-Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP-WI) mengecam pernyataan Ruhut Sitompul, salah seorang anggota tim kampanye SBY-Boediono di media massa beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah memberikan bantuan kepada Indonesia dan membanggakan AS sebagai `penyelamat’ ekonomi negara ini.
“Wahdah Islamiyah meyakini Ruhut adalah seorang yang tidak pernah belajar sejarah karena berdasarkan catatan historis, justru bangsa Arab merupakan pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika Belanda menjajah bangsa ini selama 3,5 abad,” ujar Muhammad Qasim Saguni, Sekjen WI, dalam pernyataan sikapnya yang dikirim ke situs hidayatullah.com, Senin (1/6).
Menurut Saguni, setelah Proklamasi 1945 pun bangsa-bangsa Arab (seperti Mesir, Suriah, Iraq, Libanon, Yaman, Arab Saudi, dan Afghanistan) tampil pertama kali mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia, meskipun pada saat yang sama AS dan bangsa-bangsa sekutu (Barat) memberikan bantuan militer plus politik kepada Belanda untuk mencoba menjajah kembali Indonesia.
WI juga menduga bahwa Ruhut juga tidak pernah membaca suratkabar atau mengakses media massa lainnya tentang berita-berita seputar ekonomi dan kerjasama internasional. AS (yang dikatakannya banyak membantu Indonesia) justru terbukti telah memunculkan krisis moneter yang tidak kunjung berakhir selama 12 tahun terakhir di Indonesia dengan sistem pinjaman berbunga tinggi disertai syarat-syarat yang mencekik rakyat Indonesia.
Sebaliknya, bangsa-bangsa Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait selama ini banyak membantu perekonomian Indonesia dengan bantuan hibah (tidak perlu dikembalikan) dan pinjaman lunak yang melegakan rakyat negeri ini.
“Bahkan kalau kita mau jujur, negara-negara Arab aktif memberikan bantuan sosial kemanusiaan secara gratis ketika Indonesia dilanda berbagai bencana alam. Di saat yang sama AS dan bangsa Barat lainnya enggan memberikan bantuan secara cuma-cuma,” jelas Qasim
Menurutnya, WI memandang patut disayangkan bahwa SBY yang selama ini dikenal sering mengkritik secara langsung maupun tidak langsung atas sikap politik capres-cawapres lainnya yang dianggapnya kurang terpuji, justru di dalam tubuh tim kampanyenya menunjukkan sikap politik yang sangat tidak santun.
Karena itu, WI mendesak SBY untuk segera memberhentikan dengan tidak hormat Ruhut Sitompul sebagai anggota tim kampanye SBY-Boediono karena telah melukai perasaan kelompok etnis, suku, dan agama tertentu. Sebab jika tidak segera melakukan pemecatan maka dikhawatirkan dapat membangkitkan kemarahan yang lebih besar dari kelompok etnis, suku, dan agama tertentu yang dilecehkan itu.
Minta Maaf
Sementara itu, sejak kasus keseleo lidah ini, pihak Partai Demokrat (PD) langsung merespon. “Setahu saya Pak Sekjen atas permintaan Pak SBY sudah menegur Ruhut,” ujar Wasekjend DPP PD Nurhayati Assegaf Seperti yang dikutip detik.com, Ahad (31/5) lalu. “Teguran itu tidak cukup, Ruhut harus minta maaf secara terbuka ke seluruh rakyat Indonesia atas pernyataan tentang etnis Arab,” ujar Nurhayati yang kebetulan juga berasal dari komunitas etnis Arab.
Hari senin lalu, bertempat di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Jakarta Timur, Senin, 1 Juni 2009 Ruhut telah menyampaikan rasa penyesalan dan permintaan maafnya.
“Saya meminta maaf dari lubuk hati yang terdalam kalau ada kata-kata saya yang membuat tersinggung etnis tertentu. Saya tidak bermaksud demikian, saya mohon maaf atas kejadian itu,” kata Ruhut Sitompul.
Ruhut mengakui pernyataan yang kontroversial itu keluar saat diskusi di Dewan Perwakilan Daerah. Ruhut yang mewakili tim sukses SBY-Boediono saat itu berdebat dengan dua anggota tim sukses dua kandidat. Permadi dari Megawati-Prabowo, dan Fuad Bawazier dari JK-Wiranto.
“Sebelumnya, pihak kami diserang habis-habisan. Tentunya, saya sebagai salah satu tim sukses membela diri. Itu yang ditugasi kami,” ujar Ruhut yang didampingi Ketua Umum Demokrat, Hadi Utomo, dan Wakil Sekjen, Syarif Hassan.
Sebagaimana diketahui, Ruhut adalah salah satu pengurus Pemuda Pancasila dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI yang dikenal telah membela Yorries Raweyai, Ketua Harian Pemuda Pancasila yang pernah tersandung kasus perjudian.
Bersama Yorries dan Yapto Soeryosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila Ruhut aktiv mendukung Partai Golkar. Namun tiba-tiba banyak orang kaget ketika ia telah meloncat ke Partai Demokrat (PD).
sumber/www.hidayatullah.com
Pakai Ayat Al-Quran Tuk Tahta Presiden
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut meminta kepada peserta kampanye pada pemilihan presiden (Pilpres) 2009 ini agar jangan sampai menyalahgunakan ayat-ayat suci Alquran pada kegiatan politik tersebut.
“Ayat suci itu jangan dimanfaatkan pada tidak pada tempatnya,” kata Ketua Umum MUI Sumut, Prof Dr Abdullah Syah, MA di Medan, Senin.
Hal tersebut dikatakannya ketika diminta komentarnya mengenai pemanfaatan ayat suci Alquran pada kegiatan Pilpres tersebut.
Menurut Abdullah Syah yang juga Guru Besar IAIN Sumut itu, sebenarnya penggunaan ayat suci Alquran itu syah-syah saja dan tidak tidak perlu dilarang, asalkan digunakan dengan baik dan benar, serta tidak menjelek-jelekkan seseorang.
Penggunaan ayat suci itu juga dianggap sebagai siar agama Islam, dan tidak perlu dilarang.” Hanya saja yang tidak dibenarkan adalah jangan mengunakan ayat suci tersebut, bertujuan untuk menjelek-jelekkan orang, memfitnah atau mengecilkan orang lain,” katanya.
Lebih jauh ia menjelaskan, di dalam ajaran agama manapun, jelas tidak dibenarkan mempergunjingkan atau menceritakan aib orang.Apalagi,saat membahas keburukan orang itu, membawa-bawa pula ayat Al Quran tersebut.
“Jadi ayat Al Quran itu harus benar-benar dijaga kesuciannya dan jangan sampai ternoda oleh orang-orang yang salah dan tidak dapat menghargainya.Ini yang perlu dipikirkan agar jangan orang sembarangan menggunakan ayat suci pada saat kampanye di masyarakat,” tegas Abdullah Syah yang tokoh agama di Sumut.
Caleg Berjilbab Di Partai Demokrat Kristen
- Seorang wanita muslim muda berkerudung telah bergabung dengan Partai Demokrat Kristen di Brussels untuk menjadi yang pertama dan satu-satunya Muslim wanita berkerudung di sebuah partai politik Kristen dengan kemungkinan masuk parlemen.
Mahinur Özdemir, yang berlatar belakang Turki, berkata dia menemukan beberapa idealismenya dalam dasar-dasar Partai Kristen Demokrat.
“Saya percaya pada nilai-nilai kemanusiaan dan menghargai kepercayaan agama orang, dan saya menemukan Christian Democratic Party mempunyai platform seperti itu,” ujar Özdemir yang dilansir dari Al Arabiya, saat beristirahat setelah membagikan pamflet pencalonannya ke pejalan kaki di pasar.
Potret wanita muda ini telah menarik perhatian beberapa orang, kebanyakan orang asing yang mengunjungi misa di Saint-Josse dan Schaerbeek, di mana Özdemir menjadi dewan kota.
Membangun dukungan dari warga Belgia asal Turki, wanita 27 tahun yang lulus dalam Administrasi Publik dari Université Libre de Bruxelles ini berharap memenangkan kursi. Untuk komunal (kota) pada tahun 2006, telah menerima sejumlah besar suara, di Belgia, pemilih dapat memilih baik berdasarkan partainya, atau menyesuaikan pilihan mereka dengan memilih kandidat calon yang ada pada daftar partai.
Meskipun dia aktif dalam politik dan berbicara bahasa Perancis dengan baik, kehadiran Özdemir dalam kancah politik telah menyuarakan keprihatinan atas keberhasilannya di masa depan.
Safiya Bourfah, calon dari Partai Sosialis, menyatakan keprihatinan atas masa depan calon anggota parlemen yang memakai hijab di dalam parlemen. “Jika calon berkerudung menang, saya takut dia akan akan menghadapi tantangan-tantangan lainnya karena ia diharapkan untuk mewakili semua segmen masyarakat dan tidak semua orang Belgia akan menyetujuinya,” ujar Bourfah kepada Al Arabiya.
Namun perdebatan mengenai calon berkerudung menunjukan untuk perubahan komposisi identitas Kristen Eropa yang tidak lagi hanya “Kristen”.
Özdemir mengatakan memakai kerudung dalam Islam merupakan sesuatu yang tidak menghalangi aktivitas politiknya dan tidak boleh dijadikan sebuah kontroversi. “Saya mengerudungi rambut saya, tetapi saya tidak mengerudungi pikiran saya dan saya menasihatkan untuk orang-orang yang mengkritik hijab saya untuk pergi ke dokter mata karena mata mereka yang dikerudungi oleh prasangka,” kata Özdemir.
Sementara itu, tampaknya partai yang didukung oleh Özdemir mencoba untuk menyembunyikan kerudung yang dipakai oleh Özdemir dalam pamfletnya. Namun, partai tersebut menyangkal bahwa bukan mereka yang meminta untuk menyembunyikan kerudung Özdemir. Mereka menyalahkan pembuat pamflet tersebut.
Özdemir pada mulanya terkejut dan merasa tersinggung atas hal tersebut, namun, kemudian setelah berbicara kepada penerbit pamflet itu, mengetahui bahwa hal tersebut bukanlah kesalahan partainya.
Akan tetapi, menurut radio Belgia, RTBF, ini bukanlah pertama kalinya Partai Kristen Demokrat mencoba menyembunyikan kerudung yang dipakai Özdemir. Pada tahun 2006, hal serupa juga terjadi.
Lahir di Brussels dari keluarga pedagang Turki, yang ayahnya (Hasan Özdemir) juga terlibat dalam politik, Özdemir mempelajari bahasa latin, sains, dan matematika di Institut des Dames de Marie di Saint-Josse, “Saya ingin belajar hukum, saya ingin menjadi pengacara, tetapi saya tidak pernah melakukan itu ketika saya mengetahui bahwa diharuskan untuk melepas kerudung. Saya tidak bisa melakukan itu.”
Itulah awal wanita yang memakai kerudung sejak berusia 14 tahun tersebut belajar ilmu politik di ULB. Özdemir pada tahun 2004 akhirnya memutuskan untuk memulai dalam bidang politik di tingkat lokal, “untuk menjadi warga negara yang aktif. Baik dalam hidup atau dalam politik, saya harus berjanji untuk mengubah hal-hal dalam hidup dan saya telah memutuskan untuk bertindak.”
Mempresentasikan diri sebagai “satu-satunya wakil dari Belgia yang memakai kerudung, Mahinur Özdemir mengkonfirmasikan, jika terpilih, ia akan bersumpah akan terus memakai kerudung” terutama karena tidak adanya larangan hukum mengenai itu di Parlemen Brussels.
“Memakai kerudung yang merupakan bagian dari identitas seseorang dan Özdemir adalah simbol wanita Muslim bebas dengan visi politik,” Lubna Zaytuni, seorang pelajar Perancis di Brussels, menyatakan kepada Al Arabiya. (iw/ala/iie/lm/pl) dikutip oleh www.suaramedia.com
Hina Islam BBC Tolak Minta Maaf
BBC menolak permintaan dari Muslim British Council (MCB) atau Dewan Muslim Inggris untuk mengudarakan permintaan maaf atas pernyataan yang dilakukan oleh seorang panelis.
BBC, dalam program Question Time menampilkan mantan editor Daily Telegraph, Charles Moore, yang menuduh bahwa Dewan Muslim Inggris telah mendorong pembunuhan pasukan Inggris.
Dia mengatakan bahwa Dewan enggan mengutuk pembunuhan dan penculikan dari tentara Inggris di Irak dan Afghanistan, dan bahwa kegiatan tersebut dianggap oleh organisasi ini sebagai “hal yang baik.”
Mengikuti siaran tersebut, perusahaan dilaporkan telah membayar £ 30.000 kepada Dewan Muslim Inggris dan memberikan sebuah permintaan maaf lewat website Question Time.
Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Jumat, BBC berkata: “Question Time selalu menampilkan perdebatan yang panas dan luas. Ada saat dimana terkadang perdebatan tersebut menyebabkan ketidakadilan bagi orang-orang yang tidak hadir disana untuk menyampaikan pandangan mereka, dan ini merupakan salah satu dari saat-saat seperti itu. ”
Namun, pemimpin-pemimpin BBC menolak sebuah permintaan untuk menayangkan permintaan maaf tersebut melalui televisi ketika acara yang digawangi oleh presenter veteran Sir David Dimbleby tersebut berlangsung.
Pihak dalam BBC mengatakan: “Kami tidak menyepakati untuk menayangkan ucapan permintaan maaf di udara. Itu bukan bagian dari acara ini.”
Sebelumnya, MCB yang telah menyampaikan secara resmi surat keluhan kepada BBC setelah siaran pada bulan Maret tersebut dan mengancam tindakan hukum, sehingga perusahaan tersebut menawarkan sebuah permintaan maaf.
Sekjend MCB, Dr. Muhammad Abdul Bari berkata: “Jenis pernyataan seperti ini sangat merusak dan banyak keluhan yang kami terima dari para pendukung Muslim yang mengatakan mereka sangat terganggu dengan komentar-komentar tersebut.
Bahkan, ketika seorang lelaki Inggris bernama Ken Bigley telah diculik di Irak , kami mengirim utusan ke sana untuk memohon pembebasan. Ironisnya, hal ini justru membuat kami dianggap melakukan terorisme di luar negeri.”
Question Time direkam satu jam sebelum diudarakan agar pengacara dapat memeriksa konten yang mungkin mengandung fitnah dalam komentar-komentarnya. Dan setelah diperiksa, diyakini bahwa komentar yang dibuat Moore tidak merupakan pelanggaran hukum, memang dianggap provokatif namun tidak melanggar aturan hukum resmi.
Moore, mantan editor di Daily Telegraph, berbicara mengenai protes yang dilakukan umat Islam dalam parade penyambutan tentara Inggris di bulan Maret.
Selama acara tersebut, Moore berkata: “Saya telah pergi ke MCB berkali-kali, dan berkata,”maukah kamu mengutuk pembunuhan dan penculikan dari tentara Inggris di Irak dan Afghanistan?”, Dan mereka mengatakan tidak akan. Karena peperangan ini adalah di negara-negara Muslim, mereka tidak akan melakukan hal ini. Mereka melakukan satu hal yang dapat dimengerti dengan baik, mereka bertentangan dengan perang. Itu adalah hal yang sah.”
Moore telah berbicara dua hari setelah parade penyambutan Royal Anglian di Luton. Resimen itu terganggu oleh sebuah demonstrasi anti-perang dengan protes Muslim extrimis. Mereka melambaikan papan-papan bertuliskan slogan: “Prajurit Anglian: Penjagal Basrah” dan “Prajurit Anglian: pengecut, pembunuh, extrimis”.
Semua panellis mengutuk tindakan pemrotes tersebut, tetapi hanya Moore, yang sekarang menjadi penulis biografi politik, menyebutkan MCB, yang mengatakan pada situs web yang tujuannya adalah untuk bekerja yang lebih mendapat penerangan-penerangan apresiasi Islam dan umat Islam yang lebih luas di masyarakat, sebagai sasaran kritik.
www.suaramedia.com
Click Video
Penumpang Terakhir Titanic Tutup Usia
Southampton – Satu-satunya penumpang selamat kapal layar legendaris ‘Titanic’, Millvina Dean, akhirnya tutup usia pada 97 tahun. Perempuan yang berada di dalam Titanic ketika masih berusia dua bulan itu menyerah kepada pnemunoia yang selama ini dideritanya.
Perjalanan Millvina berada di dalam kapal itu karena kedua orangtuanya memutuskan untuk meninggalkan Inggris dan mengadu nasib di AS. Ayahnya memiliki keluarga di negara bagian Kansas dan berencana membuka toko tembakau.
Sebab itulah ia memboyong keluarganya, termasuk bayi Millvina yang masih berusia dua bulan, menuju tanah yang menjanjikan sejuta impian itu. Di kapal yang tergagah pada jaman itu, keluarga mereka menempati kabin kelas tiga.
Pada saat kapal menabrak gunung es, demikian diberitakan Guardian, Senin (1/6), sang ayah menyuruh mereka untuk tetap di tempat sementara ia memeriksa apa yang terjadi di luar. Sat kembali, ia mengatakan pada sang istri untuk bersiap evakuasi ke dek atas.
Millvina aman berada dalam dekapan sang ibu dan saudara laki-lakinya yang menyelamatkan diri ke sekoci. Mereka termasuk 706 penumpang selamat, sedangkan sang ayah ikut tewas bersama 1.500 penumpang lainnya di kapal congkak yang naas itu.
Insiden yang terjadi pada 14 April 1912 dan mendunia itu membuatnya tenar, meski ia tentunya sama sekali tak ingat apa yang terjadi. Pekan lalu, perempuan kelahiran 2 Februari 1912 ini diopname di rumah sakit karena pnemonia.
Sakit yang dideritanya mengundang rasa prihatin dari bintang film yang berperan dalam film layar lebar Titanic, Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet. Keduanya ikut meringankan biaya perawatan Millvina selama di rumah sakit. Namun sayang, ia akhrinya meninggal dunia Minggu 31 Mei 2009 waktu setempat, atau hari ini WIB.
Millvina yang selama ini tinggal di wilayah Ashurst di New Forest, Inggris, juga terpaksa menjual sejumlah barang milik keluarganya dalam sebuah acara lelang untuk biaya pengobatannya. Barang-barang yang dijual antara lain sebuah koper berisi pakaian yang diberikan untuk keluarganya ketika mereka tiba di Amerika.
Selain itu juga sebuah surat yang dikirimkan kepada ibunya dari Titanic Relief Fund, yayasan yang menggalang dana untuk korban kapal itu. Namun kemudian para pembeli barang-barang yang dijual mengembalikan benda-benda kenangan itu.
Sebelum Millvina, penumpang selamat lain yang selamat dan telah meninggal dunia adalah Lillian Asplund, warga AS terakhir yang selamat dan meninggal pada 2006 di usia 99 tahun. Kemudian Barbara Joyce West Dainton asal Inggris yang menghembuskan napas terakhir November 2007 dalam usia 96 tahun. Semuanya masih bayi ketika berada dalam Titanic.
Jerry D Gray Membongkar Bobrok AS
Jerry D Gray, penulis sejumlah buku laris, ternyata seorang mualaf yang sangat mencintai Indonesia dengan mengurus naturalisasinya dari warga AS ke WNI, menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Jakarta.
“Bagi saya Indonesia itu ibarat surga. Saya sudah ke banyak negara dan di sini saya mendapatkan kedamaian bergaul dan berinteraksi sosial dengan komunitas Muslim terbesar di dunia,” ujar Jerry, di Bekasi, Minggu.
Beristrikan seorang perempuan Tasikmalaya dan dikaruniai seorang anak laki, Jerry menyatakan memiliki banyak kegiatan di Indonesia yang membuat dia makin betah yaitu memberikan pengajian, berbagi pengalaman dan menulis buku.
Tidak banyak orang yang menyangka Jerry D. Gray, warga AS yang pernah menjadi prajurit angkatan udara negara adidaya itu, ternyata seorang mualaf yang tekun beribadah.
Jerry mengatakan, menjalankan ajaran Islam secara kaffah sebagaimana diajarkan dalam kitab suci Al`Quran. Semua itu baru terlaksana setelah berproses dalam waktu cukup lama.
Bagi penulis sejumlah buku di antaranya “Deadly Mist”, “Demokrasi Barbar ala AS` dan “Dosa-dosa Media Amerika” itu, ketertarikan terhadap Islam dimulai justru dari tanah Arab tempat ajaran Islam itu sendiri pertama kali diturunkan kepada Rasul Allah SWT.
Sebagai AU yang ditugaskan di Arab Saudi, ia melihat betapa khusyuk dan ikhlasnya orang menjalankan shalat hingga mau meninggalkan segala aktivitas mereka termasuk berkaitan dengan uang sekalipun.
“Ketika mengalun suara adzan, dipinggir jalan orang pada shalat, karyawan toko dan mall semua shalat dan barang dibiarkan begitu saja namun tidak ada yang hilang. Semua melaksanakan shalat dengan khusuk,” ujar Jerry, yang pernah selama 2,5 tahun menjadi wartawan di sebuah TV swasta di Indonesia itu.
Ia menjadi bingung sekaligus takjub. Setelahnya kesadaran untuk mengenal ajaran Islam langsung tak tertahankan. Ia melihat cahaya iman justru setelah melihat orang-orang melaksanakan Shalat.
Jerry mengaku ketika pertama kali memegang kitab suci Al Qur`an badannya langsung merinding, ketika akan membaca hatinya bergetar dan sejurus kemudian suara tangis mengiringinya membaca terpatah-patah ayat Al Qur`an.
Setelah hatinya merasa mantap ia kemudian memilih menjadi mualaf di Arab Saudi. Keislamannya belum serta merta jadi mantap. Ia pertama kali hanya melaksanakan shalat dua kali dalam seminggu.
“Ketika tertimpa musibah saya bawa shalat, ternyata saya dapatkan ketenangan dan musibah hilang. Setelah itu saya makin rajin shalat,” ujar Jerry yang kini berisitrikan wanita asal Tasikmalaya Jabar itu.
Kini dalam kesehariannya, Jerry seringkali dimintai pandangan-pandangannya tentang Islam, demokrasi, dan terorisme. “Islam itu agama rahmatan lil alamin dan orang Islam bukanlah teroris,” ujar ayah satu anak itu.
Bagi mantan wartawan CNBC itu, Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam terbesar di dunia merupakan surga yang ada di dunia. Ia pun kini tengah mengurus naturalisasi dengan menjadi WNI sebagai ranah perjuangannya terhadap Islam. -
Setahun Lalu Insiden Itu Terjadi….
Sebanyak 70 orang anggota jamaah Ahmadiyah melakukan tobat massal di lapangan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Senin, dengan menyatakan kembali ke ajaran Islam.
Jamaah Ahmadiyah yang bertobat massal di hadapan ribuan umat Islam berbagai kelompok, diantaranya Front Pembela Islam (FMI), Forum Umat Islam dan Gerakan Reformis Islam (Garis) itu, berasal dari Desa Tenjowaringin, Kecamatan Selawu, Tasikmalaya Jawa Barat.
Tobat massal itu dipimpin Sekretaris Jendral FPI Ahmad Sobri Lubis dan disaksikan sejumlah ulama Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Seluruh mantan anggota jemaah Ahmadiyah itu dibimbing mengucapkan dua kalimat sahadat sebagai syarat kembali ke ajaran Islam, diiringi takbir ribuan umat Islam yang hadir di acara itu.
“Mereka kembali ke ajaran Islam tanpa ada paksaan. Jadi, kami semua akan membimbing mereka untuk kembali keajaran yang benar,” kata Sekjen FPI di sela acara itu.
Menurut dia, selain membantu mantan jamaah Ahmadiyah kembali ke Islam, pihaknya akan membantu pembangunan masjid Al-Aqsha di Tenjowaringin, Tasikmalaya.
“Mereka yang kembali ini sebelumnya tidak paham apa yang dilakukannya. Mereka hanya ikut-ikutan dan tidak tahu ajaran yang dianutnya. Untuk itu, saudara kita ini harus dibimbing,” katanya dengan suara lantang.
Seorang anggota jamaah Ahmadiyah bernama Etik menuturkan, sebelum ini 80 persen warga Desa Tenjowaringin adalah penganut Ahmadiyah, namun jumlahnya terus berkurang setelah banyak yang kembali ke ajaran Islam. “Kami kembali ke ajaran Islam atas dasar keinginan pribadi, bukan paksaan,” akunya. –
Dalam aksi ini sekitar 250 orang dari Front Pembela Islam (FPI) berdemo lagi menuntut pembubaran Ahmadiyah. Aksi mereka longmarch dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) ke Monas memenuhi separuh badan Jalan MH Thamrin.
Pantauan detikcom, di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2009), sekitar 250 aktivis FPI itu berdemo memakai gamis putih plus rompi warna senada bertuliskan FPI.
Beberapa panji dan spanduk tampak dibawa serta. Antara lain spanduk berukuran 2×1 meter persegi bertuliskan ‘Bubarkan Ahmadiyah. Kami Benci Presiden Banci. Ayo Tolak Boneka Asing!’ dan ‘Tolak Lintah Darat/Neolib Sekarang Juga’.
“Bubarkan Ahmadiyah. Kepada ketiga capres nanti yang tidak mau membubarkan Ahmadiyah, maka kami tidak akan memilih mereka pada Pilpres 8 Juli. Yang kita minta bukan SKB (Surat Keputusan Bersama), tapi Keppres pembubaran Ahmadiyah,” teriak Sekjen FPI M Al Khatab dalam orasinya tepat di depan Hotel Grand Indonesia Kempinski.
Kemudian mereka meneruskan longmarch menuju Monas, sehingga separuh badan Jalan MH Thamrin menuju Monas pun tertutup.
Protes dan Dongkol Awas Tol Termahal !!
Tahukah “jalan tol” termahal di dunia? Alvin Lie punya jawabnya. Politisi PAN ini menyatakan, “jalan tol” termahal di dunia terdapat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.
Untuk melalui jalan sekitar 1,5 km ini pengendara mobil harus merogoh kocek Rp 4.000, lebih mahal dari tol sektor Kapuk-Cengkareng.
“Setiap mobil masuk dipungut Rp 4.000 yang konon untuk biaya parkir, kenyataannya setiap mobil parkir maupun tidak tetap dipungut biaya,” kata Alvin Lie kepada detikcom, Senin (1/6/2009).
Setiap mobil yang hanya mengedrop atau mengangkut penumpang
juga kena biaya, padahal panjang jalan itu hanya 1,5 km saja.
“Itu ibarat membayar tol,” kata anggota DPR ini.
Alvin juga mengeluhkan pelayanan Terminal 3 Soekarno-Hatta. Menurutnya gerbang “tol” itu hanya dibuka satu pintu hingga pukul 07.00 WIB, dan itu pun dioperasikan serba manual.
“Antreannya jadi panjang, padahal keberangkatan pagi sudah mulai sibuk sejak pukul 06.00 WIB,” katanya.
BBC Tuduh Dewan Muslim Provokasi Pembunuhan
Kantor berita kenamaan Inggris, BBC, baru-baru ini melayangkan nota permohonan maaf kepada Dewan Muslim Britania terkait tuduhannya yang mengasumsikan jika Dewan Muslim Britania mensupport umat Muslim di beberapa negara konflik untuk membunuh tentara Inggris.
Selain melayangkan nota permohonan maaf dan mempublikasikannya, BBC juga membayar denda kepada Dewan Muslim Britania sebesar 30.000 Pounsterling.
Surat Kabar Times edisi hari Sabtu (30/5) kemarin melansir, bahwa dalam sebuah acara bertajuk “Waktu Bertanya” yang digelar BBC beberapa pekan lalu, mencuat sebuah tuduhan bahwa Dewan Muslim Inggris mendanai dan menyuruh orang-orang Afganistan untuk membunuh pasukan Inggris yang bertugas di sana.
Tuduhan tersebut datang dari Charles Moore, mantan Pemimpin Redaksi surat kabar Daily Telegraph yang menjadi pembicara kunci di acara tersebut.
Dewan Muslim Britania pun mereaksi dan mengecam tuduhan tak berdasar tersebut. Pihak dewan kemudian melaporkan tuduhan pencemaran nama baik itu ke pengadilan.
www.hidayatullah.com
Geert Wilder Ditolak Berkunjung Ke Nashville
Sebuah hotel di Nashville menolak sebuah konferensi yang sedianya akan dilaksanakan di tempat tersebut atas alasan keamanan. Konferensi tersebut mengundang politisi Belanda kontroversial dan pembuat film ‘Fitna’
Sebuah kelompok bernama New English Review menandatangani kontrak pada Januari untuk menggunakan Hotel Loews Vanderbilt untuk konferensi dua hari yang bernama “memahami Jihad di Israel, Eropa dan Amerika.”
Geert Wilder, sang pembuat film Fitna yang dituding telah menghina muslim akan menjadi pembicara utama. Film tersebut menyinggung Islam dan Wilders dilarang memasuki Inggris.
Selain presentasi video oleh Wilders, yang menghadirkan penulis holocaust Richard L. Rubenstein, analis jihad senior, Hugh Fitzgerald, penulis buku “Warisan Jihad” Andrew G. Bostom, penerbit New English Review Rebecca Bynum, Ketua Pusat Kajian Politik Islam Bill Warner dan Paul “Dave” Gaubatz, mantan agensi federal yang membimbing proyek riset mengenai kegiatan Islam di AS yang “mengadvokasi tindakan teroris terhadap ketertarikan AS.”
Namun, Gaubatz menyatakan bahwa dia mendapat informasi bahwa panitia acara tersebut mendapatkan beberapa keluhan kepada hotel dari pihak pro-Islam, dan dia sendiri juga menerima beberapa ancaman.
Dia menyatakan bahwa acara tersebut akan dipindahkan ke hotel yang baru.
Tom Negri, manajer hotel, menyatakan pada koran Tenessian bahwa pembatalan tersebut disebabkan kepedulian hotel pada kesehatan dan keamanan pegawai dan para tamu. Namun dia menolak menjelaskan lebih lanjut mengenai alasannya.
Rebecca Bynum, senior editor web New English Review, menyatakan bahwa tidak ada ancaman yang berarti jika hotel tersebut tidak membatalkan persetujuan tersebut.
“Membatalkan pertemuan kami tanpa ancaman yang jelas merupakan hal yang sangat menarik, ” menurut Bynum.
Web site kelompok tersebut menyatakan, “Loews Vanderbilt Plaza Hotel takut pada intimidasi dan menolak menjadi tuan rumah acara kami.”
Bynum menyatakan pihak Loews tahu topik yang akan dibahas pada pertemuan tersebut dan mengkhawatirkan masalah keamanan yang mungkin terjadi.
Di laman milik The New English Review tidak mencantumkan deskripsi dan tujuan dario kelompok itu sendiri.
Bynum menyatakan bahwa organisasi tersebut bertujuan untuk “meningkatkan kewaspadaan tentang Jihad dan semua hal yang berhubungan dengannya, yang tidak sepenuhnya berhubungan dengan kekerasan.”
Simposium tersebut dimulai pada hari Jumat, namun hanya undangan yang boleh menghadiri acara tersebut.
Wilders telah diundang ke Inggris untuk screening khusus Fitna untuk parlemen yang menghadirkan kontroversi karena melanggar haknya untuk menampilkan film tersebut.
“Fitna” menghadirkan ayat Al Quran yang dipadukan dengan serangan teroris pada 9/11, serangan di Madrid pada 2004 dan serangan di London pada 2005.
Film tersebut menyerukan pada kaum muslim untuk menghilangkan ayat ”dakwah kebencian” dari Al Quran.
Sejak saat itu, Wilders hidup dalam perlindungan polisi selama 24 jam sejak 2004 karena merasa Al Qaeda mengincarnya.
Program tersebut melibatkan Gaubatz sebagai pembicara atas subjek “para mujahidin tidak menghormati kaum lemah,” dan Wilders juga akan menyampaikan subjek pokok berjudul “Kenapa saya berada di Amerika Memperjuangkan Kebebasan Berbicara.”
“Obama berkata dengan penuh keyakinan bahwa ketika membicarakan dunia Muslim, dia mengumumkan bahwa, kepercayaan yang menyatukan kita telah menegang.”
Dokumentari 17 menit Wilder , “Fitna” yang berarti ”perselisihan”, menyamakan Al Quran dengan manifesto Hitler, ”Mein Kampf”
Otoritas yudisial di Amsterdam baru baru ini mengkonfirmasikan bahwa mereka akan menuntut Wilders untuk mempertanggungjawabkan apa yang dia sampaikan pada film “Fitna”.
“Fitna”, mengandung gambar dari beberapa pemuka agama Islam, termasuk satu pemuka agama yang menuntut agar semua Yahudi dipenggal.
Wilders merilis film ini setahun yang lalu ketika pemimpin Belanda menakutkan terjadinya reaksi kekerasan serupa atas kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.
Kritik sebelumnya mengekspresikan ketakutan jika film tersebut menghadirkan adegan Al Quran yang dibakar, namun endingnya menawarkan sebuah kejutan.
Saat seseorang membalik Al Quran, suara sobekan terdengar.
“Suara yang anda dengar berasal dari suara buku telepon yang disobek. Terserah kaum Muslim sendiri apakah mereka akan merobek robek ayat mereka yang penuh kebencian,” teks yang nampak di layar menunjukkan. “Hentikan Islamisasi, Pertahankan Perdamaian kita,” kesimpulan dari film tersebut.
Wilders menerima beberapa ancaman pembunuhan. Perlindungan dari polisi yang didapatnya selama 24 jam didasarkan dari peristiwa pembunuhan pada 2004 kepada Theo Van Gogh, sutradara yang menuduh Islam merupakan agama yang menghalalkan kekerasan wanita.
Warga Arab Protes Ruhut Menghilang
Boleh-boleh saja membela capres-cawapres yang dijagokan bila diserang kubu lawan. Tapi, sebaiknya tak perlu menyinggung soal SARA. Inilah akibatnya bila tak hati-hati bicara mengenai isu sensitif itu. Warga keturunan Arab mendesak SBY agar memecat Ruhut Sitompul. Pernyataan Ruhut dalam sebuah diskusi dianggap telah melecehkan etnis tersebut.
“Pernyataan Ruhut itu kontradiktif dengan apa yang diinginkan SBY dalam berkampanye. SBY meminta dalam berkampanye harus dilandasi kesantunan dan etika moral. Ini kan malah jadi blunder dan bisa merusak citra SBY sendiri,” tegas Ketua Umum PB Pemuda Al Irsyad, Geiz Chalifah.
Sebelumnya, saat menjadi pembicara diskusi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pekan lalu, Ruhut yang menjadi anggota tim sukses SBY-Boediono mengatakan Arab tak berbuat apa-apa terhadap Indonesia. Kebetulan, lawan bicaranya adalah Fuad Bawazier, anggota tim sukses JK Win yang masih keturunan etnis Arab.
Geiz menilai pernyataan Ruhut dinilai sudah berbau rasis. Ia mendesak SBY untuk memberikan sanksi kepada Ruhut. Tak hanya itu, bekas politisi Partai Golkar itu juga harus meminta maaf secara terbuka.
Menurut dia, jika tak ada sanksi tegas terhadap Ruhut maka kejadian serupa bisa terulang. “Bisa merusak budaya serta kesantunan dalam berpolitik,” ujarnya.
Geiz coba mengingatkan Ruhut bahwa cukup banyak kontribusi etnis dan bangsa Arab terhadap republik. “Negara mana yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia? Mesir. Belum lagi soal bantuan lunak bahkan nyaris tanpa syarat yang diberikan negara-negara Timur Tengah pada Indonesia. Coba, apakah dia bisa ingat berapa banyak pejuang Indonesia yang berasal dari etnis Arab. Lalu apakah dia tahu, etnis mana yang paling menentang saat Belanda menetapkan ada pembagian kasta dalam strata kependudukan di Indonesia? Lalu dalam Majelis Dzikir SBY, berapa banyak habib yang ada di sana,” ujarnya.
Secara terpisah, Ketua Sekjen Persaudaraan Nasionalis Arab Indonesia, Rusdi Basalamah juga meminta Ruhut meminta maaf secara terbuka. “Pernyataannya sangat menciderai dan melukai warga keturunan Arab. Juga menciderai rasa kebangsaan dan kebhinekaan yang selama ini menjadi pedoman dan semangat SBY,” ujarnya.
Ruhut mengatakan dirinya tak bemaksud menyudutkan etnis tertentu saat diskusi di DPD pekan lalu. Ia hanya ingin memberi pelajaran kepada Fuad Bawazier yang dianggapnya telah melecehkan pasangan SBY-Boediono
“Kepada rekan-rekan etnis tertentu, kenapa saya ‘menghajar’ Fuad Bawazier? Karena dia kurang ajar! Ia mengatakan SBY dan Boediono harus melakukan tobat nasuha. Pak Boediono dikatakan sebagai Ayatollah-nya neolib, antek-anteknya Amerika,” bebernya
Menurut Ruhut, SBY dan Boediono adalah sosok yang santun dan sederhana. “Silakan bandingkan kekayaan Pak Boediono dengan bekas Menkeu yang lainnya. Dia sangat sederhana, santun, jujur dan di international mengakuinya,” ujarnya.
Ia meminta black campaign terhadap capres maupun cawapres dihentikan. “Makanya, kalau masih seperti itu saya tantang untuk berdebat dan jangan menjelek-jelekkan Pak SBY dan Boediono,” pintanya. (rls) www.SuaraMedia.com
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah