Menteri agama Maftuh Basyuni menilai Ahmadiyah sama dengan NU dan Muhamadiyah. Namun,sepanjang Ahmadiyah mengaku beragama Islam dan menghentikan kegiatan menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam, maka tidak menjadi masalah. Apakah ini Menteri agama melancarkan ” Perang ” dengan Ulama dan umat islam ?
Menteri Agama (Menag) RI Muhammad Maftuh Basyuni menegaskan Ahmadiyah tidak perlu dibubarkan asalkan kegiatan yang dilakukan tidak menyimpang dari ajaran agama Islam.
“Silahkan saja Jamaah Ahmadiyah melakukan kegiatan, tapi jangan keluar dari koridor Islam yang membingungkan umat dan menyebabkan munculnya pertentangan,” ujarnya usai silaturrahmi dengan tokoh-tokoh agama dan pegawai Kanwil Depag di aula kantor Gubernur Babel, Kamis.
Menurut dia, Ahmadiyah itu sama dengan organisasi lainnya seperti NU, Muhammadiyah, dan organisasi Islam lainya yang diberi kebebasan menjalankan kegiatannya, namun harus sesuai dengan aturan.
“Kalau kegiatannya sudah meresahkan umat dan terganggunya keamanan serta ketertiban masyarakat, ya jelas-lah kita larang. Jadi, yang kita larang dan harus diluruskan itu kegiatannya yang menyimpang dari Alquran dan Hadist,” katanya.
Namun, kata dia, sepanjang penganut Ahmadiyah mengaku beragama Islam dan menghentikan kegiatan menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam, maka tidak menjadi masalah.
“Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri itu adalah mengatur tentang hal tersebut. Perlu saya tekankan, SKB itu bukanlah mengintervensi keyakinan warga dalam beribadah, tapi meluruskan agar menjalankan kegiatan ibadah sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Terkait dengan pengawasan terhadap ajaran Ahmadiyah yang belakangan dihebohkan masyarakat karena tidak sesuai dengan syariat Islam, ia menilai hal itu menjadi tanggungjawab bersama.
“Mengawasi kegiataan Jamaah Ahmadiyah itu tanggungjawab kita bersama. Tidak cukup hanya dengan SKB, tapi perlu peran aktif umat-umat Islam yang berada di penjuru daerah,” ujarnya.
“Lebih dari 80 persen caleg PKS berusia di bawah 50 tahun. Malahan ada yang berusia 26 tahun. Bisa jadi nanti di DPR tidak akan terlihat lagi anggota DPR yang tertidur saat sidang,” ujar Direktur Reform Institute Dr Yudi Latif.
JAKARTA -- Meski termasuk partai politik berusia muda, Partai Keadilan Sejahtera sukses melakukan alih generasi. Ada perubahan yang muncul: heterogenisme pemikiran dan perilaku politik. Nasib PKS ke depan ditentukan kaum mudanya.
Generasi pertama PKS sebentar lagi akan berlalu dan menjadi catatan sejarah. Sementara kaum mudanya bergerak cepat menyongsong masa depan dengan semangat pembaruan.
Pada generasi pertama, nyaris semua tokoh PKS berlatar belakang pendidikan agama dan mereferensi pemikir Islam Timur Tengah dalam literatur pemikirannya. Mereka misalnya Abu Ridha, Hilmi Aminudin, dan Rahmat Abdullah.
Direktur Reform Institute Dr Yudi Latif melihat, ruang publik mereka sempit. Karena represi Orde Baru, maka terjadi proses kristalisasi dan internalisasi ideologi mereka. Lain halnya dengan generasi kedua, mereka sudah mulai heterogen, meski fondasi pendidikan agamanya masih sangat kuat. Hal itu bisa dilihat dari munculnya tokoh-tokoh seperti Mutammimul Ula, Untung Wahono, Hidayat Nur Wahid, dan Didin Hafiduddin.
Menurut Yudi, literatur non-agama menjadi bagian yang mempengaruhi pemikiran mereka. Konsistensi politik pada masa mereka juga sedikit agak berkurang represinya.
Perkembangan lebih lanjut menjadikan generasi ketiga nyaris kebalikan dari generasi pertama. Pada generasi ini, kebanyakan kadernya berlatar belakang pendidikan umum. Nama-nama yang muncul adalah Zulkieflimansyah, Al Muzammil Yusuf, Anis Matta, Mahfudz Sidik, dan Fachri Hamzah.
Ruang publik mereka cukup luas karena situasi politik memberikan ruang yang relatif luas untuk ekspresi politik. Literatur yang digunakan pun sudah banyak ragam. Bahkan, referensi Barat juga turut mempengaruhi pemikiran mereka. Demikian juga dengan konsistensi politik, yang nyaris tanpa represi dari Orde Baru menjadikan ideologi mereka agak cair.
Dalam hal regenerasi, dosen Fisipol UGM Ary Dwipayana menyebutkan bahwa kaum muda menjadi kekuatan inti PKS. Hal ini juga dibenarkan Anis Matta, Sekjen PKS. “Lebih dari 80 persen caleg PKS berusia di bawah 50 tahun. Malahan ada yang berusia 26 tahun. Bisa jadi nanti di DPR tidak akan terlihat lagi anggota DPR yang tertidur saat sidang,” ujarnya.
Jika di DPR partai sudah menetapkan calonnya, tak demikian halnya dengan calon presiden. Untuk soal satu ini, PKS baru akan menentukan setelah pemilu legislatif. “Kalau misalkan perolehan suara kami kurang, kita akan melihat nanti di tahun 2009 siapa yang akan kami dukung,” ujar Anis.
Yang jelas, pilihan PKS tidak didasarkan pada figur tertentu. Pemilihan calon lebih ditentukan oleh faktor determinasi partai. PKS melihat, 100 tahun Kebangkitan Nasional merupakan bagian dari proses memunculkan pemimpin muda. Terkait hal itu, PKS akan berkomunikasi dengan elemen-elemen masyarakat sipil, ekonomi, dan politisi.
Jika PKS mampu meraup 20% suara pada Pemilu 2009, mereka akan memilih satu dari 100 tokoh tersebut. Apalagi, Presiden PKS, Tifatul Sembiring sudah memberi sinyal partainya akan meninggalkan Susilo Bambang Yudhoyono pada Pilpres 2009. Mereka lebih suka mengusung calon muda. Istilah mereka balita, bawah lima puluh tahun.
Bagaimana kira-kira prospek PKS di masa depan? Dalam dua pemilu lalu, PKS membuktikan bahwa mereka tidak mengusung simbolisme agama, melainkan menawarkan citra disiplin, pikiran murni, bebas korupsi, dan disiplin. Di sinilah mereka mampu menarik simpati.
PKS juga tidak mau masuk dalam ranah politik Islam yang terbagi-bagi menjadi modernis dan tradisional. Para analis melihat, PKS akan mampu meraih kedua ranah tersebut. Dari Islam modernis (yang jadi basis PBB, PAN, PPP, dan PBR) dan Islam tradisionalis (PKB dan basis-basis NU lainnya).
”Masa depan PKS ditentukan mereka sendiri, terutama kaum mudanya yang proaktif menjaring dukungan masyarakat,” kata pengamat politik UGM, Prof Mochtar Mas’ud.
Jadi, kalau sekarang PKS menyuarakan keinginan melakukan regenerasi kepemimpinan, bukan berarti sebuah pemikiran tanpa dasar. Setidaknya, mereka telah membuktikan mampu melakukannya.
Peringatan Isra’ Mi’raj dan Derita Bangsa Palestina
Tentu kita tak mengharap peringatan Isra Mi’raj hanya sebatas kenangan semata di saat al-Aqsha dan Palestina dalam kekuasaan kaum Zionis Yahudi Israel.
Penting mana, pesoalan nasib al-Aqsha dan umat Islam di Palestina atau masalah kemiskinan, kemerosotan moral, penanggulangan bencana alam dan berbagai persoalan lain di negeri ini?
Pertanyaan itu sering diajukan sebagian umat Islam di negeri ini seiring kondisi umaAl-Aqsha Mosque Palestinet Islam akhir-akhir ini. Jika melihat cermin kondisi umat Islam sekarang, kiranya pertanyaan itu sangat relevan. Di saat umat Islam semarak memperingati Isra Mi’raj dari istana hingga astana tanggal 27 Rajab kemarin, nasib Masjid al-Aqsha hingga hari ini tengah dalam rencana penghancuran oleh Zionis Yahudi Radikal Israel. Pertanyaannya kini, apakah kondisi (al-Aqsha) ini pertanda cermin kekhawatiran bagi umat Islam?
Al-Aqsha dan Masjid Kita
Di antara hikmah dan pelajaran penting dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah untuk mengingatkan bahwa umat Islam dalam kegiatan dan aktivitasnya harus dimulai dari masjid dalam rangka mencapai satu kebangkitan. “Tanpa itu umat Islam tidak mungkin bangkit”. Dalam Isra Mi’raj ada perintah penting berkaitan dengan perintah shalat. “Shalat adalah Mi’rajul Mukminin” (Dialog Jum’at, 10/08).
Tapi, pernahkah Anda berkeliling di sekitar tempat tinggal untuk melihat kondisi, misalnya shalat Shubuh berjama’ah di masjid? Terlihat umat Islam kurang begitu semarak, sehingga masjid menjadi sepi. Para da’i sering menggambarkan dalam ceramahnya, hanya kalangan orang tua atau kakek-kakek yang mengisi masjid saat shalat Shubuh. Bahkan, bukan karena kapasitas keislamannya yang mencla-mencle (kurang), sekedar identitas dan sebagainya, tapi kini cenderung kalangan umat Islam banyak yang lebih paham agama mulai meninggalkan masjid.
Memang, pada dasarnya shalat dapat dilakukan di mana saja asalkan tempat itu bersih dan layak untuk melakukan shalat, setiap tempat adalah masjid (kullu ardin masajid). Namun, dalam shalat Islam memberikan toleransi sekaligus solusi. Apabila umat Islam melakukan shalat di tengan jalan dapat mengganggu aktivitas kendaraan dan mengancam dirinya atau melakukannya di tempat-tempat lain yang tak layak dan kotor. Karena itu, masjid merupakan kebutuhan pokok (primer) untuk melakukan shalat.
Demikian dalam fiqh bahwa tidak sah seseorang memimpin (mengimami) shalat, karena tidak fasih membaca al-Quran. Hal ini, oleh sebagian kalangan (meski paham betul agama) merasa lebih baik memisahkan diri (tafaruq) dalam shalat berjama’ah di masjid. Pertanyaanya, kenapa tidak lebih awal memimpin shalat atau apakah tidak ada cara lain selain menganggap bodoh sang imam?.
Selain itu, mengenai ketepatan arah kiblat mushalla dan masjid, sebagian mempersoalkan bahwa banyak mushalla dan masjid di negeri ini yang kurang tepat dengan arah kiblat. Selama ini, memang arah kiblat lebih mengarah ke Barat, yang dalam alat ukur kompas atau peta cenderung mengarah ke Afrika. Ketidak-tepatan arah kiblat, juga telah membuat sebagian warga muslim merasa merasa kurang sah shalatnya di masjid bersangkutan. Apakah tidak lebih baik memperbaiki keadaan dari pada lari memisahkan diri meninggalkan masjid yang akhirnya terjebak perpecahan?
Perbedaan aliran paham keagamaan juga telah mengakibatkan seakan masjid yang semula menjadi rumah Allah (baitullah) menjadi tempat privat. Dalam shalat Shubuh, sebagian merasa amalan qunut adalah bid’ah, lalu merasa enggan melakukan berjama’ah di masjid yang menjalaninya atau sebaliknya. Begitu pun pada bulan Ramadhan, sebagian umat Islam ada yang merasa kurang nyaman melakukan shalat Tarawih di masjid yang notabene berbeda paham karena perbedaan jumlah bilangan raka’atnya.
Masih banyak persoalan-persoalan seperti itu yang menyulutkan umat Islam ke jurang perpecahan. Kini, umat Islam tak perlu lagi membuat suatu argument untuk menjauhi masjid. Karena itu, saatnya umat Islam mengembalikan fungsi utama masjid sebagai rumah Allah (baitullah) untuk mengakhiri persoalan umat Islam.
Lalu, mengapa Masjid al-Aqsha? Kekurang-pedulian umat Islam sendiri terhadap masjid, rupanya telah menurunkan juga kesadaran terhadap nasib Masjid al-Aqsha yang disebutkan dalam QS al-Isra ayat 1, “Mahasuci (Allah), Dzat yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS al-Isra [17]: 1).
Peristiwa Isra atau perjalanan malam dari Masjid Haram (Makkah) ke Masjid Aqsha (Palestina), dilanjutkan dengan Mi’raj (”naik”) ke Sidratul Muntaha menghadap Allah SWT (QS an-Najm [43]: 13-14). Peristiwa itu hingga kini sering diperingati umat Islam seluruh dunia dengan Isra Mi’raj. Isra Mi’raj merupakan mukjizat Nabi SAW setelah al-Qur’an, karena saat itu Nabi SAW menerima perintah Allah SWT berupa shalat lima waktu.
Dalam Tafsir Munir karya Nawawi al-Bantani, bahwa kata barakna hawlahu yang tercantum dalam QS al-Isra ayat 1 mempunyai dua makna keberkahan: Pertama, keberkahan dunia. As-Suyuti dalam Tafsir Jalalain, menafsirkan keberkahan itu dengan buah-buahan dan aliran-aliran sungai. Kedua, keberkahan pahala yang berlipat ganda. Masjid al-Aqsha (Palestina) merupakan tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjid Al-Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Rasulullah bersabda: “Shalat di Masjid al-Haram sama dengan 10.000 shalat di masjid lainnya. Dan shalat di Masjidku sama dengan 1000 shalat di masjid lainnya dan shalat di Masjid al-Aqsha sama dengan 500 kali shalat di masjid lainnya (HR al-Thabrani).
Demikian itu, mengabaikan Masjid Al-Aqsha berarti mengabaikan derajat dan keberkahan dari Allah SWT. Masjid Al-Aqsha merupakan tanggung jawab setiap umat Islam agar tetap terpelihara dalam pangkuan kaum Muslimin yang sampai kini sedang dikuasai Zionis Yahudi Israel?
Ironisnya, umat Islam selalu terjebak pada perdebatan-perdebatan yang tak membawa ke arah kemajuan umat Islam. Dalam reorientasi masalah al-Aqsha, misalnya, umat Islam malah mempertanyakan letak Masjid al-Aqsha. Perdebatan ini, terkait keberadaan Haikal Sulaiman yang dianggap karakteristik Masjid al-Aqsha. Mengkhawatirkan, umat Islam masih meragukan, bahkan tak tahu Masjid al-Aqsha di Palestina. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa pada masa Umar bin Khatab Haikal Sulaiman itu telah dipindahkan ke Masjid Al-Haram. Sebagian lagi menyebutkan telah dihancurkan.
Kini, Haikal Sulaiman atau Kuil Sulaiman tidak terbukti keberadaannya. Dengan dalih untuk mencari kuil, Israel melakukan penggalian (excapation) Masjid al-Aqsha yang Nabi SAW menyebutnya masjid berkubah hijau.
Israel membuat kekeliruan dan rekayasa sedemikian rupa melalui media massa, termasuk media massa Arab terhadap muslim di dunia dengan menampilkan Masjid Umar bin Khatab yang memiliki Qubbah al-Sakhra (Dome of The Rock) sebagai Masjid al-Aqsha.
Terowongan di bawah Masjid al-Aqsha yang dibuat Israel, tepatnya di bawah fondasi masjid diklaim sebagai sejarah mereka. Rencana Israel adalah menghancurkan Masjid al-Aqsha dan simbol-simbol Islam lainnya di al-Quds (Yerusalem). Israel mulai membangun Syinagouge tempat ibadah kaum Yahudi tahun 1996 di salah satu terowongan. Sebuah lembaga yang dibentuk rezim Yahudi Israel mengklaim, Synagouge ini telah dibangun untuk menerangi rumah-rumah di sekitar al-Quds selama lebih 3 ribu tahun dalam sejarah Yahudi. Sejarah yang mana? Kebohongan tentu tidak terbukti. Israel yang mereka (Yahudi) sebut negara adalah suatu bangsa Zionis yang dibentuk di atas darah rakyat Palestina.
Rencana kaum Zionis Yahudi Israel itu tentu merupakan penodaan atas kehormatan Islam yang telah diperjuangkan Nabi Saw dan umatnya sejak dulu hingga sekarang. Demikian itu, bagaimana sikap umat Islam? Tentu kita tak mengharap peringatan Isra Mi’raj hanya sebatas kenangan semata di saat al-Aqsha dan Palestina dalam kekuasaan kaum Zionis Yahudi Israel.
Konidisi Islam Masa Kini
Meski peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada 14 abad lalu, kiranya masih relevan dengan kondisi umat Islam sekarang. Maka, tepat kiranya kalau dikatakan Timur Tengah, khususnya Masjid Al-Aqsha dan rakyat Palestina merupakan cermin kondisi umat Islam dunia masa kini jika Palestina yang penuh berkah itu dapat dikuasai kaum Zionis Yahudi Israel.
Israel dan negara-negara sekutunya sengaja merekayasa dan menebar kebohongan pada umat Islam untuk terpecah, sehingga perselisihan dan pertikaian internal dalam tubuh umat Islam terus terjadi. Tidak menutup kemungkinan kekuasaan dan politik Israel dengan dukungan negara sekutunya akan melumat negara-negara Arab dan berpenduduk Muslim lainnya untuk mereka musnahkan, bahkan sampai baitullah al-Haram (Makkah) yang sering dikunjungi jama’ah haji dari penjuru dunia. Hal ini, dapat terlihat ketika Zionis Yahudi Israel mampu mengantungi triliunan dolar dari ongkos naik haji (ONH) setiap tahunnya melalui saham-saham mereka yang disimpan di perusahaan transfortasi.
Setelah Israel diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai negara tahun 1947, Israel hadir sebagai pelanggar HAM berat terhadap bangsa Palestina. Dengan batuan negara adidaya (Inggris dan Amerika, Israel menguasai sebagian besar aset perekonomian negara-negara berpenduduk muslim di dunia.
Semantara itu, bangsa Palestina ibarat hidup dalam keterasingan. Hal ini, diperparah dengan kondisi negara-negara Arab dan negara muslim lainnya yang tunduk terhadap kekuatan negara sekutu Israel. Irak yang semula menentang setiap kebijakan Israel berhasil dilumat Amerika, sehingga yang terjadi sekarang bukan hanya agresi militer dan kekuatan politik Israel, tetapi pemusnahan suatu bangsa yang mayoritas Islam. Peradaban Islam yang telah dilalui sejak 14 abad yang lalu cepat atau lambat diguncang oleh kekuatan nafsu ketamakan dan materialisme bangsa Israel dan sekutunya semata.
Di sinilah, sebenarnya letak keimanan umat Islam diuji dengan kesadaran terhadap bangsa-bangsa muslim lainnya, terutama tehadap nasib al-Aqsha dan Palestina. Apabila muncul kesadaran untuk bersatu bahu-membahu melepaskan derita nasib Palestina dan menjadikan al-Aqsha kembali ke pangkuan Muslimin, maka derajat dan kehormatan Islam akan terpancar di seantero jagad. Tapi, jika sebaliknya umat Islam sendiri atau negara-negara muslim tidak mempunyai rasa kepedulian, maka bencana dan malapetaka, kemiskinan, korupsi, kemaksiatan, kerusakan lingkungan sampai isu teroris yang difitnahkan terhadap Islam akan terus berlanjut dan tinggal menunggu waktu.
Isra Mi’raj bukanlah program rekreasi atau tour nabi Saw dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Tapi, Isra Mi’raj merupakan peristiwa suci karena dimulai dengan pembersihan diri Nabi SAW dari sifat-sifat kotor manusia. Bukan pula peristiwa yang berkaitan dengan akal rasio semata. Tapi, Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang berkaitan dengan keimanan. Sehingga akan semakin kokoh iman yang mempercayai, menghayati dan mengamalkan perintahnya. Sebaliknya, akan semakin ingkar orang yang meragukan dan mengabaikannya.
Harapan dari Indonesia
Sebagaimana al-Aqsha dan Palestina merupakan cermin umat Islam masa kini, negara-negara Arab walau pun kebanyakan penghasil minyak terbesar dunia dan negara-negara muslim lain yang kekayaan alamnya melimpah terlihat kurang serius mengatasi gejolak di Palestina dan nasib al-Aqsha. Kondisi itu menjadikan rakyat Palestina harus bosan dengan dukungan-dukungan moral dan isu perdamaian yang tak kunjung menyelesaian masalah.
Imam besar Masjid al-Aqsha Syeikh DR Muhammad Shiyam dalam ceramahnya hampir satu jam di Ponpes Al-Fatah Cileungsi Bogor menyatakan, “Tidak ada kendala apapun dalam perjuangan Palestina kecuali perpecahan di dalam dan di antara para pemimpin negara-negara Arab”. Lebih lanjut, Syeikh mengatakan dalam akhir ceramahnya, “Harapan terakhir kami (untuk membebaskan al-Aqsha dari cengkraman Zionis Yahudi Israel) adalah dari muslimin Indonesia.”
Pertanyaannya kini, apakah dengan 85 persen populasi penduduk muslim Indonesia masih akan terus terlena dengan hiruk-pikuk kekuasaan dan politik yang tak kunjung membawa perubahan terhadap kondisi bangsa, sehingga kondisi ekonomi telah membuat kaum muslim khususnya di Indonesia surut menyadari bahwa nasib rakyat Palestina dan Masjid al-Aqsha sedang dijadikan hidangan kaum Zionis Israel? Bukankah itu pertanda derajat dan martabat Islam sedang ternodai?
Dengan memperjuangkan Al-Aqsha dan Palestina semoga Allah SWT tidak mencabut keberkahan dan kemuliaan Umat Islam. Wallahu‘alam(*Redaksi)
”Kota dengan 300 masjid.” Begitulah penjelajah Arab terkemuka, Ibnu Hawqal menggambarkan suasana Palermo, ibu kota Sicilia yang berada di wilayah Italia selatan pada tahun 972 M. Dalam catatan perjalanannya, Al-Masalik wal Mamlik, Ibnu Hawqal mengaku tak pernah menemukan sebuah kota dengan jumlah masjid sebanyak itu, sekalipun luasnya dua kali lebih besar dari Palermo.
Pada saat yang sama, pelancong Muslim kondang itu juga menyaksikan kehebatan University of Balerm -- sebuah perguruan tinggi Islam terkemuka di kota Palermo, Sicilia. Hampir selama tiga abad lamanya, umat Muslim di era keemasan berhasil mengibarkan bendera kejayaan dengan peradabannya yang terbilang sangat tinggi di wilayah otonomi Sicilia.
Dari wilayah itulah, ilmu pengetahuan yang dikuasai umat Islam ditransfer ke peradaban Barat. Pengaruh Islam begitu besar dalam peradaban masyarakat Sicilia. Selama tiga abad berada dalam kekuasaan Islam, kawasan Sicilia pun berkembang menjadi pusat peradaban dan perniagaan. Sicilia pun sempat menjadi salah satu wilayah primadona di benua Eropa. Islam bersemi di Sicilia sejak 15 Juli 827 M. Ketika itu, pasukan tentara Dinasti Aghlabid di bawah kekuasaan Ziyadat Allah I berhasil menaklukan dari kekuasaan Bizantium. Dinasti Aghlabid merupakan sebuah kekhalifahan Muslim Arab yang menguasai Ifriqiyah meliputi Aljazair, Tunisia dan Tripoli.
Dinasti yang berkuasa dari tahun 800 M hingga 909 M itu berpusat di Tunisia. Diperkuat 10 ribu pasukan infanteri, 700 pasukan berkuda serta 100 armada kapal, pasukan Muslim di bawah komando Asad Ibnu Al-Furat (70 tahun) berhasil mengkandaskan kekuatan Bizantium dalam pertempuran di dekat Mazara. Serangkaian pertempuran demi pertempuran dilalui pasukan Dinasti Aghlabid hingga akhirnya satu per satu kota di Sicilia sepenuhnya berhasil dikuasai umat Islam.
Secara resmi, kota Palermo ditaklukan umat Islam pada tahun 831 M. Sedangkan, Messina dikuasai pasukan Muslim 12 tahun berikutnya. Sejak wilayah Enna berhasil direbut dari Bizantium pada 859 M, provinsi Sicilia sepenuhnya berada dalam genggaman umat Islam. Di bawah kekuasaan umat Islam, Sicilia menjadi provinsi yang multietnis.
Beragam suku dan etnis, seperti orang Sicilia, Arab, Yahudi, Barbar, Persia, Tartar, Negro berbaur dalam toleransi dan keharmonisan. Tak ada pembantaian terhadap penduduk yang beragama Nasrani. Penduduk Sicilia yang beragama Nasrani dilindungi dan dihormati kebebasannya dalam menjalankan aktivitas peribadatan.
Penguasa Muslim hanya membebankan pajak kepada penganut agama Nasrani. Hak milik dan usaha mereka dilindungi penguasa Muslim. Pun demikian terhadap warga Yahudi yang berada di kawasan kota pantai. Penguasa Muslim menghormati hak hidup dan melindungi kebebasan umat beragama lain dalam menjalankan ibadah.
Sejak berada dalam kekuasaan Islam, Sicilia menjelma menjadi salah satu pusat peradaban di Eropa, setelah Kordova. Bangunan masjid yang tersebar di seluruh kawasan Sicilia tak hanya menjadi tempat beribadah semata. Masjid-masjid itu juga berfungsi sebagai sekolah — tempat bersemainya benih peradaban dan ilmu pengetahuan.
Di bawah kekuasaan Islam, Sicilia memiliki universitas Islam terkemuka. Sekolah-sekolah di wilayah itu dilengkapi dengan asrama siswa dan mahasiswa. Tak heran, bila begitu banyak remaja dan anak muda dari berbagai penjuru Eropa menimba ilmu di sekolah dan universitas Islam di Sicilia.
Penjelajah Muslim, Ibnu Jubair, memberi sebuah kesaksian tentang kemajuan yang berhasil dicapai penguasa Muslim di Sicilia. Dalam buku perjalanannya, Ibnu Jubair, melukiskan kemajuan pesat yang dicapai Palermo, ibu kota Sicilia. ”Palermo adalah sebuah kepulauan metropolis yang mengkombinasikan kekayaan dan kemuliaan. Sebuah kota kuno yang elegan,” papar Ibnu Jubair.
Bahasa Arab pun menjadi bahasa pengantar masyarakat Sicilia. Ibnu Jubair menyaksikan wanita dan pria Kristen pun sehari-hari berbicara dengan bahasa Arab. Kehadiran Islam di Sicilia seakan menjadi berkah bagi masyarakatnya. Perekonomian Sicilia menggeliat setelah berada dalam kekuasaan umat Islam. Industri tekstil tumbuh pesat di era kejayaan Islam di salah satu wilayah otonomi negeri Spagheti itu.
Industri kerajinan pun tumbuh dan berkembang pada saat itu. Kehadiran Islam di tanah Sicilia juga memberi pengaruh yang besar terhadap bidang pertanian. Para petani dan sarjana Muslim memperkenalkan teknik-teknik baru pertanian serta benih tanaman yang unggul. Akibatnya, roda perekonomian ekonomi lokal bergerak begitu cepat.
Buah jeruk merupakan komoditas agrobisnis terkemuka yang dihasilkan para petani Sicilia. Penguasa Islam juga memperkenalkan dan mengembangkan saluran irigasi di wilayah itu. Teknologi pertanian yang diwariskan umat Islam itu tetap digunakan masyarakat Sicilia, sekalipun umat Islam tak lagi berkuasa di wilayah itu.
Periode kekuasaan Islam di Sicila merupakan tahap awal revolusi perdagangan di abad pertengahan. Pada era itulah masyarakat Sicila merasakan kemakmuran dalam pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Akhir abad ke-10 M, sejarawan bernama Udovitch menjelaskan betapa Sicilia telah menjelma menjadi pusat perdagangan di dunia Mediterania. Kawasan itu bersama Tunisia menjadi persimpangan rute perdagangan.
Kafilah dari Sijlimasa, selatan Maroko membawa beragam komoditas dari Afrika dan Maroko untuk dijual ke palermo dan Mazara. Sicilia menjadi jembatan perdagangan antara Muslim di Timur dengan Muslim di Barat. Akhir abad ke-10, Sicila menjadi produsen utama kain sutera. Pada era itu, Sicila sudah mulai menggunakan koin emas atau ruba’ya yang benilai seperempat dinar. Mata uang itu sungguh bernilai di kota-kota perdagangan lain seperti Mesir, Suriah dan Palestina.
Sayangnya, kekuasaan umat Islam di Sicilia harus berakhir pada tahun 1061 M. Kekuatan umat Islam yang lemah dimanfaatkan bangsa Normandia. Sejak itu, dominasi Islam pun lenyap dari bumi Sicila. Meski begitu pengaruh dan peradaban yang diwariskannya masih tetap dapat disaksikan hingga sekarang.
Para Penguasa Muslim di Sicilia
Dinasti Aghlabid (827 M -- 909 M)
Selama 82 tahun, Sicila berada dalam kekuasaan Dinasti Aghlabid yang berpusat di Tunisia. Ketika dikuasai dinasti Muslim itu, populasi penduduk Sicilia bertambah seiring datangnya imigran Muslim dari Afrika, Asia, Spanyol dan barbar. Semua penduduk Muslim itu terpusat di kepulauan selatan.
Dinasti Aqhlabi menempatkan seorang amir sebagai pejabat gubernur di ibu kota Sicilia, Palermo. Di setiap kota di Sicila dilengkapi dengan sebuah dewan kota bernama gema. Ketika Islam berkuasa banyak penduduk Sicilia yang menganut agama Islam, sebagian lainnya tetap memuk agama Kristen. Pada era dinasti itu, mulai diperkenalkan land reform atau reformasi agraria. Hal itu dilakukan agar tanah tak cuma dikuasai orang-orang kaya saja. Irigiasi juga mulai diperkenalkan, sehingga sektor pertanian berkembang pesat. Pada abad ke-10 M, Sicila menjadi provinsi di Italia yang paling padat dengan jumlah penduduk mencapai 300 ribu jiwa.
* Dinasti Fatimiyah (909 M -- 965 M)
Pada tahun 909 M, kekuasaan Dinasti Aghlabid dari Afrika di Sicilia diambil alih Dinasti Fatimiyah. Wilayah itu awalnya menjadi bagian dari provinsi Fatimiyah yang berpusat di Mesir. Empat tahun berkuasa, gubernur Fatimiyah diusir dari Palermo. Kepulauan itu lalu mendeklarasikan kemerdekaannya di bawah kepemimpinan seorang Emir bernama Ahmed ibnu Kohrob. Sicilia kembali dikuasai Dinasti Fatimiyah pada 917 M. Selama 20 tahun lamanya, Sicilia dipimpin seorang gubernur dari Fatimiyah. Pada 937 M, bangsa barbar mengambil alih Sicilia.
Emirat Sicilia (965 M -- 1091 M)
Sejak tahun 948 M, Khalifah Fatimiyah, Ismail Al-Mansur mengangkat Hassan Al-Kalbi sebagai emir Sicilia. Secara defakto, Emirat Sicilia terlepas dari pemerintahan Faimiyah di Mesir. Lalu dia digantikan Emir yang baru bernama Abu Al-Qasim (964 M -- 982 M). pada masa kedua emir itu berkuasa, Sicilia Muslim bertempur dengan Bizantium. Setelah itu, kekuasaan Islam meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam. Pada 1061 M, Sicilia lepas dari tangan umat Islam.
Pintu Gerbang Ilmu Islam ke Barat
Sebagai bekas wilayah kekuasaan Islam, Sicilia merupakan berkah bagi peradaban Barat. Wilayah otonomi di selatan Italia itu telah menjadi gerbang transfer ilmu pengetahuan dari dunia Muslim ke Barat. Michelle Amari merupakan sejarawan yang telah membuktikan bahwa dari Sicilia-lah ilmu pengetahuan yang dikuasai umat Islam di era keemasan ditransfer ke Barat.
Transfer ilmu pengetahuan Islam ke dunia Barat mulai dilakukan oleh Frederick II (1194 M -- 1250 M) -- penguasa Sicilia. Frederick masih menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di kerajaan yang dipimpinnya. Ia mengumpulkan sarjana Muslim dan Yahudi untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab. Bahkan, dia mengirim Michael Scot ke Cordoba untuk mencari kitab-kitab yang ditulis Ibnu Sina.
Frederick adalah raja beragama Kristen. Namun, dia begitu terpengaruh oleh ajaran dan kebudayaan Islam. Sehingga, Bapak Sejarawan Sains, George Sarton mengatakan, ”Frederik itu setengah Muslim dengan caranya sendiri.” Ketika dia berkuasa, University of Naples pada tahun 1224 M -- universitas pertama di Eropa menggunakan sistem pendidikan yang dikembangkan pergurun tinggi Islam. Dari Sicilia pula sistem fiskal yang sempat diterapkan penguasa Islam ditransfer ke Inggris.[ republika.co.id]
Miss Universe Eksploitasi Kapatalisme Global Atas Wanita
Banjarmasin -- Miss Universe (ratu sejagat) dan loma kecantikan sejenisnya merupakan salah satu eksploitasi kapitalisme global terhadap kaum perempuan.
Karena itu, HTI menyatakan prihatin atas pengiriman wanita Indonesia ke ajang Miss Universe dan sejenisnya, ujar Humas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I HTI Kalimantan Selatan (Kalsel), H. Hidayatullah Akbar yang akrab disapa Dayat, di Banjarmasin, Rabu.
Pasalnya lomba Miss Universe tersebut menunjukkan upaya sistematis membuat perempuan Indonesia kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi moral yang berdasarkan nilai-nilai agama, lanjutnya, di sela-sela kegiatan “Dialog Rajab” 1428 Hijriyah di Balai Kota Banjarmasin.
Oleh sebab itu, HTI melalui juru bicara Muslimahnya menyeru semua pihak menolak perempuan dijadikan komoditas berdasarkan ukuran primitif berupa kemolekan fisik, menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk apapun, serta mengarahkan perempuan Indonesia kembali kepada kemuliaannya sebagai perempuan yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama.
Karena itu, kaum Muslimin harus terus mewaspadai terhadap berbagai upaya eksploitasi kapitalisme global, baik terhadap perempuan dengan Miss Universe-nya maupun lainnya dalam bentuk berbeda tetapi pada hakekatnya sama, katanya. [ antara.co.id ]
Menjelang pelaksanaan ekseskusi mati terhadap Imam Samudra, Amrozi dan Muklas, mereka menitipkan wasiat terhadap keluarganya. Pihak Keluarga pun menilai, pelaksanaan eksekusi ini semata-mata karena desakan pihak asing. Mau tahu isi Pesan tersebut ? Simak di halaman ini.
Pelaksanaan Eksekusi terhadap tiga terpidana syahid bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi dan Muklas akan segera dilakukan. Bahkan Keluarga sudah menerima wasiat terakhir dari mereka .
“Pesan terakhir untuk keluarganya agar tetap berjuang di jalan Islam. Itu wasiat yang paling utama. Untuk umat muslim tidak ada pesan,” ujar Ketua Tim Pengacara Muslim (TMP) Mahendradatta yang menjadi kuasa hukum ketiga terpidana mati tersebut kepada wartawan , Selasa (29/7/2008).
Menurut Mahendradatta, keluarga ikhlas dengan eksekusi mati yang akan dijalani Imam, Amrozi dan Muklas. Sebab ketiganya sudah lama meninggalkan keluarga.
Imam, Amrozi dan Mukhlas hingga kini belum tahu kapan pelaksanaan eksekusi mati mereka. Karena itu permintaan terakhir ketiganya belum ada.
“Belum ada. Kan permintaan terakhir itu biasanya diberikan 3 hari sebelum dilakukan eksekusi,” tandas Mahendradatta.
Sementara itu menjelang eksekusi mati. Imam Samudra mengaku sudah membuat buku pemikiran tentang Islam. Sedangkan Amrozi dan Muklas mengkatamkan Alquran.
Menurut Mahendradatta, Imam, Amrozi dan Muklas tidak menyesal dengan pengeboman yang mereka lakukan. Mereka hanya menyesalkan adanya korban dari warga Indonesia. “Ini tidak ditutup-tutupi kok,” jelas Mahendradatta.
Sebelumnya pihak Keluarga Terpidana mati ini menilai, pelaksanaan eksekusi ini semata-mata karena desakan pihak asing.
Pernyataan ini disampaikan oleh salah seorang saudara Amrozi dan Ali Gufron, Ustadz Khozin, di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur.
“Kami sekeluarga menanggapi berita tersebut dingin-dingin saja dan tidak terkejut,” katanya saat ditemuinya sedang mengajar di SDN Tenggulun.
Khozin mengaku belum melakukan persiapan apa pun terkait rencana eksekusi tersebut. Sebab hingga kini, pihak keluarga belum menerima informasi yang pasti mengenai hal itu.
“Mungkin saja eksekusi tersebut atas desakan asing, terutama Amerika Serikat dan Australia yang selalu mendesak agar eksekusi segera dilakukan,” ungkapnya.
Khozin menilai pelaksanaan eksekusi itu terlalu dini. Sebab masih banyak persoalan yang perlu diselesaikan, termasuk masih ada proses hukum yang diupayakan terdakwa.
“Juga soal hukum dan perundang-undangan yang masih carut marut,” ungkap Khozin.
Pernikahan 20 M diatas Penderitaan Warga Lumpur Lapindo
Acara resepsi Keponakan Menko Kesra Aburizal Bakrie, Adinda Bakrie dan Seng-Hoo Ong berlangsung marak, mewah dan glamor. Pantas Kita Bertanya ,” Apa pantas kita melaksanakan pesta yang dananya puluhan miliar rupiah, sedangkan kita juga masih punya masalah sosial yang begitu banyak korbannya ? “. Padahal yang paling menikmati hasil jika tidak ada bencana adalah keluarga Bakrie.
Pernikahan seorang putri konglomerat nasional yang masuk dalam keluarga besar ternama dan terkaya di Indonesia dengan seorang pengusaha yang masuk dalam keluarga besar ternama di Singapura membuat heboh kalangan sosialit Jakarta. Kedatangan pejabat negara dan tokoh nasional melengkapi kemewahan acara itu, padahal para korban keluarga lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, masih terlantar.
Acara resepsi Adinda Bakrie dan Seng-Hoo Ong berlangsung Jumat malam di Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, marak dan mewah dan glamor. Wedding planner pun tidak tanggung-tanggung. Preston Bailey, perencana dan perancang yang tidak jarang di pakai oleh pesta-pesta Oprah Winfrey dan Donald Trump, didatangkan khusus dari Hollywood, AS.
Putri dari Indra Bakrie, keponakan Aburizal Bakrie, seorang perempuan muda yang lulus kuliahnya dengan predikat magna cum laude melangsungkan pernikahannya dengan biaya yang dilaporkan beberapa media mencapai Rp20 miliar, tertutup untuk umum dan dijaga sangat ketat. Pasangannya putra dari keluarga pemilik DBS Bank di Singapura.
Hebohnya pernikahan mereka mendapat respons dari kalangan pengamat. Keluarga Bakrie dinilai tidak sensitif dengan penderitaan korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.
“Seharusnya keluarga besar Bakrie bisa menjaga tingkat sensitifitas sosial yang tinggi dan menjaga citra di mata masyarakat,” kata Wakil Ketua Fraksi PDIP Aria Bima, Jumat (25/7) malam.
Aria mengakui bahwa penyelenggaraan pernikahan adalah hak setiap orang. Tapi dia ingatkan juga penyelesaian lumpur Lapindo sampai sekarang belum selesai. “Apa pantas kita melaksanakan pesta yang dananya puluhan miliar rupiah, sedangkan kita juga masih punya masalah sosial yang begitu banyak korbannya,” cetus Aria.
Apalagi, sekarang ini tingkat sensifitas dalam keluarga Bakrie sangat tinggi, mengingat Aburizal adalah seorang Menko Kesra. “Dengan mereka melakukan hal itu, bagaimana hati korban Lapindo melihat itu. Semestinya mereka harus lebih mengutamakan bagaimana menghilangkan penderitaan rakyat.”
Aria juga mengingatkan, dampak lumpur Lapindo telah menghancurkan status sosial ekonomi masyarakat setempat dan sekitarnya sekitarnya, dan menilai lebih bermanfaat apabila acara itu dilangsungkan di daerah pengungsian. Sebagian dana itu pun bisa digunakan untuk proses penyelesaian dan penuntasan kasus itu. “Kalau tidak, maka kepercayaan dan kerjasama rakyat dengan pihak terkait untuk mencari solusi akan turun,” katanya.
Keluarga Bakrie-lah yang sebenarnya paling menikmati dampak bencana lumpur Lapindo, kata Aria.
“Masyarakat yang paling menderita sekarang. Padahal yang paling menikmati hasil jika tidak ada bencana ya keluarga Bakrie. Jadi sudah sepatutnya kalau mereka bekerja keras dan bekerja sama dengan rakyat untuk mencari solusi terbaik, bukan malah menghancurkan perasaan masyarakat korban Lapindo,” tandasnya.
Irfan Simatupang, antropolog sosial dari Universitas Sumatera Utara menilai, apapun dia dengan kondisi perekonomian sekarang ini, nilai dua puluh miliar rupiah untuk sebuah pesta pernikahan terkesan berlebihan dan kurang peka terhadap penderitaan para korban Lapindo, yang tentu memiliki keterkaitan dengan keluarga Bakrie.
“Satu miliar saja sudah sangat membantu para korban itu dalam memenuhi kehidupan sehari-hari mereka yang sampai sekarang masih terkatung-katung,” kata dia.
Dia menegaskan dengan uang Rp20 miliar itu, apabila dialokasikan ke BLT (bantuan langsung tunai), sudah ratusan keluarga miskin yang tertolong dan meringankan beban hidup mereka. “Itu nilai yang sangat luar biasa, betul-betul tidak memikirkan dampak sosial yang melibatkan rakyat miskin,” tegas Irfan yang menyayangkan keluarga Bakrie tidak memiliki kepekaan sosial.
Lalu Mara Satriawangsa, jurubicara keluarga Aburizal Bakrie yang juga staf khusus Menko Kesejahteraan Rakyat membantah. Menurut dia, pesta pernikahannya tidak mungkin mencapai puluhan miliar.
“Itu hanya cara orang untuk menjelekkan keluarga Bakrie aja. Kalu puluhan miliar, nggak mungkin lah,” kepada Waspada Online, Lalu Mara mengaku. Meski demikian, dia enggan menyebutkan nilai yang sebenarnya.
Kronologis Bentrokan Aktivis Islam Dengan Misionaris Kampus SETIA
“Fungsi kampus yang bertambah menjadi tempat ibadah, dinilai sudah menyalahi ijinnya, apalagi Kampus Sekolah Tinggi Teologi Injil Arastamar (Setia) di kampung Pulo , Makassar, jakarta timur, sengaja dibangun ditengah-tengah kaum muslimin untuk dijadikan Basis Kristenisasi yang didukung oleh asing “
Adanya dugaan bahwa aktivitas Kampus Sekolah Tinggi Teologi Injil Arastamar (Setia) di kampung Pulo , Makassar, jakarta timur di dukung asing semakin terkuak.
Seorang wartawan media asing, Kundradus Eta (39) ditangkap warga Kampung Pulo saat merusak tempat kejadian perkara di asrama putri, Yayasan Setia, Senin (28/7/2008).
wartawan media Union of Katholik Asian News (UKA News) yang terbit di Hongkong dan Thailand ini awalnya memasuki asrama putri yang sudah dipolice line.
Bahkan Dia juga terlihat memporak-porandakan beberapa barang yang telah dibereskan oleh polisi. Kemudian memfoto-fotonya, seolah-olah kondisi asrama putrid porak-poranda.
Warga yang melihat hal ini langsung menanyakan maksud dan tujuan Kundradus tersebut. Kemudian wartawan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini langsung digelandang ke kecamatan dan dibawa ke Polres Jakarta Timur.
Polisi kemudian menyita kartu pers, kamera digital ini Kundradus sebagai bukti aksi yang dilakukannya.
Sebelumnya pada ahad kemarin dua orang yang diduga sebagai penyusup di Kampung Pulo, Pinang Ranti, Jakarta Timur juga diamankan petugas kepolisian. Mereka sempat mendapat bogem mentah saat akan melarikan diri.
Menurut warga, kedua orang itu sudah keluar dan masuk lokasi kampus Setia sebanyak empat kali. Karena mencurigakan, kedua orang tersebut diamankan warga.
Bahkan kedua orang itu sempat beradu argumen dengan warga. Untuk menakut-nakuti, mereka mengaku sebagai anggota polisi.
“Dia mengaku sebagai anggota,” kata warga yang enggan disebutkan namanya kepada wartawan.
Takut terjadi bentrokkan, petugas keamanan akhirnya membawa pria berkulit hitam ini untuk diamankan. Namun mereka malah memilih melarikan diri. Alhasil, warga ikut berlari dan melepaskan bogem mentah.
Konflik antara warga Kampung Pulo dengan Kampus Sekolah Tinggi Teologi Injil Arastamar (Setia) berawal dari kegiatan kampus yang dinilai warga sudah melebihi fungsinya sebagai lembaga pendidikan.
“Kampus ini semula perijinannya hanya untuk kepentingan pendidikan, tapi lama kelamaan ada aktivitas ibadah yang jemaatnya semakin banyak,” kata salah seorang warga Kampung Pulo, Pinang Ranti, Makassar, Jakarta Timur, yang tak mau menyebut namanya.
Menurutnya, fungsi kampus yang bertambah menjadi tempat ibadah, sudah menyalahi ijinnya. Apalagi, pihak yayasan pengelola Kampus Setia tidak pernah meminta ijin pada warga sekitar.
“Jadi sebenarnya kita tidak ada masalah dengan mahasiswa dan mahasiswinya. Tapi sama yayasannya,” katanya.
Warga juga merasa dipojokkan oleh pemberitaan salah satu media televisi, yang menyebutkan warga melakukan penyerangan terhadap para mahasiswa Setia.
Sementara itu Ketua Forum Komunikasi Muslim (FKM) Kampung Pulo, Risman Hadi membantah jika keributan antara warga Pinang Ranti dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Injil Arastamar (SETIA) bermotifkan suku, agama, dan ras (SARA).
“Warga tidak pernah mempersoalkan masalah agama. Kami bersahabat baik dengan semua agama,” ujarnya.
Hadi menegaskan pihaknya tidak pernah memberikan komando kepada warga untuk melakukan jihad. Namun, dia tidak membantah jika meminta warga untuk tetap siaga. “Tidak benar ada komando melakukan jihad,” ungkapnya.
Risman Hadi mengatakan sejak awal pendirian kampus dan yayasan Sekolah Tinggi Teologi Injil Arastamar (Setia) telah ditentang warga.
“Warga tidak menerima kampus dan yayasan Setia ada di sini. Tetapi itu bukan berarti warga antiperbedaan,” kata Risman .
Dia menjelaskan, alasan tidak senangnya warga karena lokasi kampus tidak kondusif.
“Pendirian yayasan dan kampus di sini tidak kondusif, karena berada di lingkungan padat penduduk dan tempat tinggal sempit. Namun sekali lagi kita tidak antiperbedaan, walaupun keberadaan meraka di tengah 80 persen masyarakat muslim,” tegasnya.
Penolakan sendiri, lanjutnya, sudah dilakukan sejak 1990 hingga 2007.
“Pada 1995-1997, warga menolak Setia karena tidak layak di lingkungan tempat tinggal. Berbagai cara kita lakukan seperti pengiriman surat dan permintaan pindah, namun tidak ada tanggapan dari yayasan,” tegasnya.
“Mei 2007, beberapa perwakilan warga bertemu dengan Camat, Kodim setempat tetapi mereka membela Setia. Saya memastikan tidak satupun mahsasiwa yang mengeluarkan darah akibat penganiayaan warga,” tegasnya.
Dari data yang di peroleh, Proses perizinan yang diajukan Sekolah Tinggi Injil Arastamar (Setia) di kampung Pulo, Pinang ranti, Jakarta Timur, awalnya hanya atas nama pribadi.
Lahan yang sejak tahun 1989 merupakan lahan kosong berpagar ini kemudian tiba-tiba dibuat untuk yayasan pendidikan Setia.
Pada tahun 1991, lahan ini secara bertahap mulai dibangun untuk bangunan yayasan Setia. Kontan saja, hal tersebut membuat reaksi warga setempat.
Meski menolak, pembangunan Setia terus berlanjut. Bahkan, beberapa aparat pemerintah seperti Kodim mengintimidasi warga agar memberi izin yayasan Setia.
Kasus ini bermula seorang mahasiswa semester III Sekolah Tinggi Teologi Injil Arastama (SETIA) ,Alius, diduga sebagai pemicu bentrok yang terjadi antara mahasiswa dengan warga Kampung Pulo, Pinang Ranti, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur.
Hal ini diungkapkan Ketua Forum Komunikasi Muslim Kampung Pulo, Risman Hadi, Sabtu (26/7/20080).
“sekitar pukul 22.30 WIB sabtu malam , kami mengamankan Alius di rumah Pak RW karena diduga melakukan pencurian. Saat akan kami bawa ke Polsek Makassar rumah Pak RW dilempari batu dari arah asrama putra SETIA,” terangnya.
Aksi itu, kata dia, memicu kemarahan warga. Sehingga tindakan balasan tidak bisa dielakkan. “Selain itu, ada oknum pengurus Yayasan SETIA yang memprovokasi warga. Dia berkoar akan mendatangkan kelompok preman tertentu,” ujarnya. (Pa)
JAKARTA--Peluncurkan film ‘Sang Murabbi’ yang merupakan film religi yang berkisah tentang seorang guru ini diputar perdana Minggu (27/7/2008) pukul 19:00 WIB di GRJS Bulungan, Jakarta.
Acara launching ini akan dihadiri langsung oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring. “Malam nanti kader PKS akan launching premiere film Sang Murabbi, kisah tentang KH Rahmat Abdullah mantan Ketua Majelis Syuro PKS,” kata humas PKS Mabruri seperti dikutip detikcom, Minggu.
Film yang disutradarai Zul Ardhia ini merupakan produski perdana Majelis Budaya Rakyat. Sejumlah bintang ternama yang mendukung film ini adalah, antara lain, Astri Ivo, Neno Warisman, David Chalik, Irwan Rinaldi, Ati Cancer, dan Jerio Jeffry.
“Sejak trailer film ini diputar upload di youtube, sudah lebih 30 orang yang mengunduh. DVD-nya juga sudah dipesan lebih dari 10 ribu keping,” kata Mabruri.
Syuting film ini dilakukan di beberapa kawasan. Di antaranya di Setu, Jakarta Timur. Lokasi ini dipilih karena memiliki kemiripan dengan situasi Kuningan, Jakarta Selatan, di era 70-an akhir dan 80-an.
Pengambilan gambar juga dilakukan di lokasi di wilayah lain Jakarta seperti Kampung Raden, Pondok Gede, dan Pondok Rangon.
Dalam situs blog sangmurabbi ditulis bahwa film ini berkisah tentang perjalanan dakwah Ustadz Rahmat Abdullah. Berawal dari persepsi positif Ustadz Rahmat muda tentang profesi guru, yang merupakan rekfleksi cita-citanya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap kali ditanya orang, apa cita-citanya, ia akan menjawab dengan mantap: menjadi guru!
Persepsi itu kemudian menjadi elan vital yang menggerakkan seluruh energi hidup Ustadz Rahmat, ketika ia menimba ilmu di pesantren Asy Syafiiyah di bawah asuhan KH Abdullah Syafii. Bakat besar dan pemikirannya yang brilian, menjadikan Ustadz Rahmat dikagumi oleh setiap orang, terutama gurunya, KH Abdullah Syafii, yang menjadikan Ustad Rahmat muda sebagai murid kesayangannya.
Ustadz Rahmat muda mulai merintis kariernya sebagai guru selulus dari Asy Syafiiyah. Selain di almamaternya, ia juga mengajar di sekolah dasar Islam lainnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan karier yang dipilihnya itu kemudian mempertemukannya dengan guru keduanya, Ustadz Bakir Said Abduh yang mengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI). Melalui ustadz lulusan pergururan tinggi di Mesir itu, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama Ikhwanul Muslimin, salah satunya adalah buku Da’watuna (Hasan Al-Bana) yang kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka Amanah).
Situasi ini, membuat potensi bakat Ustadz Rahmat Abdullah melejit dengan banyaknya referensi bacaan yang ia konsumsi, mulai dari kitab Arab klasik yang sudah sulit dicari, sampai buku-buku sastra dan budaya. Ia pun dikenal sebagai dai yang lengkap, karena tidak cuma menguasai ilmu-ilmu Islam yang “standard” tetapi juga persoalan-persoalan kontemporer.
Potret paripurna kedaian Ustadz Rahmat terlihat ketika ia membina para pemuda di lingkungan rumahnya di kawasan Kuningan. Ustadz Rahmat menggunakan pendekatan yang masih sangat langka di kalangan dai, yaitu dengan grup teater yang didirikannya. Para pemuda itu diasuhnya dalam organisasi bernama Pemuda Raudhatul Falah (PARAF) yang menghidupkan masjid Raudhatul Falah di bilangan Kuningan dengan kegiatan-kegiatan keislaman.
Pementasan grup teater binaan Ustadz Rahmat muda itu mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Salah satunya adalah pementasan berjudul Perang Yarmuk. Pada pementasan inilah, Ustadz Rahmat dan para pemuda PARAF harus berhadapan dengan aparat yang mencoba membubarkan pementasan.
Akibat pementasan itu, Ustadz Rahmat dikenai wajib lapor. Tapi, hingga hari ini, Ustadz Rahmat tidak pernah mau meladeni aturan yang menindas kebebasan itu.
“Saya tidak akan pernah datang ke kantor kalian,” kata Ustadz Rahmat kepada Suryo, seorang aparat yang bertugas menyatroninya. “Kalau ibu saya yang memanggil, baru saya mau datang.”
Keteguhan pada prinsip dan ketegasan sikapnya itulah yang membuat Suryo ngeper. Hingga bertahun kemudian keteguhan dan ketegasan itu tetap terpelihara dengan baik, meski Almarhum harus terlibat dalam wasilah (sarana) dakwah bernama partai. Ia tetap dikenal sebagai guru ngaji, inspirator kaum muda yang progresif dan berpikiran jauh ke depan. Undangan daurah satu ke daurah yang lain tetap disambanginya. Tak ada yang berubah, termasuk ciri khas yang menjadi warisan dari kedua orang tuanya yang mulia: kesederhanaan.
Ustadz Rahmat memang berada di jenjang tertinggi partai, serta terpilih pula sebagai wakil rakyat di DPR pusat. Namun, ia kerap dipergoki sedang menyetop bus kota untuk mendatangi sebuah undangan. Ia kerap terlihat jalan kaki untuk jarak yang cukup jauh. Tak ada yang berubah, karena ia sadar betul bahwa langkah itulah yang dimulainya dulu sebagai permulaan di jalan dakwah.
Hingga akhirnya, di sebuah hari yang sibuk dan berat, Ustadz Rahmat merasakah tanda-tanda kesehatannya terganggu. Namun, rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap amanah dakwah, membuat ia tak begitu mempedulikan tanda-tanda itu.
Ia masih terlibat dalam sebuah syuro penting. Lalu, saat adzan berkumandang dan ia beranjak untuk memenuhi panggilan suci itu, ia berjalan ke tempat wudhu. Saat berwudhu, tanda-tanda itu makin kuat, menelikung pembuluh darah di bagian lehernya. Ia coba untuk menyempurnakan wudhunya, tapi rasa sakit yang merejam-rejam kepalanya membuatnya limbung.
Disaksikan oleh Ustadz Mahfudzi, salah seorang muridnya, Ustadz Rahmat nyaris terjatuh. Ustadz Mahfudzi cepat memapahnya, lalu mencoba menyelamatkan situasi. Tetapi Allah lebih sayang kepada Ustadz Rahmat Abdullah. Innalillahi wa innailaihi raaji’uun…Syaikhut Tarbiyah itu meninggalkan kita dengan senyum yang amat tulus…hujan air mata dari seluruh pelosok tempat mengiringi kepulangan beliau.ya/foto:situs sangmurabbi.[Republika]
Masjid 1.1 Juta Dollar Akhirnya Selesai di Bangun di Gifu Jepang
Jepang- Proyek pembangunan masjid Gifu dan International Islamic School serta Pusat Budaya Muslim pertama di Jepang akhirnya dapat menyelesaikan tahap pertama dengan peresmian masjid Gifu hari Ahad, 27 Juli 2008 di kota Gifu, Jepang tengah. Lokasi masjid ini hanya sekitar 5 menit dari Universitas Gifu bila ditempuh dengan bersepeda, dan sedianya akan menjadi pusat syiar Islam terlengkap di area Jepang tengah. Kota Gifu sendiri terkenal sebagai produsen tekstil terbesar di Jepang dan merupakan salah satu kantong masyarakat muslim terbesar di kawasan industri otomotif di prefektur Aichi.
Acara ini dihadiri 1, 200 orang. Hadir dalam peresmian itu Imam Masjidil Haram, Makkah, Syeikh Salih bin Humaid, sebagai tokoh utama yang sekaligus membuka secara resmi masjid untuk penggunaan umum. Para duta besar dari negara-negara muslim seperti: Saudi Arabia, Irak, Iran, Mesir, Oman, Afghanistan, Syria, Pakistan serta Direktur Pusat Budaya Amerika Nagoya. Selain itu, hadir pula memberikan sambutan Rektor Universitas Gifu, Hideki Mori, dan para pejabat dari Kantor Gubernur dan Walikota Gifu, Kepolisian dan LSM Jepang.
Proyek pembangunan masjid sendiri menelan biaya sekitar 129 juta yen atau sekitar 1.1 juta dollar amerika dan sudah dimulai perencanaannya sejak 25 September 2007. Bangunan masjid ternyata ‘hanya’sekitar 351 m2 dan terdiri dari beberapa ruangan penting selain ruang sholat, seperti: perpustakaan dan ruang konsultasi. Proyek pembangunan International Islamic School dan Pusat Budaya Muslim (tahap II) sedianya akan dimulai sejak sekarang dan diperkirakan menelan biaya sekitar 135 juta yen. Dalam kesempatan ini, perwakilan mahasiswa Indonesia dan alumni dari beberapa universitas di Gifu, Nagoya, Osaka, Kyoto, dan Tokyo juga hadir sebagai panitia inti acara ini. Perwakilan mahasiswa dan masyarakat profesional Indonesia yang tergabung dalam Working Group for Technology Transfer (WGTT) tidak pula ketinggalan hadir dan meliput acara.[eramuslim]
Makassar -- Pesawat Pelita Air Service jenis DASH-7 dengan nomor penerbangan Pelita-547 dari Jayapura, yang membawa rombongan Gubernur Papua, Barnabas Suebu, terperosok di bandara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digul, Papua, beberapa saat setelah mendarat, Senin pukul 09.15 WIT.
Seluruh 28 penumpang dan tiga awak pesawat bernomor lambung PK-PSY yang dipiloti Ardy Tedjo itu selamat dan keluar dari badan pesawat tanpa cidera melalui pintu bagian belakang pesawat.
Setelah mendarat dengan mulus di landas pacu, pesawat bergerak menuju lapangan parkir (apron).
Namun ketika membelok untuk masuk apron, roda kiri pesawat berbaling-baling empat buah itu terperosok cukup dalam ke dalam tanah yang lembek sehingga pergerakan pesawat tiba-tiba terhenti dan pesawat menjadi miring ke kiri.
Awak pesawat yang terdiri atas pilot Ardy Tedjo, co.pilot H. Ribuan dan dua awak lainnya Perry Rehata dan Meinasta segera membuka pintu pesawat dan menurunkan para penumpang dengan selamat.
Para petugas bandara yang dibantu puluhan warga sekitar yang membawa alat seperti pacul, linggis dan papan serta kayu balok saat ini sedang berupaya mengeluarkan roda pesawat dari dalam tanah.
Penerbangan Jayapura-Tanah Merah terpaksa terhenti sampai pesawat dinyatakan laik terbang sementara Gubernur Papua Barnabas Suebu melanjutkan perjalanannya dalam rangka kunjungan kerja di kabuipaten tersebut.[ANTARA]
MEDAN -- Sebanyak 16 anak berusia 0-9 tahun di Sumatera Utara (Sumut) dinyatakan telah terjangkit HIV/AIDS. Namun, jumlah tersebut diperkirakan jauh lebih kecil dari fakta yang sesungguhnya. “Anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut berasal dari Medan, Deli Serdang, Karo dan Langkat,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Candra Syafei SpOG kepada wartawan, Kamis (24/7), di Medan.
Menurut Candra, kasus ke 16 anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut berdasarkan laporan dari rumah sakit rujukan, dalam hal ini RSUP H Adam Malik periode 2005 -- tahun 2008.
“Anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut terdiri dari usia 0-1 tahun 3 HIV dan 1 AIDS, usia 1-4 tahun 5 HIV dan 2 AIDS serta usia 5-9 tahun 5 HIV,” katanya.
Jumlah yang dilaporkan tersebut hanya sebagian kecil dari estimasi kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara. “Saat ini, diperkirakan ada sekitar 11.000 pengidap HIV/AIDS di Sumut termasuk kelompok anak-anak. Namun yang terdata hanya sekitar 1.238 orang,” ujar Candra.
30% ketularan dari ibu hamil
Ibu hamil yang mengidap HIV positif bisa menularkan virusnya 15-30 persen kepada anak lewat persalinan normal. Untuk mengurangi tingkat penularan itu, Dinkes Sumut memiliki program Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT).
Menurut Andi, Manager Program Global Fund di Medan, ada empat sasaran dari program ini, yakni mencegah penularan HIV kepada perempuan usia reproduksi, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif, mencegah penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya serta memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan lanjutan bagi ibu dan bayi serta keluarganya. Lebih lanjut dijelaskan, bagi seorang ibu hamil yang diketahui mengidap HIV positif akan terus dipantau perkembangannya melalui program PMTCT.
Di saat usia kehamilan lebih tujuh bulan, ibu diberikan profilaksis (pencegahan) anti retroviral (ARV). Tujuannya, untuk menekan virus yang ada di tubuh ibu. Sehingga, saat persalinan virus tersebut berkurang.
Selain itu, proses persalinannya tidak dilakukan secara normal melainkan dengan operasi caesar. “Sehingga, bayi semakin kecil persentase kemungkinan tertular virus dari ibunya,” kata Andi.
Setelah lahir lanjutnya, masih dalam program PMTCT, maka bayi diberikan bantuan pengganti air susu ibu (PASI). Karena, walaupun tidak virus tidak menular melalui ASI, tapi dikhawatirkan saat bayi tumbuh gigi akan melukai puting susu ibunya.Sehingga, proses penularan lewat cairan darah dari ibu bisa terjadi.
Sedangkan untuk menunjang kesehatan ibu bayi, diberikan bantuan perbaikan gizi serta susu dan suplemen. “Disini, kita harapkan bantuan sumber dana dari pihak yang peduli untuk membantu khususnya bagi orang dalam HIV-AIDS (Odha),” ujarnya.
Setelah itu, proses tumbuh kembang bayi pun dipantau pertumbuhannya hingga usia minimal 18 bulan untuk pemeriksaan darah. “Saat itu akan ketahuan apakah bayi tersebut HIV positif atau tidak. Kalau positif, akan kita masukkan dalam program pendampingan,” ungkapnya.
Dalam program pendampingan, para pasien HIV-AIDS positif akan dibantu berbagai layanan hukum, sosial dan psikologisnya. “Kita hanya berusaha membantu bukan menyelesaikan masalah mereka,” jelas Andi.
Sejauh ini tambahnya, program PMTCT belum ada data pasti bayi yang tertular HIV positif dari ibunya. Karena, 12 orang bayi yang sudah lahir maupun masih dalam kandungan ibunya yang HIV positif masih belum diketahui tertular atau tidak.
“Karena, program PMTCT ini sendiri baru aktif akhir 2007. Jadi, belum ada bayi yang masuk dalam program ini,” ungkapnya.
Begitupun, dari 12 ibu hamil yang mengidap HIV positif yang ditemukan di Sumut itu, sebagian di antaranya tidak mengikuti program PMTCT. “Mereka diketahui positif HIV, setelah ada persoalan saat kehamilannya. Ketika diperiksa ternyata positif HIV. Tapi, sebagian besar lagi sudah diketahui lewat program VCT yang sudah ada,” ucap Andi.
Ditanya tentang prevalansi bayi tertular HIV di Sumut, Andi sendiri mengaku masih belum memiliki data resmi. Namun, lewat survei secara nasional paling tidak ada 5000 kelahiran pada 2010 nanti sudah tertular HIV. waspada
Jakarta- Milad Majelis Ulama Indonesia ke-33 tahun yang akan diperingati pada 26 Juli mendatang, MUI mendapatkan kado istimewa berupa gedung kantor baru yang letaknya berseberangan dengan Tugu Proklamator, di Jalan Proklamasi No. 51, Jakarta Pusat. MUI yang merupakan wadah para ulama, zuama dan cendikiawan muslim Indonesia sejak berdiri tahun 1975 lalu, sempat dua kali berpindah kantor.
Pada saat MUI dipimpin oleh Ketua Umumnya yang pertama Al-Maghfurlah Prof Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang populer disapa Buya Hamka, berkantor di sebuah sudut bangunan di lingkungan Masjid Al-Azhar, Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ketika itu jumlah pengurus MUI hanya sekitar 40 orang, dan empat orang staf sekretariat. Enam tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1981 kantor MUI hijrah ke lingkungan Masjid Agung Istiqlal di Taman Wijayakusuma, Jakarta Pusat.
“Kantor MUI selama ini mengisi beberapa petak ruangan di bangunan basement yang seluruh temboknya tertutup dengan marmer yang kokoh, seperti layaknya di dalam bunker, ” tutur Sekum MUI Ichwan Syam saat Acara Peresmian kantor MUI, di Jakarta, Kamis (24/7).
Namun, impian para pengurus MUI akhirnya menjadi kenyataan, setelah berfikir panjang untuk mencari jalan keluar agar keinginannya terwujud. Dan hasrat jajaran pengurus MUI pusat semakin menggebu, ketika mengetahui bahwa sebanyak 25 dari 33 kepengurusan MUI Propinsi telah memiliki kantor sendiri, ini berarti MUI daerah lebih memiliki kemampuan.
Jalan terbuka, bagi pengurus MUI Pusat untuk mewujudkan impian untuk memperoleh kantor yang layak ketika dalam sebuah acara yang diselenggarakan MUI, keinginan tersebut diutarakan kepada Menteri Agama RI M. Maftuh Basyuni yang menjabat sebagai Penasehat MUI. Gayung bersambut, keinginan MUI diamini oleh Menteri Agama.
Akhirnya bekas kantor Djawatan Pendidikan Islam Departemen Agama RI, yang kemudian menjadi rumah dinas pejabat Depag, dan yang terakhir digunakan sebagai kantor sejumlah LSM itu dipugar untuk dirubah menjadi Gedung baru MUI yang terdiri dari empat lantai. Pembangunan yang selama 13 bulan mulai Juni 2007 sampai Juli 2008 itu, menelan biaya sekitar 8, 9 milyar rupiah dari dana APBN.
“Tanah dan bangunan ini tetap milik negara, dalam hal ini Depag, MUI hanya diberikan hak untuk memanfaatkannya, sekaligus untuk mengelolanya dan memeliharanya sebagaimana tertuang dalam Kepmenag No.84/2008, ” papar Ichwan Syam.
Perpindahan MUI dari lingkungan masjid ke gedung perkantoran itu sempat pula menimbulkan kegalauan bagi sejumlah pengurus, pantaskan MUI berkantor terpisah dari masjid. Harapan untuk dekat dengan masjid masih terus membayang dibenak para pengurus MUI, sebab gedung baru itu belum dilengkapi masjid, meskipun disetiapnya disediakan fasilitas tempat sholat dan tempat wudhu.
Sisa lahan sekitar 200 Meter persegi yang tersedia diharapkan dapat berdiri bangunan masjid, perpustakaan, dan ruang sidang komisi fawta MUI.
“Alangkah bahagianya kami, kalau di antara hadirin dan undangan ada berniat untuk melakukan investasi akhirat dengan membangun masjid, perpustakaan, dan ruang sidang bahsul masail diniyah bagi Komisi Fatwa MUI, ” ujar Ichwan Syam dihadapan para tamu yang di antaranya Menteri Agama M. Maftuh Basyuni, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendi, Wakil Ketua MPRRI A.M Fatwa, Wagub DKI Jakarta Prijanto, dan perwakilan negara muslim.
Ada tidak masjid di kantor MUI yang baru bukan hal yang terlalu penting, karena bagi umat Islam di Indonesia yang terpenting dengan hijrahnya MUI ke tempat baru, tumbuh semangat baru bagi MUI yang merupakan wadah berkumpulnya ulama untuk terus meningkatkan perannya memberikan pencerahan, mengembangan dakwah untuk kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia. eramuslim
Daging Bertuliskan Lafaz Allah dan Muhammad Gegerkan Penduduk Nigeria
Penduduk kota Birnin Kebi, wilayah Utara Nigeria digegerkan dengan penemuan sepotong daging bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad yang tertulis dalam Bahasa Arab. Ribuan orang berbondong-bondong mendatangi restoran tersebut untuk melihat keajaiban ilahi itu.
Penemuan daging tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang pelanggan restoran yang akan makan malam. Namun dia tiba-tiba punya firasat untuk memperhatikan daging goreng itu sebelum disantap, kata pemilik restoran, Kabiru Haliru kepada majalah mingguan Nigeria, Weekly Trust minggu lalu. Pelanggan itu kemudian menyerahkannya kepada pemilik restoran.
Menurut pemilik restoran, Kabiru Haliru, daging itu sebenarnya telah direbus dan digoreng sebelum disajikan. Tapi kami waktu itu tidak memperhatikannya.
Sejak daging bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad ditemukan, ribuan orang dari kalangan pelajar dan ulama muslim datang ke restorannya untuk melihat potongan daging itu. “Daging ini juga memberikan keberkahan dan rizki yang luar biasa bagi kami, karena restoran kami dikunjungi ribuan orang sejak daging itu ditemukan minggu lalu, sebagian mereka ada yang makan di restoran kami,” ungkap Kabiru Haliru.
“Rata-rata setelah mereka melihat daging itu, mereka berkomentar bahwa itu adalah petunjuk dari Allah Swt bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar bagi umat manusia,” kata Kabiru Haliru.
Dr. Yakubu Dominic seorang tokoh Islam di kota itu, mengatakan tidak ada penjelesan ilmiah yang dapat menerangkan proses terjadinya tulisan itu. [syarif/bbc/wkl/www.suara-islam.com]
Majelis Budaya Rakyat dan Radio Dakta menggelarACARA PEKAN TARBIYAH
DOWNLOAD Jadwal Pekan Tarbiyah-Majelis Budaya Rakyat Bekerjasama Radio Dakta menggelar “Acara Pekan Tarbiyah” mulai tanggal 25 hingga tanggal 27 juli 2008. Rencananya dalam acara ini juga akan di Launcing Film “ Sang Murobi” yang berkisah perjalanan sosok Ust Rahmat Abdullah mulai remaja hingga akhir hayatnya.
Sementara itu Menurut Sekertaris Redaksi Radio Dakta, Meytree Wulansari , pihaknya mendukung acara ini karena sosok Ust.Rahmat Abdullah tidak lepas dari Dakta. Hingga Akhir Hayatnya Ust Rahmat Abdullah merupakan salah satu pengisi Program “Titik Pandang Ust.Rahmat Abdullah” yang di siarkan setiap sabtu pagi jam 6.30 bersama Dhani Wahab.
Selain itu Ust Rahmat juga salah satu penggagas acara “Samara“ yang sampai saat ini masih bertahan dan mendapatkan rating cukup bagus. Rencananya Acara ini akan Berlangsung di GRJS BULUNGAN, Jl. Bulungan Blok C No. 1, Jakarta Selatan (Dekat Blok M Plaza, Kejaksaan Agung RI, SMU 6 Jkt dan SMU 70 JKT). Bagi Anda Yang Ingin Melihat Cuplikan Film “Sang Murrobi” durasi 9 menit, Klik Play
Imam Besar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi berkunjung ke Indonesia.
Imam Besar Masjidil Haram dan Imam Besar Masjid Nabawi hari ini bersilaturahmi ke rumah Jusuf Kalla di Jalan Diponegoro No 2, Menteng, Jakarta sekira pukul 08.30 WIB, Kamis (24/7/2008).
Kunjungan dua ulama terkemuka Saudi Arabia itu dalam rangka mempererat tali persaudaraan sesama muslim.
“Kedatangan Imam Besar Masjidil Haram, Sheikh Saud Ibrahim Al-Shrim dan Imam Besar Masjid Nabawi Sheikh Abdul Mohsen Mohammed Al-Qasem serta Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Abdulrahman Mohammed Amen A Al-Khayyat, hanya untuk silaturahmi,” ujar Jusuf Kalla.
Lebih jauh JK membantah jika dalam pertemuan tadi membahas tentang persoalan hubungan kedua negara. “Tidak, hanya silaturrahmi,” tegasnya.
Selain itu Pertemuan antara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dengan rombongan Pemerintah Arab Saudi tidak diisi pembicaraan tentang persoalan Haji.
Padahal, hadir dalam pertemuan itu Imam Besar Masjidil Haram, Sheikh Saud Ibrahim Al-Shrim dan Imam Besar Masjid Nabawi Sheikh Abdul Mohsen Mohammed Al-Qasem serta Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Abdulrahman Mohammed Amen A Al-Khayyat,
Keterangan RI-2 itu dipertegas dengan pernyataan Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Umroh Haji RI (Ampuri) Fuad Hasan Masyhur. Menurut dia, dalam pertemuan tadi sama sekali tidak disinggung mengenai persoalan Haji.
“Tidak, urusan Haji bukan wewenang mereka. Kedatangan mereka murni silaturahmi. Mereka kan habis menghadiri Musabaqoh hafalan Al Quran dan hadits tingkat ASEAN,” ujarnya.
Dalam pembicaraanya Imam Besar Masjidil Haram dan Imam Besar Masjid Nabawi memuji ketegasan Pemerintah Indonesia mengeliminir aliran sesat. Hal itu dinilai sebagai sebuah prestasi karena Indonesia menerapkan sistem demokrasi terbuka.
Namun, Fuad membantah jika yang dimaksud dengan aliran sesat adalah ajaran Ahmadiyah.
“Tadi tidak fokus pada satu ajaran, namun mereka melihat secara global. Pemerintah Indonesia sangat tegas menjaga nilai-nilai agama,” ujarnya.[okezone.com]
Pendapatan insidental sebagai anggota DPR/MPR dalam hitungan setahun bila di rata-rata per bulan, yaitu uang kunker kolektif Komisi empat kali setahun yang rata-rata per bulan Rp1.650.000, uang kunker keluar negeri DPR satu kali setahun yang rata-rata per bulan Rp3.700.000, dan uang kunker ke luar negeri MPR satu kali setahun yang rata-rata per bulan Rp3.700.000.
JAKARTA -- Hakim Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD, yang juga merupakan mantan anggota DPR/MPR 2004 -- 2008, mengatakan, saat menjadi anggota DPR/MPR, dirinya bisa meraup pendapatan lebih dari Rp80 juta per bulan.
Hal tersebut terungkap dalam pengumuman kekayaan penyelenggara negara yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi di Gedung KPK yang terletak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu malam.
“Pemasukan saya sewaktu menjadi anggota DPR/MPR mencapai Rp86 juta per bulan,” kata Mahfud MD.
Mahfud memaparkan, sebagai anggota DPR, pendapatan bulanannya sebesar Rp48.600.000 yang terdiri dari gaji serta beragam tunjangan yaitu tunjangan komisi, fungsional, komunikasi intensif, listrik/telepon, dan penyerapan aspirasi.
Sedangkan sebagai anggota MPR, lanjut Mahfud, pendapatannya adalah sebesar Rp27.500.000 yang terdiri dari tunjangan jabatan dan honorarium kegiatan seperti sosialisasi ke daerah, Rapim/Rakor Tim Sosialisasi UUD.
Ia juga mengatakan, terdapat pendapatan insidental sebagai anggota DPR/MPR dalam hitungan setahun bila di rata-rata per bulan, yaitu uang kunker kolektif Komisi empat kali setahun yang rata-rata per bulan Rp1.650.000, uang kunker keluar negeri DPR satu kali setahun yang rata-rata per bulan Rp3.700.000, dan uang kunker ke luar negeri MPR satu kali setahun yang rata-rata per bulan Rp3.700.000.
Selain itu, terdapat pula uang rapat konsinyasi untuk koordinasi dan sinkronisasi RUU inisiatif dengan rata-rata per bulan Rp1.500.000.
Mahfud juga menuturkan, terdapat pula pendapatan yang tidak dapat dirata-ratakan per bulan antara lain dan bantuan pembelian mobil sebesar Rp80 juta pada 2004 ketika tahun pertama dirinya menjabat sebagai anggota DPR.
Mengenai pendapatan dari luar DPR, ia mengakui, sebagai dosen, pensiunan, penulis, dan penceramah, rata-rata Mahfud memperoleh Rp45 juta per bulan.
Ia juga mengemukakan, belanja rutin atau sehari-harinya untuk keperluan rumah tangga, pendidikan, transport, dan tiket, sudah bisa dipenuhi dari pendapatan di luar DPR/MPR terutama dari kegiatan yang dibayar secara “cash and carry”.
Meskipun tindakannya selalu Frontal terhadap umat islam, namun PDS mendukung langkah Gus Dur yang dianggap membela kepentingan Mereka seperti halnya pendirian tempat beribadah atas nama kebebasan beragama.
Dalam suratnya Bahkan PDS memberi julukan Sebagai “Bapak Pluralisme” terhadap Gus Dur.
Partai Damai Sejahtera ( PDS ) sudah sejak lama menyatakan ” Perang” terhadap undang-undang atau Perda-perda yang berbau agama. Salah satunya adalah UU Perbankan Syariah. Meskipun tindaknya selalu Frontal terhadap umat islam, namun PDS mendukung langkah Gus Dur yang dianggap membela kepentingan Mereka seperti halnya pendirian tempat beribadah atas nama kebebasan beragama. Dalam suratnya Bahkan PDS memberi julukan Sebagai “Bapak Pluralisme” terhadap Gus Dur.
Berikut adalah Isi Surat PDS Kepada Gus Dur :
Jakarta, 24 Agustus 2005
Kepada Yth,
Bpk. KH. Abdurachman Wahid
Di- Jakarta!
Salam Sejahtera!
Partai Damai Sejahtera (PDS) mengikuti dengan cermat perkembangan pluralisme dan toleransi antar umat beragama di persada Indonesia ini. Kamipun mengikuti secara cermat bahkan tokoh dan organisasi yang secara konsisten berupaya untuk mengembangkan sikap saling menghargai perbedaan-perbedaan antar kelompok dan golongan. Kami sangat mengapresiasi fakta sejarah betapa Bangsa ini dideklarasikan sebagai bangsa yang majemuk dan menghargai manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya. Sesuatu yang ditegaskan dan digariskan oleh para founthing fathers Bangsa Indonesia.
Perkenankan kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan sebesar-besarnya atas konsistensi, ketegasan dan sikap yang teguh kepada Bapak KH Abdurachman Wahid. Terutama atas sikap yang tidak berubah terhadap diskriminasi yang berlaku, baik karena ketidaksengajaan maupun atas kesengajaan. Kami mengikuti secara cermat pernyataan, ucapan dan pembelaan Bapak atas kelompok minoritas Indonesia, terutama bagi Umat Kristiani dan kelompok Keturunan Tionghoa. Sejumlah tindakan diskriminasi telah kami alami selama beberapa tahun terakhir dengan tiadanya upaya serius dan komprehensif dari pemerintah untuk mengatasi dan menempatkannya dalam jalur hukum yang berlaku di Negeri ini.
Kejadian terakhir, dimana sejumlah Gereja dipaksa untuk menutup aktifitasnya tanpa adanya jaminan resmi aparat pemerintahan, kembali menjadi bukti betapa diskriminasi semakin meraja lela. Jaminan persamaan didepan Hukum menjadi semakin hambar, manakala hak beribadah menjadi semakin dihantui oleh aksi kekerasan disertai ancaman, tanpa mampu ditangani secara bijak dan tepat oleh aparat pemerintahan. Betapapun, kami menyadari bahwa memang mesti ada beberapa hal secara internal yang perlu dibenahi, tetapi ancaman dan paksaan untuk menghentikan peribadatan sesuai dengan agama masing-masing adalah tindakan berlebihan dan melanggar Hak Asasi Manusia.
Pada titik inilah justru kami menghargai konsistensi Bapak, bukan hanya ketika membela penutupan paksa sejumlah gereja di Jawa Barat beberapa hari lalu, tetapi bahkan jauh sebelumnya. Konsistensi yang jarang kami diantara banyak tokoh lain yang memperjuangkan HAM dan pluralisme di Indonesia. Penghargaan setulusnya kami atasnamakan seluruh umat Kristiani dan keturunan Tionghoa umumnya dan khususnya seluruh kader dan simpatisan PDS. Tidak ada salahnya menempatkan dan menyematkan penghargaan yang tinggi atas bhakti dan konsistensi Bapak atas penghargaan pluralisme di tengah Bangsa ini. Bapak telah menunjukkan dan mengajarkan dan bahkan meneladankan bagaimana seharusnya Bangsa Indonesia menunjukkan kepada dunia kekayaan kepelbagaiannya. Dan karena itu, perkenankan kami selanjutnya, meski secara informal memberikan penghargaan bagi Bapak sebagai Guru Bangsa dan sekaligus sebagai BAPAK PLURALISME bagi Bangsa ini. Sekaligus kami berdoa, semoga konsistensi Bapak, tekad dan semangat yang kukuh itu, boleh terwariskan kepada anak-anak Bangsa kita tercinta ini.
Akhirnya, segenap umat Kristiani di Indonesia, segenap kader dan simpatisan PDS se Indonesia, dan bahkan atas nama segenap kelompok yang mengalami diskriminasi dan selama ini menerima pembelaan Bapak, perkenankan kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya. Kiranya Tuhan Maha Kasih, memberkati dan senantiasa menyertai Bapak se keluarga.
Sidoarjo -- Sekitar 750 korban dampak lumpur Lapindo Desa Siring Barat terpaksa mengikuti coblosan Pemilihan Gubernur Jatim di TPS 7 dan 8 Desa Pamotan, Porong. Alasannya, Desa Siring Barat masuk dalam areal berbahaya. “Sesuai keputusan KPUD Sidoarjo, seluruh warga Desa Siring Barat melaukan pencobolsan di Desa Pamotan,” kata Bambang Siswanto, Ketua KPPS 7 Desa Pamotan, Porong kepada detiksurabaya, Rabu (23/7/2008).
Meski dalam pemilihan Gubernur ini ratusan warga Desa Siring masuk ke dalam Desa Pamotan, namun TPS yang didirikan tetap berada di wilayah Desa Siring.
“Itu sudah keputusan KPUD. Kita hanya mengikuti aturan saja,” ungkapnya.
Meski TPS 7 dan 8 hanya diperuntukan bagi warga Desa Siring Barat, namun kedua TPS itu juga menerima pemilih korban lumpur lainnya. Asalkan para korban lumpur ini membawa kartu identitas diri seperti KTP dan SIM meski tidak terdaftar dalam daftar pemilih di TPS tersebut.
“Semua korban lumpur meski tidak terdaftar dan membawa surat C7 tetap diperbolehkan mencoblos di TPS 7 dan 8. Karena menurut KPUD untuk korban lumpur dalam pilgub ini diprioritaskan,” jelas Bambang.
Coblosan Pilgub di desa korban lumpur ini dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Dari pengamatan detiksurabaya, hingga pukul 10.45 WIB, sudah 60 persen pemilih yang mengikuti coblosan.[detik.com]
Majelis Budaya Rakyat dan Radio Dakta menggelarACARA PEKAN TARBIYAH
DOWNLOAD Jadwal Pekan TarbiyahMajelis Budaya Rakyat Bekerjasama Radio Dakta menggelar “Acara Pekan Tarbiyah” mulai tanggal 25 hingga tanggal 27 juli 2008. Rencananya dalam acara ini juga akan di Launcing Film “ Sang Murobi” yang berkisah perjalanan sosok Ust Rahmat Abdullah mulai remaja hingga akhir hayatnya.
Sementara itu Menurut Sekertaris Redaksi Radio Dakta, Meytree Wulansari , pihaknya mendukung acara ini karena sosok Ust.Rahmat Abdullah tidak lepas dari Dakta. Hingga Akhir Hayatnya Ust Rahmat Abdullah merupakan salah satu pengisi Program “Titik Pandang Ust.Rahmat Abdullah” yang di siarkan setiap sabtu pagi jam 6.30 bersama Dhani Wahab.
Selain itu Ust Rahmat juga salah satu penggagas acara “Samara“ yang sampai saat ini masih bertahan dan mendapatkan rating cukup bagus. Rencananya Acara ini akan Berlangsung di GRJS BULUNGAN, Jl. Bulungan Blok C No. 1, Jakarta Selatan (Dekat Blok M Plaza, Kejaksaan Agung RI, SMU 6 Jkt dan SMU 70 JKT). Bagi Anda Yang Ingin Melihat Cuplikan Film “Sang Murrobi” durasi 9 menit, Klik Play
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah