BEKASI_DAKTACOM: Dinas Kesehatan Kota Bekasi mengklaim jumlah penderita gizi buruk di Kota Bekasi dalam kurun waktu 1 tahun terakhir mengalami penurunan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinkes Kota Bekasi Anne Nur Chandrani Handayani saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan Jum’at (3/2/12).
Ia menyebutkan, penurunan jumlah penderita gizi buruk dalam 1 tahun terakhir berkisar 0,1 persen. Di awal tahun 2011 menurutnya jumlah berada di kisaran 0,38 persen. Pada pertengahan tahun, angkanya menurun bertahap menjadi 0,34 persen. Baru pada akhir tahun, berhasil ditekan hingga 0,28 persen atau 300 jiwa .
Ditambahkan Ane jumlah tersebut sudah baik karena jauh di bawah standar nasional, yakni satu persen.
Menurut Anne, banyak program yang dilakukan petugas Dinas Kesehatan untuk terus menekan jumlah penderita gizi buruk seperti asupan makanan pendamping dan penyuluhan melalui kader-kader Posyandu merupakan beberapa upaya yang selama ini dilakukan.
“Perhatian lebih kami berikan kepada anak-anak yang kurang gizi. Sebab jika diabaikan, mereka bisa menjadi penderita gizi buruk,” kata Anne.
Namun menurutnya, semua upaya tersebut tak bisa menjamin jumlah penderita gizi buruk di Kota Bekasi akan habis. Setiap waktu penderita gizi buruk bisa muncul selama asupan makanan tidak diperhatikan.
Permasalahan seputar gizi yang juga dicermati Dinkes Kota Bekasi ialah kecenderungan anak-anak yang bergizi lebih. Jumlahnya jauh lebih tinggi daripada yang bergizi buruk. Karena kelebihan gizi pada anak sama tidak baiknya dengan yang bergizi kurang apalagi buruk, anak-anak bergizi lebih pun memerlukan penanganan khusus untuk mengarahkannya menjadi normal.
“Kalau anak bergizi lebih dibiarkan, mereka rawan terjangkit penyakit degeneratif. Jadi baiknya bergizi cukup saja. Caranya dengan menjaga pola hidup sehat dan asupan makanan yang seimbang,” pungkasnya.(Bayu Samudra/Inas).
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah