BEKASI – Banyaknya oknum yang memaksakan penambahan rombongan belajar di beberapa sekolah, justru akan berdampak buruk pada berlangsungnya sistem belajar dan mengajar yang sudah berlangsung di sekolah.
Hal ini disampaikan oleh anggota Komisi D, DPRD Kota Bekasi, Sardi Effendi pada saat kunjungan ke sekolah-sekolah sebagai bahan evaluasi komisi D. Ternyata, menurut Sardi, ditemukan kepala sekolah dan pegawai administrasi yang tertekan dan dirusak mentalnya untuk menuruti kepentingan segelintir orang.
“Padahal kalau mau jujur, juknis PPDB online sudah dibuat dan diperbaiki atas kesepakatan stakeholder pendidikan, dewan pendidikan, dinas dan anggota DPRD” ujar politisi yang juga mantan Presiden BEM UNJ.
Tatanan yang sudah dibuat dalam sistem yang fairplay, ternyata bisa dirusak dengan kekuatan oknum. Kalau pun terjadi kesemrawutan bukan di PPDB online, tapi, menurut Sardi, dari orang-orang yang tidak mengerti dengan sistem pendidikan.
“Kalau masih satu dua mungkin tidak masalah, tapi kalau seribuan gimana? Ini bisa berdampak sistemik, kepada guru, anggaran pendidikan juga bisa bengkak?” ungkap Sardi.
Dengan adanya fakta di lapangan yang ditemukan, Sardi menghimbau kepada para orang tua murid yang anaknya tidak masuk PPDB-Online untuk tidak memaksakan kehendaknya, karena hal itu justru berdampak buruk pada anak. Pemaksaan rombel sama artinya memciderai keadilan masyarakat, terutama untuk siswa yang sudah susah payah ikut PPDB-Online. Karena mereka yang masuk lewat rombel masuk tanpa mekanisme PPDB-Online.
Sementara itu, Rahmatullah dari NGO kampus memandang bahwa paksaan anggota dewan itu menunjukan kekerdilan cara berfikir dan bekerja anggota dewan.
Rahmatullah juga memberikan temuan data lapangan dan mengamini apa yang ditulis di koran Radar pada Jumat (30/7) lalu, yang menyebutkan pemaksaan dan banyaknya titipan dari pimpinan dewan.
“Kami selama ini memantau apa yang mereka lakukan. Saya akan mengerahkan masa kalau guru-guru atau kepala sekolah ditekan, kasihan mereka jadi bulan-bulanan dewan terhormat” ujar aktifis yang klimis ini.
[klikm.net]
Jatah Aspirasi Dewan Rp 68 miliar
BEKASI – Usulan aspirasi anggota DPRD Kabupaten Bekasi pada APBD 2010 mencapai Rp 68 miliar. Kebanyakan berupa paket pekerjaan peningkatan Jalan lingkungan (Jaling) dan dana hibah.
Berdasarkan data yang beredar di kalangan wartawan, ada tersebut ada 586 paket pekerjaan, dengan nilai anggaran kurang lebih sebesar Rp 69 miliar, dan tersebar hampir di seluruh instansi. Paling banyak adalah di Dinas Tata Ruang dan Pemukiman, Dinas Bina Marga dan Pengairan, Dinas Pendidikan, serta Dinas Sosial.
Setiap anggota dewan mendapat “jatah”, sekitar 25 paket pekerjaan. Nilainya bervariasi, mulai dari Rp 50 juta sampai Rp 800 juta. Kebanyakan berupa peningkatan dan perbaikan jalan lingkungan, serta bantuan sosial.
Sebut saja misalkan, juru bicara Partai Demokrat, Taih Minarno, mengusulkan 43 kegiatan untuk pembangunan jalan lingkungan dengan total anggaran sekitar Rp 1,850 miliar. Sedangkan ketua fraksinya, Rohim Mintareja aspirasinya lebih banyak, mencapai 31 usulan dengan nilai anggaran Rp 2,1 miliar. Sedangkan ketua DPRD yang juga berasal dari Fraksi Demokrat, hanya mengajukan 1 paket usulan sebesar Rp 500 juta.
Sementara jumlah yang tidak kalah banyak juga berasal dari partai pengusung Bupati, yakni PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Sa’dan, anggota Fraksi PKS, membawa aspirasi sebanyak 20 kegiatan dengan total anggaran sebesar Rp 1,3 miliar. Tiga nama tersebut hanyalah contoh saja, dan masih banyak yang lainnnya.
Taih Minarno, anggota DPRD Kabupaten Bekasi mengakui bahwa memang ada beberapa usulan yang diberikan oleh para anggota dewan dalam APBD 2010 seperti yang ada dalam data yang saat ini beredar.
“Itu usulan dari masyarakat, kami selaku anggota dewan hanya mengawal saja,” kelit Taih.
[klikm.net]
8.000 Pengemis Menyerbu Jakarta
JAKARTA – Menjelang bulan suci Ramadan, Jakarta, menjadi pusat sasaran kaum pengemis. Jumlah mereka diperkirakan sebanyak 8.000 orang datangnya tidak hanya dari wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek), tapi juga dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Lampung. Jakarta memang bak madu bagi pengemis jalanan yang mengharapkan belas kasihan dari warga DKI. Harapan kaum pengemis itu dilayani warga Ibu Kota yang ingin mendapatkan pahala dari jalanan.
Namun demikian, karena kehadiran kaum penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) termasuk gelandang dan pengemis yang beroperasi di perempatan jalan tepatnya lampu pengatur lalu lintas, jalan-jalan strategis, terminal, stasiun kereta api, tempat ibadah, dan lokasi keramaian lainnya mengganggu ketertiban umum (tibum) maka mereka harus ditertibkan, kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DKI, Kian Kelana, di Jakarta akhir pekan lalu.
”Kehadiran para pengemis dan gelandangan di Jakarta terkait dengan bulan puasa mulai 10 Agustus 2010 di mana kaum muslim ingin memperoleh pahala setelah memberi sedekah kepada kaum duafa,” ujar Kian.
Keberadaan kaum pengemis dan gelandangan beroperasi di tengah-tengah keramaian mengganggu tibum dan arus lalu lintas, lanjut Kian, maka Pemprov DKI siap menertibkan mereka sesuai amanat Perda No 8/2007 tentang Ketertiban Umum (Tibum).
”Sebenarnya warga DKI yang memberikan uang sedekah di jalanan itu melanggar Perda No 8/2007. Salah satu pasal dalam perda itu menegaskan pemberi uang sedekah kepada pengemis di jalanan dikenakan sanksi denda atau tindak pidana ringan. Sedang pengemis diamankan ke panti sosial yang dikelola Dinas Sosial DKI Jakarta,” ungkap Kian.
Dia menambahkan, kalau warga Jakarta mau beramal memberikan sedekah kepada kaum duafa atau masyarakat miskin ada tempatnya. Cukup banyak yayasan resmi yang selama ini menampung kaum duafa maupun anak-anak yatim piatu, jompo, dan lanjut usia yang butuh bantuan, khususnya selama puasa dan Lebaran.
Jumlah kaum penyandang masalah kesejahteraan sosial itu terdata berjumlah 8.000 jiwa, jelas Kian.
Untuk menertibkan mereka, lanjut Kian, pihaknya tengah berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menggelar penertiban secara besar-besaran di lima wilayah kota. Selain untuk mempersempit ruang gerak pengemis, jelas Kian, operasi itu bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan membludaknya jumlah pengemis yang masuk ke Jakarta saat bulan suci Ramadhan hingga menjelang Lebaran.
Menurut dia, ada beberapa titik yang merupakan lokasi berkumpulnya para PMKS telah masuk target operasi. Diantaranya perempatan Coca-Cola, perempatan Pejompongan, simpang lima Senen dan perempatan Jatibaru, Jakarta Pusat.
Masih terkait dengan penertiban itu, lanjut Kian, pihaknya juga tengah menyiapkan panti sosial tambahan untuk menampung para PMKS yang terjaring. Dia menjelaskan, jika jumlah PMKS yang terjaring melebihi kapasitas panti yang ada, maka pihaknya akan memungsikan Panti Sosial Kedoya. Prinsip penggunaan panti bukan tempat penampungan melainkan untuk pendataan bagi kaum PMKS yang terjaring penertiban.
Saat ini, jelas Kian, Pemprov DKI telah memiliki 27 panti sosial. Dalam penanganan masalah sosial, pihaknya juga melibatkan sebanyak 22 rumah singgah yang dikelola elemen masyarakat yang peduli dengan anak jalanan (anjal) berkapasitas total 3.761 orang.
Dia menambahkan, panti-panti itu hanya dipergunakan untuk PMKS yang berasal dari DKI, sedangkan untuk mereka yang berasal dari daerah lain akan langsung dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.
Sebelumnya Gubernur DKI, Fauzi Bowo, menargetkan Jakarta sudah bersih dari sindikat pengemis sebelum puasa. Untuk menangani permasalahan sosial yang sangat kompleks di Jakarta, tidak cukup dengan cara mengimbau saja melainkan dengan cara tegas, namun bijaksana.
Menurut Fauzi, salah satu cara menindak kaum PMKS melalui peraturan daerah yang berlaku. Khusus untuk menangani permasalahan pengemis yang saat ini kian menjamur, penegakan Perda No 8/2007 harus ditingkatkan yang lebih efektif.
Gubernur menuturkan, pembersihan pengemis dari wilayah Ibu Kota, akan lebih fokus pada penangkapan aktor yang selama ini bertindak sebagai koordinator sindikat pengemis. Ditengarai para pengemis yang beroperasi di Ibu Kota telah terkoordinir. Koordinator sindikat pengemis ini juga diduga kerap mengeksploitasi anak-anak di bawah umur.
Karena itulah, kata Inggard Joshua, Wakil Ketua DPRD DKI membawahi masalah kesejahteraan rakyat (kesra), urusan PMKS cukup komplek selama ini dihadapi Jakarta rutin setiap tahun. Untuk itu, lanjut Inggard dari Fraksi Partai Golkar, dibutuhkan peran pemerintah pusat dalam mengatasi permasalahan itu. Terjadinya konsentrasi pengemis di Ibu Kota, karena pembangunan di negeri ini tidak merata di setiap daerah.
[mediaindonesia]
Ledakan Lukai 24 Warga Gaza
GAZA – Satu ledakan di rumah seorang komandan HAMAS di Jalur Gaza telah melukai 24 orang, kata seorang pejabat Gerakan Perlawanan Islam itu di wilayah Palestina tersebut, Senin.
HAMAS menuduh Israel bertanggung jawab atas ledakan itu, yang dikatakannya ditujukan ke komandan lapangan HAMAS Alaa Ad-Danaf. Militer Israel, melalui wanita jurubicara Angkatan Darat, membantah keterlibatan militer Yahudi.
Petugas media mengatakan ledakan tersebut telah melukai 24 orang di dalam dan di luar rumah Ad-Danaf.
Tidak jelas apakah Ad-Danaf tewas dalam ledakan tersebut, yang terjadi saat bentrokan lintas-perbatasan terjadi lagi antara gerilyawan Palestina dan tentara Yahudi.
Seorang komandan HAMAS dan pembuat roket tewas dalam satu serangan udara Israel pada akhir pekan lalu, setelah satu roket yang ditembakkan dari daerah kantung tersebut meledak di kota Ashkelon, Israel.
Issa Batran, yang rumah mobilnya dihantam satu rudal, adalah komandan HAMAS pertama yang tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza sejak Israel mengakhiri serangan militer tiga pekan terhadap wilayah yang dikuasai HAMAS itu pada Januari 2009.
[Antara]
DPR Pertanyakan Pembangunan Transportasi Massal di Jakarta
JAKARTA – Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional A Bakri mempertanyakan komitmen Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyelesaikan program transportasi massal yang terbengkalai guna mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta.
“Saya akan mengusulkan agar pimpinan Komisi V DPR mengundang Menteri Perhubungan, Gubernur DKI Jakarta, dan pihak terkait lainnya untuk menjelaskan program transportasi massal yang terbengkalai,” kata A Bakri, di Jakarta, Sabtu.
Bakrie menjelaskan, pada rapat kerja dengan Menteri Perhubungan dan Gubernur DKI Jakarta, dirinya akan meminta penjelasan dari soal solusi mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta.
Menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menemukan solusi mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta yakni dengan dengan merencanakan mengoperasikan kereta bawah tanah atau “mass rapid transit” (MRT) serta kereta “monorail” melalui lintasan layang.
Namun, pembangunan infrastrukur monorail yang melintas di lingkar dalam Jakarta, kata dia, terhenti setelah tiang pancangnya mulai terpasang.
Demikian juga rencana pengoperasian MRT, menurut dia, sudah sering disosialisasikan tapi belum juga direalisasikan.
“Saya akan mempertanyakan proyek transportasi massal yang terhenti ini kepada Menteri Perhubungan dan Gubernur DKI Jakarta, ada apa gerangan,” kata anggota DPR dari daerah pemilihan Jambi ini.
Menurut dia, jika Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak segera menyelesaikan proyek pembangunan transportasi massal, seperti MRT dan monorail, dia memperkirakan kemacetan lalu lintas di Jakarta dalam lima tahun ke depan akan semakin parah.
Pertumbuhan jumlah kendaraan dan pertumbuhan ruas jalan, menurut dia, sudah tidak seimbang sehingga suatu saat lalu lintas di Jakarta akan stagnan, karena terlalu banyaknya jumlah kendaraan.
Sementara itu, anggota DPR dari Fraksi Amanat Nasional Hendra S Sinkaro mengusulkan, untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta, hendaknya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membatasi usia pakai kendaran roda dua maksimal 20 tahun.
Setelah lebih dari 20 tahun, menurut dia, kendaraan tersebut tidak boleh lagi beroperasi di Jakarta.
“Dengan pembatasan usia kendaraan, maka mobil yang beroperasi di Jakarta berusia muda sehingga tidak mogok dan emisinya gas buangnya masih bagus,” katanya.
[Antara/Yahoo News]
TERORISME ISLAM: SEBUAH “PENYETANAN” ISLAM
TERORISME ISLAM: SEBUAH “PENYETANAN” ISLAM
Seorang bajak laut tertangkap oleh Kaisar Alexander Agung. “Mengapa kamu berani mengacau lautan?” tanya Alexander Agung. “Mengapa kamu berani mengacau seluruh dunia?” si bajak laut balik bertanya. “Karena aku melakukannya hanya dengan perahu kecil, aku disebut maling. Kamu, karena melakukannya dengan kapal besar disebut Kaisar.” (Noam Chomsky, Menguak Tabir Terorisme Internasional)
Demonologi Islam
Berakhirnya perang Salib tidak berarti dendam Barat (Kristen) terhadap Islam dan umatnya berakhir begitu saja. Dendam kesumat yang berkepanjangan itu akhirnya dapat mereka lampiaskan ketika Eropa (Barat) melalui Columbus dapat mengetahui dan membuka pintu jalur perjalanan dan perdagangan ke dunia Timur dan dunia Islam.
Dengan dalih mencari rempah-rempah, mereka melakukan penjajahan terhadap dunia timur pada umumnya dan Islam pada khususnya. Selain membawa panji-panji gold (emas) dan glory (kebanggaan), mereka pun mengibarkan panji gospel (penyebaran Injil), dengan tujuan utama menyebarkan berita Injil dan sekaligus mengkristenkan dunia Islam serta menenggelamkannya ke titik nadir kehidupan manusia. Bagi dunia Timur dan Islam, misi ini bukan membawa glory, tetapi justru gory (berlumuran darah).
“PENYETANAN ISLAM” barangkali tepat untuk menerjemahkan istilah “Demonologi Islam”, meskipun terdengar sangat kasar. Penggunaan istilah demonologi Islam hanyalah sebagai penyederhanaan istilah bagi sebuah proses rekayasa sistematis kaum kuffar Barat yang terus-menerus memburukkan citra Islam di mata dunia. Pemburukan itu dilakukan dengan menciptakan label-label negatif dan menyeramkan, seperti; fundamentalis, teroris, ekstremis, fanatik, dan sebagainya yang dilekatkan pada seorang atau sekelompok aktivis pergerakan Islam.
Istilah “demonologi” (demonology) mungkin masih terasa asing di telinga kita. Ia bukanlah istilah populer. Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily mencantumkan kata demon yang berarti; setan, iblis, jin dan orang yang keranjingan sesuatu. Demonologi bisa diartikan studi tentang setan atau semangat kejahatan.
Untuk memahami atau memaknai istilah demonologi secara kontekstual dan faktual, Noam Chomsky mengartikan “demonologi” sebagai “perekayasaan sistematis untuk mendapatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan” dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi.
Dalam dunia ilmu komunikasi, “demonologi” barangkali dapat dimasukkan ke dalam wacana “teori penjulukan” (labelling theory). Teori tersebut menyatakan bahwa proses penjulukan dapat sedemikian hebat sehingga korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruhnya.
Dalam hal “demonologi Islam” kita dapat mengartikannya sebagai pengkajian tentang “penyetanan Islam” atau “penghantuan Islam”, yakni penggambaran atau pencitraan Islam sebagai demon (setan, iblis, atau hantu) yang jahat (evil) dan kejam (cruel). Kita dapat mendefinisikan demonologi Islam sebagai “perekayasaan sistematis untuk menempatkan Islam dan umatnya agar dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan.”
Hal itu dilakukan oleh pihak Barat (kaum Zionis Yahudi dan Salibis) yang memandang Islam sebagai ancaman bagi kepentingan dan eksistensi mereka. Demonologi Islam menjadi bagian dari strategi Barat untuk meredam kekuatan Islam, yang mereka sebut sebagai the Green Menace (Bahaya Hijau).
Demonologi Islam yang sasarannya bukan hanya masyarakat Barat melainkan juga masyarakat Islam agar mereka anti dan menjauh dari agamanya sendiri, berlangsung melalui pencitraan negatif tentang Islam dan para pejuangnya, melalui berbagai penjulukan-penjulukan “fundamentalisme Islam” (Islamic Fundamentalism), “terorisme Islam” (Islamic Terorism), dan “bom Islam” (Islamic Bomb), yang dipopulerkan media massa.
Dengan cara itu, Barat berupaya menenggelamkan citra Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dan sistem hidup (way of life) terbaik bagi umat manusia, membuat masyarakat dunia memusuhi dan memerangi Islam (menumbuhkan Islamophobia-ketakutan terhadap Islam), sekaligus mencegah dan melindas isu kebangkitan Islam (The Revival of Islam).
Pemburukan citra Islam adalah bagian dari upaya Barat –khususnya negara adikuasa Amerika Serikat-menata dunia menurut kepentingan mereka. Barat mengklaim diri sebagai pemegang supremasi kebenaran, sedangkan semua yang mengancam kepentingannya-dalam hal ini Islam atau komunitas Islam-atau bahkan tidak bersepakat dengannya dianggap berada di jalan yang sesat. Media massa sekedar sarana pembentuk makna. Kesan buruk mengenai Islam perlu diciptakan agar penindasan Islam dapat dilakukan dengan persetujuan khalayak.
Jadi, terbentuknya opini publik (public opinion) tentang bahayanya Islam atau Islam sebagai ancaman akibat pemburukan citra Islam tersebut, dapat memberikan semacam legitimasi dan justifikasi bagi Barat dan antek-anteknya untuk membasmi siapa saja dan kelompok apa saja yang mengusung bendera Islam dalam perjuangan politiknya. Bahkan, “Serangan terhadap ekstremis muslim-yaitu fundamentalisnya pers populer-dengan mudah berubah menjadi serangan terhadap seluruh umat Islam!”.
Terorisme Islam
Terorisme Islam atau teroris Islam merupakan label paling keji yang dialamatkan Barat kepada Islam dan kaum muslimin. Sebagai bagian dari upaya demonologi Islam, label tersebut dipopulerkan media massa Barat dan pro Barat (cermati pemberitaan media-media nasional akhir-akhir ini terkait bom Mega Kuningan) sebagai konsep untuk memahami aksi-aksi kekerasan bernuansa politis yang melibatkan kalangan Islam atau aktivis gerakan Islam, sekaligus membuat image dan public opinion bahwa Islam dan kaum muslimin itu penumpah darah, keji, barbar, sadis dan pembunuh.
Label ini, selain untuk menumbuhkan Islamophobia juga sekaligus untuk membatasi ruang gerak dan meredam aktivitas perlawanan bersenjata (perjuangan militer) gerakan-gerakan Islam sebagai reaksi atas penindasan atau operasi militer pemerintah terhadap mereka. Dengan istilah terorisme Islam pula, Barat hendak meredam semangat jihad fi sabilillah para pejuang muslim, sekaligus mendiskreditkan dan mengaburkan makna konsep jihad dalam Islam.
Terorisme sendiri merupakan istilah yang kabur dan bermakna ganda (ambiguous). Di kalangan akademisi atau ilmuwan sosial-politik pun tidak ada kesepakatan tentang batasan pengertian istilah yang kesannya mengerikan itu. Tidak ada satu pun definisi “terorisme” yang diterima secara universal. Yang jelas-dan ini pasti disepakati-terorisme merupakan sebuah aksi atau tindak kekerasan (violence) yang merusak (destructive).
Banyak analis sepakat bahwa terorisme memiliki cara yang khas, yaitu pengunaan kekerasan secara sistematis untuk mencapai tujuan politik. Metodenya adalah pemboman, pembajakan, pembunuhan, penyanderaan, atau singkatnya: aksi kekerasan bersenjata.
Dr. Knet Lyne Oot, mendefinisikan terorisme sebagai:
1. Sebuah aksi militer atau psikologis yang dirancang untuk menciptakan ketakutan, atau membuat kehancuran ekonomi atau material
2. Sebuah pemaksaan tingkah laku lain
3. Sebuah tindakan kriminal yang bertendensi mencari publisitas
4. Tindakan kriminal bertujuan politis
5. Kekerasan bermotifkan politis, dan
6. Sebuah aksi kriminal guna memperoleh tujuan politis atau ekonomis
Jika definisi tersebut dipakai, perang atau usaha memproduksi senjata pemusnah umat manusia dapat dikategorikan sebagai terorisme. Para pemimpin negara industri maju (Barat) dapat dijuluki “biang teroris atau mbahnya teroris” karena memproduksi senjata pemusnah massal seperti nuklir.
Istilah terorisme, menurut Chomsky mulai digunakan pada akhir abad ke-18, terutama untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat. Istilah itu diterapkan terutama untuk “terorisme pembalasan” oleh individu atau kelompok. Sekarang, pemakaian istilah terorisme dibatasi hanya untuk pengacau-pengacau yang mengusik pihak yang kuat.
Kisah bajak laut dengan Alexander Agung di atas menggambarkan dengan sangat akurat hubungan antara Amerika dan berbagai aktor kecil di panggung terorisme internasional dewasa ini. Lebih luas lagi, kisah di atas mengungkapkan makna terorisme internasional dalam penggunaannya di Barat dan menyentuh inti kebiadaban menyangkut peristiwa tertentu yang hari-hari ini dirancang dengan sinisme yang paling kasar sebagai “selimut kebiadaban barat”.
Tudingan terhadap kaum muslimin sebagai pelaku teror, di satu sisi menunjukkan adanya “rasa bersalah” (guilty feeling) sekaligus “pengakuan” Barat khususnya Amerika terhadap dunia Islam. Pemerintah Washington bisa jadi merasa bahwa aksi-aksi kekerasan yang terjadi selama ini sebagai ulah kaum muslimin yang marah terhadapnya, karena selama ini Amerika dan sekutu-sekutunya selalu mendukung pembasmian “fundamentalisme Islam” dan menjegal naiknya kelompok muslim “garis keras” ke tampuk kekuasaan di berbagai negeri muslim, termasuk “dosa besar” Amerika yang menopang dan menjadi “centeng” setia Israel, musuh bersama dunia Islam.
Sumber Permusuhan
Dendam Historis
Selama berabad-abad, Barat takluk di bawah hegemoni Khilafah Islam. Kebencian kaum Kristen Barat pernah meledak dalam bentuk pengobaran api perang terhadap umat Islam, yaitu dengan terjadinya perang Salib (1096-1291 M) yang bertujuan utama penghancuran Islam. Akan tetapi, melalui peperangan tersebut, umat Islam gagal dilumpuhkan, bahkan kemenangan lebih banyak diraih umat Islam. Trauma perang tersebut berdampak pada tertanamnya rasa antipasti dan saling curiga di kedua belah pihak, terutama Kristen Barat yang berada di pihak yang kalah.
Kesalahpahaman Masyarakat Barat terhadap Islam
Masyarakat Barat umumnya melakukan kesalahan dalam memahami Islam. Hal itu terjadi karena masyarakat Barat umumnya mempelajari dan memahami Islam dari buku-buku orientalis, sedangkan para orientalis mengkaji Islam dengan tujuan menimbulkan miskonsepsi terhadap Islam, selain adanya motif politis untuk mengetahui rahasia kekuatan umat Islam demi melampiaskan ambisi imperialisme Barat.
Kekeliruan Barat dalam memahami Islam adalah juga karena menyamakan Islam dengan perilaku individu umat Islam. Misalnya, ketika ada orang atau sekelompok umat Islam melakukan aksi kekerasan, cap “teroris” pun dilekatkan pada Islam tanpa mau tahu mengapa aksi kekerasan itu terjadi. Sementara jika ada orang Kristen atau Yahudi yang melakukan kekerasan, tidak pernah kita dengar mereka disebut sebagai teroris Kristen atau teroris Yahudi. Inilah standar ganda yang diberlakukan Barat sebagai pengklaim kekuasaan dan kebenaran subyektifnya.
Selain itu juga diperparah oleh media massa Barat yang tidak menampilkan Islam secara utuh. Bahkan, Islam yang mereka kenalkan bukan Islam yang sebenarnya, tapi Syi’ah yang jelas-jelas telah menyempal dari Islam.
Bentuk Permusuhan
Bentuk-bentuk permusuhan Barat terhadap Islam meliputi tiga hal berikut:
Penyia-nyiaan. Barat bersikap masa bodoh terhadap keberhasilan peradaban umat Islam yang mengagumkan.
Penerapan standar ganda. Misalnya pada penggunaan istilah “fanatik muslim”, “teroris muslim” dan sebagainya, namun tidak pernah keluar istilah “fanatik Katolik” atau “teroris Katolik” dari mereka.
Permusuhan ateisme-rasialisme. Sekarang berkembang ketakutan masyarakat Eropa akan berdirinya pemerintahan Islam, takut bahwa ia akan tidak sesuai dengan pemerintahan sekuler di Barat. Persangkaan mereka itu sangat keliru karena pemerintahan Barat sendiri adalah Republik Kristen Demokrat.
Strategi Penaklukkan
Menciptakan kondisi ketergantungan. Program bantuan luar negeri (foreign aid) dalam berbagai bentuknya merupakan bagian dari penciptaan kondisi ketergantungan tersebut. Dengan ikatan bantuan tersebut, Barat dapat mengendalikan kebijakan negara-negara penerima bantuan agar melayani kepentingan mereka.
Penanaman rasa permusuhan dan saling curiga di antara negara-negara Islam (politik pecah belah, devide et impera).
Pencegahan program persenjataan nuklir di negara-negara Islam, tidak saja untuk melanggengkan supremasi Barat dalam persenjataan nuklir, tapi juga agar negara-negara Islam lemah secara militer.
Peredaman dan pembasmian “kekuatan Islam,” khususnya gerakan-gerakan Islam yang merupakan oposisi terdepan terhadap hegemoni Barat. Strategi ini dilakukan dengan mendukung pemerintahan tirani, diktator, dan otoriter di negara-negara muslim.
Ghazwul Fikri
Selain keempat strategi di atas, kaum kuffar secara sistematis juga berupaya mengeliminasi Islam supaya tidak berkembang dengan cara menghantam Islam dari dalam, yang terangkum dalam program al-ghazwul-fikr (penyerbuan pemikiran).
Program ghazwul fikri ini meliputi hal-hal berikut:
Tasykik, yakni gerakan yang berupaya menciptakan keraguan dan pendangkalan keyakinan umat Islam terhadap agamanya. Misalnya, melecehkan al-Qur’an dan Hadits, menghina Nabi Muhammad saw., atau mengkampanyekan bahwa hukum Islam tidak sesuai dengan tuntutan zaman.
Tasywih, gerakan yang berupaya menghilangkan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya dengan memberikan gambaran Islam secara buruk sehingga menimbulkan rasa rendah diri.
Tadzwib, yakni pelarutan budaya dan pemikiran. Kaum kuffar melakukan pencampuradukkan antara hak dan batil sehingga menimbulkan kebingungan umat Islam.
Taghrib, yakni pembaratan dunia Islam, mendorong umat Islam agar menerima pemikiran dan Budaya Barat, seperti sekulerisme, pluralisme dan liberalisme.
Itulah di antara sedikit fakta yang nampak dari permusuhan abadi Barat (kuffar) terhadap Islam. Oleh karena itu adalah keharusan bagi kita untuk terus mengingat peringatan Allah swt di bawah ini:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka…” (al-Baqarah: 120)
“Sesungguhnya akan kamu jumpai orang-orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan kaum Musyrikin…” (al-Maaidah: 82)
“….Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sehingga mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) jika mereka sanggup…” (al-Baqarah: 217)
“Sesungguhnya kaum kafir menafkahkan uang (harta) mereka untuk menghambat (orang) dari jalan Allah. Mereka akan terus menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan…” (al-Anfaal: 36)
“Orang-orang kafir itu membuat makar (tipu daya) dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan, Allah sebaik-baik pembalas makar.” (ali-Imran: 54)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah