Jerusalem, Para pejabat Israel, Minggu (8/6), mengecam ancaman seorang menteri senior pekan lalu untuk menyerang Iran jika negara itu tidak menghentikan kegiatan nuklirnya.
Mereka menuduh menteri itu menggunakan isu Iran untuk tujuan-tujuan politik domestik.
Deputi Menteri Pertahanan Matan Vilnai mengecam apa yang ia sebut Deputi Shaul Mofaz “menggunakan isu-isu strategis sentral untuk alasan-alasan politik dalam negeri” dalam satu wawancara dengan radio publik.
Mofaz, menteri prasarana dan seorang anggota senior partai Kadima pimpinan PM Ehud Olmert, dalam satu wawancara dengan sebuah sebuah suratkabar mengatakan “jika Iran tetap melanjutkan program senjata nuklirnya, kami akan menyerang negara itu.”
“Opsi-opsi lain tidak ada. Sanksi-sanksi tidak efektif. Tidak akan ada alternatif kecuali menyerang Iran untuk menghentikan program nuklirnya,” kata Mofaz kepada suratkabar Yediot Aharonot edisi Jumat.
Ia menegaskan operasi seperti itu hanya dapat dilakukan dengan dukungan AS.
Mofaz, yang mantan menteri pertahanan dan panglima angkatan darat itu mengharapkan dapat menggantikan Ehud Olmert sebagai perdana menteri dan ketua partai Kadima.
“Pernyataan-pernyataan ini tidak bertanggungjawab dan tidak mewakili sikap pemerintah kami,” kata seorang pejabat senior pertahanan yang dikutip radio publik, Minggu.
“Program nuklir Iran mencemaskan masyarakat internasional, tidak hanya Israel. Pernyataan-pernyataan ini bertentangan dengan kami karena mereka mengalihkan isu dari masalah utama yang adalah ancaman itu,” kata pejabat itu.
Israel, yang diperkirakan merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah memiliki senjata nuklir yang tidak diungkapkan, menganggap Iran adalah ancaman terbesarnya karena program nuklir republik Islam itu, yang Teheran tegaskan berulangkali adalah untuk tujuan damai.
Israel juga bereaksi keras terhadap pernyataan-pernyataan yang berulangkali diucapkan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad bahwa negara Yahudi itu harus “dihapuskan dari peta.”
Iran memprotes pernyataan-pernyataan Mofaz, Sabtu dalam sepucuk surat kepada Dewan Keamanan PBB dan Sekjen PBB Ban Ki moon.
“Rezim Israel menjadi berani karena sikap tidak peduli Dewan Keamanan PBB… melakukan pelanggaran terang-terangan prinsip-prinsip PBB dan terus mengancam Iran dengan kekuatan militer,” tulis surat itu.
Sekutu dekat Israel AS memimpin usaha untuk menekan Iran menghentikan program nuklirnya dan sampai sekarang Dewan Keamanan PBB telah memberlakukan tiga babak sanksi ekonomi.(Smt/Inilah)
SOLIDARITAS DAN UKHUWAH ISLAMIYAH PENGUMPULAN DANA UNTUK FPI
Jakarta, Tablig akbar di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Jumat diwarnai dengan aksi solidaritas pengumpulan dana yang akan diserahkan kepada tujuh anggota Front Pembela Islam (FPI) yang kini ditahan di Polda Metro Jaya.
Ajakan pengumpulan dana itu disampaikan oleh salah satu panitia penyelenggara, Abdul Rasyid di sela-sela tablig yang diikuti oleh puluhan umat Islam usai salat Jumat di masjid itu.
“Mari kita rogoh kocek untuk saudara-saudara FPI yang ada (ditahan) di Polda,” katanya. Dana itu, katanya, merupakan bentuk simpati terhadap perjuangan anggota FPI untuk menuntut pembubaran Ahmadiyah.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH A Cholil Ridwan usai penggalangan dana menyatakan, aksi ini merupakan bentuk solidaritas dan ukhuwah Islamiyah terutama untuk anggota FPI yang ditahan.
Usai penggalangan dana, peserta tablig akbar yang tergabung dalam Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) berencana untuk menjenguk Ketua FPI Habib Rizieq dan enam anggota FPI lainnya yang kini ditahan di Polda Metro Jaya.
Dana yang dikumpulkan akan diserahkan kepada Rizieq untuk selanjutnya dibagikan kepada anggota FPI lainnya yang ditahan. Mereka ditahan Polda Metro Jaya setelah menjadi tersangka kasus tindak kekerasan terhadap massa yang memperingati hari Pancasila di Monas, 1 Juni 2008. (Antara)
PEMKO HARUS TEGAS TERKAIT GEREJA LIAR
Binjai, Pemko Binjai harus tegas dalam masalah pembangunan gereja HKBP Resort Binjai Baru yang terkesan liar karena tidak mempuyai izin bangunan yang kini masih berdiri, jangan berlarut-larut membuat umat Islam dirugikan.
Hal itu dikatakan Ketua Majelis Mujahidin Sumatera Utara Zulkarnain SS di Binjai, Rabu (4/6). Hal inilah yang membuat warga Muslim Kota Binjai dan umat Islam umumnya menjadi gusar. Betapa tidak, sudah begitu banyak surat keputusan yang dikeluarkan oleh Pemko apakah dari kesepakatan dengan unsur Muspida atau dari instasi terkait seperti Dinas Tata Kota dan Pemukiman Kota Binjai serta kelurahan dan FKUB, namun hingga kini belum juga tuntas. Sementara itu, Pemko Binjai dinilai berat sebelah terkait masalah ini, bahkan Pemko terkesan takut akibat puluhan umat Nasrani dan Pendeta mengadakan aksi mendukung pembangunan Gereja. Padahal seluruh masyarakat kota binjai secara tegas menolak pembangunan liar tersebut.
Upaya pengalihan tanggung jawab terasa begitu kental hal itu pada pertemuan bersama antara Muspida Kota Binjai, panitia pembangunan gereja, perwakilan HKBP, umat Islam yang diwakili Forum Islam Bersatu Kota Binjai, perwakilan masyarakat yang di kantor Pemko tanggal 5 Mei 2008 lalu, Pemko terkesan melempar tanggung jawab dengan menyerahkan kembali permasalah kepada FKUB.
Padahal FKUB telah mengeluarkan rekomendasi, kerukunan tidak atau belum bisa dicapai. Hal ini diatur dalam SKB dua Menteri Bab IV pendirian rumah Ibadah pasal 13 ayat (2) yang berbunyi , pendirian rumah ibadah sebagai yang dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak menggangu ketenteraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan dan perundang-undangan.
Sementara Forum Komunikasi Antar Umat beragama (FKUB) Kota Binjai dalam rapatnya Senin (2/6) di Polresta Binjai tetap dalam keputusannya yakni kerukunan antar Umat Bergama belum tercapai, sesuai rekomendasi yang sudah dikeluarkan FKUB.
Berita Terkait ‘FPI’ (Waspada)
KEDUBES AS BERI SANTUNAN KEPADA ANGGOTA AKKBB
Kuasa Usaha Kedubes AS untuk Indonesia, John Heffrn bahkan menjenguk dan memberi santunan anggota AKK-BB yang menjadi korban insiden Monas 1 Juni. Sedangkan untuk FPI, AS mendesak agar dibubarkan
Jakarta, Forum Umat Islam (FUI) mencurigai insiden monas didalangi pihak asing. Bahkan AKK-BB dinyatakan telah menerima duit US$ 26 juta dolar sejak 1995 hingga 1997.
Kecurigaan FUI ini didasari kedatangan Kuasa Usaha Kedubes AS untuk Indonesia, John Heffrn menjenguk dan memberi santunan anggota AKK-BB yang menjadi korban insiden Monas 1 Juni.
“John Heffrn datang membesuk para korban dari AKK-BB. Ini menimbulkan tanda tanya publik. Ada hubungan apa antara orang-orang yg dijenguk tadi dengan kedubes AS,” ujar Ketua Gerakan Persaudaran Muslim Indonesia (GPMI) Ahmad Sumargono.
Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers yang digelar FUI di Hotel Sofyan Cikini, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat. Sekadar diketahui, GPMI adalah salah satu organisasi yang tergabung dalam FUI.
Selain itu, Sumargono mengungkapkan, AS telah menerbitkan rilis yang meminta pemerintah Indonesia untuk segera menyelesaikan insiden Monas. Penerbitan rilis ini dinilai sebagai bentuk campur tangan AS.
Sumargono juga membeberkan, Adnan Buyung Nasution, yang juga salah satu tokoh AKK-BB, telah menerima duit US$ 26 juta dari AS sejak tahun 1995 hingga 1997. “Melalui YLBHI, Adnan Buyung telah menerima dana dari USAID. Dana ini yang menyebabkan terjadinya gelombang reformasi yang membuat Indonesia amburadul di bawah eksploitasi kaum kapitalis liberal,” tuturnya.
Data ini didapat Sumargono berdasarkan tulisan di New York Time. Sumargono mengatakan tulisan New York Time itu diperkuat dari Maruli Tobing dalam harian Kompas, 9 Februari 2001 yang menyebut ‘Lewat bantuan itu pula tidak adapula salahnya mencurigai CIA ikut dalam peristiwa yang terjadi 13 hingga 15 Mei 1998 di Jakarta’.
Rencananya, FUI akan menyerahkan bukti-bukti keterlibatan pihak asing ini ke Mendagri sebagai bahan pertimbangan. “Syarat sebuah ormas dibubarkan salah satunya adalah mendapat bantuan dari asing. Bukti ini akan kami serahkan ke Mendagri sebagai pertimbangan saja,” katanya.(Smt/Berbagai Sumber)
ANEH GUSDUR INGIN MEMBUBARKAN FPI SEJAK 15 TAHUN YANG LALU PADAHAL USIA FPI BARU 10 TAHUN
Gus Dur mengaku sudah 15 tahun lebih meminta FPI dibubarkan . Namun tidak ada yang mendengarkannya
Bekasi, Mantan presiden RI KH.Abdurahman Wahid mengaku sudah hampir 15 tahun ini berupaya membubarkan ormas islam FPI.Hal ini dikatakan Gus Dur dalam jumpa pers di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (5/6/2008).
Namun gus dur mengaku pembubaran FPI tidak menjadi prioritasnya ketika menjadi presiden Indonesia keempat. Padahal, Gus Dur mengaku sudah 15 tahun berjuang agar FPI dibubarkan.
“Orang kerja kan punya prioritas. Prioritas saya untuk menjaga Indonesia tetap satu, tidak terurai,” kata Gus Dur.
Demikianlah alasan Gus Dur menjawab pertanyaan mengapa tidak membubarkan FPI saat menjadi presiden.
Gus Dur mengaku sudah 15 tahun lebih meminta FPI dibubarkan . Namun tidak ada yang mendengarkannya.
“Saya akan lebih berterimakasih lagi kalau FPI dibubarkan. Saya minta agar FPI dibubarkan. Kalau tidak ya kita bubarkan sendiri. Memangnya hanya pemerintah yang bisa bertindak,” ujarnya.
Loh kok Gus Dur malah keras, bukan menganjurkan FPI dan massa PKB berdamai? “Oh tidak keras. Di mana bertindak keras. Menuntut pembubaran itu memang seperti itu. Saya tidak pernah memerintahkan (kekerasan),” sahut Gus Dur dengan gayanya yang santai.
Sementara itu menanggapi upaya gus dur yang mengaku sudah 15 tahun membubarkan FPI, Redaksi Dakta mencoba menelusuri Hari jadi FPI.
FPI lahir 17 Agustus 1998 di tengah gelombang reformasi, dibidani Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab. Rizieq sendiri berasal dari Jami’at Kheir, organisasi tradisionalis di kalangan keturunan Arab-Indonesia. Ia sarjana pendidikan Islam dari Universitas Raja Saud, Riyadh, Arab Saudi. Rizieq memimpin Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam Darul Fiqh, di samping menjadi anggota Dewan Syariah Bank Perkreditan Rakyat Syariah At-Taqwa, Tangerang, Banten.
Deklarasi FPI bertepatan dengan tablig akbar di Pesantren Al-Um, Kampung Utan, Ciputat, Jakarta Selatan. Ada anggapan, hadirnya FPI adalah bagian dari apa yang populer sebagai “ledakan partisipasi” dalam era reformasi. Saat elemen masyarakat lain menyerukan refomasi politik, ekonomi, atau hukum, FPI mengumandangkan reformasi moral. “Krisis bangsa ini berpangkal pada krisis moral,” kata Habib Rizieq. Kongkretnya, FPI ingin menegakkan prinsip amar makruf nahi mungkar
Dari penjelasan diatas ,ternyata FPI baru di bentuk tahun 1998. Ini artinya umur FPI hingga saat ini baru 10 tahun (1998-2008). Lalu dari mana gus dur mengaku 15 tahun?Wallahu’alam
.
( Smt/Detik)
PKS : POLISI HARUS BERSIKAP ADIL ! KAPAN AKKBB DIPERIKSA ?
Jakarta,Polisi juga harus mengusut tuntas terkait dugaan aksi tanpa izin, penggunaan senjata api, dan pernyataan-pernyataan penghinaan yang dilakukan AKKBB.” Penangkapan sudah tidak benar, kalau tidak terlibat kenapa ditangkap,” Bagaimana Pak Polisi ?
Aparat kepolisian diingatkan agar tidak terlena dengan penangkapan sejumlah anggota Front Pembela Islam (FPI). Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) juga harus diperiksa.
“Kepolisian jangan hanya fokus kepada penyelidikan dan penangkapan Laskar Pembela Islam dan FPI, tapi juga memeriksa pihak AKKBB,” kata Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddik dalam pesan singkatnya kepada okezone, Rabu (4/6/2008).
Mahfudz berharap penyelesaian hukum kasus Monas dilakukan secara adil dan objektif terhadap FPI dan AKKBB. Polisi juga harus mengusut tuntas terkait dugaan aksi tanpa izin, penggunaan senjata api, dan pernyataan-pernyataan penghinaan yang dilakukan AKKBB.
“Jika proses hukum dilakukan sepihak, dikhawatirkan justru memicu kemarahan balik yang lebih serius,” tukasnya.
Sementara itu, DPP PKS mengimbau pimpinan-pimpinan ormas dan parpol Islam untuk mengambil inisiatif guna mendamaikan suasana. DPP PKS juga menyerukan agar semua pihak tidak bereaksi dalam bentuk kekerasan terhadap FPI. “Karena hal ini akan memicu konflik yang lebih luas yang korbannya adalah masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lainnya , Soeripto menyayangkan aksi pengkapan yang dilakukan aparat polisi gabungan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya terhadap 57 anggota Front Pembela Islam (FPI).
“Penangkapan sudah tidak benar, kalau tidak terlibat kenapa ditangkap,” ujar Soeripto saat berbincang dengan okezone, Rabu (4/6/2008).
Menurutnya, penangkapan dilakukan terhadap oknum yang bertanggungjawan atas aksi kekerasan di Monas. Penangkapan kali ini, dinilainya tidak tepat sasaran.
“Penangkapan jangan di sapu bersih, tapi betul-betul oknum yang melakukan kekerasan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dirinya meminta, aparat bisa bersikap lebih prosesional dalam mengusut kasus ini. Sebab, sejauh ini penangkapan dilakukan secara brutal.
“Seharusnya diusut secara profesional, siapa yang memerintahkan melakukan aksi yang ditangkap. Kalau Habib Rizieq yang memerintah, yang ditangkap dia jangan main comot saja,” tegasnya.
Bahkan, dirinya menilai, Intelijen belum bekerja secara profesional dalam memetakan oknum yang harus ditangkap dan oknum yang tidak terlibat.
Sedangkan Rudi Satrio, pengamat hukum dari Universitas Indonesia (UI), saat dihubungi detikcom, mengakui jika Polisi melakukan penangkapan, karena terpengaruh opini publik yang menyudutkan.
“Seperti yang kita lihat, selama ini media sangat menyudutkan FPI. Sosok FPI dinilai paling bersalah, padahal ada orang lain (AKKBB) yang juga melakukan pelanggaran hukum,” kata Rudi
Akibatnya, kata Rudi, polisi melakukan penangkapan bukan didasarkan pada penegakan hukum yang ada. “Polisi terobsesi dengan opini yang telah terbangun. Bukan kebijakan yang harus dilakukan suatu lembaga,” tambah Rudi.
Sebab, dalam pandangan Rudi, massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) saat berunjuk rasa di Monas dinilai memprovokasi massa FPI. Seharusnya, AKKBB bisa dimintai pertanggungjawaban oleh aparat kepolisian.
Rudi menilai, AKKBB sengaja untuk tidak memahami situasi yang ada. AKKBB juga sengaja memancing dan memprovokasi massa FPI di tengah berbagai penolakan yang cukup deras terhadap Ahmadiyah.
“Mereka (AKKBB) juga memancing masalah. Ini yang harus menjadi diperhatikan aparat penegak hukum,” kata Rudi. ( Smt/Ozn/Dtk)
KETERLALUAN! KARENA BERJENGGOT POLISI CIDUK MARBOT MASJID
Polisi binggung mana anggota FPI, Akhirnya warga yang berjenggot ikut diamankan
Jakarta, Insiden penangkapan 49 orang anggota Front Pembela Islam (FPI) oleh pihak kepolisian berbuah unik. Dalam aksi penangkapan tersebut kepolisian salah menangkap seorang pria yang diduga salah satu anak buah Habib Rizieq Shihab.
Pria yang dikenal dengan nama Ahmad Badawi tersebut sebenarnya adalah petugas pembersih Mesjid An-Nur, yang berada ratusan meter dari markas FPI.
“Saya tidak ikut FPI. Masa jangan gara-gara jenggotan saya ikut diambil juga,” tegas Badawi ketika diangkut ke dalam mobil tahanan, di dekat markas FPI, Jalan Petamburan III, Rabu (4/6/2008).
Tidak menggubris teriakan Badawi, petugas intel yang melakukan penangkapan justru memarahi pria tersebut. “Nanti aja urusannya di kantor. Bawa ke polda,” ujar petugas intel tersebut.
Sedangkan seorang warga yang menonton penangkapan anggota Front Pembela Islam, yang dilakukan di markas FPI di jalan Petamburan III, Jakarta Pusat, juga menjadi korban salah tangkap aparat kepolisian.
Seperti dilaporkan warga Petamburan II, Mulia, korban salah tangkap itu bernama Rizky. Remaja yang belum diketahui usianya ini, adalah warga Petamburan II, Jakarta Pusat.
Pagi tadi, Rizky sedang berada di sekitar lokasi penangkapan, tapi polisi menduga ia adalah salah satu anggota FPI, dan kemudian langsung di masukan ke truk tahanan.
“Rizky sedang berada di lokasi penangkapan untuk menonton. Tapi, mungkin karwena ia berjenggot, polisi menganggapnya sebagai salah satu anggota FPI. Karena itu Rizky ikut dibawa. Padalah saya kenal Rizky ini sama sekali tidak terlibat ” jelas Mulia.
Sementara itu Majelis Mujahidin Indonesia memgutuk keras ketidakadilan yang ditunjukan pemerintah terhadap isu FPI dan AKKBB. Juru Bicara Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Fauzan Al Anshori meminta agar aparat kepolisian juga melihat kronologis mengapa peristiwa kekerasan di Monas tersebut bisa terjadi.
Karena berdasarkan informasi yang diterimanya, lanjut Fauzan, munculnya kekerasan oleh massa FPI tersebut akibat adanya provokasi dari massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang tengah berorasi.
“Jadi, bentrokan itu nampaknya sudah didesain. Orasi dari AKKBB telah memicu emosi massa FPI,” tegasnya.
Karena itu, katanya, polisi juga seharusnya melakukan pemeriksaan terhadap kelompok AKKBB yang telah melakukan provokasi dan memeriksa oknum AKKBB yang membawa senjata api saat kejadian.
“Jadi, kalau kemudian isunya dialihkan menjadi pembubaran FPI, itu sudah terlalu jauh. Bahkan saya menduga ada agenda pengalihan isu utama tentang kenaikan harga BBM dan pembubaran Ahmadiyah,” katanya.
Menurut dia, insiden Monas sebenarnya merupakan isu kecil tetapi kemudian dibesar-besarkan. Karena, katanya, untuk menanganinya cukup mudah yakni dengan memeriksa orang yang melakukan pemukulan lalu memprosesnya secara hukum.
Fauzan juga mengkritik pemerintah yang terkesan gamang dalam memutuskan perkara Ahmadiyah yang sebenarnya merupakan isu utama, yang kemudian dimanfaatkan kelompok umat agama lain hingga memicu emosi massa FPI.
( smt/berbagai sumber)
AKKBB SANGAT PUAS POLISI TANGKAP FPI
Jakarta, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menyambut gembira penangkapan sejumlah anggota Front Pembela Islam (FPI). AKKBB puas dengan langkah tegas polisi.
“Saya kira patut bersyukur akhirnya polisi bisa tegas terhadap kekerasan yang terjadi. Saya kira ini sudah langkah yang bagus dan luar biasa. Kita patut acungi jempol,” kata Koordinator AKKBB Anick HT saat berbincang dengan wartawan, Rabu (4/6/2008).
Meski mengaku puas dengan penangkapan lebih dari 50 FPI ini, Anick belum yakin dengan tindak lanjut yang akan dilakukan kepolisian terhadap FPI. “Kita lihat apa mereka (polisi) betul-betul serius. Apa diambil, lalu dibalikin lagi, kita nggak tahu,” ujarnya.
Menurutnya, prestasi polisi tidak bisa berhenti pada penangkapan anggota FPI. Langkah selanjutnya, polisi harus mampu membongkar aktor di balik kekerasan yang terjadi di Monas 1 Juni lalu.
“Polisi harus mampu membuktikan bahwa kekerasan memang terorganisir dan terencana. Tidak hanya pelaku kekerasan, tapi juga aktor-aktornya,” tandasnya. (Okezone)
PULUHAN ANGGOTA FPI DIAMANKAN POLISI TERMASUK USTAD MURHALI BARDA
Foto Ustad Murhali Barda dengan kepala tegak karena ke istiqomahannya ketika sedang dibawa Polisi untuk di diamankan pihak kepolisian Polda Metro Jaya
Jakarta, Sebanyak 57 anggota Front Pembela Islam (FPI) diamankan pihak kepolisian Polda Metro Jaya , sedangkan Ketua FPI Habib Rizieq Shihab meminta kepada kepada para seluruh laskar agar tidak panik.
” Para aktivis FPI (yang diamankan polisi) jangan panik karena akan ada pengacara yang mendampingi saat mereka diperiksa,” kata Rizieq kepada wartawan di Jakarta, Rabu.
Selain itu, ia juga meminta seluruh laskar FPI agar tidak menghalangi atau melawan tugas aparat karena pihak kepolisian telah menjamin bahwa pencarian dilakukan dengan profesional.
Rizieq meminta proses pencarian yang dilakukan antara lain berdasarkan bukti foto yang dibawa polisi agar dilakukan dengan cara-cara yang santun.
Habib Rizieq juga mengemukakan para anggota FPI harus berani mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang mereka lakukan.
Puluhan anggota FPI, termasuk Habib Rizieq, itu diamankan dan dibawa ke Polda Metro Jaya pada sekitar pukul 07.00 WIB setelah pihak kepolisian datang ke Markas FPI di Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat.
Sebelumnya, Kepala Polda Metro Jaya Irjen Adang Firman pada Selasa (3/6) malam mengultimatum 10 orang tersangka dalam Insiden Monas agar segera menyerahkan diri kepada pihak kepolisian.
Sementara itu, Polisi Daerah Metro Jaya belum menetapkan 57 anggota yang diamankan di markas Front Pembela Islam (FPI) belum ditetapkan sebagai tersangka. Penangkapan dilakukan dalam rangka untuk dimintai keterangan terkait aksi kekerasan di Monas.
Sedangkan masih belum ada kabar tentang Munarman yang merupakan Komandan Laskar Islam yang melakukan penyerangan terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di kawasan Silang Monas, Minggu. (Antara)
FAKTA DIBALIK KRONOLOGIS PASCAH BENTROKAN ANARKIS AKKBB DENGAN FPI
Entah karena kesal atau sengaja, Korlap aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Saidiman, mengeluarkan kata-kata tidak pantas yang bisa memancing emosi umat Islam.
“Dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing,” ketus aktivis Komunitas Utan Kayu ini kesal.
Jakarta, Korlap aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Saidiman, cuma bisa mengumpat kesal. Pasalnya, Apel Akbar pembelaan terhadap Ahmadiyah yang dirancangnya sejak tengah bulan Mei lalu diobarak-abrik massa yang diduga dari Front Pembela Islam tepat di bawah tugu Monas, Ahad, (1/6), kemarin.
Rencana Saidiman berantakan, 15 orangnya luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit. Sekitar seratusan massa Ahmadiyah yang sengaja didatangkan dari Cirebon dengan dua Bus AC antar provinsi pun terpaksa balik kanan. Sedang puluhan sisanya, yang terdiri dari aktivis dan seniman liberal, seperti Wahid Institute, ICRP, JAI, dsb, mengungsi di Galeri Nasional, di seberang Stasiun Gambir, sekitar setengah kilo meter dari lokasi bentrok.
Entah karena kesal atau sengaja, ia mengeluarkan kata-kata tidak pantas yang bisa memancing emosi umat Islam.
“Dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing,” ketus aktivis Komunitas Utan Kayu ini kesal.
Namun sejak mengetahui dirinya berasa disamping wartawan hidayatullah.com, Saidiman buru-buru pergi dan masuk ke mobil bersama teman-temannya menuju Polda Metro Jaya, untuk melaporkan insiden yang dialaminya.
Sementara di tempat evakuasi, nampak juru bicara JAI, Mubarik Ahmad, bersama rekan-rekannya tampak sibuk mengulas bentrokan yang baru saja terjadi. Sesekali, cercaan keluar dari mulut mereka.
Kepada wartawan Mubarik mengatakan, sebenarnya dia sudah memperkirakan akan terjadinya insiden tersebut. Tapi dia mengaku enggan untuk membatalakan rencana aksinya. “Sudah terlanjur. Nggak mungkin mundur dong,” ucap pria berbadan besar penuh berewok ini.
Saat insiden terjadi, Mubarik baru saja memarkir sepeda motor trail warna kuning merek Hyosung B 6438 IB miliknya di bahu jalan, seberang digelarnya aksi AKKBB.
Melihat massa yang diduga FPI yang datang tiba-tiba dari arah pintu barat Monas, dia hanya tertegun. Kamera yang terkalung di lehernya tidak dijepret barang sekali pun. Sementara massa AKK-BB berhamburan, sebagiannya jadi bulan-bulanan FPI.
Salah seorang dari massa AKK-BB menyalamatkan diri ala aktor film laga, dengan melompat bergelantung di jendela mobil patroli polisi yang melaju untuk membubarkan bentrokan. Sementara massa FPI tetap mencecar dan menombak-nombak pria tadi dengan bambu.
Di seberang, Mubarik masih tertegun. Kemudian kembali ke sepeda motornya untuk meninggalkan lokasi. Ketika hidayatullah.com menghapiri dan menanyakan hendak kemana dirinya, Mubarik hanya melengos. Sepeda motornya dipacu.
Usai bentrokan, massa Laskar Pembela Islam (LPI) dan FPI yang berjumlah 300-an orang berbaris rapih mendengar orasi seraya meneriakkan takbir dan tahlil. Di lapis kedua, berbaris 200 orang anggota Gerakan Islam Reformasi (Garis) dari Cianjur, selanjutnya disusul belasan orang dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
Menjelang bubar, Munarman, Ketua Tim Advokasi FUI sekaligus jubir FPI memberikan orasi penutup. Kepada Intelkam Mabes Porli, Sunaryo, Munarman mengingatkan, setelah peristiwa ini, kalangan liberal akan segera membuat wacana baru untuk menyudutkan FUI, FPI, MMI dan lainnya di media massa. [www.hidayatullah.com]
AKKBB LEBIH BERBAHAYA DI BANDINGKAN FPI
FPI dituduh anarkis karena melukai puluhan Orang, Namun AKKBB lebih anarkis karena menghina dan melukai Umat Islam dengan membela Ahmadiyah
Bekasi, Forum Ulama Umat Indononesia (FUUI ) menganggap perlakuan massa Forum Pembela Islam (FPI) terhadap demo Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) masih dalam batas kewajaran.
“Jika benar tindakan perusakan dan pukulan ringan itu dilakukan oleh saudara kami dari FPI, oleh karena itu saya menilai bahwa hal tersebut masih lebih baik,” kata Ketua FUUI KH Athian Ali saat dihubungi okezone, Senin (2/6/2008).
Karena menurutnya, hal itu belum seberapa jika dibandingkan dengan Ahmadiyah yang telah mencoreng Islam dan telah menginjak iman dan keyakinan umat Islam.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Aliansi Umat Islam (Alumi) Hedi Muhammad yang mengatakan, bahwa peristiwa Monas 1 Juni kemarin merupakan akibat dari lambannya pemerintah dalam menyikapi persoalan ahmadiyah.
Oleh karena itu, pemerintah harus segera menyikapi permasalahan ini dengan berlandaskan UU No 1/PNPS/1965 tentang penodaan terhadap agama. Kecuali jika pemerintah menginginkan akibat yang lebih besar daripada ini.
Jadi lambatnya pemerintah dalam mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB), akan semakin berdampak terhadap disintegrasi bangsa.
Berkaitan kembali memanasnya isu aliran Ahmadiyah, Hedi juga menyoroti sikap KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang tidak bersikap bijak dalam menyikapi Ahmadiyah. Menurutnya Gus Dur lebih banyak memihak daripada bersikap bijak.
“Gus Dur yang merupakan mantan petinggi negara ini, seharusnya dapat bersikap bijak dengan berdiri di tengah. Karena kalau dia berpihak, akan membuat suasana semakin tidak kondusif. Lagipula kalau Gus Dur berpihak itu, bukan merupakan pemimpin yang bijak,” tegasnya.(okezone)
AMERIKA CAMPUR TANGAN MEMINTA FPI DIBUBARKAN
Tuduhan bahwa Amerika serikat “berada di balik demo AKKBB ” tampaknya menjadi kenyataan. Hari ini Kuasa Usaha Kedubes Amerika Serikat John A Heffern menjenguk korban kekerasan Front Pembela Islam (FPI) di RSPAD, Jakarta.
Jakarta, Sudah tabiatnya, jika Amerika terkenal benci terhadap mereka yang gigih memperjuangkan islam dan membantu kaum sekuler. Dalam Kasus bentrokan di monas, kedubes Amerika serikat di jakarta langsung lantang mengencam tindakan ini, Bahkan tak segan-segan mereka meminta agar FPI dibubarkan. Tuduhan bahwa Amerika serikat “berada di balik demo AKKBB ” tampaknya menjadi kenyataan. Hari ini Kuasa Usaha Kedubes Amerika Serikat John A Heffern menjenguk korban kekerasan Front Pembela Islam (FPI) di RSPAD, Jakarta.
Dalam kunjungannnya, John menyalami dan berbincang dengan para pendemo yang dirawat karena membela ahmadiyah di balik kedok perayaan Hari Pancasila di Monas kemarin. Sayangnya John tidak memberikan keterangan apapun kepada wartawan perihal kunjungannya tersebut.
Sampai saat ini para pendukung AKKBB masih dirawat di RSPAD yaitu, Manager Program Jurnal Perempuan Guntur Romli, Direktur IKIP Syafii Anwar, dan dua jamaah Ahmadiyah Dedi C Ahmad dan Taher.
Sementara itu adanya permintaan Gus Dur yang meminta agar Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan, langsung mendapatkan tanggapan dari Ketua FPI, Habib Rizieq Syihab. Menurutnya, saat ini hanya ada segelintir orang saja yang meminta FPI dibubarkan.
“Yang ingin FPI bubar itu cuma sedikit saja,” tegas Rizieq saat konferensi pers di kediamannaya, Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat, Senin (2/6/2008).
Dulu, lanjut Rizieq, saat Gusdur menjabat sebagai presiden ia pernah meminta FPI dibubarkan. Akan tetapi, empat bulan setelah ia mengucapkan statement itu, ternyata Gusdur lengser dari jabatannya.
“Dulu saja waktu jadi presiden tidak bisa membubarkan FPI, apalagi sekarang,” ujarnya diiringi teriakan takbir massa yang hadir. (smt/berbagai sumber)
FPI PUNYA BUKTI VIDEO MASSA AKKBB MENEMBAKAN SENJATA SEHINGGA TERJADI BENTROKAN DI MONAS
Adanya pendukung Ahmadiyah yang membekali dirinya dengan senjata api menunjukkan bahwa aksi di Monas kemarin bukanlah aksi damai. Melainkan aksi yang sengaja ditujukan untuk menimbulkan kerusuhan. Terlebih mereka mengeksploitasi wanita, anak-anak, dan orang cacat yang dijadikan tameng.
JAKARTA, Insiden yang menyebabkan puluhan korban luka-luka di Monas, Minggu (1/6) kemarin, disinyalir karena adanya provokasi dari pihak Ahmadiyah.
Tudingan itu dilontarkan oleh Komandan Laskar Islam, Munarman yang mengaku memiliki bukti berupa video. Dalam video rekaman itu memperlihatkan bahwa salah satu pendukung Ahmadiyah meletuskan senjata api.
“Kami memiliki bukti yang berhasil terekam dalam video. Saat insiden terjadi, ada pendukung Ahmadiyah yang membawa senjata api. Bahkan terlihat dan terdengar oleh Laskar Islam beberapa pendukung Ahmadiyah meletuskan senjata api,” terang Munarman saat berada di Markas Besar FPI, Jalan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (2/6/2008).
Lebih lanjut Munarman mengatakan, adanya pendukung Ahmadiyah yang membekali dirinya dengan senjata api menunjukkan bahwa aksi di Monas kemarin bukanlah aksi damai. Melainkan aksi yang sengaja ditujukan untuk menimbulkan kerusuhan.
“Terlebih mereka mengeksploitasi wanita, anak-anak, dan orang cacat yang dijadikan tameng.” lanjutnya.
Oleh karenanya, berdasarkan bukti dan fakta yang dimiliki FPI, Munarman mengatakan, insiden yang terjadi di Monas akibat provokasi pihak Ahmadiyah.
“Merekalah (Ahmadiyah) yang semestinya dimintai pertanggungjawaban,” tukas Munarman. (smt)
KETUA DPR: BENTROK FPI-AKKBB AKIBAT AHMADIYAH DIBUAT MENGAMBANG OLEH PEMERINTAH
Jakarta, Tidak segeranya pemerintah mengambil keputusan bijaksana soal nasib Ahmadiyah dinilai menjadi pemicu penyerbuan dan pemukulan massa FPI terhadap massa AKKBB.
“Jika aksi seperti itu dibiarkan, apalagi suhu politik semakin bereskalasi menjelang Pemilu 2009, bisa-bisa memicu kerusuhan. Jadi pemerintah jangan bersikap mengambang soal Ahmadiyah,” kata Ketua DPR Agung Laksono di Gedung DPR, Jakarta, Senin (2/6).
Sebelumnya Bakor Pakem telah menyatakan Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam dan kegiatannya harus dihentikan pada April 2008. Namun SKB 3 Menteri yakni Menag, Mendagri, dan Jaksa Agung soal nasib Ahmadiyah.
“Pemerintah harus arif, bijaksana dan cepat mengambil keputusan soal Ahmadiyah yang tidak memicu kerusuhan dan anarkisme. Ini sinyal negatif kalau keputusan terlalu lama diambil,” ujar Agung.[smt]
SEBELUM BENTROKAN MASSA AKKBB MENANTANG LASKAR ISLAM UNTUK DEMO TANDINGAN
Panglima Komando Laskar Islam Munarman:” massa AKKBB mengundanga massa islam untuk menggelar demo tandingan, Namun tiba-tiba AKKBB membatalkan, kemudian kita salat dzuhur di Istiqlal, tapi ternyata AKKBB malah beraksi, sehingga laskar menyusul ke Monas,”
Jakarta, Panglima Komando Laskar Islam Munarman mengaku siap ditangkap Polri atas pembelaanya terhadap islam, setelah massa AKKBB menghina islam dan membela ahmadiyah . Meski siap untuk ditangkap namun munarman meminta beberapa syarat.
“Keluarkan Keppres pembubaran Ahmadiyah dulu baru tangkap saya,” ujar Munarman dalam jumpa pers di Markas FPI, Jakarta, Senin (2/6).
Pria yang sempat menjabat Ketua YLBHI ini meminta Polri tidak menangkap anak buahnya. Ia mengaku yang bertanggung jawab dalm aksi Minggu kemarin. “Saya persilahkan tangkap saja saya tapi jangan ganggu laskar. Jangan tangkap mereka diam-diam,” tegasnya.
Maman, panggilan akrabnya, mendesak Presiden SBY segera menerbitkan Keppres pembubaran Ahmadiyah. Apalagi, menurutnya pendukung Ahmadiyah sudah sengaja melibatkan orang non muslim. “Keppres itu dalam rangka meredam konflik agar tidak meluas,” ujarnya.
Selain itu Munarman juga mengklaim massanyalah yang berada di Monas, bukan FPI. Aksinya bukan penyerbuan AKKBB, melainkan merupakan respons.
“Saya meluruskan berita yang ada karena tidak ada kroscek seperti FPI menyerbu. Yang datang kemarin adalah Komando Laskar Islam yang terdiri dari laskar-laskar ormas Islam,” kata Munarman di Markas FPI, Petamburan, Jakarta, Senin (2/6).
Dituturkan mantan Koordinator Kontras ini, aksi massanya hari Minggu kemarin itu merupakan respons dari undangan terbuka AKKBB yang akan menggelar aksi.
“Ini undangannya,” ujar Munarman sambil menunjukkan undangannya. “AKKBB akan melakukan aksi, tapi batal, kemudian kita salat dzuhur di Istiqlal, tapi ternyata AKKBB jadi aksi, jadi kita ke Monas,” tuturnya.[L3]
Sebelumnya Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Adnan Buyung meminta agar Munarman segera ditangkap. Bahkan Ia menuduh Munarman telah di-brainwashed.(Smt)
FENOMENA ISLAMPHOBIA MUSLIM HARUS INTROSPEKSI
Magelang, Fenomena Islamphobia harus dijadikan sebagai ajang introspeksi diri muslim dunia, karena hal tersebut juga akibat orang Islam yang tidak menunjukkan kehidupan yang Islami.
Demikian disampaikan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, saat menyampaikan Tabligh Akbar. Menurut Din, salah satu fakctor ketakutan akan Islam terjadi, karena umat Islam yang tidak mencoba untuk menunjukkan kehidupan Islam yang sesungguhnya, bukan malah menjauhi yang akan menjadikan Islam sangat asing. “Umat Islam harus mengajak umat lain untuk memperlihatkan Islam sesungguhnya, yang toleran, dan bersifat kekeluargaan,†jelas Din.
Merangkul Bukan Memukul
Mengenai fenomena ajaran sesat yang marak di Indonesia, Din Syamsuddin mengajak warga Muhammadiyah untuk merujuk pada keputusan Tarjih Muhammadiyah tahun 1933 yang menyatakan, seseorang atau kelompok yang meyakini adanya nabi baru setelah Muhammad SAW adalah kafir. Pada sisi lain warga Muhammadiyah juga diharapkan dapat bersabar untuk berdakwah pada seorang atau kelompok tersebut, tidak dengan cara-cara kekerasan, “Mari kita rangkul mereka, bukan malah dipukul, karena tanggaung jawab kita untuk membimbing mereka, Ibaratnya saat ini mereka sudah berada di halaman Islam, dan mari kita ajak masuk sekalian, bukan malah di tendang keluar,†tegas Din.(Muhamadiyah)
KETUA MUI : AKSI AKKBB PROVOKATIF PEMBELA AHMADIYAH!!!
Jakarta, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amidhan menyesalkan timbulnya aksi kekerasan antara massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan Massa pejuang Front Pembela Islam ( FPI ), di Silang Monas, Jakarta, Minggu.
“Kita menyayangkan peristiwa itu. ” katanya, di Jakarta, Minggu.
Amidhan juga menilai tindakan massa Aliansi juga provokatif.
Ia mengatakan Aliansi mencantumkan dukungan dari pihak yang beragama lain selain Islam. Padahal Ahmadiyah adalah masalah yang dialami di internal umat Islam.
Sebelumnya, AKKBB mengadakan aksi mendukung ahmadiyah dan memprovaksi umat islam . Akibatnya 200 orang FPI tampil membela islam.
Massa FPI mengejar dan melakukan pemukulan dengan menggunakan tongkat kepada para pengikut aliansi.
Massa FPI mengejar dan memukuli sambil meneriakkan yel-yel anti Ahmadiyah.
Beberapa saat kemudian, aparat mulai berdatangan, untuk mengamankan para pengikut Aliansi Kebangsaan yang sudah kocar-kacir menyelamatkan diri.
Menurut Koordinator demo FPI, Munarman pihaknya tidak menyetujui unjuk rasa AKKBB yang mendukung keberadaan Ahmadiyah di Tanah Air.(smt/berbagai sumber)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah