JAKARTA -- Impor produk China ke Indonesia tahun ini diperkirakan bakal mengalami peningkatan seiring mulai membaiknya iklim perekonomian global. Selama ini produsen Tanah Air banyak melakukan impor dalam bentuk bahan baku produk-produk asal China.
“Bahan baku yang diimpor selanjutnya akan diolah dan diekspor kembali,” kata Staf Ahli Menteri Keuangan M Chatib Basri dalam diskusi 100 Hari SBY dan Arah Kebijakan Ekonomi di Wisma Proklamasi, Jalan Proklamasi, Jakarta, Selasa malam, 2 Februari 2010.
Menurut Chatib, impor produk nonminyak dan gas asal China tahun lalu memang masih yang tertinggi dibandingkan negara-negara eksportir lainnya yang mencapai US$ 13,49 miliar. Namun secara nilai, impor China tahun lalu mengalami penurunan sekitar 9,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebesar US$ 14,94 miliar.
Sementara ekspor nonmigas Indonesia ke Chiha mengalami kenaikan sebesar 4,1 persen yaitu dari US$ 7,78 miliar pada tahu 2008 menjadi US 8,9 miliar pada tahun lalu.
Chatib menilai penurunan impor China tersebut terutama disebabkan melemahnya perekonomian dunia serta berkurangnya permintaan dari domestik negara Tirai Bambu tersebut. “Tahun ini diperkirakan impor dan ekspor dari dan ke China akan tumbuh lebih tinggi lagi,” katanya.
Menurut Chatib, kegiatan impor produk China oleh produsen Indonesia sebagian besar, yaitu 70 persen, didominasi oleh bahan baku sedangkan impor barang modal hanya mencapai 18-20 persen. Dari impor tersebut, sebanyak 60-75 persen umumnya diolah dan kemudian dijadikan barang ekspor perusahaan di tanah air.
Sementara itu Peneliti Senior The Habibie Center Umar Juoro menilai pemberlakukan perjanjian perdagangan China dan ASEAN (CAFTA) sudah tidak bisa lagi ditangguhkan.
Namun, ujar Umar, persoalan yang muncul dari pemberlakuan CAFTA tersebut adalah keengganan investor asal China untuk membenamkan investasi di sektor manufaktur ke Indonesia. Pasalnya pemerintah China menganggap sektor tersebut selama ini telah menjadi penyerap tenaga kerja utama negeri Tirai Bambu tersebut.
“Indonesia harus manfaatkan pasar FTA ini. China dan India lebih menguntungkan bagi kita hanya tantangannya bagaimana membuat selektif strategi agar masyarakat dapat menerima manfaat lebih banyak,” ujar Umar. (VIVAnews.com)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah
wah enak dong brg jd pada murah