Pemerintah Kota Bekasi Harus Konsisten Dengan RUTRW
Diposting Pada 22 Feb 2012
Seminar sehari tentang RUTRW Kota Bekasi di Hotel Horison
BEKASI-DAKTACOM: Seminar sehari tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bekasi, yang digelar BAPPEDA Kota Bekasi bekerjasama dengan Radio Dakta di ruang Krakatau Hotel Horison, Jl. KH. Noer Ali Bekasi Selatan, Rabu (22/2/12). Seminar itu berlangsung menarik.
Para nara sumber maupun peserta seminar begitu bersemangat untuk membangun sebuah kota yang ideal dan nyaman di huni. Nara sumber dan peserta seminar berbicara mulai dari usulan membangun kota hijau, kota mandiri kemacetan.
Bahkan masalah banjir tak luput jadi pembicaraan. Sedang kehadiran kawasan pemukiman eksklusif seperti Summer Econ, Podomoro, dinilai sebagai pengembang yang hanya berfikir bisnis semata.
Kehadiran mereka dinilai sebagai negara dalam negara. Segala sesuatunya ditangani oleh pengembang, mulai dari masalah scuriti, jalan, penerangan jalan umum, tamana, termasuk soal fasos fasum yang mestinya menjadi kewengan pemerintah daerah malah sudah diambil alih.
Ir. Andi Renald, MT, dari direktorat perkotaan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menilai potensi yang dimiliki Kota Bekasi luar biasa. Karena dapat dijadikan sebagai kota satelit , kota pemukiman, kota hijau, dengan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Namun pontensi yang luar biasa itu akan menjadi masalah, jika dalam perencaan kota tidak sesuai dengan kondisi pertumbuhan kota. Oleh karena itu katanya, pembangunan harus terintegrasi dengan pembangunan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).
Ir. Andi Rinald, MT, memuji pemerintah Kota Bekasi yang telah memiliki Peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RUTW), tahun 2011-2031.
“Saya memberi apresiasi kepada pemerintah Kota Bekasi yang telah menerbitkan Perda tentang RTRW Kota Bekasi” kata Ir. Andi Rinaldi, MT.
Meski demikian betapapun bagusnya RTUW itu jika pemerintah kota Bekasi tak konsisten dengan RUTRW, maka tidak akan banyak memberikan dampak terhadap pembangunan Kota Bekasi menuju kota Hijau” tegasnya.
Oleh karena itu ia mengingatkan pemerintah kota Bekasi untuk tetap konsisten dalam memberikan kebijakan pembangunan. Jangan sampai terjadi perubahan RUTRW hanya karena tuntutan bisnis semata, tambahnya.
Sementara, Yayat Supriyatna dosen Universitas Trisakti Jakarta, memaparkan bagaimana mambangun kota Bekasi.
“Apakah kita membangun Kota Bekasi sebagai kota penyangga ibu kota Jakarta atau membangun Kota Bekasi menjadi kota mandiri” kalau pertanyaan itu berlum terjawab sulit memposisikan seperti apa rencana tata ruang wilayah yang kita akan bangun” katanya dengan nada bertanya.
Jika kita membangun kota mandiri tentu harus siap dengan segala eksesnya. Begitu juga sebaliknya apakah kita akan tetap membangun kota Bekasi sebagai kota penyanggah paparnya.
Berbeda dengan Adi Bunardi, seorang dosen yang juga sebagai aktivis. Ia menilai pembangunan kota mandiri seperti Podomoro dan Summer Econ, tidak ubahnya membangun negara dalam negara. Pemerintah Kota tidak dapat berbuat banyak untuk melakukan penataan ruang diwilayah yang dikuasai pengembang perumahan yang membangun kota mandiri. Mereka itu mirip sebagai “Negara dalam Negara” kritik Adi Bunardi. (Syifa Faradilla/Inas).
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah