RIYADH – Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan keras mengutuk penyerbuan Masjid Al-Aqsha oleh polisi Israel, dan memperingatkan mengenai konsekuensi berbahaya atas tindakan tersebut.
“Pelanggaran semacam itu, yang terjadi beberapa hari setelah keputusan oleh pemerintah Israel untuk secara tidak sah memasukkan Masjid Al-Ibrahimi dan Masjid Bilal bin Rabag (Makam Rachel) ke dalam daftar tempat warisan Israel, adalah perkembangan berbahaya dalam rancangan Israel guna mencaplok tempat suci Islam,” kata Sekretaris Jenderal badan pan-Islam tersebut Ekemeleddina Ihsanoglu di dalam satu pernyataan.
Polisi Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha untuk menangkap orang Palestina yang mereka katakan melemparkan batu ke pengunjung di sana. Belasan personil polisi anti huru-hara dikerahkan ke jalan sempit di Kota Tua sementara pengumuman disiarkan melalui pengeras suara dan menara masjid untuk menyeru umat Muslim “meyelamatkan Jerusalem”, kata seorang koresponden asing.
Seorang pejabat Komite Tertinggi Islam Jerusalem mengatakan warga Palestina yang melemparkan batu ke arah orang yang mereka katakan sebagai anggota kelompok ekstrem Yahudi yang bermaksud berdoa di lokasi itu dan merusak statusquo. Beberapa orang Palestina cedera dalam bentrokan dengan tentara Israel yang menyerbu kompleks itu, dan seorang prajurit Israel mengalami luka ringan.
Ihsanoglu mengecam apa yang ia katakan berlanjutnya pelanggaran Israel atas hukum internasional yang melindungi tempat ibadah dan orang yang beribadah di dalamnya. “Setiap kerusakan atas Masjid Al-Aqsha dan tempat suci lain akan menghasilkan konsekuensi serius dengan bahaya yang tak dapat diramalkan terhadap keamanan dan perdamaian dunia,” ia memperingatkan.
Ia juga menyeru masyarakat internasional, Dewan Keamanan PBB dan Kuartet Internasional agar membuat Israel menghentikan pelanggaran provokatif semacam itu, yang dilakukan negara Yahudi tersebut di Jerusalem dan Masjid Al-Aqsha, tempat suci ketiga umat Muslim. (mediaindonesia)
Korban Tewas Gempa Chile 708 Orang, Penjarahan Mulai Terjadi
CONCEPCION – Informasi terbaru, korban tewas akibat gempa berkekuatan 8,8 skala richter di Chile kini menjadi 708 orang. Situasi di pusat kota pun menjadi kacau lantaran aksi penjarahan mulai terjadi.
Seperti dilansir situs Reuters, Senin (1/3/2010), Rresiden Chile, Michelle Bachelet memastikan jumlah korban tewas mencapai 708 orang dan akan terus bertambah seiring proses evakuasi dari regu penyelamat.
Kondisi serba kekurangan menyebabkan warga di pinggiran kota Santiago nekat menjarah toko untuk mengambil makanan ataupun air mineral. Polisi pun bertindak tegas terhadap para penjarah ini.
Walikota Concepcion Jaqueline van Rysselberghe mengatakan kondisi sudah di luar kendali.”Pemerintah harus segera mengirim suplai bahan makanan,” kata dia.
Gempa Chile terjadi pada pukul 06.34 GMT, Sabtu, 27 Februari sekitar 115 km di timur laut kota Concepcion dan 325 km di barat daya ibukota Santiago dengan kedalaman 35 km. Gempa ini juga membawa gelombang tsunami ke beberapa negara seperti Rusia, Jepang dan Australia. (okezone)
Militer AS Gunakan “Gambar” Orang Islam sebagai Sasaran Tembak
NEW ORLEANS – Sumber media AS mengungkapkan bahwa militer AS menggunakan sasaran tembak yang mencitrakan umat Islam dan orang Arab dalam pelatihan bagi mahasiswa untuk persiapan perwira militer cadangan.
Surat kabar “Tulin Hellbelo” – sebuah surat kabar yang diterbitkan oleh mahasiswa di Tulane University, melaporkan bahwa “Reserve Officer Training Corps” yang di laksanakan oleh militer AS di universitas Tulane, New Orleans Louisiana, menggunakan sasaran tembak berupa model yang bercitra umat Islam dan Arab yang sedang bersembunyi di belakang seekor kambing dan drum-drum minyak yang dipasang di tiang-tiang yang akan menjadi sasaran tembak bagi para mahasiswa peserta pelatihan.
Surat kabar kampus itu juga melaporkan bahwa pelatihan itu menggunakan senapan mesin ringan dari model 249 untuk menembak sasaran yang dicitrakan sebagai umat Islam dan orang Arab selama pelatihan berlangsung.
Ditambahkan bahwa “Reserve Officer Training Corps” diadakan di sekitar masjid Rahma yang sering menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa muslim di kampus tersebut.
Ahmed Siddiqui Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim di Tulane University menyatakan bahwa penggunaan sasaran tembak yang mendeskripsikan umat Islam dan orang Arab bisa menyinggung kaum muslimin, dan ia menegaskan bahwa latihan itu telah memberikan citra negatif “Reserve Officers Training Corps”.
Dia melanjutkan: “Penggambaran seorang pria muslim dengan pakaian tradisional Arab yang sedang bersembunyi di balik kambing dan drum-drum minyak; telah membuat stereotip bahwa semua orang Arab digambarkan sebagai musuh negara AS.” (fq/imo/eramuslim)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah