BEKASI_DAKTACOM:Sejumlah ormas Islam di Kabupaten Bekasi menyatakan penolakannya terhadap upaya pembubaran Front Pembela Islam (FPI) yang sedang diopinikan oleh sekelompok kecil masyarakat akhir-akhir ini.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Persatuan Umat Islam (PUI) Kabupaten Bekasi, Maman Abdurahman, saat ditemui seusai acara diskusi Bekasi Jelang Pemilukada yang diselenggarakan Radio Dakta di RM Wulan Sari Tambun Selatan, Selasa (21/2).
Mengatakan keberadaan akan ormas Islam semacam FPI dinilai masih dibutuhkan untuk saat ini agar kemaslahatan umat tetap terjaga di tengah perkembangan zaman yang penuh dengan segala macam bentuk kemaksiatan.
Menurutnya walaupun sudah ada aparat penegak hukum semacam kepolisian, satpol PP, dan sebagainya namun tetap saja kegiatan maksiat masih terjadi di masyarakat, sehingga di butuhkan ormas semacam FPI guna mendorong pemerintah untuk menindak kegiatan tersebut dengan cara-cara melakukan penertiban yang tentunya sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian.
Sementara itu Ormas Islam lainnya yakni Mathla’ul Anwar Kabupaten Bekasi melalui ketuanya Noor Insan mengatakan rencana pembubaran FPI dinilainya tidak tepat karena hingga kini FPI merupakan ormas yang dapat melakukan kontrol sosial sosial di masyarakat, ditakutkan jika FPI dibubarkan maka kemaksiatan akan semakin merajalela.
Sejauh ini menurut Noor Insan umat Islam tidak merasa terganggu atas keberadaan FPI yang dinilai sebagai ormas garis keras, namun justru pelaku maksiat itu sendiri yang merasa terganggu dan takut usaha maksiatnya ditutup apabila FPI terus ada.
senada dengan apa yang diungkapkan PUI dan Mathla’ul Anwar, ketua persatuan Islam Kabupten Bekasi Mumu Imamudin mengatakan isu pembubaran FPI dianggapnya masih lemah karena bertentangan dengan undang-undang keormasan yang berlaku, menurutnya jikalau memang harus dibubarkan maka harus dibuat kajian mendalam terlebih dahulu, tandasnya.(Ardi Mahardika/Inas).
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah