JAKARTA – Praktik korupsi di negeri ini nampaknya sudah sangat akut dan memasyarakat. Korupsi kecil-kecilan seperti pungutan liar (pungli) sudah menjadi hal lumrah untuk dilakukan oleh aparat yang berhadapan langsung dengan masyarakat, bahkan dalam ibadah haji sekalipun.
Di Terminal Haji Bandara Internasional Soekarno Hatta misalnya, akan mudah ditemukan anggota keluarga yang akan menjemput sanak saudaranya terpaksa harus merogoh koceknya untuk diberikan kepada petugas yang tidak bertanggung jawab, itu hanya karena ingin mendapat akses bertemu.
“Berapa Pak? kalau segitu saya sarankan Bapak membawa satu orang saja yang masuk ke dalam,” ujar petugas penjaga pintu masuk menawarkan kepada Memed, seorang pria yang akan menjemput istrinya di Terminal Haji, Cengkareng Tangerang, Selasa (15/12/2009).
Memed yang saat itu membawa putri dan keponakannya pun terpaksa hanya diperkenankan membawa satu anggota keluarganya masuk. Untuk masuk ke Gedung Platform, tempat di mana jamaah haji yang baru tiba di Tanah Air bisa ditemui sebelum ke debarkasih, para penjemput memang harus menggunakan kartu pas yang dikeluarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kabupaten/kota dan Departemen Perhubungan.
Mereka bisa membawa anggota keluarga lainnya masuk jika mereka memberikan tips yang diminta oleh petugas. Ternyata, tidak hanya Memed yang menjadi korban pungli para petugas bandar. Rasa rindu yang mendalam karena telah berpisah dengan keluarganya yang berangkat ke Tanah Suci selama satu bulan lebih membuat keluarga yang ditinggalkan melakukan berbagai upaya untuk bisa bertemu segera.
Padahal, jamaah haji yang berasal dari luar Jakarta biasanya akan diberangkatkan terlebih dahulu di asrama haji masing-masing debarkasih. Di situ keluarga yang akan menjemput bisa bertemu dan pulang ke kampung halaman bersama yang menjemputnya.
Jika praktik korupsi yang kecil seperti ini saja belum bisa diberantas, sulit rasanya pemberantasan korupsi yang didengungkan pemerintah saat ini bisa tercapai. Masyarakat pun akan semakin terbiasa melakukan ini dan korupsi akan membudaya.
Sementara itu Sekretaris Jenderal Departemen Agama Bahrul Hayat menyatakan secara umum pelaksanaan ibadah haji 2009 berlangsung dengan baik. Kekurangan yang bersifat teknis, dinilai biasa terjadi. “Secara umum pelaksanaan ibadah haji cukup baik. Puncak ibadah haji baik. Akomodasi, transportasi, dan katering cukup baik, termasuk masalah pemondokan. Tidak ada yang menolak,” papar Bahrul.
Menurutnya, keluhan dari jamaah yang mendasar terdapat di pemondokan yaitu kekurangan air. “Tahun ini tidak banyak keluhan. Hanya tempat-tempat jemuran saja yang dikeluhkan jamaah,” tuturnya
Dia menambahkan tindakan kriminal oleh warga Indonesia masih ditemui pada pelaksanaan tahun ini. “Kejahatan masih ada yang dilakukan warga Indonesia namun langsung kita tindak,” tandasnya.
Bahrul juga mengeluhkan banyaknya jamaah nonkuota yang mengganggu pelaksanaan ibadah haji. “Kita sudah protes kepada muasasah (pengelola maktab). Solusinya boleh dicari. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak mendapatkan tiket pulang,” terangnya.
Untuk itu, lanjutnya, Depag mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menggunakan cara berangkat haji tanpa mendaftar secara resmi karena bisa membahayakan. Saat ini ada sekira 3.000 jamaah nonkuota. Dari jumlah itu ada puluhan yang sampai saat ini belum mendapat tiket pulang. (Okezone.com)
Apa yang Dilakukan Oleh Tentara Amerika di Masjid Khulafah Rasyid, Fallujah?
Ya, apa yang dilakukan oleh para tentara Amerika di Fallujah, Iraq, sesaat ketika mereka menjejakkan kaki dalam misi invasi AS di tahun 2003?
Banyak orang Islam yang mungkin telah melupakannya. Atau banyak yang tidak tahu. Atau banyak yang tak mau mencari tahu.
Foto di atas adalah hasil jepretan Luis Binco dan dipasang di Los Angeles Times. Mereka adalah batalion pertama, yang datang ke Fallujah.
Mereka beristirahat di masjid, dan perhatikan, para tentara AS itu sama sekali tidak menghormati masjid.
Para tentara itu masih mengenakan sepatu, dan mengotori tempat suci itu. Sebelumnya, mereka telah mengusir para penduduk dan pejuang Iraq dari masjid itu.
Dan itu sudah cukup menunjukkan bahwa AS memang sama sekali tidak bermaksud menunjukkan penghormatan terhadap tempat-tempat ibadah umat Islam. Jauh sekali, amat jauh malah, dibandingkan dengan sikap yang diajarkan dalam Islam ketika menghadapi peperangan. Rasul berpesan, dalam berperang, jangan menyakiti perempuan, anak kecil, orang tua, jangan merusak tempat ibadah orang lain, dan bahkan jangan merusak tanaman.
Semoga kita tak pernah melupakan Fallujah—tempat dimana segala kekayaan sejarah Islam disimpan dan sudah porak-poranda sekarang. (eramuslim)
Jumlah Kematian Jamaah Haji 2009 Turun 38 persen
Jumlah anggota jemaah haji yang meninggal dunia selama kegiatan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 Hijriyah/2009 turun 38,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan Lily S Sulistyowati di Jakarta, sampai hari ke-50 kegiatan penyelenggaraan ibadah haji 2009 (11/12) jumlah anggota jemaah yang meninggal dunia sebanyak 247 orang. Pada periode yang sama tahun 1429 Hijriyah/2008, ia melanjutkan, jumlah jemaah haji yang meninggal dunia sebanyak 400 orang.
Sementara menurut data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Departemen Agama, jumlah anggota jemaah haji yang meninggal dunia hingga Minggu (13/12) sebanyak 251 orang, 140 laki-laki dan 111 perempuan. Sebagian besar anggota jemaah meninggal dunia akibat penyakit terkait sistem sirkulasi dan penyakit sistem pernafasan. Sisanya akibat serangan penyakit infeksi, parasit, syaraf, serta gangguan endokrin dan pencernaan. “Kejadian luar biasa penyakit juga menurun dari delapan kasus pada tahun lalu menjadi hanya satu kasus pada tahun ini,” kata Lily.
Ia menyebutkan, menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) penurunan angka kematian jemaah dan kejadian luar biasa penyakit dalam pergerakan manusia secara massal merupakan indikator semakin baiknya pelayanan kesehatan. Tahun ini anggota jemaah haji Indonesia tercatat sebanyak 209.819 orang, sebagian diantaranya sudah kembali ke tanah air. Pemulangan jemaah haji dari Arab Saudi dilakukan secara bertahap setelah seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji di tanah suci selesai. (tvone.co.id)
Dipecat Gara-gara Pakai Jilbab
Tanty Wijiastuti (36), karyawati BPR Bank Angga Kota Probolinggo yang menjadi korban pemecatan, mengaku bingung harus mengadukan ke siapa soal nasibnya.
“Saya bingung mas, saya harus mengadukan ke siapa soal nasib saya ini,” akunya saat dihubungi detiksurabaya.com melalui telepon, Senin (07/12/2009).
Tanty mengaku, akibat pemecatan itu dirinya mendapatkan biaya Tunjangan Masa Depan (Tumapan,red) dari pihak perusahaanya. “Tumapan itupun uang kita sendiri yang kita tabung setiap bulan ke perusahaan. Kalau soal pesangon, sepeser pun saya tidak dapat,” ungkapnya tanpa menyebut berapa nominalnya Tumapan yang dia terima.
Sejak munculnya pemberitaan soal pemecatan dirinya, Tanty mengaku langsung dipanggil oleh Kepala Cabang BPR Bank Angga, Dwi Indrawati.
“Begitu wartawan datang ke kantor, Bu Dwi Indrawati langsung memanggil saya,” aku perempuan yang sudah mempunyai dua orang anak itu.
Kepala Cabang BPR Bank Angga itu menanyakan apakah permasalahan yang dialami oleh Tanty itu dilaporkan ke wartawan. “Saya bilang tidak melaporkannya kepada wartawan,” ungkapnya.
Sebenarnya, nasib pemecatan yang dilakukan oleh pihak perusahaan itu tidak hanya terjadi pada Tanty. Tapi juga itu dialami oleh karyawan lainnya bernama Irma Suryanati (34). Dia terpaksa keluar sebagai karyawan lantaran dimutasi dari administrasi bagian krediting ke bagian accounting oleh pihak managemen.
“Pihak perusahaan itu memang tidak pernah memecat karyawan. Tetapi, banyak cara yang digunakan oleh pihak managemen untuk mengeluarkan karyawannya,” kata Tanty.
Karena Irma Suryanati merasa tidak kerasan dengan jabatan barunya, dia akhirnya disuruh membuat surat pengunduran diri seperti dirinya. “Kasusnya hampir sama dengan saya. Cuma bedanya kalau saya masalah pakaian jilbab. Kalau dia soal pemutasian dirinya,” katanya.(surabaya.detik.com)
Intelijen Negara Jangan Kebobolan Lagi
Polisi harus menjaga ketertiban dan keamanan selama berlangsungnya aksi unjuk rasa memperingati hari Antikorupsi Sedunia, 9 Desember mendatang.
Kesiagaan polisi terkait potensi munculnya aksi provokator yang menimbulkan benturan antara kelompok pengunjuk rasa dengan memanfaatkan situasi bagi kepentingannya.
Namun demikian, menurut pengamat hukum dan kepolisian Bambang Widodo Umar, polisi jangan gampang mengkriminalisasikan para demontrans antikorupsi yang berunjuk rasa.
“Aksi antikorupsi ini sudah benar karena elemen masyarakat sudah kecewa terhadap penegakan hukum yang lemah saat ini, sehingga timbul gerakan sosial,” papar staf pengajar pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia ini kepada okezone, Senin (7/12/2009).
Untuk mengantisipasi adanya potensi kekacauan dalam unjuk rasa, maka instrumen intelijen harus bekerja maksimal. “Itulah tugas intelijen yang secara dini harus mampu mendeteksi kelompok tertentu yang ingin memanfaatkan situasi. Kalau tak mampu, ya polisi kebobolan lagi,” kata Bambang mengingatkan.
Agar fungsi intelijen mampu bekerja maksimal dalam mendeteksi kemungkinan buruk dari aksi besar-besaran demo antikorupsi, maka perlu sinergi antara intelijen di Kepolisian, Kejaksaan, maupun intelijen pemerintahan. “Namun jangan menaruh kecurigaan yang berlebihan kepada kelompok masyarakat pendemo, aksinya mengarah pada makar,” pungkasnya.
Seperti diketahui, rencana aksi besar-besaran dalam rangka memperingati hari Antikorupsi Sedunia pada 9 Desember mendatang di Jakarta, rentan chaos. Untuk itu, SBY meminta agar semua pihak dapat menahan diri, terutama aparat. “Saya mengingatkan jangan sampai ada yang dikorbankan. Jangan sampai. Saya minta pada petugas jangan terpancing. Sekeras apapun unjuk rasa harus tetap mencerminkan demokrasi,” pesan SBY, kemarin.
Dari hati yang paling dalam, Presiden menyambut baik rencana demo yang akan disokong para tokoh nasional. SBY pun bahkan mengucapkan selamat datang.
“Gerakan 9 Desember saya tahu memiliki motif mulia. Saya sudah mengatahui siapa, apa, dan apa yang dituju. Selama lima tahun tidak bisa dihitung banyaknya kecaman, kritik, dan protes. Dengan catatan unjuk rasa nanti harus tetap tertib sesuai aturan dan jauh dari tindakan kekerasan,” tandasnya. (Okezone.com)
Presiden Merasa Akan Ada yang Menjatuhkan
Di tengah-tengah arus semakin mengental terjadinya ‘distrust’ (ketidak percayaan) masyarakat terhadap lembaga-lembaga penegak hukum, sejak dibukanya percapakan Anggodo Widjojo dengan sejumlah pejabat penegak hukum, kini jagat politik semakin ganjang-ganjing dengan mulai berkembangnya wacana kasus Bank Century, yang terus menguras perhatian rakyat. Dan, muncul rumors akan terjadi gerakan massa yang besar menjelang tanggal 9 Desember ini, yang bertujuan memperingati hari anti korupsi.
Menanggapi gonjang-ganjing politik ini, Presiden SBY ysng juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat menilai, saat ini terjadi fitnah dan pembunuhan karakter yang bertujuan untuk menggoyang bahkan menjatuhkan pemerintahannya, serta menghan curkan nama baik Partai Demokrat.
Presiden SBY mengingatkan akan adanya motif di luar pemberantasan korupsi pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia 9 Desember. SBY menyatakan, hal itu saat ia memberikan pengarahan pada Rapat Pimpinan Nasional (Rampimnas) Partai Deokrat tahun 2009 di Jakarta, Minggu (6/12). Perilaku politik yang dimaksudkan Presiden yaitu berbentu fitnah dan pembunuhan karekter itu adalah tudingan tentang alilran dana talangan Bank Century ke sejumlah kader Patai Demokrat, termasuk keluarganya.
“Akal sehat saya mengatakan, perilaku politik seperti ini, paling tidak dalam jangka pendek, ingin menggooyang dan mendikskreditkan, serta kalau bisa menjatuhkan SBY dan, pemerintahannya. Jangka menengah dan panjang ingin menghancurkan nama baik Partai Demokrat di muka rakyat agar pemilu 2014 kalah total”, ujarnya.
“Pertanyanyaannya sekarang sebagai kaer Partai Demokrat, relakah kita? Akankah kita biarkan kehormatan kita diinjak? Akankah kita biarkanmasa depan kita sebagai partai yang sejak awal ingin berjuang dengan moral politik yang baik dihancurkan?”, tegas Presiden dari atas podium. Seruan ini dibalas berulang-kali dengan teriakan ‘tidak’ oleh pengurus dankader partia yang menghadiri rampimnas.
Presiden menyampaikan jalur hukum mesti ditempuh untuk menjawab fitnah serta pembunuhan karakter terhadap dirinya dan kader Demokrat yang lain. Presiden SBY juga meminta kader Partai Partai Demokrat yang menjadi anggota pansus untuk mengungkap kasus Bank Century. “Dengan penjalasan ini, saya ingin marilah kita tetap menggunakan jurus putih dalam melaksanakan politik. Jangan tergoda menggunakan jalur politik yang hitam”, tambahnya.
Kekawatiran Presiden ini, tak lain, semakin kuatnya adanya ketidak percayaan rakyat, khususnya terhadap penegakan hukum, dan khususnya terhadap pemberantasan korupsi, yang sudah menyentuh sendi-sendi kekuasaan. Sehingga, sekarang ini pernyataan dan sikap dari para pejabat tidak mendapatkan kepercayaan lagi dari rakyat.
Sebagai contoh kasus Anggodo Widjojo, yang sudah menyebutkan nama-nama pejabat, bahkan termasuk nama Presiden SBY, tapi sampai sekarang Anggodo tidak pernah ditangkap, bahkan masih tetap bebas. Ini menandakan memang lembaga ;penegak hukum dan para pejabat telah dikalahkan dan dikuasai mafia peradilan.
Sementara itu, massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ahad kemarin, telah melakukan aksi yang menginginkan dibongkarnya kasus Bank Century, yang diikuti ribuan massa. Aksi ini akan terus berlangung yang akan diikuti oleh berbagai elemen gerakan, saat memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, yang akan berlangsung 9 Desember besok. (eramuslim.com)
Muslim London Protes Kedatangn Wilders
Sekitar 20 orang umat Islam berunjuk rasa memprotes kedatangan anggota parlemen Belanda dari partai sayap kanan yang sering banyak mendapat kritikan Geert Wilders – pada pertemuan di Parlemen Inggris hari Jumat kemarin.
Geert Wilders, yang menghadapi dakwaan di tanah airnya sendiri untuk ucapan-ucapan anti-Islamnya, datang ke London setelah memenangkan banding awal pekan lalu terhadap larangan dirinya masuk ke Inggris.
Sejumlah polisi membentuk sebuah penghalang di antara kelompok yang menamakan dirinya “Islam in the UK” dan para pengunjuk rasa juga membentangkan spanduk dan banner anti Wilders sambil meneriakkan kata-kata “Wilders Go To Hell” dan “Muslim rise up” sewaktu mobil yang ditumpangi Wilders melewati kerumunan demonstran.
Wilders telah dilarang masuk ke Inggris pada bulan Februari lalu karena menurut kementerian Inggris kehadirannya akan mengancam kerukunan masyarakat dan keselamatan umum.
Wilders telah berencana untuk berbicara kepada media di luar Istana Westminster namun dipaksa polisi untuk berbicara di dalam kantor parlemen di dekat kantor polisi.
Dia berada di London atas undangan dari Partai Kemerdekaan Inggris Lord Malcolm Pearson untuk membahas film “Fitna” di parlemen, yang menghina Alquran serta membandingkan Islam dengan Nazi.
“Ini konyol bahwa pemerintah Inggris berpikir bahwa kehadiran saya disini akan mengarah pada kekerasan,” katanya.
“Orang ini adalah musuh Islam dan umat Islam dan pemerintah Inggris sangat menyadari hal ini dan kehadirannya hanya akan menimbulkan apa yang disebut ekstremisme,” kata salah satu pengunjuk rasa, “Abu Muaz, kepada Reuters.
Pada hari Selasa, bagian pengadilan keimigrasian Inggris membatalkan larangan terhadap Wilders untuk memasuki Inggris.
Seorang juru bicara kementrian Inggris pada hari Jumat mengatakan, “Kami sangat kecewa dengan keputusan pengadilan. Pemerintah akan menentang ekstrimisme dalam segala bentuknya.” (eramuslim.com)
Banyak Barang Jemaah Haji yang Tak Terangkut
Proses pemulangan jemaah haji di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, diwarnai insiden banyaknya barang bawaan yang tak terangkut, karena melebihi kuota maksimal pesawat.
Meski sudah diberitahu bahwa jemaah haji hanya diperbolehkan membawa kopor di bagasi dengan berat maksimal 32 kilogram dan satu tas tentengan. Namun, faktanya masih banyak yang melanggar. Alhasil banyak barang bawaan yang terpaksa ditinggal di bandara.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari www.depag.go.id, Jumat (4/12/2009), Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sudah berkali-kali mengingatkan agar jemaah tidak membawa barang bawaan berlebihan. Namun, imbauan ini masih kurang efektif.
Pelanggaran biasanya dilakukan dengan cara menggelembungkan isi tas tentengan. Pasalnya, untuk kapasitas koper di bagasi sudah tidak bisa disiasati. Sejak sebelum dibawa ke Jeddah, kopor sudah ditimbang. Sampai di Jeddah pun masih dicek lagi di Madinatulhujjaj. “Sampai sekarang belum ada kelebihan bagasi,” kata H Silitonga, petugas X Ray di Madinatulhujjaj.
Barang bawaan di luar kapasitas yang diperbolehkan, kebanyakan berupa oleh-oleh khas Arab. Seperti sajadah, kurma, surban, dan air zam zam. Ada jamaah yang membawa satu jeriken 10 liter Zamzam, ada pula yang membawa kurma satu tas kresek besar.
Sebagian jemaah lain, malah membawa biscuit, minuman kemasan, dan jenis makanan yang sudah ada di Indonesia. Uniknya, ada juga jemaah yang membawa pulang peralatan memasak.
Tas-tas berisi aneka barang milik jemaah haji asal Indonesia itu kemudian diangkut petugas bandara ke tempat penyimpanan barang jemaah. Barang-barang tersebut selanjutnya akan dimusnahkan. (Okezone.com)
Uni Eropa Rahasiakan laporan Ekspansi Israel di Yerusalem Timur
Laporan tahunan Uni Eropa menyatakan bahwa aneksasi Israel terhadap wilayah Yerusalem, ilegal. Laporan yang dibuat oleh kepala misi Uni Eropa di Yerusalem menyebutkan bahwa Israel secara aktif menerapkan kebijakan yang berbelit-belit termasuk memperluas pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur dengan cara menghancurkan rumah-rumah milik warga Palestina.
“Pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur pada tahun 2009 menandai berlanjutnya ekspansi yang dilakukan Israel di wilayah itu dan berlanjutnya perintah penyitaan serta penghancuran rumah-rumah milik warga Palestina,” demikian laporan yang sebenarnya bersifat rahasia tapi berhasil dibocorkan oleh surat kabar Israel, Haaretz.
Uni Eropa dalam laporannya menegaskan bahwa tindakan Israel itu menjadi penghambat proses perdamaian dengan Palestina serta ide untuk mewujudkan solusi dua negara. “Israel, dengan berbagai cara, aktif melakukan aneksasi terhadap wilayah Yerusalem, meski tindakan itu melanggar hukum. Aneksasi dilakukan dengan membuat lemah komunitas Palestina di kota tersebut, menghambat pembangunan warga urban Palestina dan berusaha memisahkan Yerusalem dari kota-kota lainnya di Tepi Barat,” demikian laporan Uni Eropa.
Israel merampas Yerusalem Timur sejak memenangkan Perang Arab pada tahun 1967. Israel berambisi untuk menjadikan Yerusalem Timur yang merupakan wilayah Arab Palestina, sebagai ibukota negara Zionis Yahudi.
Dalam laporan sepanjang 14 halaman bertanggal 23 November itu juga menyebutkan bahwa kebijakan Israel di Yerusalem Timur merupakan “bagian integral dari strategi Israel yang lebih luas.” Dan kebijakan-kebijakan itu mendapat dukungan dari kelompok-kelompok Yahudi sayap kiri.
Pertanyaannya, mengapa Uni Eropa merahasiakan laporannya dan mendiamkan aneksasi yang dilakukan Israel di Yerusalem Timur, jika Uni Eropa tahu bahwa tindakan Israel itu ilegal. (eramuslim.com)
Gempa Dahsyat Guncang Ternate
Gempa bumi kembali terjadi di Tanah Air. Terus Menerus tergucang Gempa bumi berkekuatan 5,0 skala richter (SR) mengguncang wilayah Manado, Sulawesi Utara, Jumat (4/12/2009). Gempa terjadi pukul 02.54 WIB.
Menurut Situs Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di 4,19 lintang utara (LU) dan 126,70 bujur barat (BB), dengan kedalaman 37 km.
Tempat itu berada di 21 Km timur laut Kota Melonguane, Sulut, 151 Km timur laut Kota Tahuna, Sulut, 347 Km timur laut Kota Bitung, Sulut, 365 Km timur laut Manado, Sulut, dan 386 Km barat laut Kota Ternate-Maluku Utara.
Hingga kini belum diketahui apakah terdapat kerusakan atau korban akibat gempa tersebut. Namun BMKG memprediksi, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.(suaramedia.com)
Standar Halal ASEAN Akan Terwujud Dalam Waktu Dekat
Majelis Ulama Indonesia berupaya menggolkan standar halal se-ASEAN. Hal ini mengemuka saat Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan lembaga sertifikasi halal se-ASEAN pekan lalu di Jakarta.
Pertemuan yang bertajuk “Harmonization of Halal Standard Among Halal Certifying Bodies In ASEAN Region” tersebut dihadiri oleh Bahagian Kawalan Makanan Halal Jabatan Hal Ehwal Kementrian Hal Ehwal Ugama Negara Brunei Darussalam,Halal Industry Development Corporation Sdn Bhd (HDC), Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), Islamic Da`wah Council of The Philipines (IDCP), The Central Islamic Commette of Thailand (CICOT), dan Majlis Ugama Islam Singapore (MUIS).
Ichwan Syam, Sekretaris Umum MUI mengatakan bahwa standar produk halal ASEAN akan mendorong produsen untuk menghasilkan produk pangan yang kompetitif di dunia internasional. Ia juga mengatakan bahwa upaya tersebut didasarkan pada keinginan kuat dari lembaga halal di ASEAN dan banyak pihak lain.
“Dengan dukungan semua pihak dan satu keinginan kuat dari lembaga halal di ASEAN ini, tentunya satu standar halal ASEAN akan dapat terwujud dalam waktu dekat,” ujar Ichwan Syam.
Standar halal yang sedang diupayakan ini nampaknya dapat terwujud meski tidak mudah. Salah satu faktor pendorong terwujudnya satu standar halal ASEAN adalah penggunaan mazhab Syafii yang dianut oleh sebagian besar negara di kawasan Asia Tenggara.
Perwujudan standar halal tersebut berangkat dari keprihatinan bersama terhadap sertifikasi halal di negara-negara Eropa. Hal ini dikemukakan oleh Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim. Ia juga menyampaikan bahwa hasil pertemuan tersebut adalah terbentuk kelompok kerja atau working group yang bertugas membahas secara detil dalam upaya harmonisasi bidang fatwa dan standar halal.
Sebagai umat muslim, kita berharap standar halal se-ASEAN ini dapat segera terwujud karena banyak manfaat yang didapat, misalnya, kenyamanan dalam mengkonsumsi produk makanan dan minuman di kawasan Asia Tenggara. (eramuslim)
Zionis Larang Syaikh Ikrimah Sabri Masuk Al-Aqsha
Rabu sore kemarin (02/12), otoritas penjajah Zionis memberikan surat resmi kepada Kepala Badan Tertinggi Islam di Al-Quds, yang isinya melarang khatib masjid Al-Aqsha Syekh Ikrimah Shabri untuk masuk masjid Al-Aqsha selama 6 bulan ke depan.
Ketika Syekh Shabri baru saja pulang dari Saudi kemarin, otoritas Zionis langsung memanggilnya untuk diinterogasi. Karena kelelahan sebab baru saja pulang dari perjalanan jauh, Syekh Shabri sempat meminta pengacarnya Khalid Zabariqah untuk mengundur waktu ke hari lain untuk memenuhi panggilan Zionis itu.
Akan tetapi Zionis menolak untuk menunda dan mengancam akan menangkap Syekh Shabri jika tidak segera memenuhi panggilan otoritas Zionis. Oleh karena itu, Syekh Shabri terpaksa segera menuju ruang intelijen No. 4 yang berada di pusat penahanan dan penyelidikan “Compound” sebelah Barat Al-Quds, untuk menerima keputusan pelarangannya memasuki masjid Al-Aqsha.
Sebelumnya beberapa hari yang lalu, otoritas penjajah Zionis juga mengeluarkan beberapa keputusan yang menjauhkan hak pribadi, nasional, agama, dan lembaga-lembaga dari masjid Al-Aqsha. (eramuslim)
Gangguan Iran di Afganistan Tak Berarti
Menteri Pertahanan AS Robert Gates menyatakan, keinginan Iran menjadi ‘pengganggu’ bagi pasukan sekutu AS yang hadir di Afganistan tidak bisa dilakukan, karena bantuan Iran kepada Taliban sejauh ini kecil dan tak berarti.
“Kami tentu memiliki bukti mengenai keterlibatan Iran, terutama di bagian barat Afganistan,” kata Gates kepada anggota parlemen pada suatu dengar pendapat.
“Itu relatif masih kecil, sehingga membuatnya jadi sumbangan yang relatif kecil dan tak berarti bagi upaya Taliban.”
Iran, yang berpaham Syiah, bukanlah sekutu yang nyaman bagi faksi santri Taliban, yang beraliran Sunni, tapi banyak pengulas menyatakan Teheran mungkin memberi dukungan untuk memaksa dan membuat kesal pasukan AS di Afganistan.
Gates mengatakan Iran sebagian tertahan oleh keinginannya untuk memiliki hubungan bersahabat dengan pemerintah Afganistan. “Namun tak ada keraguan mereka ingin membuat kami sakit,” kata Gates. (Kompas.com)
Masih Banyak Orang “Hilang Ingatan” di Jakarta Pusat
Jakarta Pusat sebagai jantung kota Jakarta ternyata masih menyimpan banyak masalah. Salah satunya, masih banyaknya orang yang mengalami gangguan jiwa jenis psikotik yang umum disebut orang awam sebagai gila atau “hilang ingatan”.
Sepanjang tahun ini, Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat telah menjaring sebanyak 37 orang gila dan dikirim ke panti sosial. Bahkan dalam kurun yang sama, Sudinsos Jakpus juga menerima kiriman sebanyak 44 orang gila yang berasal dari lingkungan masyarakat.
Jumlah itu meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu, yaitu sebanyak 72 orang gila yang berasal dari tempat umum maupun lingkungan warga terpaksa diamankan untuk dibina di panti sosial.
Keberadaan orang gila selama ini menimbulkan pemandangan yang tidak sedap lantaran berada di sejumlah ruas jalan, perempatan lampu merah, lingkungan warga, hingga berada di kawasan pusat perbelanjaan. Karena kesulitan mencari asal usul pengidap psikotik, petugas pun hanya dapat melakukan penertiban.
Andi Muchdar, Kepala Seksi Pelayanan Rehabilitasi, Sudinsos Jakpus mengatakan, beredarnya psikotik khususnya di jalanan menjadi salah satu masalah yang dihadapi.
“Tak ada jalan lain kecuali menciduk mereka dan mengirimkan ke panti sosial,” ujar Andi Muchdar, Rabu (2/12).
Dia menuturkan, berdasarkan hasil penelusuran diduga para pengidap psikotik yang berkeliaran tersebut berasal dari luar wilayah Jakarta, sehingga sulit untuk diketahui keberadaan keluarganya. Keberadaan mereka itu masuk dalam kategori penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).
“Warga Jakarta jarang, karena biasanya oleh keluarganya dijaga dan tidak boleh ke luar. Kalau ada yang berkeliaran, langsung dilaporkan ke RT/RW untuk ditangani dan diserahkan kembali ke keluarganya,” ungkap Andi. (Kompas.com)
Jemaah Haji Meninggal di Tanah Suci 161 Orang
Dengan meninggalnya 25 jemaah haji sejak Minggu lalu, tercatat 161 jemaah haji Indonesia yang berpulang saat menunaikan rukun Islam kelima itu di Tanah Suci.
Sistem Komunikasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama, Kamis (3/12), mengungkapkan, ke-25 jemaah haji yang meninggal yakni Illah Saiman, 74, asal Bogor, Ny Nurhasanah Anjum, 74, asal Banjar, Syamsudin Rasib, 55, asal Aceh, dan Saefullah Mahfuedz, 82, asal Kebumen.
Kemudian Ny Naseha Ayat, 65, asal Jakarta, Ny Zaenab Rahman, 46, asal Palembang, Mungalim Ismail, 52, asal Banyumas, Ny Sarikatun Suharjo, 69, asal Tulungagung, Prayitno Sumarto, 63, asal Pacitan, Tengku Tua Siregar, 82, asal Parupuk Jae, Sumut, Ahmad Darmawi, 80, asal Kp Tengah, Ny Widjajanarti, 60, asal Bukittinggi.
Selanjutnya Ny Sukimah Sariman, 44, asal Pati, Ny Partinah Karso, 69, asal Kediri, Ny Kodidjah Sueb, 59, M Juned, 84, asal Dhampulo, Aceh, Ny Siti Nafiatun, 75, asal Tulungagung, Ahmad Muhyi, 59, asal Yogyakarta, Ny Mariah Pawijaya, 87, asal Kebumen, Budi Sarmana, 48, Ny Saminem Kamari, 61, asal Jateng dan Ny Kaminem Wongso, 77, asal Bengkulu.
Ny Sarikatun, Prayitno, Ny. Siti Safiatun, Ny. Kaminem, Ny. Omaya, Ahmad Munyi, Budi Sarman, Ny Nurhasanah, Saefullah meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan penyakit jantung.
Sementara Tengku Siregar, Darmawi, Wijayanarti, Ny Risma, Ny Partinah, Ny Kadidjah, Juned, Kemat, Ny Saminem, Illah Saiman, dan Ny Naseha akibat penyakit yang berhubungan dengan fungsi alat pernafasan.
Sedangkan Ny Sukimah akibat terjatuh dari lantai tujuh pondokannya, Ny Zaenab dan Mungalim akibat tumor ganas, Syamsudin akibat pendarahan otak (stroke) dan Ny Mariah akibat penyakit gula. (Mediaindonesia.com)
Film “Balibo” Bagus, Tapi..Kok Dilarang ?
Jero Wacik sendiri datang ke gedung film, di Jalan MT Haryono, Jakarta atas undangan LSF untuk menyaksikan langsung film yang menjadi pro kontra saat ini. “Saya diundang LSF untuk melihat langsung filmnya.
Dimintai komentar soal film Balibo itu sendiri, Jero menyatakan, sebagai film, “Balibo” memiliki artistik, lumayan bagus. “Tetapi masalahnya bukan itu, kepentingan bangsa diatas segala-galanya. Jadi apapun kita mesti amankan untuk kepentingan negara,” ujar Jero menambahkan.
Karena itu, dia menambahkan, sebagai film yang menceritakan masa lalu, apalagi menyangkut hubungan kedua negara, tentu sangat tidak pas di pertontonkan di Indonesia.
Film besutan sutradara Australia, Rob Conolly, itu diangkat dari kisah terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste pada tahun 1975.
Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris itu adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward. Kelimanya tewas saat tengah meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste, yang kala itu masih bernama Timor Timur.
Pemerintah Indonesia mengatakan, kelimanya tewas karena terjebak di medan peperangan. Namun, pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, mengatakan, berdasarkan investigasi menunjukkan, kelima wartawan tersebut dibunuh oleh tentara Indonesia.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan, film itu dikhawatirkan akan membuka luka lama. Namun, ia membantah Departemen Luar Negeri mengintervensi keputusan Lembaga Sensor Film (LSF) yang melarang peredaran film “Balibo Five”.
Film tersebut rencananya diputar pada Jakarta International Film festival (Jiffest) ke-11 tahun 2009.
“Keputusan LSF tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan berekspresi, kebebasan berapresiasi dan tidak menghormati hak masyarakat untuk tahu,” Koordinator Advokasi.
Alasan bahwa “membuka luka lama” konflik Indonesia dengan Australia, serta Timor Leste, dianggap berlebihan.
“AJI Indonesia menduga, pelarangan film tersebut sangat politis karena film tersebut mengungkap pelanggaran HAM oleh tentara Indonesia berupa pembantaian lima jurnalis asing di Balibo, Timor Leste pada 1975,” tambah Margiyono.
“Pelarangan film tersebut terkesan untuk menutup-nutupi keterlibatan sejumlah perwira Indonesia dalam pembantaian jurnalis itu,” tambah dia.
AJI Indonesia meminta agar pelarangan film “Balibo Five” dicabut. Sebab, pemutaran film ini penting untuk memberikan informasi kepada publik Indonesia mengenai peristiwa tersebut dari sudut pandang lain dari apa yang disampaikan pemerintah Indonesia selama ini.
AJI Indonesia menilai, penayangan fim tersebut sangat berguna untuk mengingatkan semua pihak agar menghormati jurnalis yang tengah meliput.
“Film tersebut juga menjadi peringatan bahwa pembunuhan terhadap jurnalis harus diusut tuntas, pelakunya harus diadili,” tegas Margiyono.
Film “Balibo Five” dibuat oleh sutradara Australia, Rob Conolly. Film ini diangkat dari kisah terbunuhnya lima jurnalis di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste pada tahun 1975, saat meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste. Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris itu adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward.
Pemerintah Indonesia mengatakan, kelimanya tewas karena terjebak di medan peperangan. Namun, pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, mengatakan kelima wartawan tersebut dibunuh oleh tentara Indonesia. (suaramadia.com)
Pendudukan Zionis Israel Menangkap Tujuh Warga Palestina di Hebron dan Bethlehem
Sumber-sumber Palestina mengatakan bahwa pada sore hari ini (30/11) pasukan pendudukan zionis Israel menangkap 7 warga Palestina di Hebron dan Betlehem, serta menyerbu dan merusak sejumlah rumah warga Palestina.
Sumber-sumber tersebut mengutip dari Biro Informasi kepolisian Palestina yang mengatakan bahwa pasukan pendudukan zionis Israel menyerbu kota tua Hebron, melakukan pengrusakan dan penggeledahan di dua rumah warga Palestina, Nadhal al-Uwaiwi dan Humaidan al-Uwaiwi, serta di rumah lain milik keluarga al-Kurki di wilayah yang sama, di mana pasukan pendudukan zionis menangkap beberapa warga, yaitu Sa’id, Farid, Muhammad al-Uwaiwi, Ammad, dan Muhammad al-Kurki.
Pasukan zionis Israel juga menyerbu rumah industri obat milik warga Palestina bernama Mahmud Jawabirah di kamp pengungsi al-Arub. Kemudian pasukan zionis Israel pergi setelah melakukan penangkapan yang bersangkutan.
Sementara di wilayah Betlehem pasukan pendudukan zionis Israel di pintu masuk ke kota Husan menangkap seorang warga Palestina bernama Muhamad Hamamirah, dan penyitaan mobilnya.(mediaumat.com)
Psikolog: Musik dan Pornografi Pintu Terjangkitnya AIDS
Meski tiap tahunnya diperingati hari HIV/AIDS, namun jumlah penderitanya tak berkurang. Justru semakin meningkat signifikan. Data terakhir menunjukkan 298 ribu penduduk Indonesia hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Tragisnya, mayoritas dari golongan kaum muda. Menurut psikolog Elly Risman tren peningkatan penderita HIV/AIDS itu sebenarnya telah dikatakan badan WHO ke pada Indonesia sekitar lima tahun silam. “Indonesia sudah diprediksi pada tahun 2009 akan panen HIV/AIDS,” ujar Elly. Sayang, secara nasional mengabaikan ancaman itu. Pemerintah tidak mampu mencegah laju peningkatan penyakit tersebut.
Hal itu diperparah indonesia yang berasaskan HAM. Atas nama HAM kemudian banyak orang tidak malu berbuat sesuka hati mereka. Seks bebas, homoseksual dan sebagainya. Padahal, menurut Elly, HIV/AIDS penularannya sangat berpotensi dari situ. Tak hanya itu, Indonesia yang hingga kini ditengarai tempat suburnya peredaran narkoba, Elly mengistilahkan Daerah Tempat Narkoba (DTN) juga menjadi pemicu meningkatnya HIV/AIDS. Begitu juga Indonesia sebagai Daerah Tempat Wisata (DTW).
Meski demikian, Elly berpendapat ada tiga hal penyebab timbulnya HIV/AIDS. Yakni, pornografi, narkoba dan music (song). Ketiga hal tersebut terutama dialami para anak muda. Apalagi yang minim bimbingan dan asuhan dari orangtua.
“Pertama mereka akan terlena mendengar musik, kemudian mengonsumsi narkoba dan selanjutnya seks bebas,” ungkapnya kepada www.hidayatullah.com. “Apalagi, jika mereka (anak-anak, red) banyak memiliki waktu kosong, akan sangat berpotensi melakukan hal tersebut,” imbuhnya.
Menurut Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati ini, mencegah HIV/AIDS dibutuhkan cara yang cukup kompleks. Tidak hanya tergantung peran pemerintah, yang terpenting adalah ketahanan orangtua.
“Orang harus betul dalam mengasuh anak, jangan sampai salah pengasuhan,” jelasnya. Meski demikian, peran pemerintah juga sangat penting. Kesalahan yang dilakukan pemerintah selama ini adalah pencegahan HIV/AIDS yang secara parsial tidak integrated.
Dia mencontohkan, dulu di pedesaan ada namanya “lingkaran biru” atau KB (Keluarga Bahagia) yang sejatinya adalah salah satu upaya pencegahan HIV/AIDS. Program yang diadakan di pedesaan itu biasanya melibatkan aparat desa. Sedang di masyarakat kota diperkenalkan alat kontrasepsi. Dan kemudian, untuk mencegah HIV/AIDS dengan cara “kondomisasi” atau pembagian kondom gratis. Sejak sepuluh tahun upaya kondomisasi dilakukan, penderita HIV/AIDS justru semakin banyak. Sebab, kondomisasi seolah menyuruh orang untuk melakukan seks secara bebas. Alih-alih mencegah, justru mengkampayekan.
Dalam mencegah HIV/AIDS, Elly berpendapat, seharusnya pemerintah melakukan integrated social marketing campaign (kampaye yang berbasis masyarakat dengan mengintegrasikan seluruh elemen). Baik Dinas Pendidikan (Diknas), Departemen Agama (Depag), BKKBN, maupun ormas Islam, NU dan Muhammadiyah. Masing-masing elemen itu bersinergi bukan bergerak secara parsial.
“Selama ini kan terkesan masing-masing elemen bergerak sesuai dengan arogansi sektoral saja,” tegasnya.
Lalu, jika semua elemen telah terintegrasi, baru kemudian melakukan social marketing campaign tentang pencegahan HIV/AIDS. Di antaranya membangun awarness (kesadaran) bahaya HIV/AIDS ke pada masyarakat. Kemudian, memberikan knowledge (pengetahuan) cara pencegahan dan menghindari HIV/AIDS dan mengubah attitude (perilaku) sehingga menjadi skill. (hidayatullah.com)
BPK: “Blokir Deposito BS Rp137 M di Century
Hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas kasus PT Bank Century menemukan adanya kejanggalan dibalik pelunasan produk discretionary fund, sejenis reksa dana yang dikeluarkan oleh PT Antaboga Delta Sekuritas.
Pelunasan produk milik Boedi Sampoerna (BS) senilai Rp 137,5 miliar dilakukan melalui rekayasa keuangan oleh manajemen lama Bank Century sehingga merugikan bank yang telah diambilalih oleh Lembaga Penjamin Simpanan ini.
Hasil audit investigasi setebal 500-an halaman itu menyebutkan BS semula membeli produk discretionary fund yang diterbitkan oleh Antaboga dalam empat bilyet yang totalnya berjumlah Rp 137 miliar pada periode Maret dan April 2008 dengan tingkat bunga 12 persen dan jangka waktu tiga bulan.
Produk itu jatuh tempo pada 26 Juni dan 8 Juli 2008. Namun, diperpanjang 3 bulan sehingga jatuh tempo pada 26 September dan 8 Oktober 2008.
Untuk melunasi produk yang jatuh tempo pada 26 September 2008, Century membayar melalui transfer dari rekening PT Central Sinar Rejeki (SCR) milik Robert Tantular ke rekening antar unit. Selanjutnya, Century cabang Kertajaya, Surabaya menerbitkan deposito atas nama BS.
Hal yang sama dilakukan untuk produk yang jatuh waktu pada 8 Oktober 2008 melalui transfer dari rekening PT Petrobas Indonesia (PI) milik Robert Tantular.
Petrobas adalah debitor Century yang mendapatkan fasilitas L/C tidak wajar dari Century. Sedangkan, Central Sinar Rejeki adalah perusahaan terkait milik Robert yang mendapatkan kredit Rp 30 miliar dari Century untuk melunasi discretionary fund milik BS tersebut.
Jadi, menurut BPK, dapat dinyatakan deposito BS berasal dari rekening perusahaan yang terkait dengan Robert di Century. Akibatnya, Century memiliki kewajiban pembayaran deposito kepada BS atau terjadi pengalihan kewajiban Antaboga kepada Century. “Padahal, kewajiban itu seharusnya ditanggung oleh Antaboga.”
Mengingat dana Petrobas dan Central Sinar Rejeki berasal dari transaksi tidak wajar dan merupakan perusahaan terkait Robert, BPK menyimpulkan seharusnya Century melakukan pemblokiran terhadap deposito BS senilai Rp 137 miliar tersebut. Apalagi, rekening PT PI dan PT SCR juga sudah diblokir oleh Mabes Polri karena diduga terkait dengan tindak pidana pencucian uang.
“Deposito BS harusnya diblokir sampai kasus pidana pencucian uang diselesaikan secara hukum yang berlaku,” kata BPK.
Menanggapi audit BPK itu, manajemen baru Bank Century (sekarang bank Mutiara) sepakat bahwa sebagian besar dana investor Antaboga digunakan untuk kepentingan pihak terkait. Sebagian pembayaran pencairan investor Antaboga yang jatuh tempo dibayar melalui dana pihak terkait di Century langsung ke rekening investor Antaboga.
“Sumber dananya dari rekayasa transaksi yang merugikan Century,” demikian tanggapan manajemen Century di audit tersebut.
Hal ini telah dilaporkan oleh manajemen baru Bank Century kepada Lembaga Penjamin Simpanan sebagai pemegang saham pada 21 April 2009. Direksi Century pada 17 November 2009 telah meminta klarifikasi sumber dana deposito, tetapi belum dijawab oleh BS. (VIVANews.com)
Ratusan Jammah Haji Wafat Di Tanah Suci, Ratusan Ribu Menangis
Muslim Sedunia ziarah menjangkau menyentuh pintu Ka’bah di dalam Masjidil Haram selama haji tahunan di Mekah, Arab Saudi (Suaramedia News)
Mekah (SuaraMedia News) – Dengan wafatnya 10 jemaah haji sejak Sabtu lalu tercatat sudah 135 jemaah haji Indonesia yang meninggal saat menunaikan ibadah haji di tanah suci.
Sistem Komunikasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama mengungkapkan, Selasa, nama sepuluh jemaah yang meninggal terakhir adalah Ny. Siti Suaibah (68) asal Banjarnegara, Siraju Amarullah (usia tidak diketahui) asal Ujunghpandang, Ny. Kustiani Ngadiman (?) asal Medan.
Kemudian Ny. Sri Wahyuni (58) asal Boyolali, Kaulan bin Sarmun (59) asal Ponorogo, Edy Karsidi (80) asal Kuningan, Ny, Juwariah Maksum (69) asal Cirebon, Ny. Bariah Ibak (77) asal Serapat, Aceh, Aliwu Katili (67) asal Limboto dan Ade Sukandar (56) asal Garut.
Disebutkan Ny. Siti Suaibah, Ny. Sri Wahyuni, Ny. Bariah, Ny Juwariah dan Aliwu meninggal akibat gagal jantung (cardiac arrest), Ny. Kustiani, Kaulan, Edy Karsidi akibat penyakit pernafasan (respiratory failure), Siraju Amarulah akibat penyakit darah tinggi (hypertensi) dan Ade Sukandar akibat kerusakan otak karena penyakit lever (ensefalopathi hepaticum) yang diidapnya.
Ratusan ribu jemaah haji terus mengalir dari Mina menuju Masjidil Haram atau sebaliknya untuk menyelesaikan ritual ibadah haji mereka yang masih tersisa.
Sejak menjelang Jumat subuh, jemaah yang semula bermalam (mabid) di Muzdalifah sudah berdatangan di Mina untuk melontar jumrah.
Melontar jumrah adalah ritual rukun haji yang harus dikerjakan, jika tidak calhaj bersangkutan harus membayar dam atau denda berupa hewan kurban.
Biasanya waktu jumrah dimulai saat matahari tergelincir di tengah hari hingga tengah malam, namun untuk menghindari konsentrasi massa, sebagian jemaah memilih untuk melakukan ritual jumrah lebih awal.
Bagi yang mengikuti prosesi Nafar Awal, batu yang dilontar berjumlah 49, yakni tujuh batu dilontarkan di jamrah Aqabah pada hari pertama, Jumat 10 Zulhijah), kemudian disusul dengan lontaran tujuh batu masing-masing di ketiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) selama dua hari berturut-turut (7x3x2).
Sementara jemaah yang akan mengikuti Nafar Sani, melontar 70 batu Yakni tujuh batu pada hari pertama di jamrah Aqabah, kemudian melontar Ketiga jamrah (Ula, Wusta dan Aqabah) tiga hari berturut-turut (7x3x3).
Seusai melontar jamrah Aqabah di Mina pada Jumat pagi, jemaah langsung menuju Masjidil Haram, sebagian dengan berjalan kaki sepanjang enam kilometer untuk melakukan Tawaf (Mengitari Ka`bah tujuh kali) dan Sa`i (berjalan dan lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah).
Sebagian jemaah memilih berjalan kaki, selain menilai ibadahnya lebih afdal, juga karena kota Mekah macet total, sehingga diperlukan berjam-jam dari Mina ke Masjidil Haram atau sebaliknya.
Sementara itu di Masjidil Haram pada hari Idhul Adha Jumat ini dipadati jemaah, baik mereka yang melakukan Tawaf dan Sa`i, beribadah biasa, shalat Idhul Adha maupun shalat Jumat.
Jemaah tampak memadati setiap sudut bangunan hajj1mesjid seluas 380.000M2 yang mampu menampung satu juta jemaah itu. Hanya sebagian jemaah yang bisa mencium Hajar Aswat.
Jemaah yang melakukan Tawaf harus bersusah payah menerobos kerumunan jemaah lainnya, baik yang sama-sama melakukan Tawaf maupun yang shalat di lintasan Tawaf di hamparan terbuka di seputar Ka`bah.
Untuk melakukan Tawaf di lingkar terluar Ka`bah pun cukup sulit, padahal petugas berseragam juga ikut mengatur gerakan jemaah, dan melarang mereka yang berlama-lama zikir atau berdoa karena menganggu gerakan mereka yang sedang melakukan Tawaf.
Kota Suci Mekah, Jumat, selain ditandai oleh kemacetan total arus kendaraan, juga diramaikan oleh banyaknya tenda-tenda yang didirikan oleh warga atau pendatang yang melontar jumrah, Tawaf atau Sa`i.
Kehadiran para pedagang kaki lima yang berkemah di ruas-ruas jalan di dalam kota juga ikut meramaikan suasana ibadah haji dan Idhul Adha.
Tukang pangkas rambut juga laku keras pada saat salah satu prosesi rukun haji yakni Umrah (Haji Kecil) yakni Tawaf dan Sa?i rampung, ditandai dengan mencukur rambut atau boleh melakukan apa-apa yang dilarang (Tahallul) saat melakukam niat ibadah haji(berihram).
Para tukang pangkas rambut amatir itu tampak hanya menggunakan silet untuk mencukur jenggot dengan imbalan RS10 (sekitar Rp25-ribu) di taman-taman atau uang terbuka.
Tukang ojek amatiran juga ikut menangguk rezeki dengan menarik imbalan SR 50 (sekitar Rp125-ribu) untuk menggonceng penumpang ke Masjidil Haram atau ke Mina dari Masjidil Haram.
Selain warga Arab dan sejumlah pemukim dari negara-negara tetangganya, tampak cukup banyak warga Indonesia terutama asal Madura yang berkemah di pinggir jalan di kawasan Aziziah.
Para mukimin asal Madura itu sebagian memanfaatkan momen Idhul Adha di tenda-tenda di pinggir jalan sekedar ajang reuni dengan sanak dan kerabat, namun sebagian lagi memanfaatkan untk mempreoleh hasil tambahan dengan berjualan makanan Indonesia seperti bakso, gado-gado, nasi rames dan berbagai barang keperluan rumah tangga lainnya.
Sampai berita ini diturunkan, arus jemaah haji yang berjalan kaki ke Masjidil Haram untuk Tawaf dan Sa?I setelah melontar jumrah atau sebaliknya dari Masjidil Haram ke Mina untuk melontar jumrah terus mengalir.
Udara di kota Mekah cukup kondusif, sekitar 29 derajat Celcius pada siang hari dan anjlog menajdi 29 derajat Celcius pada malam harinya.
Terdapat sekitar tiga juta jemaah haji dari berbagai penjuru dunia termasuk 208.000 jemaah Indonesia dalam musim haji 1430H ini.
Secara umum penyelenggaraan haji tahun ini cukup lancar dan mendapat pujian dari berbagai negara atas kemampuan pemerintah Arab Saudi menyelenggarakan even akbar ini. (suaramedia.com)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah