Sobri Lubis: Saat Pesawat Sriwijaya Mendarat, Suasana Tegang dan Mencekam
Diposting Pada 17 Feb 2012
Ustadz Sobri Lubis, Sekjen Pimpinan Pusat FPI
JAKARTA_DAKTACOM: Ketika pesawat Sriwijaya yang membawa rombongan pimpinan pusat FPI mendarat di bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimatan Tengah, ada suasana yang sangat mencekam. Semua penumpang terdiam dan befikir dibawah arus fikiran masing-masing. Karena ada informasi kalau pesawat itu akan diserang. Oleh karena itu penumpang tak diperkanankan langsung turun dari pesawat.
Kami sendiri tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Namun tak lama kemudia saya dipanggil pilot, untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting, termasuk menyangkut keselamatan seluruh penumpang. Ketika itu saya diminta untuk mengganti baju gamis, jika mau turun.
Saya kaget mendengar permintaan sang pilot. Aku menolak permintaan itu. Karena bagi saya baju gamis ini adalah baju ulama, menjadi simbol dan kehormatan ulama, tutur Sobri Lubis, Sekjen Pimpinan Pusat FPI, menceritakan ketegangan yang terjadi saat pesawat Sriwijaya yang mereka tumpangi mendarat di bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Sabtu (11/2/12), lalu.
Karena tak ada kesepakatan, saya kembali ke tempat duduk. Suasana semakin mencekam. Karena di luar pesawat massa semakin banyak dan mulai bringas. Meski pesawat sudah mendarat, pintu pesawat tak dibuka karena khawatir massa yang membawa bermacam sejata tajam masuk ke dalam pesawat.
Tak lama saya dipanggil kembali oleh pilot. Kemudian kamipun terlibat dalam pembicaraan yang menyangkut keselamatan penupang dan pesawat. Sebab di luar di luar pesawat mulai marah ada yang mengacungkan madau, tombak, dan sejata tajam lainnya.
Setelah berembuk, diputuskan penumpang selain rombongan dari FPI diperkenankan keluar. Pintu pesawatpun dibuka kemudia penumpang selain FPI buru-buru keluar. Setelah semuanya sudah benar benar keluar- puntu pesawat langsung ditutup, yang tinggal hanya pilot, ko pilot, paramugari, dan romnongan FPI. “ Kami kebali berunding dengan pilot” tutur Sobri Lubis.
Dalam perundingan itu, diputuskan rombongan FPI tak jadi turun dari peswat. Karena menyangkut keselamatan nyawa rombongan FPI. “Di luar pesawat sudah banyak massa yang akan menyerbu kalian. Jadi kalau boleh usul kita mendarat di bandara tersdekat saja” kata pilot.
Dengan berbagai pertimbangan, termasuk pertimbangan kemaslahatan, kami memutuskan untuk menyetujui usul pilot yang kami anggap sangat bijak. Kemudian peswat langsung terbang menuju bandara terdekat yaitu bandara di Banjarmasin Kalimantan Selatan, kisah Sobri Lubis.
Jadi kalau dibilang ada ancaman pembunuhan terhadap rombongan pimpinan pusat FPI, itu tak dapat dibantah lagi. Yang menjadi pertanyaan kami, kalau FPI melaksanakan penegakan nahi munkar, dibilang anarkis dan langsung ditangkapin kemudian diadili di pengadilan, tapi ketika gerombolan kafir menyerang kami (FPI), tak ada petugas yang mau memebrikan perlindungan dan terkesan dibiarkan.
“Jangankan untuk menangkap pelaku kekerasan terhadap FPI, untuk memberikan perlindungan pun tidak ada” ujar Sobri Lubis. (Inas).
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah