Kekhawatiran banyak kalangan akan terjadinya penularan virus flu babi selama berlangsungnya pelaksanaan ibadah haji kini terbukti.
Pemerintah Arab Saudi memberikan konfirmasi adanya satu jamaah haji yang meninggal karena tertular virus flu babi (H1N1). Jamaah yang menjadi korban diidentifikasi sebagai warga negara Pakistan. Sebelumnya Pemerintah Arab Saudi sudah memberikan konfirmasi adanya empat jamaah haji yang meninggal karena tertular flu babi. Namun, berbeda dengan kasus warga Pakistan, keempat korban tersebut meninggal sebelum prosesi ibadah haji mulai dilaksanakan walaupun yang bersangkutan sudah tiba di Tanah Suci.
Temuan ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, selain membenarkan adanya lima orang yang sudah meninggal, Pemerintah Arab Saudi juga menemukan 100 jamaah haji positif terkena virus flu babi dari total sekira tiga juta jamaah haji yang memadati Kota Mekkah dan Madinah. Dengan meninggalnya jamaah haji asal Pakistan, dikhawatirkan flu babi telah menyebar luas dan bisa jadi jamaah haji yang tertular melebihi angka 100. Pemerintah Arab Saudi sebetulnya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi penyebaran virus H1N1 selama prosesi ibadah haji.
Di antaranya dengan melakukan screening terhadap jamaah serta membangun jalan baru untuk mengurangi tabrakan di antara jamaah. “Langkah yang sudah diambil Pemerintah Arab Saudi sangat efektif. Sejujurnya saya tidak melihat pengaruh apa pun terkait flu babi,” jelas Mohammed Fazeli, jamaah asal Aljazair. Jauh sebelum pelaksanaan ibadah haji, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengingatkan Arab Saudi akan kemungkinan penularan virus H1N1. Pasalnya, virus tersebut cepat sekali menyebar di tempat-tempat yang dipenuhi manusia seperti halnya dalam ibadah haji.
Penyebaran flu babi pada musim haji juga diperburuk dengan datangnya musim dingin di Arab Saudi. Seperti virus flu tahunan, virus H1N1 mudah sekali menyebar pada musim dingin. Sebelum pelaksanaan ibadah haji, pihak Arab Saudi sudah meminta negara yang memberangkatkan jamaah haji bekerja sama mencegah tersebarnya virus flu babi di Tanah Suci. Mereka, misalnya, mengimbau adanya pembatasan usia jamaah haji. Usia di atas 65 tahun dan di bawah 18 tahun diimbau untuk tidak berangkat haji karena golongan usia tersebut merupakan yang paling rawan tertular virus flu babi.
Arab Saudi juga telah melakukan vaksinasi. Selain adanya kasus flu babi, pelaksanaan ibadah haji kali ini juga diwarnai banjir di Jeddah. Banjir ini memang tidak menjadi kendala besar bagi pelaksanaan ibadah haji, tetapi sempat membuat beberapa jamaah kesulitan menuju Mekkah. Jeddah yang berjarak 85 km dari Mekkah merupakan gerbang utama menuju kota suci tersebut. Sekira 1,6 juta jamaah dari luar negeri akan melewati kota ini sebelum kembali ke negara masing-masing mulai besok. Padahal, dua jembatan yang melintasi Jeddah hancur karena terjangan banjir.
Berdasarkan laporan resmi pemerintahan Jeddah, korban banjir yang dinilai terburuk dalam 27 tahun terakhir ini menembus angka 98 orang. Angka ini bisa membengkak mengingat masih ada 350 warga yang dinyatakan hilang. Selain korban meninggal, sekira 1.200 warga terpaksa diungsikan ke apartemen khusus. Akibat banjir, warga di Quwaizah dan Hasat Muraikh (bagian Jeddah) juga harus hidup tanpa listrik selama beberapa hari.
Direktur Jenderal Pertahanan Sipil untuk Kota Jeddah Muhamad Abdul Rahman al-Ghamdi memastikan semua korban banjir akan mendapat kompensasi penuh. Selama dalam penampungan, para pengungsi akan mendapat jaminan. Selain karena curah hujan yang sangat tinggi, banjir bandang di Jeddah disinyalir terjadi karena buruknya sistem drainase kota tersebut. Sistem drainase bahkan tidak bekerja sama sekali saat ketinggian air mencapai 7,6 cm. Penguasa Mekkah Pangeran Khaled al-Faisal sudah memerintahkan investigasi untuk menyelidiki sistem drainase yang buruk ini. Pemerintah Arab Saudi menginvestasikan dana 1 miliar real atau sekira Rp3 triliun bagi proyek perbaikan drainase, tapi program itu baru berjalan 30 persen.
Jamaah Wafat Menurun
Jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci diprediksi menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut bisa dilihat dari jumlah jamaah Indonesia yang wafat setelah masa-masa krisis, yaitu selepas prosesi ibadah di Arafah dan Mina (Armina).
Pada tahun lalu jumlah jamaah yang meninggal hingga saat di Armina mencapai 189 jamaah, sedangkan tahun ini berjumlah 119 jamaah. Dengan perbandingan ini, diperkirakan jumlah jamaah Indonesia yang meninggal dunia di Tanah Suci menurun. Cepi Supriatna, penanggung jawab penyelenggaraan haji di Mina, mengungkapkan, faktor penyebab kematian terbanyak adalah karena penyakit bawaan dari Tanah Air seperti jantung, stroke. Selain penyakit, hal itu juga disebabkan faktor usia, terutama bagi jamaah yang berusia di atas 65 tahun.
Jamaah pada usia-usia tersebut rentan terhadap penyakit, khususnya akibat masalah perbedaan cuaca dan iklim. “Jadi bukan terserang penyakit ketika berada di Tanah Suci,” terang Cepi Supriatna. Untuk menjaga kesehatan jamaah, pihak panitia telah meminta para pimpinan kloter atau kepala rombongan agar mengingatkan jamaahnya untuk menjaga kesehatan, terutama menghadapi perbedaan cuaca, dengan cara tetap meminum air putih yang tidak dingin meskipun secara naluri tidak haus.
“Meskipun di sini (Tanah Suci) ini panas kering, bawaannya tidak mau minum kecuali minum air yang dingin, padahal kalau minum air yang dingin juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi jamaah,” katanya. (okezone.com)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah
Terima kasih untuk blog yang menarik