliruan besar semacam ini. Sungguh ironis, jika ada lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan bahan-bahan sejarah semacam ini, yang merusak pemikiran dan jauh sekali dari fakta sejarah sebenarnya. Bukankah Allah SWT sudah memperingatkan: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!” Wallahu a’lam bil-sshawab. (Depok, 24 Ramadhan 1432 M/24 Agustus 2011).
(25/08) Stasiun kereta api Bekasi hari ini mulai memberangkatkan kereta api baru Gajah Wong tujuan Yogyakarta dengan kapasitas lebih dari seribu penumpang.
Jelang Lebaran Pemerintah Daerah Diminta Memperbaiki Mekanisme Pasar
Diposting Pada 25 Aug 2011
CIBITUNG, DAKTACOM : Komisi IV DPR RI meminta pemerintah memperbaiki mekanisme pasar dan sistem distribusi untuk menghindari kelangkaan komoditi barang saat Ramadhan dan menjelang Lebaran.
“Mekanisme pasar dan sistem distribusi harus terencana untuk menghindari kelangkaan komoditi barang saat Ramadhan dan menjelang Lebaran dengan cara melakukan storage terhadap satu barang tertentu sehingga jika kebutuhan akan barang tertentu habis maka disetiap pasar terdapat stok barangnya”, jelas Wakil ketua komisi IV DPR RI Herman Khoirom saat ditemui di Pasar Induk Cibitung bekasi.
Herman menambahkan jika pemerintah tidak melakukan storage terhadap komoditi barang maka dimungkinkan ada kenaikan harga karena sedikitnya stok barang yang dikarenakan suplai yang terhambat. Persedian stok barang dinilainya masih aman selama menjelang lebaran termasuk komiditi beras di daerah DKI dan Banten masih cukup untuk 12 bulan kedepan.
Selain itu dirinya juga melihat kebanyakan pasar tradisional dari segi higienitas sehingga dirinya meminta pemerintah untuk membuat program yang dapat memperbaiki kualitas pasar sehingga memberikan kenyamanan bagi pembeli pasar tradisional. (Ardi MAhardika/Dakta)
(24/08) Warga Kabupaten Bekasi yang akan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong saat mudik diminta untuk mematikan listrik & mencabut gas untuk menghindari terjadinya kebakaran.
Kunjungan Kerja, Siswono Yudho Minta Pemda Kabupaten Perbaiki Infrastruktur Pasar Cibitung
Diposting Pada 24 Aug 2011
CIBITUNG, DAKTACOM : Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi diminta memperbaiki infrastruktur dan menanggulangi masalah penumpukan sampah di Pasar Induk Cibitung Bekasi.
Anggota DPR RI Komisi IV Siswono Yudho Husodo dalam kunjungan bersama rekan komisinya ke Pasar Induk Cibitung Kabupaten Bekasi yang dilakukan untuk memantau kondisi pasar dan harga kebutuhan sebelum lebaran.
Siswono mengatakan setelah melihat kondisi pasar Cibitung dirinya menilai aspek yang sangat penting untuk diperbaiki oleh Pemerintah Daerah adalah masalah infrastruktur yang sudah cukup tua sehingga perlu perbaikan, selain masalah sampah yang jumlahnya cukup banyak yakni mencapai 15 ton dinilai sangat mengganggu kondisi pasar tersebut dan meminta Pemerintah Daerah menanggulangi permasalahan tersebut dan ditakutkan masalah sampah menjadi pasar-pasar yang ada.
Siswono juga menambahkan perlu adanya alokasi dana khusus dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi untuk membersihkan sampah di pasar Induk Cibitung Bekasi apalagi pihak pedagang juga membayar biaya retribusi kepada pengelola pasar.
Anggota DPR RI Komisi IV Siswono Yudho Husodo juga mengatakan setelah melakukan pemantauan di Pasar Induk Cibitung Bekasi stok dan harga masih aman dan stabil untuk kebutuhan lebaran mendatang.
Selain itu dirinya juga mengapresiasi terhadap pasar Cibitung ini dimana berbagai komoditas pasar yang dijual berasal dari berbagai daerah di Indonesia. (Ardi Mahardika/Dakta)
CIPATAT, DAKTACOM : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan Kedutaan Besar RI di Libya menghentikan operasinya dan dialihkan ke Tunisia karena situasi keamanan di Libya yang makin tidak menentu.
“Kita pun sudah menghentikan pekerjaan kantor perwakilan kita di sana dan untuk sementara tugas-tugas diplomatik perwakilan itu ditangani kedutaan besar atau perwakilan kita di Tunisia,” kata Presiden di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiknif) Cipatat, Bandung Barat, Selasa.
Tingkat risiko keamanan yang tinggi, kata Presiden juga telah membuat Pemerintah Indonesia mengevakuasi seluruh WNI di Libya.
Kepala Negara berharap agar peperangan di Libya segera berakhir dan rakyat Libya mendapatkan lindungan dari Tuhan untuk bisa membangun masa depannya yang lebih baik seusai dengan keinginan mereka sendiri.
Pemerintah Indonesia, kata Presiden, prihatin dengan jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil yang jumlahnya tidak sedikit dan berharap ada penyelesaian damai di negara itu untuk mencegah bertambahnya korban sipil.
Kepala Negara juga mengatakan bahwa transisi demokrasi yang mungkin akan terjadi di Libya hendaknya melibatkan seluruh elemen masyarakat Libya dengan demikian masa depan Libya benar-benar seperti yang diinginkan masyarakat Libya sendiri.
“Kita juga berharap dengan selesainya konflik pada saatnya nanti, Libya bisa kembali berkonsilidasi, bertransisi menuju masa depan yang diinginkan masyarakatnya sambil memulihkan ekonomi mereka,” katanya.
Konflik yang terjadi di Libya telah mengakibatkan produksi minyak negara itu turun sekitar 90 persen. Penurunan produksi minyak Libya mengakibatkan gangguan pada pasokan minyak dunia sehingga membuat harga minyak dunia tidak stabil.
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah