SURABAYA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengimbau masyarakat agar tidak menonton film 2012, karena bisa menyesatkan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum MUI Jawa Timur Abdusshomat Buchori menyusul pemutaran film 2012 di sejumlah bioskop.
Abdusshomat mengatakan persoalan yang gaib atau metafisik tidak bisa dipastikan, termasuk peristiwa kiamat.
“Semuanya hanya Allah yang mengetahui dan menentukan, apalagi hari kiamat yang seperti digambarkan film 2012,” katanya, Senin (16/11/2009).
Hal ini, kata dia, akan membuat masyarakat malas bekerja. Masyarakat diminta tidak percaya dan sebaiknya tidak menonton atau menyaksikan film 2012.
“Umat bisa apatis. Sehingga (film) itu tidak usah dipercayai sebaiknya tidak dilihat,” katanya.
Meski demikian, MUI Jawa timur, katanya belum mengeluarkan fatwa soal film tersebut karena harus mempelajarinya dahulu serta berkoordinasi dengan MUI pusat. (Okezone)
Belepotannya pidato Ketua MPR Taufiq Kiemas di depan sidang paripurna membuktikan dirinya tidak punya pengalaman dalam memimpin. Namun tanggung jawab kesalahan itu harus juga ditujukan untuk SBY dan Partai Demokratnya.
“Yah itu bukti dia tidak punya pengalaman sama sekali dalam memimpin sidang. Tapi jangankan memimpin sidang, mengikuti sidang saja dia kan bisa dikatakan hampir tidak pernah,” kata pengamat politik UI Arbi Sanit saat dihubungi, Selasa (20/10/2009).
Tidak hanya itu, SBY juga harus bertanggung jawab dalam kesalahan yang dibuat TK pada acara sakral kenegaraan itu. SBY, melalui Partai Demokrat, mendukung penuh TK menjadi Ketua MPR.
“Ini kesalahan orang yang mendorongnya jadi ketua MPR yaitu SBY. Dengan demikian maka masyarakat pun tahu bahwa SBY tidak tahu cara memilih orang karena SBY mendukung seseorang hanya berdasarkan kebutuhannya sendiri yaitu mengikuti selera orang-orang politik,” kata Arbi.
Arbi mengatakan, hal itu justru menjadi bumerang buat SBY di tengah acara yang juga disaksikan para tamu negara sahabat itu. Seperti diketahui, SBY sempat sedikit menengok dan terlihat seperti menarik nafas saat TK salah menyebut namanya.
“Ini bukan lagi akan menjadi bumerang buat SBY, tapi sudah menjadi bumerang buat SBY. Coba dengan kejadian TK di sidang MPR ini siapa yang paling dipermalukan? Yah tentunya orang yang mendukungnya. Terus siapa yang mendukungnya? Yah SBY,” pungkasnya.
Fenomena munculnya ayat Alquran di tubuh bayi asal Rusia Selatan, Ali Yakubov disikapi beragam. Pihak kedokteran ada yang menganggap hal itu sebagai suatu hal yang murni ajaib. Namun ada pula yang menganggapnya sebagai suatu hal yang dibuat-buat.
“Mereka (orang tua Ali) mungkin membuat tulisan di kulitnya, seperti dengan lada dan garam atau obat-obatan yang dapat menyebabkan peradangan pada kulit dan meninggalkan bekas merah dalam bentuk huruf Arab,” ujar dokter lokal, Ludmila Luss, demikian dilansir Pravda, Rabu (21/10/2009).
Ludmilla menambahkan, orang tua mungkin juga tidak butuh menggunakan obat-obatan sebab sang anak telah menderita penyakit kulit yang dikenal dengan ‘skin writting’. Penyakit ini ada pada setiap 5% dari populasi negeri. Jika menderita penyakit ini, seseorang dapat menulis apa saja di kulitnya seperti halnya pada sebuah kue.
“Beberapa orang menderita penyakit lambung dan memiliki permasalahan kulit yang sensitif. Jika anda menggambar sesuatu pada kulitnya menggunakan tongkat kecil sebagai contoh, hasil tulisan akan tampak setelahnya,” kata Ludmilla.
Akan tetapi tidak sedikit pula tim medis yang tidak meragukan kemisteriusan itu. Seperti dilansir Daily Contributor, Rabu (21/10/2009) para ahli medis setempat meyakini tulisan tersebut adalah asli dan bukan buatan tangan seseorang.
Pihak medis menyatakan tidak dapat menjelaskan kemisteriusan tersebut. Akan tetapi mereka meyakinkan, tulisan tersebut murni bukan hasil tulisan dari seseorang pada kulit sang anak. Madina Yakubova, ibu si bayi, mengaku ia dan suaminya sebenarnya bukanlah pasangan yang agamis.
Saat ini, Ali telah menjadi perhatian warga muslim di daerahnya, Dagestan yang juga dekat dengan wilayah perang Chechnya, Rusia Selatan. Ulama menyatakan kemunculan tulisan ayat Alquran itu sebagai sebuah peringatan dari Allah.
Berbagai terobosan dilakukan Pemerintah Kota Gorontalo dalam membentuk dan lebih meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan. Ini menyusul adanya kebijakan setiap Jumat wajib baca Al Quran dan pengajian bagi PNS.
Walikota Gorontalo Adhan Dambea mengatakan, adanya kebijakan agar seluruh PNS di lingkungan pemerintahan untuk bisa membaca Al Quran, tidak berjalan dengan optimal.
“Masih ada PNS yang muslim belum lancar membaca Al Quran,” kata Adhan di Gorontalo, Sabtu (17/10).
Dengan belum optimalnya kebijakan tersebut, maka Pemerintah Kota Gorontalo kembali memberlakukan aturan agar setiap SKPD di lingkungan pemerintah, agar setiap Jumat melaksanakan pengajian.
“Tidak ada yang terkecuali, dalam melaksanakan kebijakan untuk mengaji pada setiap Jumat,” kata Adhan.
Dia menjelaskan, jika masih ada PNS ataupun pejabat yang belum mahir membaca Al Quran, maka bisa didatangkan guru ngaji yang tentunya akan mengajarkan tata cara membaca Al Quran berdasarkan metode Iqra.
“Silakan pimpinan SKPD mendatangkan seorang guru ngaji, untuk mengajarkan tehnik baca Al Quran,” ujar Adhan.
Dia menjelaskan, aktivitas pengajian tersebut akan dilaksanakan setelah PNS yang muslim selesai melaksanakan salat Jumat. Namun tentunya tetap diatur jangan sampai menghambat pelayanan kepada masyarakat.
“Jangan hanya alasan karena pengajian, lalu pelayanan pada masyarakat terabaikan,” pesan Adhan.
Sebanyak 150 orang undangan dari seluruh Indonesia memeriahkan launching klub poligami di Hotel Grand Aquila Bandung, Jawa Barat, Sabtu malam.
Para tamu undangan yang datang di antaranya dari Papua, Jakarta, Tasikmalaya dan Garut. Dalam peresmian tersebut, hadir juga ketua klub poligami Malaysia Global Ikhwan Chodijah Binti Am.
Di samping peresmian klub poligami, dalam kegiatan yang bertema `Poligami Obata Mujarab Untuk Mendapatkan Cinta Allah`, digelar juga konser musik, operet dan penjelasan mengenai poligami.
Ketua Global Ikhwan Chodijah Binti Am mengatakan, klub poligami tersebut awalmulanya diresmikan di Malaysia. Untuk itu, global ikhwan akan mendirikan cabang klub poligami di Indonesia dan dimulai dari daerah Jawa dan Sumatera.
“Sebelum meresmikan klub poligami di Bandung, saya sudah berkeliling Indonesia untuk menyampaikan misi tentang poligami,” katanya ketika dihubungi Antara.
Menurutnya, klub poligami di Malaysia sekarang sudah berjalan dengan lancar. Bahkan sekarang klub poligami sudah memiliki 300 anggota yang tersebar di berbagai negara, seperti Indonesia, Australia, Singapur, Timur Tengah, Thailand dan masih banyak lagi.
Ia menjelaskan, kenapa poligami menjadi obat mujarab untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab, dengan poligami seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya.
“Ketika dia dalam kesusahan maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah. Kesusahan yang dialami seorang istri yang suaminya berpoligami sipatnya terus menerus, maka dia pun akan terus meminta tolong kepada Allah,” ujarnya.
Ia mengaku, sebagai wanita awalnya Chodijah juga menolak, bahkan seluruh keluarganya pun melakukan hal yang sama. Dengan alasan takut Chodijah tidak bahagia dan terlantar.
Tapi, ia melanjutkan, setelah selama 30 tahun menjalani hidup sebagai seorang istri yang dipoligami, justru Chodijah mendapatkan cinta Allah, karena senantiasa berkomunikasi dengan-Nya.
Chodijah tidak memungkiri, kalau pendirian klub poligami di Indonesia ini akan menimbulkan penentangan dari berbagai pihak apalagi kaum hawa. Hal itu juga terjadi di Malaysia ketika pertama kali dideklarasikan, namun sekarang semua sudah bisa menerimanya.
Makanya, jika deklarasi klub poligami Indonesia mendapatkan penentangan itu hal yang wajar. Tapi, ketika mereka apalagi kaum hawa memahami tentang poligami mereka pasti akan menerimanya.
“Untuk di Indonesia sendiri saat ini ada 30 keluarga yang bergabung dalam klub poligami dan sementara saya akan mendeklarasikan di Jawa dan Sumatera dulu. Sudah itu baru ke seluruh Indonesia,” katanya.
Aneh tapi nyata, seorang bayi laki-laki mengejutkan dokter yang menanganinya. Tim dokter ini terheran-heran setelah tulisan ayat-ayat Al Quran menghiasi kulitnya.
Peristiwa unik ini terjadi di Dagestan, yang berdekatan dengan Chechnya, di selatan Rusia. Orang tua bayi Ali Yakubov yang baru berusia sembilan bulan tersebut sama terkejutnya dengan dokter tersebut, ketika tulisan Alloh muncul di dagunya, setelah kelahiran anak tersebut.
Sejak itu, munculnya tulisan-tulisan Arab yang bertebaran di punggung, lengan, kaki dan perutnya. Menariknya, keluarganya mengklaim, selalu ada tanda-tanda sebelum ayat-ayat baru muncul, dua kali dalam sepekan.
Seperti dilansir dari The Sun, tim medis mengatakan, pihaknya tidak bisa menjelaskan kondisi misterius Ali Yakubov, tapi mereka membantah, tanda ini ditulis oleh seseorang pada kulit bayi ini.
Ibu Ali Yakubov, Madina mengatakan, dia dan suaminya bukanlah pemeluk Islam yang taat, hingga ayat-ayat Al Quran itu muncul di kulit bayinya.
Sebelumnya, mereka menyembunyikan kondisi bayi mereka, tapi akhirnya mengungkapkan hal ini pada dokter mereka. Sekarang Ali Yakubov menjadi perhatian komunitas Muslim di provinsi Dagestan.
Salah satu pemimpin Muslim di Dagestan, Ahmedpasha Amiralaev mengatakan, “Anak ini pertanda asli dari Tuhan. Allah mengirim dia ke Dagestan untuk menghentikan perang dan ketegangan di republik kami.”
Madina menambahkan, “Biasanya tanda-tanda ini muncul dua kali dalam sepekan, hari Senin dan malam antara Kamis dan Jumat. Ali selalu merasa sakit ketika itu muncul. Dia menangis dan temperaturnya naik.”
“Tidak mungkin memeluknya ketika hal itu terjadi. Tubuhnya bergerak aktif, jadi kami menempatkan dia di peraduannya. Sangat sulit menyaksikan dia menderita,” ujar Madina.
Dakta.com, Jakarta -- Bagi kaum ABG teknologi dijadikan ajang sosialisasi diri. Namun, bagi calon Menkominfo Tifatul Sembiring, sebagai sarana bersekutu dengan KPK untuk memberantas korupsi.
Demikian salah satu program Tifatul di Jakarta, Selasa (20/10), jika dirinya masuk Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Menurut Presiden PKS ini, kemajuan teknologi harus juga merambah ke pemerintahan. Karena dengan begitu diharapkan dapat meminimalisir KKN.
“Ini akan meminimalisir, karena semua prosedur jelas. Suatu saat kita akan less paper. Jadi pejabat-pejabat tidak menerima cash tapi melalui transfer untuk menghindari uang suap. Jadi orang tinggal menyetor ke bank dan resinya dikasih tunjuk,” imbuh pria yang pandai berpantun ini.
Sehingga, ia mengharapkan, IT dapat terintegrasi. Atau paling tidak pemerintah pusat dapat mensponsori, memotori untuk tingkat provinsi, kabupaten, kota, provinsi. Janji Tifatul kedua adalah memadukan IT dengan sentuhan bisnis. Hal itu dilakukan agar pertumbuhannya dapat bersaing dengan dunia internasional.
“Sistemnya sangat mudah kita bangun, bahkan dengan teknologi dalam negeri,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Tifatul, dengan majunya teknologi juga diharapkan dapat memproteksi kerahasian negara. Karena, banyak persoalan terkait sistem informasi yang harus terbentengi dengan kuat.
Sektor transportasi di beberapa daerah terutama terpencil, ia menambahkan, juga tidak ketinggalan dijamah terknologi. Paling tidak secara informasi harus tersentuh. “Information Technology harus masuk ke sekolah-sekolah agar anak-anak didik lebih cepat memahami tentang IT,” tandas Tifatul.
Taufiq Kiemas untuk pertama kalinya memimpin sidang MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wapres 2004-2009. Mungkin karena baru pertama kali, TK tampak belepotan memimpin sidang.
Saat membacakan pidato menjelang pembukaan sidang paripurna, berulang kali TK salah sebut. Misalnya saat mengabsen presiden dan wapres terpilih dan para mantan. Setelah menyebut Boediono, dia langsung menyebut Wapres ke-6 Try Sutrisno.
“Maaf terlewat Yang Terhormat Wapres Presiden Muhammad Jusuf Kalla,” ujar TK mengoreksi. Acara sidang pun sempat terhenti beberapa detik dengan sedikit keributan.
TK juga salah menyebut BJ Habibie sebagai mantan wapres ketiga, seharusnya mantan presiden ketiga. Mendengar itu, Habibie yang duduk di kursi hadirin tampak tersenyum lebar pada hadirin yang ada di kiri kanannya. “It’s okey,” kata ahli pesawat itu dengan gaya khasnya.
Saat TK memperkenalkan para tamu negara, juga terdengar keunikan, seperti membaca Mister dengan Mester, W yang seharusnya dibaca double U dibaca W double. Sidang paripurna yang dihadiri 647 anggota MPR ini dimulai pukul 10.00 WIB.
Padahal Formal, hikmat, dan elegan. Begitulah biasanya acara pelantikan presiden dan wapres terpilih. Tapi tidak demikian halnya dengan pelantikan SBY-Boediono. Kata-kata yang terucap dari Ketua MPR Taufiq Kiemas sungguh ribet.
Entah karena grogi atau apa, TK sulit berkonsentrasi saat memberikan kata sambutan dalam Sidang Paripurna MPR di Gedung MPR, Jakarta, Selasa (20/10). Ucapannya terbata-bata saat membaca naskah pidato sehingga beberapa kali harus mengulangi kalimatnya.
Meski terdengar suara geli hadirin, TK tampak tetap serius dan berupaya keras membaca naskah pidatonya. Ketua Deperppu PDIP yang tampak agak kesulitan saat membaca ini sesekali terdiam dan mengeja lafal nama-nama itu.
Beberapa tamu negara dan undangan tampak serba salah menyaksikan kesulitan yang dialami TK itu. Sang putri TK, Puan Maharani, yang menjadi anggota FPDIP DPR tampak kikuk dan tertawa kecil melihat kegelisahan sang ayah.
Belum lagi saat TK salah menyebut acara pelantikan SBY-Boediono sebagai acara pelantikan SBY-JK. Untung saja TK segera sadar dan buru-buru meralatnya. Tapi kekeliruan tak berhenti begitu saja.
TK juga sempat lupa menyebut nama Wapres Jusuf Kalla, justru langsung ke Wapres keenam Try Sutrisno. TK pun harus meminta maaf kepada Jusuf Kalla. Namun kekeliruan serupa kembali terjadi. TK luput menyebutkan nama Presiden ketiga BJ Habibie. Lagi-lagi TK harus meminta maaf, kali ini kepada Habibie.
Cukup? Ternyata belum! Suami Ketua Umum Megawati Soekarnoputri ini semakin kacau dalam membacakan pidatonya menjelang akhir acara pelantikan. Kalimat yang dibacakan TK semakin tak terstruktur, acak-acakan, dan beberapa kali diulangi. Duh aduuhhh Pak TK!
Sebuah kisah yang sangat mengharukan. Mengharukan bagi siapa saja, yang masih memiliki setetes iman. Hanya setetes iman, itu sudah cukup untuk memahami perubahan kehidupan yang terjadi. Peristiwa yang penuh dengan keniscayaan.
Adalah Abdul Hamid bin Muhammad mendengar Muhammad bin As-Sammak berkisah, “Sesungguhnya Musa bin Sulaiman Al-Hasyimi adalah anak muda paling kaya, dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya. Dia selalu mengikuti hawa nafsunya untuk menikmati berbagai macam kelezatan, dalam makanan, minuman, pakaian, wewangian, dan dayang-dayang yang cantik. Sulaiman, tak pernah lepas dari pikirannya, bagaimana menikmati kelezatan hidup.
Musa merupakan pemuda yang tampan, wajahnya bulat seperti rembulan, jernih, putih kemerah-merehan, dan rambutnya hitam legam, hidungnya mancung, matanya bercelak sangat hitam dan lebar, seperti mata kijang, dan mampu menyihir orang yang memandangnya. Kelopaknya tinggi, kedua alisnya sejajar, bagaikan dilukis dengan pensil alis, mulutnya mungil, kedua bibirnya tipis, gigi seri putih cemerlang, lisahnnya fasih, bicaranya manis, suaranya lembut, dan memang dia mendapatkan nikmat dari Allah yang sempurna.
Penghasilannya dari perkebunan dan ladangnya setiap tahunnya berkisar tiga juga dirham. Semua kinikmatan ini berlanjut, tanpa pernah putus, sehingga membuatnya terpesona akan dirinya sendiri. Masa mudanya dan dunianya yang dapat memenuhi semua yang yang diinginkannya.
Musa mempuyai balkon yang tinggi tempat dia duduk di waktu sore sambil mengawasi orang-orang dibawahnya. Balkon itu mempunyai beberapa pintu yang menghubungkan jalan raya dan beberapa pintu yang menghubungkan ke perkebunannya. Selain itu, dipasang kubah gading gajah yang dibubut dan dilapisi dengan perak dan emas, lalu ditutup dengan kain tenun berwarna hijau dan dilapisi dengan kain sutera yang halus.
Dari atas kubah itu, digantungkan rantai yang diuntai dari permata dan intan, serta disinari dengan batu yakut merah, batu zabarjad (sejenis zamrud) hijau dan batu akik berwarna kuning. Masing-masing permata itu sebesar buah kenari. Pada masing-masing pintu diberi tenda yang ditenun dengn benang emas, dan di sekitar kubah itu diletakkan tiga puluh lilin yang dipasang di tiga puluh tempat lilin yang terbuat dari perak.
Sedangkan berat masing-masing lilin perak itu senilai seribu dirham,dan di setiap lima tempat lilin perak terdapat seorang pelayan yang berdiri memegang pemotong dari emas seberat seratus miskal. Para pelayan itu memakai pakaian warna-warni dan ikat pinggang yang ditaburi dengan batu permata. Di setiap pintu bagianlluar dari jendela digantungkan lampu-lampu yang diikat dengan rantai dari perak dan minyaknya terbuat dari air raksa murni.
Musa berada diatas tempat tidur memakai pakaian dalam yang ditenun garis-garis, kepalanya dihiasi dengan mahkota. Dia ditemani oleh beberapa orang kerabatnya, dan tempat pembakar dupa dipasang untuk mendatangkan asap yang harum. Di dekat kepala berdiri para pelayan yang memegang kipas dan tempat air, para penyanyi wanita berada di depannya, sambil menyanyikan lagu-lagu, yang meninakbobokkannya.
Tak pernah ketinggal dayang-dayang yang sangat cantik, tak beranjak dari tempat tidurnya. Dia terus bermain dengan teman-temannya, tak pernah melaksanakan shalat. Menikmati permainannya dengan dadu, dan minum-minum, tak sedikitpun mengingat kamatian, dan sepanjang hari, siang dan malam, hanyalah tertawa-tawa, penuh dengan kegembiraan, sambil mendengarkan cerita-cerita yang lucu, terkadang konyol.
Suatu ketika Musa ditengah malam, dia mendengarkan suara yang aneh, lalu menyuruh pembantunya mencari suara itu. Suara itu mampu menggelitik hatinya. Diatas kubahnya itu, Musa melihat keluar, dan ingin mendengarkan suara-suara yang menyentuh hatinya itu. Ternyata suara itu datang dari pemuda yang kumal, bernama Kamal, yang badannya kurus, berleher kecil, berkaki kuning, bibirnya kering, rambutnya acak-acakan, perutnya menempel ke punggungnya kempis kurang makan, memakai dua helai pakaian yang sudah usang dan tidak memakai alas kaki.
Pemuda kumal itu berdiri pada salah satu sisi masjid sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka para pelajan Musa mengeluarkan dari masjid, dan membawanya pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya sampai dihadapan Musa. Maka, Musa memandangnya, seraya berakata, ‘Siapa ini?”, tanyanya. “Pemilik alunan suara yang anda dengar tadi”, jawab pelayan. “Di mana kalian menemukannya?”, tanya Musa “Di masjid sedang berdiri bersembahyang dan membaca do’a”, jawab pelayan itu. Kemudian, Musa bertanya kepada pemuda itu, “Wahai pemuda, apa yang kau baca?”, tanya Musa. “Perdengarkan aku dengan suara alunanmu”, kata Musa.
Maka pemuda itu mengalunkan suaranya, “Sesungguhnya, orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) diatas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minuman khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi, danuntuk yang demikian itu hendaknya orangt berlomba-lomba. Dan, campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah”. (Al-Qur’an :88 ;22-28)
Kemudian, pemuda yang kurus dan lusuh itu berkata, “Wahai orang yang terlena, sesungguhnya kenikmatan surga itu berbeda dengan kediaman, balkon dan pembaringanmu itu. Sesungguhnya pembaringan di surga itu adalah dipan-dipan yan digelari dengan permadani yang terangkat tinggi terbang”, ucap pemuda itu. Selanjutnya, pemuda itu menambahkannya, “Wali (kekasih) allah akan memperoleh kehormatan dari surga itu atas dua mata air yang mengalir dari dua surga”, tambahnya.
Mendengar alunan suara (ayat-ayat al-Qur’an) itu, lalu Musa memeluk pemuda yang kurus dan lusuh itu, sambil terus menangis yang tiada henti-hentinya. Besok paginya ia melaksanakan tobatnya. Musa al-Hasyimi terus di masjid, sambil beribadah, tiada putus menangis, menyesali dirinya yang penuh dengan dosa dan maksiat, serta tak pernah mengingat Rabbnya. “Wahai Tuhanku, aku tidak pernah mempertahikan-Mu dalam kesunyianku. Wahai Tuhanku, syahwatku telah tiada dan tinggallah kini pertanggungjawabanku. Mak neraka Wail bagiku pada hari aku bertemu dengan Mu, nereka Wail karena hari-hari ku penuh dengan kejahatan dan kesalah-salahan”, tangisnya.
Keesokan harinya seluruh harta bendanya, yang dia miliki dijual, berupa emas, perak, permata, pakaiannya, perkebunan, ladang, serta budak-budaknya yang cantik-cantik, semuanya dijualnya, dan hasilnya disedekahkan seluruhnya kepada fakir miskin.
Lalu, diakhir hidupnya yang sudah miskin itu, ia pergi haji dengan berjalan kaki, tanpa alas kaki, berjalan kaki menelusuri padang pasir yang panas terik, sebagai bagian dari penebus dosanya. Ia pergi ke Makkah, hanya berjalan kaki, tanpa alas. Sungguh, tak ada bandingnya penyesalan atas dosanya itu. Sampailah Musa di kota Makkah. Dan, setiap hari ia hanya beribadah dan memohon ampun kepada Allah Azza Wa Jalla, sambil mengilingi Ka’bah. Di waktu malam ia terus mengelilingi Ka’bah, dan masuk ke Ijir Ismail, seraya mengucapkan tobatnya :
“Ya Rabb, Engkau mengetahui segala perbuatanku. Ya Rabb, kepada siapakah aku lari, kecuali hanya kepada Mu. Dan, kepada siapakah aku berlindung, kecuali hanya kepada Mu. Ya Rabb, sesungguhnya aku memang tidak layak mendapatkan surga Mu, namun aku memohon dengan kedermawanan Mu dan kemuliaan Mu, agar sudilah Engkau mengasihiku dan memaafkanku”, tangis Musa. Sambil ia terduduk di depan Ka’bah.
Wajahnya penuh dengan kerut, seakan sudah sangat tua, dan hidupnya selalu dipenuhi dengan kepedihan mengingat dosa di waktu muda itu. Di saat munajatnya, yang dengan hati yang tulus itu, Musa al-Hasyimi kembali kepada Rabbnya. Wallahu‘alam.
(eramuslim.com)
Allah SWT berfirman (yang artinya): Sesungguhnya yang takut kepada Allah di kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (QS Fathir: 28).
Ayat ini secara kasatmata menyebutkan bahwa yang menjadikan sebutan ulama begitu istimewa dibandingkan dengan hamba-hamba Allah yang lain adalah rasa takut mereka kepada-Nya. Rasa takut kepada Allah SWT itulah yang menjadi sifat para ulama yang paling menonjol. Karena itulah, Nabi menyebut ulama sebagai pewaris para nabi (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Imam Nawawi al-Bantani menjelaskan kriteria ulama pewaris para nabi ini. Menurut beliau mereka adalah hamba Allah yang beriman, menguasai ilmu syariah secara mendalam dan memiliki pengabdian yang tinggi semata-mata karena mencari keridhaan Allah SWT; bukan keridhaan manusia. Dengan ilmunya, mereka mengembangkan dan menyebarkan agama yang haq, baik dalam masalah ibadah maupun muamalah. Menurut beliau, beberapa ciri-ciri ulama pewaris nabi antara lain: (a) Memiliki keimanan yang kokoh, ketakwaan yang tinggi, berjiwa istiqamah dan konsisten terhadap kebenaran; (b) Memiliki sifat-sifat kerasulan: jujur (shiddiq), amanat (amanah), cerdas (fathanah) dan menyampaikan (tablig); (c) Faqih fi ad-Din sampai rasikhun fi al-Ilm’; (d) Mengenal situasi dan kondisi masyarakat; (5) Mengabdikan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan dan menegakkan ajaran Allah SWT.
Mereka tabah dan sabar menghadapi segala macam tantangan dan halangan demi memperjuangkan Islam dan umatnya; bukan demi membela kepentingan pribadi, pimpinan, atau kelompoknya. Mereka selalu menegakkan kewajiban dan mencegah kemungkaran. Mereka tidak menyembunyikan apalagi memutarbalikkan syariah Islam.
Ulama tidak mendiamkan, tidak menyetujui dan tidak mendukung kezaliman dan siapapun yang berbuat zalim. Tegas sekali Allah SWT berfirman (yang artinya): Janganlah kalian cenderung (la tarkanû) kepada orang-orang yang berbuat zalim, yang dapat mengakibatkan kalian disentuh api neraka (QS Hud [11] : 113).
Ibnu Juraij menyatakan bahwa kata la tarkanu berarti jangan cenderung kepadanya. Qatadah menyebutkan, jangan bermesraan dan jangan menaatinya. Abu Aliyah menerangkan bahwa kata itu berarti jangan meridhai perbuatan-perbuatannya.
Ulama hanya takut kepada Allah. Sebaliknya, mereka tidak pernah takut kepada selain-Nya, meski dia adalah seorang penguasa dunia. Bahkan mereka senantiasa berada di garis depan menentang setiap kezaliman yang dilakukan para penguasa. Hasan al-Bashri adalah salah seorang di antara para ulama yang begitu besar rasa takutnya kepada Allah. Seba-liknya, ia tak pernah gentar terhadap penguasa dunia yang lalim. Beliau berani menentang penguasa Hijaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Irak yang lalim pada zamannya. Ia berani mengungkap keburukan perilaku penguasa tersebut di hadapan rakyat dan menyampaikan kebenaran di hadapannya. Beliau sangat terkenal dengan ucapannya, “Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para pemilik ilmu untuk menjelaskan ilmu yang dimilikinya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.” Karena keberaniannya itulah beliau harus menanggung penderitaan.
Demikian pula Sufyan ats-Tsauri. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar. Sebaliknya, keberaniannya terhadap penguasa lalim pun tak diragukan. Ia pernah menentang apa yang dilakukan penguasa Abu Ja’far al-Manshur ketika dia mendanai dirinya dan para pengikutnya yang beribadah haji ke Baitul-Haram dalam jumlah yang sangat besar, yang diambil dari Baitul Mal milik kaum Muslim. Dengan sikapnya ini, hampir saja polisi al-Manshur membunuh Sufyan.
Abu Hanifah pernah menolak jabatan yang ditawarkan Abu Ja’far al-Manshur dan menolak uang 10 ribu dirham yang akan diberikan kepadanya. Kemudian ia ditanya oleh seseorang, “Apa yang Anda berikan kepada keluarga Anda, padahal Anda telah berkeluarga.” Beliau menjawab, ”Keluargaku kuserahkan kepada Allah. Sebulan aku cukup hidup dengan 2 dirham saja.”
Dalam riwayat lain disebutkan, suatu ketika Khalifah Muawiyah hendak memulai pidatonya. Saat itu Abu Muslim al-Khaulani segera berdiri dan berkata bahwa ia tidak mau mendengar dan menaati Khalifah. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, “Karena engkau telah berani memutuskan bantuan kepada kaum Muslim. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu.”
Mendengar itu Khalifah Muawiyah sangat marah. Ia lalu turun dari mimbar, pergi dan sejenak kembali dengan wajah yang basah. Ia membenarkan apa yang dikatakan Abu Muslim dan mempersilakan siapa saja yang merasa dirugikan boleh mengambil bantuan dari Baitul Mal (Al-Badri, Al-Islâm bayna al-Ulamâ’ wa al-Hukkâm, hlm. 101).
Secuil kisah di atas hanyalah meng-gambarkan sedikit contoh ulama-ulama akhirat. Mereka adalah ulama yang selalu menjadikan akhirat sebagai tujuan, sementara dunia hanya mereka jadikan sebagai ‘kuda tunggangan’; bukan sebaliknya. (Mediaumat.com)
Belum lagi usai kita turut berduka atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudara kita di Tasik, Cianjur dan beberapa daerah di Jawa Barat, kita dihentakan oleh gempa di Padang dan sekitarnya dengan skala dan korban yang lebih besar, disusul dua pekan kemudian gempa di Ujung Kulon, dan terakhir di Sulawesi Utara. Ratusan korban meninggal dunia terkubur di reruntuhan bangunan dan timbunan longsor, ribuan korban luka parah dan ringan, puluhan ribu rumah hancur rata dengan tanah, atau rusak berat tidak dapat dihuni lagi.
Bila kita renungkan fenomena alam yang terjadi di bumi kita tercinta ini, sungguh betapa lemahnya kita sebagai manusia, dan sungguh betapa Maha Perkasa Allah Pencipta Alam. Dihentakkan-Nya bumi beberapa menit saja, sungguh dahsyat akibatnya. Dan sekali lagi sungguh kita, manusia, betapa lemah tak berdaya. Adakah hikmah dibalik semua kejadian alam ini? Tentu ini adalah bagian dari cara Dia menebarkan kasih sayang-Nya kepada kita semua, agar kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita alami.
Pertama, adalah bahwa Allah SWT pasti akan memberikan cobaan kepada setiap hamba-Nya baik sebagai pribadi, keluarga, maupun masyarakat atau bangsa seperti dalam QS Al Baqarah 155-157 diatas, agar kita tidak larut dalam duka ketika cobaan itu datang menimpa. Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Allah SWT memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya dalam rangka melatih dan menguji keimanan dan kesabaran hamba tersebur.
Kedua, Allah SWT memberikan solusi dan kabar gembira kepada hamba-Nya yang sedang diberi cobaan dengan kesabaran dalam menerima cobaan tersebut, dan memberikan tuntunan dengan ucapan istirja’ (Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun), serta memberi pujian dan petunjuk pada-Nya.
Ketiga, bagi kita yang tidak tertimpa musibah, kejadian alam ini juga ujian dan sekaligus pintu amal kebajikan yang dibentangkan Allah SWT untuk membantu sesama. Ujian apakah kita bertambah keimanan dan kepedulian kita dan begitu banyak kebajikan yang dapat kita lakukan untuk membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita.
Semoga kita senantiasa menyadari betapa lemahnya kita, dan betapa sangat tergantungnya kuta kepada Allah Yang Maha Perkasa.
(Suara Bekasi-Asep Didi Kurnia,S.E)
Menanti Tanda-tanda Kekuasaan Allah di Akhir Zaman
Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)
Penjelasan Makna Ayat :
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata:
“Pada hari datangnya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabbmu, yang merupakan kejadian yang luar biasa, yang dengannya diketahui bahwa kehancuran telah demikian dekat, dan kiamat tidak lama lagi. Maka tidak bermanfaat keimanan dari satu jiwa yang sebelumnya tidak beriman atau yang belum membuahkan kebaikan dalam keimanannya, yakni apabila telah dijumpai sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak bermanfaat keimanan seorang yang kafir apabila dia hendak beriman. Tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin yang kurang beramal untuk semakin bertambah keimanannya setelah itu. Namun yang bermanfaat bagi dia adalah keimanan yang dia miliki sebelum itu serta kebaikan yang dia miliki yang diharapkan (bermanfaat) sebelum datangnya sebagian dari tanda-tanda tersebut. Dan hikmah dari semua itu jelas, di mana keimanan yang mendatangkan manfaat adalah keimanan terhadap perkara yang ghaib, dan merupakan pilihan dari seorang hamba (untuk beriman). Adapun bila tanda-tanda kekuasaan tersebut telah nampak, maka telah menjadi perkara yang disaksikan (bukan ghaib), sehingga keimanan tidak lagi berfaedah. Sebab, hal tersebut menyerupai keimanan yang terpaksa. Seperti keimanan orang yang tenggelam, yang terbakar, dan orang-orang semisalnya yang apabila telah melihat kematian, dia pun berusaha melepaskan apa yang dahulu dia yakini. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.’ Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku atas hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu, binasalah orang-orang kafir.” (Ghafir: 84-85)
Dan banyak hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa yang dimaksud dengan sebagian dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya. Dan di saat manusia melihatnya, maka mereka pun beriman. Namun keimanan mereka tidaklah bermanfaat dan telah tertutup pintu taubat atas mereka. Tatkala ini merupakan janji yang dinanti terhadap orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka beserta para pengikutnya menantikan kehancuran dan musibah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan: ‘Katakanlah: tunggulah (munculnya salah satu dari tanda tersebut), sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menunggunya,’ sehingga kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih berhak mendapatkan keselamatan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Para ulama berkata: ‘Tidak bermanfaatnya keimanan seseorang di kala terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, karena telah masuk ke dalam hati mereka perasaan takut yang melenyapkan setiap syahwat hawa nafsunya dan melemahkan setiap kekuatan dari kekuatan tubuhnya. Sehingga, manusia seluruhnya beriman karena mereka yakin akan dekatnya hari kiamat. Seperti keadaan orang yang mendekati kematian, yang memutuskannya dari berbagai dorongan melakukan perbuatan maksiat serta melemahkan tubuh-tubuh mereka. Barangsiapa bertaubat dalam keadaan seperti ini tidaklah diterima taubatnya, seperti tidak diterimanya taubat orang yang mendekati kematian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dihasankan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 1903)
Yaitu, selama ruhnya belum sampai ke ujung tenggorokan. Waktu itu merupakan saat di mana seseorang melihat secara langsung tempatnya di dalam surga atau neraka. Maka orang yang menyaksikan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya juga seperti itu (keadaannya). Oleh karenanya, sepantasnyalah setiap orang yang telah menyaksikan peristiwa tersebut atau yang memiliki hukum yang sama dengan yang menyaksikannya, taubatnya tertolak selama hidupnya. Sebab ilmunya tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta janji-janji-Nya telah menjadi sesuatu yang terpaksa.” (Tafsir Al-Qurthubi)
Ibnu Katsir rahimahullahu juga mengatakan: “Jika seorang kafir menampakkan keimanannya pada saat itu, maka tidak diterima darinya. Adapun bila dia seorang mukmin sebelum hari itu, jika dia baik dalam beramal, maka dia dalam kebaikan yang besar. Namun jika dia mengotori (imannya), lalu dia bertaubat saat itu, maka tidak diterima taubatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Tertutupnya Pintu Taubat
Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang akan munculnya suatu waktu di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi menerima taubat orang-orang yang hendak bertaubat di masa itu. Yaitu di kala terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, yang menandakan akan berakhirnya zaman dan bangkitnya hari kiamat. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang penafsiran sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa yang dimaksud adalah tanda-tanda hari kiamat yang besar tersebut, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga perkara yang jika telah muncul maka tidak bermanfaat keimanan seseorang yang tidak beriman sebelum munculnya atau dalam keimanannya tidak membuahkan kebaikan; Terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, (munculnya) Dajjal, dan (keluarnya) daabbah (binatang melata yang berdialog dengan manusia dan memberitakan kepada mereka akan dekatnya hari kiamat).” (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Az-Zaman Al-Ladzi la Yuqbalu fihi Al-Iman, 1/158)
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak tegak hari kiamat hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Apabila telah terbit demikian, dan manusia telah melihatnya maka merekapun beriman. Dan itu merupakan hari yang tidak bermanfaat keimanan bagi satu jiwa, yang dia tidak beriman sebelumnya atau tidak menghasilkan kebaikan pada keimanannya.” (HR. Al-Bukhari no. 4359 dan Muslim, 1/157)
Diriwayatkan juga dari Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan:
“Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat sebuah pintu taubat di sebelah barat yang luasnya sejarak perjalanan 70 tahun, yang tidak akan ditutup selama matahari belum terbit dari tempat tersebut. Dan itulah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
‘Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman…’.”(HR. At-Tirmidzi no. 3536, dan beliau menshahihkannya serta dihasankan Al-Albani rahimahullahu)
Al-Imam Muslim rahimahullahu juga meriwayatkan dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: ‘Aku telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu hadits yang tidak aku lupakan. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya tanda hari kiamat yang paling pertama keluar adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya’.”
Juga diriwayatkan dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari: “Tahukah kalian ke mana perginya matahari ini?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan: “Sesungguhnya dia pergi ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu dia merendahkan diri sambil sujud. Senantiasa dia dalam keadaan demikian hingga dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat yang engkau kehendaki.’ Dia pun terbit dari tempat biasanya terbit. Lalu dia terus berjalan, dalam keadaan manusia tidak terkejut sedikit pun akan hal itu. Sampai dia kembali berhenti lalu merendahkan diri sambil sujud di tempat menetapnya di bawah ‘Arsy. Dan manusia tidak terkejut sedikit pun dari hal itu. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat terbenammu!’ Lalu terbitlah dia dari tempat terbenamnya.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian hari apa itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau menjawab: “Itu adalah hari yang tidak bermanfaat keimanan bagi satu jiwa yang tidak beriman sebelumnya atau keimanan yang padanya tidak menghasilkan kebaikan.” (HR. Muslim, 1/159)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini merupakan riwayat-riwayat yang saling menguatkan yang sepakat menunjukkan bahwa jika matahari terbit dari tempat terbenamnya, tertutuplah pintu taubat dan tidak terbuka lagi. Dan hal tersebut tidak dikhususkan pada saat hari terbitnya (dari tempat terbenamnya saja), namun terus berlanjut hingga hari kiamat.” (Fathul Bari, 11/354)
Pengingkaran Ahlul Bid’ah tentang Kejadian Ini
Seluruh riwayat ini menunjukkan bahwa kejadian ini pasti akan terjadi di akhir zaman. Dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali dari kalangan ahlul bid’ah, seperti Khawarij dan Mu’tazilah.
Al-Qurthubi rahimahullahu berkata dalam Tafsir-nya setelah beliau menyebutkan hadits-hadits tentang tanda-tanda hari kiamat tersebut: “Ini semua telah didustakan oleh kaum Khawarij dan Mu’tazilah.” Lalu beliau menyebut atsar ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya rajam itu benar, maka janganlah kalian tertipu. Dan hujjah yang menunjukkan hal tersebut bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegakkan rajam, dan Abu Bakr pun telah merajam, dan sesungguhnya kami pun telah melaksanakan rajam setelah mereka berdua. Dan akan muncul satu kaum dari kalangan umat ini yang akan mendustakan rajam, mendustakan Dajjal, mendustakan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, mendustakan adanya siksa kubur, mendustakan syafaat, mendustakan kaum yang keluar dari neraka setelah mereka hangus terbakar.” (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 7/13364, Ahmad, 1/23. Namun dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama ‘Ali bin Zaid bin Jud’an, dia lemah karena hafalannya yang buruk)
Ibnu Abdil Barr rahimahullahu juga berkata dalam kitabnya At-Tamhid (23/98) setelah menyebutkan atsar ini: “Seluruh Khawarij dan Mu’tazilah mendustakan enam perkara ini. Sedangkan Ahlus Sunnah membenarkannya dan merekalah al-jamaah serta hujjah membantah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah.”
Pengingkaran Rasyid Ridha tentang Sujudnya Matahari di Bawah ‘Arsy
Di antara orang-orang yang mengingkari perkara ini adalah Muhammad Rasyid Ridha. Dalam tafsirnya Al-Manar dia berkata setelah menyebutkan hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu tentang sujudnya matahari di bawah ‘Arsy: “Hadits ini diriwayatkan oleh dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim) dari berbagai jalan dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik, dari Abu Dzar. Dan dia –walaupun di-tsiqah-kan oleh segolongan orang– adalah mudallis. Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: ‘Dia tidak bertemu Abu Dzar.’ Seperti yang dikatakan Ad-Daruquthni rahimahullahu: ‘Dia tidak mendengar dari Hafshah dan Aisyah, dan tidak menjumpai zaman keduanya.’ Dan seperti yang disebutkan oleh Ibnul Madini rahimahullahu: ‘Dia tidak mendengar dari ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hal itu disebutkan dalam Tahdzib At-Tahdzib. Dan telah diriwayatkan selain riwayat ini dari para sahabat dengan cara ‘an’anah1, sehingga ada kemungkinan yang memberitakan kepadanya dari mereka adalah orang yang tidak terpercaya. Maka, jika pada sebagian riwayat Shahihain dan kitab-kitab Sunan berpenyakit seperti ini, ditambah lagi ada kemungkinan dimasuki kisah Israiliyat dan kekeliruan penukilan secara makna, lalu bagaimana lagi dengan riwayat-riwayat yang ditinggalkan oleh dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim) dan yang ditinggalkan oleh periwayat kitab-kitab Sunan?”
Inilah perkataannya. (Tafsir Al-Manar, 8/211-212. Lihat kitab Asyrath As-Sa’ah, karya Yusuf bin Abdillah Al-Wabil hal. 394)
Dan ini merupakan perkataan yang batil, yang dijadikan senjata oleh ahlul bid’ah untuk menolak hadits-hadits yang shahih yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menolak apa yang telah menjadi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Adapun jawaban terhadap syubhat Rasyid Ridha adalah sebagai berikut:
Pertama: dalam hadits tersebut tidak terdapat riwayat Ibrahim bin Yazid At-Taimi dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Namun yang benar adalah riwayat Ibrahim bin Yazid At-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Dan ayahnya bernama Yazid bin Syarik At-Taimi Al-Kufi. Beliau meriwayatkan hadits secara langsung dari para shahabat, di antaranya: ‘Umar bin Al-Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar, Ibnu Mas’ud dan yang lainnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah.
Kedua: dalam riwayat tersebut, Ibrahim bin Yazid telah menyebutkan secara jelas bahwa beliau mendengarkan hadits secara langsung dari ayahnya tanpa perantara. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim, dia mengatakan: “Dari Ibrahim bin Yazid At-Taimi bahwa dia mendengar –sebagaimana yang aku ketahui– dari ayahnya, dari Abu Dzar.” Maka hilanglah persangkaan tuduhan tadlis dalam riwayat tersebut.
Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah terus menerima hadits ini tanpa ada penolakan dari mereka. Abu Sulaiman Al-Khaththabi rahimahullahu berkata ketika menjelaskan hadits Abu Dzar tersebut: “Pada perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Tempat menetapnya di bawah Arsy’, kita tidak mengingkari bahwa matahari memiliki tempat menetap di bawah ‘Arsy, dari sisi yang kita tidak mampu menjangkaunya, tidak bisa kita saksikan. Dan sesungguhnya bila kita dikabarkan tentang perkara ghaib, maka kita tidak mendustakannya dan tidak menanyakan bagaimana, sebab ilmu kita tidak mampu menjangkaunya.”
An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Adapun tentang sujudnya matahari, itu adalah sebuah jangkauan ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ciptakan padanya.” (lihat Asyrath As-Sa’ah, karya Yusuf Al-Wabil hal. 385)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita sekalian dari penyimpangan yang menyesatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.
1. Maksudnya adalah periwayatan dengan lafadz ‘an, yang berarti dari. Yakni dia tidak menjelaskan apakah dia mendengar langsung dari gurunya atau tidak
Taufiq Kiemas untuk pertama kalinya memimpin sidang MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wapres 2004-2009. Mungkin karena baru pertama kali, TK tampak belepotan memimpin sidang.
Saat membacakan pidato menjelang pembukaan sidang paripurna, berulang kali TK salah sebut. Misalnya saat mengabsen presiden dan wapres terpilih dan para mantan. Setelah menyebut Boediono, dia langsung menyebut Wapres ke-6 Try Sutrisno.
“Maaf terlewat Yang Terhormat Wapres Presiden Muhammad Jusuf Kalla,” ujar TK mengoreksi. Acara sidang pun sempat terhenti beberapa detik dengan sedikit keributan.
TK juga salah menyebut BJ Habibie sebagai mantan wapres ketiga, seharusnya mantan presiden ketiga. Mendengar itu, Habibie yang duduk di kursi hadirin tampak tersenyum lebar pada hadirin yang ada di kiri kanannya. “It’s okey,” kata ahli pesawat itu dengan gaya khasnya.
Saat TK memperkenalkan para tamu negara, juga terdengar keunikan, seperti membaca Mister dengan Mester, W yang seharusnya dibaca double U dibaca W double. Sidang paripurna yang dihadiri 647 anggota MPR ini dimulai pukul 10.00 WIB.
Padahal Formal, hikmat, dan elegan. Begitulah biasanya acara pelantikan presiden dan wapres terpilih. Tapi tidak demikian halnya dengan pelantikan SBY-Boediono. Kata-kata yang terucap dari Ketua MPR Taufiq Kiemas sungguh ribet.
Entah karena grogi atau apa, TK sulit berkonsentrasi saat memberikan kata sambutan dalam Sidang Paripurna MPR di Gedung MPR, Jakarta, Selasa (20/10). Ucapannya terbata-bata saat membaca naskah pidato sehingga beberapa kali harus mengulangi kalimatnya.
Meski terdengar suara geli hadirin, TK tampak tetap serius dan berupaya keras membaca naskah pidatonya. Ketua Deperppu PDIP yang tampak agak kesulitan saat membaca ini sesekali terdiam dan mengeja lafal nama-nama itu.
Beberapa tamu negara dan undangan tampak serba salah menyaksikan kesulitan yang dialami TK itu. Sang putri TK, Puan Maharani, yang menjadi anggota FPDIP DPR tampak kikuk dan tertawa kecil melihat kegelisahan sang ayah.
Belum lagi saat TK salah menyebut acara pelantikan SBY-Boediono sebagai acara pelantikan SBY-JK. Untung saja TK segera sadar dan buru-buru meralatnya. Tapi kekeliruan tak berhenti begitu saja.
TK juga sempat lupa menyebut nama Wapres Jusuf Kalla, justru langsung ke Wapres keenam Try Sutrisno. TK pun harus meminta maaf kepada Jusuf Kalla. Namun kekeliruan serupa kembali terjadi. TK luput menyebutkan nama Presiden ketiga BJ Habibie. Lagi-lagi TK harus meminta maaf, kali ini kepada Habibie.
Cukup? Ternyata belum! Suami Ketua Umum Megawati Soekarnoputri ini semakin kacau dalam membacakan pidatonya menjelang akhir acara pelantikan. Kalimat yang dibacakan TK semakin tak terstruktur, acak-acakan, dan beberapa kali diulangi. Duh aduuhhh Pak TK!
Dakta.com, Jakarta -- Bagi kaum ABG teknologi dijadikan ajang sosialisasi diri. Namun, bagi calon Menkominfo Tifatul Sembiring, sebagai sarana bersekutu dengan KPK untuk memberantas korupsi.
Demikian salah satu program Tifatul di Jakarta, Selasa (20/10), jika dirinya masuk Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Menurut Presiden PKS ini, kemajuan teknologi harus juga merambah ke pemerintahan. Karena dengan begitu diharapkan dapat meminimalisir KKN.
“Ini akan meminimalisir, karena semua prosedur jelas. Suatu saat kita akan less paper. Jadi pejabat-pejabat tidak menerima cash tapi melalui transfer untuk menghindari uang suap. Jadi orang tinggal menyetor ke bank dan resinya dikasih tunjuk,” imbuh pria yang pandai berpantun ini.
Sehingga, ia mengharapkan, IT dapat terintegrasi. Atau paling tidak pemerintah pusat dapat mensponsori, memotori untuk tingkat provinsi, kabupaten, kota, provinsi. Janji Tifatul kedua adalah memadukan IT dengan sentuhan bisnis. Hal itu dilakukan agar pertumbuhannya dapat bersaing dengan dunia internasional.
“Sistemnya sangat mudah kita bangun, bahkan dengan teknologi dalam negeri,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Tifatul, dengan majunya teknologi juga diharapkan dapat memproteksi kerahasian negara. Karena, banyak persoalan terkait sistem informasi yang harus terbentengi dengan kuat.
Sektor transportasi di beberapa daerah terutama terpencil, ia menambahkan, juga tidak ketinggalan dijamah terknologi. Paling tidak secara informasi harus tersentuh. “Information Technology harus masuk ke sekolah-sekolah agar anak-anak didik lebih cepat memahami tentang IT,” tandas Tifatul.
Aneh tapi nyata, seorang bayi laki-laki mengejutkan dokter yang menanganinya. Tim dokter ini terheran-heran setelah tulisan ayat-ayat Al Quran menghiasi kulitnya.
Peristiwa unik ini terjadi di Dagestan, yang berdekatan dengan Chechnya, di selatan Rusia. Orang tua bayi Ali Yakubov yang baru berusia sembilan bulan tersebut sama terkejutnya dengan dokter tersebut, ketika tulisan Alloh muncul di dagunya, setelah kelahiran anak tersebut.
Sejak itu, munculnya tulisan-tulisan Arab yang bertebaran di punggung, lengan, kaki dan perutnya. Menariknya, keluarganya mengklaim, selalu ada tanda-tanda sebelum ayat-ayat baru muncul, dua kali dalam sepekan.
Seperti dilansir dari The Sun, tim medis mengatakan, pihaknya tidak bisa menjelaskan kondisi misterius Ali Yakubov, tapi mereka membantah, tanda ini ditulis oleh seseorang pada kulit bayi ini.
Ibu Ali Yakubov, Madina mengatakan, dia dan suaminya bukanlah pemeluk Islam yang taat, hingga ayat-ayat Al Quran itu muncul di kulit bayinya.
Sebelumnya, mereka menyembunyikan kondisi bayi mereka, tapi akhirnya mengungkapkan hal ini pada dokter mereka. Sekarang Ali Yakubov menjadi perhatian komunitas Muslim di provinsi Dagestan.
Salah satu pemimpin Muslim di Dagestan, Ahmedpasha Amiralaev mengatakan, “Anak ini pertanda asli dari Tuhan. Allah mengirim dia ke Dagestan untuk menghentikan perang dan ketegangan di republik kami.”
Madina menambahkan, “Biasanya tanda-tanda ini muncul dua kali dalam sepekan, hari Senin dan malam antara Kamis dan Jumat. Ali selalu merasa sakit ketika itu muncul. Dia menangis dan temperaturnya naik.”
“Tidak mungkin memeluknya ketika hal itu terjadi. Tubuhnya bergerak aktif, jadi kami menempatkan dia di peraduannya. Sangat sulit menyaksikan dia menderita,” ujar Madina.
ebanyak 150 orang undangan dari seluruh Indonesia memeriahkan launching klub poligami di Hotel Grand Aquila Bandung, Jawa Barat, Sabtu malam.
Para tamu undangan yang datang di antaranya dari Papua, Jakarta, Tasikmalaya dan Garut. Dalam peresmian tersebut, hadir juga ketua klub poligami Malaysia Global Ikhwan Chodijah Binti Am.
Di samping peresmian klub poligami, dalam kegiatan yang bertema `Poligami Obata Mujarab Untuk Mendapatkan Cinta Allah`, digelar juga konser musik, operet dan penjelasan mengenai poligami.
Ketua Global Ikhwan Chodijah Binti Am mengatakan, klub poligami tersebut awalmulanya diresmikan di Malaysia. Untuk itu, global ikhwan akan mendirikan cabang klub poligami di Indonesia dan dimulai dari daerah Jawa dan Sumatera.
“Sebelum meresmikan klub poligami di Bandung, saya sudah berkeliling Indonesia untuk menyampaikan misi tentang poligami,” katanya ketika dihubungi Antara.
Menurutnya, klub poligami di Malaysia sekarang sudah berjalan dengan lancar. Bahkan sekarang klub poligami sudah memiliki 300 anggota yang tersebar di berbagai negara, seperti Indonesia, Australia, Singapur, Timur Tengah, Thailand dan masih banyak lagi.
Ia menjelaskan, kenapa poligami menjadi obat mujarab untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab, dengan poligami seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya.
“Ketika dia dalam kesusahan maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah. Kesusahan yang dialami seorang istri yang suaminya berpoligami sipatnya terus menerus, maka dia pun akan terus meminta tolong kepada Allah,” ujarnya.
Ia mengaku, sebagai wanita awalnya Chodijah juga menolak, bahkan seluruh keluarganya pun melakukan hal yang sama. Dengan alasan takut Chodijah tidak bahagia dan terlantar.
Tapi, ia melanjutkan, setelah selama 30 tahun menjalani hidup sebagai seorang istri yang dipoligami, justru Chodijah mendapatkan cinta Allah, karena senantiasa berkomunikasi dengan-Nya.
Chodijah tidak memungkiri, kalau pendirian klub poligami di Indonesia ini akan menimbulkan penentangan dari berbagai pihak apalagi kaum hawa. Hal itu juga terjadi di Malaysia ketika pertama kali dideklarasikan, namun sekarang semua sudah bisa menerimanya.
Makanya, jika deklarasi klub poligami Indonesia mendapatkan penentangan itu hal yang wajar. Tapi, ketika mereka apalagi kaum hawa memahami tentang poligami mereka pasti akan menerimanya.
“Untuk di Indonesia sendiri saat ini ada 30 keluarga yang bergabung dalam klub poligami dan sementara saya akan mendeklarasikan di Jawa dan Sumatera dulu. Sudah itu baru ke seluruh Indonesia,” katanya.
Berbagai terobosan dilakukan Pemerintah Kota Gorontalo dalam membentuk dan lebih meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan. Ini menyusul adanya kebijakan setiap Jumat wajib baca Al Quran dan pengajian bagi PNS.
Walikota Gorontalo Adhan Dambea mengatakan, adanya kebijakan agar seluruh PNS di lingkungan pemerintahan untuk bisa membaca Al Quran, tidak berjalan dengan optimal.
“Masih ada PNS yang muslim belum lancar membaca Al Quran,” kata Adhan di Gorontalo, Sabtu (17/10).
Dengan belum optimalnya kebijakan tersebut, maka Pemerintah Kota Gorontalo kembali memberlakukan aturan agar setiap SKPD di lingkungan pemerintah, agar setiap Jumat melaksanakan pengajian.
“Tidak ada yang terkecuali, dalam melaksanakan kebijakan untuk mengaji pada setiap Jumat,” kata Adhan.
Dia menjelaskan, jika masih ada PNS ataupun pejabat yang belum mahir membaca Al Quran, maka bisa didatangkan guru ngaji yang tentunya akan mengajarkan tata cara membaca Al Quran berdasarkan metode Iqra.
“Silakan pimpinan SKPD mendatangkan seorang guru ngaji, untuk mengajarkan tehnik baca Al Quran,” ujar Adhan.
Dia menjelaskan, aktivitas pengajian tersebut akan dilaksanakan setelah PNS yang muslim selesai melaksanakan salat Jumat. Namun tentunya tetap diatur jangan sampai menghambat pelayanan kepada masyarakat.
“Jangan hanya alasan karena pengajian, lalu pelayanan pada masyarakat terabaikan,” pesan Adhan.
Gempa Bumi yang memporakporandakan sebagian wilayah Indonesia dan menelan ribuan korban jiwa mengakibatkan pergeseran arah kiblat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim meminta Departemen Agama (Depag) RI segera menertibkan sertifikat arah kiblat masjid-masjid di seluruh provinsi untuk ditentukan arahnya sesuai dengan ilmu falaq.
Menurut Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Bukhori MUI Jatim, jika kiblat masjid telah bergeser harus segera dilakukan perubahan. Tetapi harus dilaksanakan oleh orang yang memahami ilmu falaq dan ilmu fiqih. Karena menurut Depag Jateng dari sejumlah pakar geografi, arah kiblat masjid diwilayahnya telah mengalami pergeseran karena adanya pergeseran lempengan bumi akibat gempa yang melanda beberapa waktu yang lalu.
“Apa yang akan dilakukan oleh Depag Jateng itu tidak ada masalah (menentukan arah kiblat yang telah bergeser) asalkan dilakukan dengan ilmu falaq. Tentunya dilakukan oleh orang yang menguasai ilmu falaq dan fiqih,” kata Abdusshomad Bukhori, Ahad (18/10). Yang penting, kata dia, pelurusan arah kiblat tidak dilakukan kontroversial, karena umat Muslim saat ini cenderung sensitif.
MUI Jatim akan melihat perkembangan hasil dari sertifikasi tersebut untuk menentukan kebijakan arah kiblat masjid di Jatim. Jika memang terjadi pergeseran seyogyanya Jatim juga harus melakukan hal yang sama, meski guncangan gempa lebih dirasakan di Jateng.
Diungkapkan Abdushomad, pada zaman Walisongo, arah kiblat memang ke barat, namun agak menyerong ke arah kanan. Kiblat merupakan isyarat umat Muslim membangun satu misi dan visi bersatu menegakkan ajaran agama Islam sebagai penentu arah sholat menghadap ka’bah. “Kiblat adalah arah yang menentukan sah dan tidaknya umat Muslim melakukan shalat. Tetapi jika isu ini ditunggangi orang-orang yang anti-Islam maka persoalanya akan bergeser menjadi perpecahan yang tidak kunjung selesai,” tegasnya
Dikabarkan MUI Jatim dan Kanwil Depag Jateng akan melakukan sertifikasi arah kiblat terutama untuk masjid-masid tua hampir di tiap kabupaten/kota. Setidaknya masjid tua terletak di setiap alun-alun kabupaten/kota seperti Masjid Agung Demak, Masjid Kauman Semarang, dan lain-lain. Jumlah masjid di Jateng saat ini mencapai 39.478 unit. Sedangkan jumlah umat Islam di Jateng mencapai 32 juta orang. Pelurusan tidak akan dilakukan dengan membongkar bangunanya, hanya barisan shaf-nya yang akan digeser.
Agar terjadi koordinasi dan pelaksanaan di lapangan dengan baik, seluruh kantor wilayah di tiap kabupaten/kota se-Jatim utamanya Departemen Agama (Depag) RI harus segera menginventarisasi atau melakukan penelitian arah kiblat masjid dan mushala. Jika arah kiblat benar bergeser maka perlu segera diluruskan kembali
Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi menyoroti banyaknya liberalisasi pemahaman, yang membuat gerakan berujung ekstrem. Hal ini pun, akan menjadi sorotan di Mutamar NU mendatang.
Hal itu diungkapkan Hasyim di sela-sela kegiatan silaturahmi dan halal bihalal PWNU dan PCNU se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Minggu (18/10). Dia menyoroti berbagai gerakan liberal yang dikhawatirkannya ke depan dapat mengganggu kestabilan negara.
“Saat ini kami sedang merumuskan konsep tentang antisipasi gerakan liberalisme dan ekstremisme yang masih dibahas oleh PWNU Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ucapnya. Hal itu akan menjadi bahan dalam Muktamar NU ke-32, di Makassar, Januari 2010.
Sementara itu, Ketua PWNU PWNU Jatim Kiai Mutawakil Alallah yang juga datang di lokasi mengatakan, berbagai gerakan yang liberal dan ekstrem tersebut perlu diwaspadai. Sehingga, diperlukan upaya untuk proteksi terutama segi akidahnya.
“Saat ini, diperlukan upaya proteksi dan perumusan kaderisasi yang tepat dengan melakukan doktrinasi bukan hanya orientasi saja,” katanya menegaskan.
Ia mengatakan, dampak yang disebabkan karena pemahaman yang cenderung liberal tersebut sangat hebat, di antaranya dapat merusak moral maupun akidah umat. Bahkan, dampak yang perlu dihindari aliran tersebut dapat merusak konstitusi.
“Jika itu dibiarkan, dampaknya juga dapat merusak tatanan konstitusi yang dapat mengancam NKRI,” katanya mengungkapkan.
Selain melakukan upaya doktrinasi pihaknya juga akan intensif untuk melakukan pencerahan, di antaranya dengan pembuatan buku, sosialisasi ke media, terjun langsung untuk memberi pencerahan ke cabang-cabang, serta agenda lainnya.
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah