Arif Rohmana, pengirim SMS ke Presiden SBY, setelah 2 hari diperiksa polisi akhirnya dibebaskan. Pria tersebut mengaku kapok dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
“Saya kapok, dan nggak akan kayak gitu lagi. Ya kalau mau ngadu mungkin dengan cara lain yang lebih halus,” ujar Arif, saat ditemui di rumahnya Kampung Lebak Purut, Desa Kupahandak, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang, Banten, Senin (31/8/2009).
Pria yang berprofesi sebagai guru di sebuah SMP itu mengaku telah berulangkali mengirim SMS ke RI-1. Namun selama ini, tidak ada satu pun SMS-nya yang mendapatkan respons.
“Terakhir saya kirim Rabu 26 Agustus lalu, bertepatan dengan beroperasinya PLTU Labuan,” ujar Arif.
Arif ditangkap polisi Sabtu 29 Agustus, saat menjelang sahur sekitar pukul 03.00 WIB. Pria ini dituding telah mengirim SMS bernada ancaman kepada SBY.
Nur Aini, istri Arif, membenarkan suaminya pernah mengirimkan SMS tentang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Arif merasa kecewa karena rumah mereka di Perumahan Griya Labuan Asri, Labuan, Banten, dilintasi SUTET. Dia menyebut bahwa SMS itu ditujukan pada Ibu Ani Yudhoyono.
Pihak keluarga sendiri mengaku heran dengan penangkapan Arif. Menurut mereka, alasan penangkapan Arif dalam surat penangkapan yang dikirimkan polisi berbeda-beda.
Menurut Pilan, adik Arif, pada surat pertama yang tiba pukul 14.00 WIB, Jumat 28 Agustus, kakaknya dituding melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara atau kejahatan terhadap presiden dan wakil presiden dan atau penghinaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 104 dan pasal 134 dan atau pasal 137, 311, 310 KUHP.
“Tapi pada surat penangkapan kedua yang datang pukul 21.00 WIB, tentang IT. Pasal 45 (3) dan pasal 45 (1) UU nomor 11 tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan tindak pidana penghinaan sesuai dengan pasal 310 ayat 1 dan pasal 311 ayat 1 KUHP,” ujar Pilan.
Hah Beri Sedekah Ditangkap Satpol PP ?!
Diposting Pada 31 Aug 2009
Pemprov DKI Jakarta menindak empat warga yang memberi sedekah kepada gelandangan dan pengemis berdasarkan Perda Ketertiban Umum No 8/2007. Majelis Ulama Indonesia (MUI) berpendapat peraturan itu perlu ditinjau lagi.
“Memberinya kepada siapa. Misalnya kepada pengemis yang mengemis di tempat terlarang, barangkali iya (dilarang memberi). Tapi kalau kata-katanya dilarang memberi kepada pengemis saja mutlak saya kira peraturannya harus dibenahi,” kata Ketua MUI, Ma’ruf Amin.
Hal itu dikatakan dia kepada detikcom, Senin (29/8/2009).
Menurut Amin, dilihat dari sudut pandang si pengemis, mereka meminta-minta karena terdesak oleh kebutuhan. Sedangkan negara tidak memberi mereka makan dan tidak ada yang menolong.
“Sehingga, jalan satu-satunya adalah mengemis. Jadi mereka mengemis itu karena terpaksa,” imbuhnya.
Lebih lanjut Amin mengatakan, saat ini belum saatnya untuk melarang orang mengemis secara total. Sebab masih banyak golongan masyarakat yang kondisi sosial ekonominya parah.
Apabila kondisi sudah membaik, lanjutnya, baru peraturan seperti Perda Tibum yang bertujuan untuk mengurangi pengemis di Jakarta itu diterapkan. “Kalau kondisinya baik, baru kita larang. Kalau sekarang ini belum,” pungkasnya.
Empat pemberi sedekah ditangkap Satpol PP di sejumlah lampu merah. Pasal 40 Perda Tibum melarang seseorang menjadi pengemis/pengamen dan juga melarang seseorang memberi sedekah pada pengemis/pengamen.
Merazia Cafe Berujung Penangkapan
Diposting Pada 31 Aug 2009
Merazia Kafe Yang Melanggar Waktu Operasi, Anggota FPI Solo Ditangkap Polisi
Solo-Delapan anggota Front Pembela Islam (FPI) Surakarta ditangkap polisi karena merazia tempat hiburan Kafe DJ’s di Jalan Urip Sumoharjo, Ledoksari, Kota Solo, Jawa Tengah, Ahad (30/8).
Kedelapan orang itu diinterogasi di Markas Kepolisian Kota Besar Kota Surakarta selama delapan jam sebelum dilepaskan karena tidak melakukan tindak pidana selama razia, seperti perusakan atau pemukulan.
Kepala Poltabes Surakarta Komisaris Besar Joko Irwanto mengatakan, kedelapan orang itu ditangkap karena merazia dan menanyakan izin operasional tempat hiburan. Menurut dia, merazia bukan hak masyarakat sipil, tetapi petugas berwenang, seperti polisi.
Ketua Dewan Tanfidz FPI Dewan Pimpinan Wilayah Surakarta Khoirul RS membenarkan kedelapan orang itu anggota FPI Surakarta. Mereka melakukan razia karena tempat hiburan itu masih beroperasi selewat pukul 01.00.
”Sebelum ini kami telah mengirimkan surat kepada polisi untuk memberantas penyakit masyarakat. Karena mereka tidak bergerak, kami yang bergerak,” kata Khoirul.
Mereka Tetap Berpuasa Meski Bertanding
Diposting Pada 31 Aug 2009
Bulan Ramadhan tentunya dirayakan oleh seluruh umat Islam di dunia, tak terkecuali pemain bola. Tapi tak semua pemain muslim menunaikan ibadah puasa, ada juga yang membatalkan puasa karena jadwal pertandingan yang padat.
Selain itu, beberapa nama yang digadang adalah orang Islam seperti, Zinedine Zidane, Robin Van Persie dan Zlatan Ibrahimovic ternyata masih belum jelas, apakah dia muslim atau bukan. Bahkan, untuk Ibrahimovic ada yang mengatakan bahwa Ibra adalah atheis.
Tak masalah, toh masih banyak pesepakbola lainnya yang imannya sekuat Frederic Kanoute. Berikut ini adalah beberapa nama pesepakbola muslim yang sudah terkenal namanya di dunia.
1. Zinedine Zidane (Prancis), 2. Youri Djorkaeff (Prancis), 3. Nicolas Anelka (Prancis), 4. Samir Nasri (Prancis) dengan nama muslim Abdul Salam Bilal, 5. Eric Abidal (Prancis), 6. Lilian Thuram (Prancis), 7. Frank Ribery (Prancis), 8. Mahamadou Diarra (Prancis), 9. Lassana Diarra (Prancis), 10. Zlatan Ibrahimovic (Swedia) ada yang mengatakan bahwa Ibrahimovic adalah atheis, 11. Mohammed ‘Momo’ Sissoko (Mali), 12. Frederic Kanoute (Mali), 13. Robin Van Persie (Belanda) menikah dengan wanita muslim sehingga menjadi muallaf, 14. Khalid Boulahrouz (Belanda) , 15. Lee Woon Jae (Korea Selatan), 16. Hasan Salihamidzic (Bosnia), 17. Kolo Toure (Pantai Gading), 18. Ahmed Mido Hossam (Mesir), 19. Amr Zaki (Mesir) 20. Idriss Kameni (Kamerun), 21. Yaya Toure (Pantai Gading), dan 22. Pascal Cygan (Prancis).
Selanjutnya, ada nama 23. Karim Benzema (Prancis) , 24. Hatem Ben Arfa (Prancis), 25. El Hadji Diouf (Senegal), 26. Nihat Kahveci (Turki), 27. Sulley Muntari (Ghana), 28. Halil Altintop (Turki), 29. Hamit Altintop (Turki), 30. Rustu Rehber (Turki), 31. Hossam Ghaly (Mesir), 32. Ibrahim Ba (Prancis), 33. Rahman Rezai (Iran), 34. Ali Al-Habsi (Oman), 35. Zlatan Muslimovic (Bosnia), 36. Radhi Jaidi (Tunisia), 37. Abdoulaye Faye (Bolton), 38. Abdoulaye Meite (Pantai Gading), 39. Mohamed Camara (Prancis), 40. Emre Belozoglu (Turki), 41. Tugay Kerimoglu (Turki), dan 42. Nabil El Zhar (Maroko).
Tak semua pemain itu lahir sebagai seorang muslim memang. Beberapa di antaranya merupakan muallaf seperti Anelka, Ribery, dan Eric Abidal. Memang kebanyakan mereka berasal dari negara-negara mayoritas muslim seperti Turki, tapi tak disangka ternyata banyak juga yang berasal dari Prancis. Nah, setelah Anda tahu pesepakbola muslim, kini giliran Anda untuk menentukan skuad muslim.
Pers Mengejar Rating Kaum Muslim Pun Tersakiti
Diposting Pada 31 Aug 2009
Inilah kondisi yang paradoks. Lain di Indonesia, lain pula di Filipina dalam mengambil kebijakan pemberitaan terorisme di media massa.
Awal Februari 2002 berbagai stasiun televisi Filipina menayangkan gambar pemenggalan kepala seorang tentara Filipina oleh anggota kelompok Abu Sayyaf. Tentara itu dipenggal kepalanya di sekitar orang yang tengah shalat. Gambar mengerikan itu menjadi berita hangat, sekaligus menimbulkan protes para orang tua yang khawatir pengaruh gambar itu pada anak-anak.
Presiden Gloria Macapagal Arroyo menggunakan tayangan tersebut untuk menunjukkan kepada publik agar melihat keadaan sebenarnya. “Saya ingin publik melihat wajah dari penjahat ini sebenarnya,” katanya.
Abu Sayyaf adalah kelompok kecil dari gerakan separatis Islam di Filipina selatan yang berbasis di Pulau Basilan. Abu Sayyaf dipimpin Abdurajak Janjalani. Amerika Serikat menuding Abu Sayyaf punya hubungan dengan jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.
Abu Sayyaf juga disebut-sebut menyandera dua misionaris berkebangsaan Amerika Serikat dan seorang juru rawat Filipina di hutan Basilan. Untuk itu Amerika Serikat menjanjikan bantuan hampir US$ 100 juta untuk memerangi Abu Sayyaf.
Evelyn O Katigbak dari Center for Media Freedom and Responsibility di Manila menilai, tayangan tadi ditujukan untuk menarik simpati publik dan dukungan tindakan militer. Sejak penyanderaan yang dilakukan Abu Sayyaf di Balikatan, dan rencana Amerika Serikat menerjunkan pasukan membantu Filipina memerangi Abu Sayyaf, politik Filipina memang hangat. Khalayak terbelah antara yang setuju dengan yang tidak setuju dengan kehadiran pasukan asing di sana.
Tayangan itu sendiri menimbulkan efek buruk, terutama terhadap citra Islam. “Pemenggalan kepala, orang yang shalat, bisa menimbulkan efek yang buruk,” kata Evelyn Katigbak. “Meskipun footage itu tidak dimaksudkan secara sengaja menghina Islam, publik bukan hanya membenci tindakan Abu Sayyaf, tapi juga bisa membenci orang Islam keseluruhan.”
Ia memandang, tayangan pemenggalan kepala juga menimbulkan asosiasi negatif terhadap Islam yang dianggap kejam. “Dalam masyarakat di mana penduduk Islam jumlahnya minoritas, pemberitaan soal terorisme demikian bisa menimbulkan kesalahpahaman. Media justru menghadirkan citra yang salah dan menyesatkan tentang satu agama dan ras tertentu.”
Seringkali penyosokan dan stereotip oleh pers menganggap komunitas sebagai satu kesatuan. Seperti orang Afghanistan yang digambarkan sebagai orang yang radikal dan menghalalkan segala cara. Padahal, tak semua orang Islam seperti yang digambarkan. Celakanya, stereotip ini seringkali diikuti oleh pemberian label negatif.
Melinda Quintos de Jesus, juga dari Center for Media Freedom and Responsibility, memberikan contoh pemakaian negative profiling dalam pemberitaan media di Filipina terhadap gerakan Abu Sayyaf. Banyak kepala berita surat kabar di Filipina mengidentifikasi Abu Sayyaf sebagai “penjahat muslim” atau “teroris Islam”.
Bagi de Jesus, ada yang keliru dalam pemberitaan mengenai Abu Sayyaf. Muslim dilihat seakan sebagai sumber masalah. Wartawan tidak sensitif dengan mengaitkan gerakan Abu Sayyaf sebagai personifikasi orang Islam. Kenyataannya, banyak orang Islam yang tidak setuju dengan kekerasan yang dilakukan Abu Sayyaf.
Berkaitan dengan persoalan-persoalan pemberitaan yang bersangkutan dengan agama dan ras, pada tahun 2002 itu pula saat peringatan Hari Pers Sedunia di Filipina, Unesco menggelar Konferensi Internasional tentang Media dan Terorisme. Oliver F. Clarke, Direktur Koran The Gleaner, Jamaica yang mengawali presentasi, menyebutkan, meliput terorisme harus dengan kepekaan dan profesionalitas tinggi. Media harus sensitif, terutama ketika berhubungan dengan ras atau agama.
Berita yang dimaksudkan mengkritik kelompok teroris, jika tak hati-hati bisa mengarah kepada penyosokan negatif terhadap ras atau agama tertentu. Tanpa memperhatikan hal-hal semacam itu, pemberitaan terorisme bisa menimbulkan masalah baru. Apalagi kalau media dibaca oleh khalayak yang beragam.
Begitulah pengamat media dan tokoh media asing memperhatikan sensitifitas suatu pemberitaan, terutama yang bersangkutan dengan ras dan agama. Sebaliknya dengan apa yang terjadi di Indonesia, yang mayoritas berpenduduk muslim, pemberitaan mengenai terorisme seakan-akan royal dengan penyosokan dan pengkaitan dengan agama. Ini terlontar dari ucapan aparat keamanan atau media. Padahal, rasio antara jumlah penduduk muslim dan pelaku terorisme, amat sangat kecil.
Ambil contoh ketika terjadi peristiwa ledakan bom di Hotel Marriot dan Ritz Charlton di Jakarta pada Jumat pagi (17/7), secara tidak langsung mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono menuding pelakunya kelompok Wahabi. Saat diwawancarai sebuah TV swasta via sambungan telepon Jumat malam, ia mengatakan, pemerintah hendaknya lebih mengantisipasi gerakan Wahabi di Indonesia.
Dalam pemberitaan ini, media pun tidak melakukan klarifikasi ulang berkaitan penyebutan Wahabi. Padahal dengan menyebut istilah Wahabi ini, malah justru bisa menimbulkan persoalan di masyarakat. Kategori Wahabi ini sangat longgar sekali.
Ada sebagian masyarakat yang menganggap kelompok Wahabi adalah kelompok atau golongan yang tidak suka dengan kegiatan tahlil dan ziarah kubur. Ini tentu bisa menimbulkan benturan antarormas keagamaan yang memiliki kebiasaan berbeda. Sementara di antara ormas keagamaan itu masing-masing pasti tidak mengembangkan kegiatan yang bersifat teror, kecuali hanya mengembangkan kegiatan pendidikan dan dakwah.
Tak salah jika kemudian Ketua PP Muhammadiyah Dr Yunahar Ilyas menyebutkan, ajaran yang dikembangkan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab (yang dianggap Wahabi, Red) adalah ajaran memurnikan tauhid. Tak ada hubungannya dengan tindakan teror. (www.hidayatullah.com, Selasa (4/8).
Sementara Ketua Umum DDII KH Syuhada Bahri mengungkapkan, ada keinginan dari kelompok tertentu yang tidak ingin melihat Islam berkembang maju. Caranya, dengan mengkaitkan aksi teror dengan ajaran Wahabi.
“Ajaran Wahabi itu mengajak untuk kembali kepada ajaran yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah,” katanya. Kalau ajaran Wahabi ini dilaksanakan dan diketahui oleh umat Islam secara sadar, akan menjadi kekuatan yang dahsyat yang bisa membawa umat kepada kemajuan. Umat Islam tidak akan terpuruk jika berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah.
Dia menjelaskan, dahulu yang dianggap Wahabi itu organisasi Muhammadiyah, Persis, dan al-Irsyad. Dia mempertanyakan, apakah organisasi-organisasi Islam ini mau disebut teroris. Padahal organisasi Islam tersebut telah lama memberikan kontribusi nyata untuk negeri ini.
Kekurangpekaan media terhadap sensitivitas di masyarakat, juga terjadi saat aparat menahan 17 anggota Jamaah Tabligh berkewarganegaraan Filipina yang sedang melakukan khuruj (perjalanan dakwah dari masjid ke masjid) beberapa waktu lalu. Dari anggota Jamaah Tabligh tersebut, sembilan orang ditangkap di Purbalingga dan delapan orang di Solo. Dalam pemberitaan itu media bahkan menyebut-nyebut penggunaan jubah terhadap 17 orang yang ditahan itu.
Bahkan busana dan penampilan umat Islam pun menjadi bahan pembahasan di media massa. Sampai-sampai salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Novriantoni Kahar di sebuah stasiun TV, Jumat, (21/8) malam, berkomentar lepas dari adab beragama dengan mendesak agar sebagian umat Islam sementara waktu melepaskan simbol-simbol Islam. Yang dimaksudkan simbol-simbol Islam itu berjenggot, jubah, dan cadar.
Tampak sekali upaya-upaya menanggulangi aksi terorisme telah berjalan di luar relnya. Media dan aparat keamanan bergerak jauh menyinggung sensitivitas yang ada di masyarakat, terutama berkaitan dengan wilayah pelaksanaan ibadah.
Ketua PBNU, Said Aqil Siradj, sampai berpendapat, stigmatisasi negatif dan banyaknya kasus salah tangkap sebagai fenomena fitnah. Padahal, sebelum aksi teroris terjadi, sebagian besar masyarakat menghormati orang yang mengenakan sejumlah simbol keagamaan itu. Hal itu karena menunjukkan simbol ketaatan kepada sunnah Rasul. Saat ini, sejumlah simbol itu malah diidentikkan dengan teroris. ”Ayah saya sendiri berjenggot. Saat shalat Jumat, ayah saya bergamis. Ini yang dinamakan zaman fitnah,” katanya.
Said juga menyesalkan, stigmatisasi negatif atas pesantren karena memang tidak benar. Pesantren merupakan lembaga pendidikan untuk mendidik santri menjadi teladan bagi keluarga dan bangsa. Karena itu, tidak bisa menggeneralisasi kesalahan yang dilakukan segelintir alumnus pesantren sebagai alasan menstigmatisasi negatif semua pesantren.
”Di Indonesia, ada 15 ribu pesantren. Masak, kalau misalnya 1-2 pesantren terlibat, puluhan ribu dianggap terlibat,” katanya. Ia mengimbau polisi tidak menggeneralisasi simbol keagamaan sebagai teroris.
Menurut Zainal Arifin Emka, mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Surabaya Post yang kini menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya-Akademi Wartawan Surabaya, pemberitaan media massa terhadap kasus terorisme bukan hanya tidak bijak, tapi juga serampangan dan tidak sensitif. Karena itu wajar kalau pemberitaan terorisme bukan memunculkan kesadaran, tapi justru memperkuat kecurigaan bahwa ada rekayasa kepentingan di balik aksi terorisme itu sendiri.
“Kalau penyebutan simbol-simbol agama seperti itu dilakukan oleh Sydney Jones (analis terorisme dari International Crisis Group), saya masih bisa memahami. Konyolnya atau bodohnya, ada presenter televisi yang menanyai reporternya di lapangan dengan pertanyaan: apakah si tersangka teroris itu suka mengaji, sering ke surau, menjadi imam shalat, dan kadang-kadang berkhotbah. Identifikasi seperti itu hanya menyakitkan umat Islam, sekaligus mengadu domba dan membangun sikap curiga di masyarakat,” katanya.
Sedang menurut Pemimpin Redaksi www.eramuslim.com Mashadi, pemberitaan terkait terorisme yang gencar dilakukan berbagai stasiun televisi, salah satu tujuannya sebagai upaya mengejar rating. “Mereka hidup dari iklan, maka dibuatlah program-program, termasuk program berita, yang dapat memperoleh rating tinggi,” ungkapnya di Jakarta.
Isu terorisme adalah isu yang saat ini hangat diberitakan. Itu sebabnya stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan berita terkait terorisme yang bersifat eksklusif, beda, aneh, dan terbaru. Jangan heran kalau banyak media televisi mengait-ngaitkan liputannya dengan beberapa hal, meski sama sekali tidak ada kaitannya dengan isu terorisme.
Hal senada disampaikan Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Saat ini, berita terorisme sangat diminati para pemirsa. “Ini bisa kita saksikan dari penayangan secara live penggrebekan Densus 88 di Temanggung oleh beberapa stasiun televisi. Jutaan pemirsa selama belasan jam tersihir oleh tayangan itu,” katanya.
Banyaknya pemirsa yang menonton, jelas Ismail, tentu akan mempengaruhi rating program berita tersebut.
Bayi “Disandera” karena miskin ngak ada biaya
Diposting Pada 31 Aug 2009
Tidak mampu membayar biaya perawatan, seorang ibu dan bayinya “disandera” di rumah sakit yang membantu proses persalinannya. Minum obat pun sudah dihentikan, karena tidak punya uang menebus resep.
Ibu malang tersebut, Ratnawati (32), seorang tukang cuci yang kos bersama Jhon (42) di kawasan Kecamatan Medan Barat. Sampai Jumat (28/8) Ratnawati hanya berdiam di ruang perawatan RS “B” di kawasan Jalan Mistar Medan, tempat Ratna dan bayinya dirawat, karena tidak diizinkan keluar sebelum melunasi biaya persalinan operasi caesar sebesar Rp 4.030.000.
Menurut Dewi, pemilik rumah kos yang setia menunggui Ratna–panggilan akrab Ratnawati–di rumahsakit tersebut, Ratna dibawa ke rumah sakit tersebut Sabtu, 22 Agustus lalu karena merasa ingin melahirkan anak keempatnya. Sang bayi lahir perempuan dengan berat badan 4,1kg melalui proses operasi caesar.
Seharusnya Ratna dan bayinya sudah boleh meninggalkan rumah sakit sejak 25 Agustus lalu. “Karena belum melunasi biaya perawatan dia belum boleh pulang,” ujar Dewi.
Dewi menambahkan, Ratnawati yang hanya bekerja sebagai tukang cuci, dan suaminya Jhon yang bekerja mocok-mocok ini, hanya mampu mengumpulkan uang Rp 1,5 juta. Uang itu diperoleh dengan menjual barang-barang berharga, seperti rice cooker, kipas angin, dan lainnya.
Untuk dapat membayarkan biaya tersebut, Ratna pun sudah meminta izin dan memohon pada pihak rumah sakit agar diberikan keringanan, namun tetap saja tidak diberikan kemudahan. Padahal, biaya kamar yang harus dibayarkannya Rp 50 ribu per hari, belum lagi biaya bayi Rp 60 ribu.
“Bahkan sejak tiga hari terakhir, saya sudah tidak lagi makan obat, karena tidak punya uang,” tutur Ratna miris.
Ratna pun semakin khawatir, jika dirinya semakin lama dirawat di rumah sakit, biaya pun akan terus membengkak, sementara dia tidak memiliki penghasilan. Ibu empat anak ini tampak bingung, terlebih dia tidak punya sanak saudara di Medan.
Sementara Dewi, ibu kostnya, yang setia mendampinginya sudah berupaya membantu mencarikan pinjaman. Namun karena pihak rumah sakit tidak memberinya izin keluar, jadi pinjamannya tidak dapat.
“Tadi kami minta izin, agar ibu si anak bisa keluar untuk mencari pinjaman. Namun tidak diberikan pihak rumah sakit, padahal kami minta agar ada satpam yang mendampingi,” katanya.
Dewi mengatakan, rencananya Ratna akan mencari pinjaman di daerah Jalan Darussalam Medan dengan jaminan Dewi.
“Tapi mau ditebus, tidak diberikan keluar, jadi bagaimana? Malah orang yang diharapkan dapat meminjami, disuruh datang kemari, manalah mungkin?” katanya.
Sayangnya pihak manajemen RS “B”belum bisa dikonfirmasi. Namun berdasarkan keterangan salah seorang kasir rumah sakit tersebut bernama Hanum, sesuai aturan pihaknya tidak mungkin mengeluarkan pasien sebelum memenuhi pembayaran semua adminstarsi.
“Harus ada jaminan, jika tidak nggak bisa keluar. Ini sesuai dengan prosedur,” katanya.
[hidayatullah]
Mesin waktu untuk menolong nyawa ayahnya
Diposting Pada 31 Aug 2009
Pada tulisan saya yang lalu mengenai Andrew Carlssin – seorang pria yang mengaku berasal dari tahun 2256, saya meyinggung tentang seorang ahli fisika bernama Ronald Mallett yang percaya bahwa dalam tempo sepuluh tahun mesin waktu sudah dapat diciptakan dan beroperasi. Dan saat ini, ia mengaku telah siap untuk mewujudkan sebuah mesin waktu segera setelah dana yang dibutuhkan terkumpul.
Time travel (perjalanan lintas waktu) telah menimbulkan fantasi luar biasa di seluruh dunia. Sejak trilogi Back to the Future, semakin banyak orang yang percaya bahwa hal itu dapat diwujudkan. Termasuk dalam diri seorang ahli fisika dan profesor dari universitas Connecticut bernama Ronald Mallett.
Prof Mallett menciptakan mesin waktu untuk satu tujuan. Untuk mengunjungi ayahnya yang sudah tiada. Cinta terhadap ayahnya ini membuat ia bertekad untuk membengkokkan ruang dan waktu. Ia menyebutnya “Misi seumur hidup”. “Saya pikir jika saya dapat membuat sebuah mesin waktu, maka saya dapat kembali ke masa lalu dan menolong nyawa ayah saya.” Kata Mallett. Ayahnya meninggal pada saat ia berumur 10 tahun.
Sebelumnya, Mallett tidak pernah menceritakan rencananya untuk membuat mesin waktu kepada orang lain. Ia tidak ingin orang-orang menganggapnya gila. Walaupun sepertinya mustahil, ia tetap percaya bahwa suatu hari ia akan punya cara untuk mewujudkannya.
“Sangat rumit, tapi tidak gila”, Itulah pendapat beberapa ilmuwan yang mempelajari ide Mallett. Albert Einstein pernah berteori bahwa ruang dan waktu saling berhubungan dan gravitasi dapat membengkokkan waktu sama seperti ia dapat membengkokkan ruang.
Menurut Mallett, ia akan menciptakan putaran gravitasi yang cukup kuat untuk membengkokkan ruang dan waktu. “Jika saya membengkokkan ruang dengan kekuatan yang cukup, maka waktu akan membengkok membentuk lingkaran.” Lanjutnya.
Lingkaran waktu itu seperti sebuah lorong waktu. Mallett percaya ia dapat bergerak maju dan mundur lewat lingkaran itu. Dan untuk membentuk lorong waktu itu, ia akan menggunakan laser yang bersilangan.
Namun mesin waktu ini punya satu kelemahan. Bahkan walaupun mesin ini berhasil bekerja dan membuktikan kebenaran teori Mallett, Mesin ini hanya dapat membawa seseorang kembali ke masa sejak mesin ini dinyalakan. Jadi apabila mesin ini mulai dinyalakan pada tanggal 10 Juli 2009, maka seseorang tidak akan dapat kembali ke waktu sebelum tanggal tersebut. Jadi, Mallett tidak akan pernah punya kesempatan mengunjungi ayahnya yang sudah tiada. Menurut Mallett, paling tidak ini adalah sebuah langkah awal.
Mesin waktu atau time travel sendiri hingga saat ini masih dianggap sebagai fantasi belaka. Terutama dengan adanya teori “grandfather paradox”. Teori ini mengatakan jika anda kembali ke masa lalu dan membunuh kakek anda, maka tentu anda akan menghilang dari dunia. Mengubah garis waktu itulah yang disebut paradox. Akibat mengubah susunan waktu, maka dunia akan terbagi kedalam milyaran kemungkinan. Kedengarannya mustahil.
Lagipula, sebagian berpendapat, apabila mesin waktu memang bisa diciptakan, seharusnya dunia ini sudah dipenuhi dengan para time traveler.
Namun seorang astronom ternama benama Dr David Whitehouse berkata bahwa dunia sains memerlukan orang seperti Mallett. “Saya tidak menganggap dia gila. Mungkin teorinya salah, mungkin dia menyimpang. Tapi bukanlah sesuatu yang memalukan bila kita salah. Mengalami kesalahan adalah langkah awal dalam penyelidikan alam semesta”
Apakah ini sebuah rekayasa dan lelucon yang terencana ? biarlah para ahli fisika yang menentukannya.
Heboh..Dangdutan di ruang Sidang
Diposting Pada 31 Aug 2009
Malang-Tingkah laku ini tak patut dicontoh. Meski mereka mengaku sebagai wakil rakyat. Selasa (11/8) lalu anggota DPRD Kabupaten Malang menggelar pesta memperingati HUT Proklamasi. Pesta itu juga sekaligus merayakan ulang tahun ke-42 S. Dalam pesta yang digelar di ruang sidang paripurna itu, mereka mengundang penyanyi dangdut dengan pakaian minim dan seksi.
Di tengah pesta, sebagian anggota dewan lain langsung pulang karena menganggapnya tidak pantas. Meski enggan menjadi saksi.
Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Malang, Selasa (11/8), menyatakan sejumlah anggota dewan telah melanggar kode etik karena menenggak minuman keras di gedung dewan serta menyelenggarakan pesta musik dangdut di ruang paripurna. Tak hanya itu, mereka juga disinyalir menganiaya wartawan.
Menurut Anggota Badan Kehormatan DPRD Malang, Syamsul Hadi, Rabu (12/8), BK akan memanggil Ketua DPRD dan sejumlah anggota dewan lainnya untuk dimintai keterangan.
“Ada bukti tiga botol minuman keras yang ditemukan di tong sampah yang berada di sekitar gedung dewan,” katanya.
Setelah tertunda dua hari, Badan Kehormatan (BK) DPRD Kabupaten Malang Rabu (19/8), pukul 11.00 akan mengumumkan hasil investigasi adanya dugaan pesta miras dalam pesta dangdutan di ruang sidang paripurna, Selasa, (11/8) lalu. Surat undangan pengumuman hasil investigasi kemarin sudah dikirim ke semua anggota BK.
“Undangan untuk datang sudah kami terbitkan. Sekarang sudah diberikan pada semua anggota BK,” terang Wakil Ketua BK DPRD Kabupaten Malang Syamsul Hadi.
Pada prinsipnya Syamsul sudah melakukan tugas sesuai dengan aturan yang berlaku. Dirinya juga sudah melakukan investigasi peristiwa memalukan di DPRD Kabuaten Malang pada 11 Agustus itu. Semuanya hasil investigasi dimasukkan dalam catatan BK. Namun Syamsul tidak mau menjelaskan secara rinci apa saja yang akan diumumkan.
Soal kendala investigasi masih tetap sama, tidak satu pun saksi yang mau bersaksi, khususnya soal dugaan minum minuman keras (miras) dalam pesta itu. Padahal, sebelumnya ada satu anggota dewan dan beberapa saksi berani mengungkapkan pada media meski tidak mau namanya dikutip.
”Mereka yang berada di ruangan saat acara berlangsung juga tidak mau jadi saksi,” kata Syamsul.
Kendati begitu, Syamsul yakin pada detik-detik terakhir sebelum pengumuman para saksi yang juga anggota dewan mau bersaksi pada BK.
”Sebenarnya banyak saksi, tapi tidak ada yang mau angkat bicara secara resmi di hadapan kami. Alasannya pun tidak jelas. Barangkali pada detik-detik terakhir mereka ada yang terbuka menjadi saksi dan memberikan keterangan yang jelas. Kita tunggu saja,” ujarnya.
[cybersabili]
Alasan Teroris KTP Pakai Jilbab Dilarang
Diposting Pada 30 Aug 2009
Pemkot Lubuklinggau akan memperketat persyaratan kartu tanda penduduk (KTP), khususnya bagi warga pendatang. Kemudia Pemkot Lubuklinggau akan menerapkan kembali foto wanita berjilbab tidak boleh untuk KTP.
Walikota Lubuklinggau, Riduan Effendi mengatakan, pihaknya akan memperketat prosedure pembutan KTP, “Prosedurenya akan diperketat. Kalau warga pendatang harus melampirkan surat pindah dari daerah asal. Kemudia photo untuk KTP wajahnya harus terlihat utuh, dimulai dari rambut, mata, telinga harus kelihatan.
Foto KTP bagi laki-laki tidak boleh memakai topi dan juga kopiah. Sedangkan wanita tidak boleh mengunakan Jilbab, kalau mengunakan jilbab wajahnya tidak kelihatan secara utuh,” Jelas kepada wartawan koran ini di Hotel Abadi pada acara pertemuan pengurus komisi intelejen daerah(komida) Propinsi Sumatera Selatan, Rabu(26/8).
Sumber : Linggau Post
Imam Besar Meninggal Dalam Sholat Tarawih
Diposting Pada 30 Aug 2009
Diduga karena kelelahan, seorang imam besar di Masjid Agung Baiturahim Gorontalo, Kyai Roni Gobel (67), meninggal saat shalat tarawih, Rabu (26/8) malam. Sebelum jatuh, sang imam sempat mengimami shalat isya hingga selesai dan mengeluh sakit dada kepada imam lainnya di masjid tersebut. “Beliau mengeluh sakit dada dan minta air minum setelah shalat isya,” kata imam Rasyid Kamaru.
Merasa tak mampu lagi mengimami shalat tarawih, Kyai Roni Gobel meminta imam Rasyid Kamaru menggantikannya hingga kemudian Kyai Roni jatuh pada saat rakaat keenam berlangsung.
Sang kyai sempat diangkat sejumlah jemaah ke ruangan yang berada di sebelah mimbar, sementara shalat tarawih tetap dilanjutkan hingga rakaat ke-20.
Ketua Takmirul Masjid Baiturahim, Hamzah Husen, mengatakan, seusai shalat tarawih, ia memeriksa kondisi Kyai Roni yang telah mengembuskan napas terakhir. “Saat kami periksa beliau 99 persen telah meninggal, namun kami belum berani mengumumkannya kepada jemaah masjid,” katanya.
Peristiwa tersebut sempat menimbulkan kegaduhan dan kepanikan, ketika jemaah masjid melihat jenazah sang imam diangkat keluar masjid dan dibungkus kain putih.
Din Marah Ponpesnya Didatangi Intel
Diposting Pada 30 Aug 2009
Kedatangan kepolisian di Ponpes Al Mutaqin Kesamben, Kabupaten Blitar membuat pengasuh pondok pesantren tersebut merasa tidak nyaman. Alasannya, polisi meminta identitas, data ponpes serta kegiatan para santri.
“Waktu itu sebelum bulan ramadan, saya sedang mengadakan kajian di luar pondok. Kemudian ada polisi datang ke pondok dan diterima istri dan orang tua saya. Mereka menanyakan data identitas santri dan kegiatan pondok kami,” kata Pengasuh Ponpes Al Mutaqin KH Abu Hilal Hamdani saat bincang-bincang dengan detikcom, Sabtu (29/8/2009).
Karena menyangkut pondok, orang tua dan istri KH Abu Hilal tidak berani memberikan data. Polisi lalu diberikan nomor handphone KH Abu dan diminta menghubunginya langsung.
“Dalam perbincangan di telepon, awalnya mereka tidak mengaku polisi. Setelah kami desak, mereka mengaku dari intel polisi dan meminta data-data. Tapi saya tidak memberikan karena santri kami bukan teroris,” jelasnya.
KH Abu Hilal meminta petugas kepolisian itu datang untuk menemuinya sendiri. Namun, sampai saat ini petugas tersebut belum juga bertemu dengannya.
“Saya juga menyakinkan, bahwa ajaran kami bukan teroris dan tidak ada santri saya yang menjadi teroris. Kalau mereka tidak percaya silahkan tanya langsung ke Wakapolsek Kesamben yang sering salat berjamaah di Masjid Jami Kesamben,” ungkapnya.
KH Abu Hilal menerangkan, saat ini santri yang aktif di dalam pondok berjumlah 40 orang. Sedangkan santri di luar pondok mencapai sekitar 2.000 orang dari dalam dan luar Kabupaten Blitar.
Ribuan santri itu tergabung dalam Majelis Taklim Forum Kajian Islam Intensif sejak tahun 2004. Dalam forum tersebut, para jamaah diajarkan tentang akidah, tafsir, fiqih, bahasa Arab dan ajaran Islam lainnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim KH Syafiq A Mughni mengimbau kepolisian untuk tidak melakukan cara-cara seperti itu. Hal itu dapat memancing ketegangan dengan umat Islam. “Meminta data santri dan mengawasi kegiatan pondok itu dapat membuat rasa tidak nyaman,” katanya.
Sementara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin tidak rela terhadap tindakan aparat yang telah mengobok-obok pondok pesantren milik Muhammadiyah di Blitar dengan dalih mencaari teroris. Karena tindakan tersebut dinilai telah melanggar hukum.
“Ada ponpes Muhammadiyah di Blitar yang diberlakukan seperti itu. Jangan menggunakan penegakan hukum tapi dengan cara melawan hukum,” ungkap Din Syamsudin usai memberikan ceramah dalam tema Kajian Ramadan 1430 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Sabtu (29/8).
Selain itu Din mengingatkan kembali bahwa upaya pengungkapan teroris dengan dengan memelototi ceramah-ceramah agama atau pengajian akan sangat membahayakan. Apalagi Islam sendiri tidak pernah mengajarkan kekerasan atau membunuh orang-orang tak berdosa atau orang kafir sekalipun. Bahkan sebaliknya Islam menganjurkan untuk memerangi segala bentuk teror
Setelah Jibril Putra Ba’asyir Berikutnya ?
Diposting Pada 30 Aug 2009
Putra Abu Bakar Ba’asyir, Abdurrochim membantah organisasi Al Ghuroba yang ada di Pakistan terkait dengan jaringan teroris Al Qaeda. Organisasi itu hanyalah sebuah kelompok belajar mahasiswa. Benarkah?
“Kegiatan dalam organisasi tersebut hanya kegiatan belajar dan pemberian motivasi antarsesama mahasiswa Indonesia dan Malaysia yang bersekolah di Pakistan,” kata Rochim di Sukoharjo, Sabtu (29/8).
Ia mengaku pernah aktif di organisasi tersebut bersama Muhammad Jibril dan Gun-gun pada 2001 hingga 2002. Pertemuan rutin yang dilakukan anggota Al Ghuroba, lanjutnya, dilakukan setiap sekali dalam satu minggu. Sekadar diketahui Gun-gun pernah divonis bersalah akibat tersangkut kasus terorisme. Sementara, Jibril kini sedang diperiksa intensif oleh Densus 88 atas kasus serupa
“Untuk kepentingan kegiatan organisasi, kami menyewa sebuah rumah untuk dijadikan markas. Akan tetapi, tempat tersebut sama sekali tidak pernah dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang dicurigai sebagai aktifitas teroris,” jelas Rochim.
Oleh karena itu, lanjutnya, tuduhan mengenai keterlibatan organisasi tersebut dalam tindakan terorisme adalah fitnah. Mengenai tuduhan mengenai keterlibatan sejumlah mantan anggota Al Ghuroba dalam tindakan teroris, dirinya berpendapat hal tersebut dicurigai sebagai upaya memutus hubungan kalangan pelajar Muslim di Indonesia dengan kalangan pendidikan di negara-negara Timur Tengah.
“Kegiatan belajar kalangan umat Islam di Indonesia ke Timur Tengah adalah untuk menguatkan nilai syariat Islam di kalangan Muslim Indonesia. Upaya memutus hubungan tersebut dilakukan pihak tertentu sebagai salah satu upaya melemahkan umat Islam di Indonesia,” tegasnya.
Disinggung tentang peran Gun-gun yang mengantarkan uang dari Hambali untuk biaya pengeboman Marriott 2003 silam, Abdurrochim menilai, Al Ghuroba tidak bisa dikaitkan dengan Hambali. Sebab uang tersebut hanya dititipkan oleh Hambali kepada Gun-gun tanpa diketahui tujuan dari uang tersebut.
Gereja Ditegur Misi Berkedok Buka Puasa
Diposting Pada 30 Aug 2009
Poltabes Surakarta meminta kepada pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan di Kota Solo untuk menghentikan program penjualan paket buka seharga Rp 500. Alasannya demi menjaga kondusivitas karena ada sejumlah elemen masyarakat yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut.
Hasil pertemuan antara pengurus GKJ Manahan dengan Kasat Intelkam Poltabes Surakarta, Jumat (28/8/2009), adalah menghentikan program yang telah berjalan selama 13 tahun setiap bulan Ramadan tersebut. Pihak gereja diwakili Pendeta Ratna Ratih, J Soeprapto (mantan Wakil Walikota Surakarta) dan Tumiriyanto (aktivis LSM di Solo).
“Kemarin pihak Poltabes Surakarta sudah datang menemui kami meminta program itu dihentikan. Alasannya pihak kepolisian menerima banyak masukan dan desakan dari sejumlah kalangan yang menyatakan ketidaksetujuan terhadap acara yang telah kami lakukan selama 13 tahun terakhir tersebut,” ujar Pendeta Ratih.
Dalam pertemuan hari Jum’at di Poltabes Surakarta, lanjutnya, pihaknya menyatakan program tersebut akan dihentikan sesuai keinginan polisi. Jumat sore ini kami masih mengadakannya sebagai hari terakhir karena nasi berikut lauk-pauknya sudah terlanjur matang.
Jumat petang memang acara penjualan paket hidangan buka tersebut tetap diadakan. Bahkan acara tidak lagi diadakan di dalam gedung gereja seperti biasanya, melainkan diadakan di depan gereja yaitu di jalur lambat Jalan MT Haryono.
Seperti hari-hari sebelumnya, setiap pembeli yang datang harus membayar Rp 500 untuk mendapatkan minuman pembuka, teh, nasi dan lauk. Menu petang ini adalah masakan khas Solo, yaitu timlo. Panitia menyediakan 500 porsi, langsung ludes.
Kapada seluruh hadirin, Pendeta Ratna Ratih mengumumkan bahwa hari ini adalah hari terakhir program nasi murah itu diadakan. Kepada hadirin, dia juga menyatakan bahwa program tersebut terpaksa dihentikan karena mendapat teguran dari pihak kepolisian.
Zaidi Penjahat Bagi Bush akan Dibebaskan
Diposting Pada 30 Aug 2009
Pengadilan akan membebaskan jurnalis Irak, Muntazar Al Zaidi, yang dipenjara karena melemparkan sepatu ke arah mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush lebih awal. Jurnalis Irak itu akan dibebaskan bulan September mendatang karena berkelakuan baik.
Seperti dilansir worldbulletin.com, Minggu (30/8/2009), menurut pengacaranya, hukuman Zaidi dikurangi oleh pengadilan Irak karena berkelakuan baik semasa dalam tahanan.
“Kita telah diberitahu secara resmi tentang keputusan pengadilan tersebut,” kata pengacara Zaidi, Karim al-Shujairi.
Zaidi divonis bersalah oleh pengadilan Baghdad pada 12 Maret karena mencoba menyerang Bush. Dia dijatuhi hukuman penjara 3 tahun. Namun, Pengadilan Irak mengurangi masa tahanan Zaidi menjadi 1 tahun. Setelah sempat ditahan di penjara Baghdad selama 8 bulan, sejak 14 Desember 2008, Zaidi pun akan dilepaskan 3 bulan lebih awal, yakni pada 14 September mendatang.
Muntazar Al Zaidi (30), pemuda Irak yang menjadi jurnalis TV Al Baghdadia, mendadak terkenal sejak keberaniannya melempar Bush dengan sepasang sepatunya pertengahan Desember 2008 lalu. Saat itu, Bush yang berada di Irak untuk melakukan kunjungan terakhir kalinya sedang menyampaikan jumpa pers bersama PM Irak.
Sejak insiden pelemparan sepatu itu, Zaidi dianggap sebagai pahlawan di negara-negara muslim. Para pendukung Zaidi kerap melancarkan aksi protes untuk menuntut pembebasan pria itu. Menurut mereka, perbuatan Zaidi merupakan tindakan patriotis.
Berkah Arrahmah.com Dituduh Media Teroris
Diposting Pada 30 Aug 2009
Pemimpin redaksi dari Arrahman.com, M Fachry merasa ada berkah dibalik pengeledahan yang dilakukan petugas kepolisian terhadap kantor situs media online tersebut. Menurutnya pasca pengeledahan, pengunjung situs justru mengalami kenaikan drastis.
“Seperti ada berkah dibalik musibah, itu lah yang kami rasakan sekarang.” kata Fachry kepada INILAH.COM, Jakarta, Minggu (30/8).
M Fachry mengatakan meski sempat terganggu setelah pengeledahan, tetapi kini situs Arrahman.com masih bisa di akses. “Meski kami sempat terganggu, namun sekarang kami tetap on line, dan ada hal baik dibalik keburukan yang kami terima,” ujar M Fachry.
Menurutnya pasca pengeledahan yang dilakukan oleh kepolisian dari Densus 88 terhadap kantor Arrahman.com yang terletak di kawasan Bintaro sektor 5, banyak orang yang justru penasaran mengunjungi situs yang memberitakan Jihad Internasional tersebut.
“Pasca pengeledahan, tepatnya saat kami kembali online, pengunjung ke situs kami berangsur meningkat.” jelasnya.
Saat ditanya berita atau artikel mana saja yang paling banyak dilihat oleh pengunjung tersebut, “Ya, mereka banyak membaca dan melihat artikel lama-lama, terutama seputar penangkapan M Jibril,” jawabnya.
Dipenjara Hanya karena Menyembelih Domba
Diposting Pada 28 Aug 2009
Seorang pria Muslim di Chicago, Amerika Serikat, menegaskan dirinya seharusnya tidak dituntut karena menyembelih seekor domba untuk persiapan menyambut Ramadan.
Abdulsalam Alawi (38) mengatakan, setelah membeli empat domba dari sebuah peternakan di Wisconsin pekan lalu, seekor di antaranya terlihat sakit. Dia pun memutuskan untuk menyembelih hewan ternak itu sebelum mati.
Hukum Islam menyatakan seekor hewan tidak boleh mati sebelum disembelih. Jika mati tanpa disembelih, maka hewan itu tidak boleh dikonsumsi karena telah menjadi bangkai.
“Saya harus menyembelihnya sebelum ia mati. Jika hewan itu mati, maka anda tidak akan dapat memakannya,” tegas dia, yang dikutip Al Arabiya dari Chicago Sun-Times, Jumat (28/8/2009).
Namun keluhan dari seorang tetangga membuat Alawi ditangkap di rumahnya pada Minggu 23 Agustus lalu. Dia pun menghadapi empat tuntutan karena memiliki hewan untuk disembelih.
Alawi ragu dia akan dapat memiliki lagi domba-domba yang masih hidup dari lembaga Pengawasan dan Perlindungan Hewan untuk dia konsumsi sepanjang Ramadan.
“Sekarang, saya mungkin akan membeli ayam segar saja dari toko,” kata dia kepada Sun-Times
Mungkinkah SBY Belajar dari Tayep Erdogan ?
Diposting Pada 28 Aug 2009
Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan memiliki kebiasaan yang patut diteladani. Di sela-sela kesibukannya sebagai PM di bulan Ramadhan, Erdogan senantiasa menyempatkan diri untuk berbuka puasa bersama rakyatnya, khususnya keluarga menengah kebawah di negerinya.
Dalam aktivitasnya itu, Erdogan tidak menggelar acara secara resmi dan besar-besaran, apalagi diliput oleh media. Erdogan melakukannya hampir secara sembunyi-sembunyi, dan akan menjadi kejutan bagi pihak yang dikunjunginya untuk berbuka.
Seperti pada hari Selasa (25/8) kemarin, Erdogan beserta beberapa orang stafnya mendatangi rumah keluarga nenek tua Eyse Olcun (74) yang terletak di bilangan Bagcilar, di pinggiran kota Ankara.
Ketika adzan maghrib berkumandang, Erdogan mengetuk pintu rumah itu. Dan, betapa terkejutnya sang pemilik rumah ketika mengetahui jika yang mengetuk pintu adalah perdana menteri mereka.
Keterkejutan Eyse Henim (nyonya) pun kian bertambah ketika Erdogan menyatakan dirinya ingin berbuka puasa bersama di rumah itu. “Henim, saya ingin berbuka bersama keluarga anda, bolehkah?” tanya Erdogan dengan senyum.
Entah seperti apa perasaan yang dirasakan Eyse Henim ketika itu. Yang jelas, ia pun dengan penuh suka cita segera mempersilahkan Erdogan dan beberapa orang yang menemaninya masuk rumah.
Meski hidangan buka puasa sangat seadanya dan sederhana, tetapi suasana kebahagiaan dan keberkahan terasa demikian kuat menyelimuti rumah mungil itu.
Setelah selesai berbuka, Erdogan lalu shalat maghrib berjama’ah bersama keluarga Eyse Hanim. Setelah itu, Erdogan pun berbincang-bincang dengan anggota keluarga itu, banyak bertanya tentang kabar dan keadaan mereka.
Eyse Henim memiliki seorang suami yang kini sudah tidak lagi dapat bekerja. Selain karena sudah berusia uzur, suami Eyse Henim juga telah beberapa tahun terserang lumpuh.
Mereka juga bercerita kepada Erdogan tentang banyak hal lainnya, tentang keluhan-keluhan, dan Erdogan pun mendengarkannya dengan seksama, saling menimpali dengan memberi banyak nasihat, serta memberikan sejumlah uang untuk biaya kebutuhan rumah tangga itu.
Di tengah-tengah suasana buka puas itu, umdah (bupati) bilangan Bagcilar menyusul datang. Mungkin sang bupati mendengar kabar kedatangan Erdogan yang tengah berbuka puasa di bilangannya.
Saat datang, Erdogan sempat mencandai bupati itu. “Pak bupati, bolehkah saya
meminta sesuatu hal kepada anda?” tanya Erdogan.
“Ketaatan ada pada tuan Perdana Menteri,” jawab bupati itu.
Erdogan lalu merogoh saku jas bupati itu, lalu mengeluarkannya kembali dengan menggenggam sepak rokok.
“Aku yakin ini adalah bungkus terakhir yang akan anda hisap, tuan bupati,” kata Erdogan.
Pak bupati pun hanya tersenyum bercampur gugup. Dan mau tak mau ia pun menyanggupi permohonan Erdogan, agar ia tidak akan merokok lagi.
Erdogan lalu mengambil pena, menuliskan sesuatu di atas pak rokok pak bupati itu. Di sana, Erdogan menulis nama bupati itu, tanggal ketika peristiwa menggelikan ini terjadi, sekaligus ditandatanganinya.
Erdogan lalu meminta kepada salah seorang stafnya untuk menyimpan kotak rokok itu, karena akan ditaruh di museum kotak dan bungkus rokok di Ankara.
Kebiasaan Erdogan yang memberi kejutan kepada rakyatnya, utamanya kalangan menenangah kebawah, dengan berbuka puasa bersama ini telah dilakukannya semenjak ia menjabat wali kota Istanbul, jauh-jauh hari sebelum Erdogan dikukuhkan sebagai PM Turki pada 2002 silam.
www.eramuslim.com
Teroris Masalah Ini Bermula Dari TV One…..
Diposting Pada 28 Aug 2009
General Manager Current Affair TV One Solaeman Sakib menyatakan, kebijakan menyiarkan secara langsung penggerebekan sebuah rumah yang diduga tempat persembunyian Noordin M Top di Dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah, itu dilakukan untuk meningkatkan rating dan menggaet 20 juta pemirsa.
“Lima tahun yang lalu total rating 16 sekarang turun menjadi 11. Itu yang kami incar. Tayangan langsung Gaza dan penggerebekan di Temanggung sangat diminati pemirsa,” ujarnya saat ditemui di Gedung Dewan Pers, Kamis (27/8).
Ia mengatakan, setelah tayangan-tayangan tersebut habis, jumlah pemirsa kembali berkurang.
Solaeman mengakui terjadinya kesalahan pemberitaan mengenai pria yang berhasil ditembak mati tim Densus 88. Pada saat itu sang reporter memberitakan pria yang berhasil ditembak mati adalah Noordin M Top, tetapi hasil uji DNA menyebutkan pria tersebut adalah Ibrohim. “Tapi setelah itu Pak Karni Ilyas (Pemred TV One) telah memberikan pembenaran terhadap berita itu,” ucapnya.
Ia menuturkan, hal tersebut disebabkan pihaknya mendengar kabar dari stasiun televisi asing bahwa yang tertembak adalah Noordin M Top. “Dari situ kita minta teman-teman yang di lapangan mencari tahu. Dan dari mereka mendengar sendiri itu Noordin. Dia mendekat sampai 50 meter,” kata dia.
Dirinya mengaku menyesali kejadian tersebut. Setelah kejadian itu, sang reporter telah mendapat teguran. Solaeman berjanji, ke depannya TV One akan memperbaiki diri. “Banyak menitipkan mata ke polisi, learning by doing, dan mengoreksi diri,” katanya.
Wahai Aparat Jangan Lupakan Sejarah
Diposting Pada 28 Aug 2009
Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.
Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.
Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.
Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.
Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).
Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.
Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat Bismillahirrahmanirrahim dan ditutup dengan Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!
Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.
Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?
Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.
Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.
Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.
Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam. Wallahu a’lam .
Oleh Herry Nurdi
Penulis, Wartawan Islam
Waspadai Perampokan Saat Sahur
Diposting Pada 28 Aug 2009
Tingkat kejahatan selama bulan Ramadhan cenderung meningkat. Sejumlah orang nekat melakukan segala cara demi memenuhi kebutuhan saat hari raya Lebaran. Mereka memanfaatkan waktu sahur untuk beraksi.
Riana Andika, warga Pamulang adalah salah satu korbannya. Menjelang sahur, Jumat 28 Agustus, lima orang tak dikenal mendatangi rumahnya di Jalan Villa Terusan No 7 RT 05/07 Kelurahan Pondok Cabe Ilir Kecamatan Pamulang, Tangerang.
Mereka berpura-pura menanyakan alamat rumah seseorang di kompleks tersebut. Penampilannya normal sehingga tak membuat Riana menaruh curiga.
Namun, saat Riana tengah memberi penjelasan alamat, pelaku menodongkan senjata api ke arah korban. Riana pun tak berkutik dan masuk dalam kuasa pelaku. Ia lantas didorong ke dalam rumah, dan diikat bersama enam penghuni rumah lainnya dengan sumbu kompor.
Dengan leluasa para pelaku kemudian menggasak barang-barang yang berada di rumah. Barang berharga yang dilarikan antara lain, 3 unit telepon selular merek Blackberry, 5 telepon selular merek Nokia, 1 unit laptop merek Sony VAIO, 1 kalung emas, 4 cincin emas, dan uang tunai Rp 2,2 juta. Total kerugian ditaksir mencapai Rp 40 juta.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Chrysnanda Dwi Laksana, membenarkan peristiwa tersebut. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan Kepolisian Sektor Pamulang, Tangerang Selatan.
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah