PERANCIS – “Saat ini etnis Zionis yang tinggal di Perancis menjadi pelopor perang anti-Jilbab di negara ini. Mereka juga berusaha keras memperingatkan warga Perancis soal bahaya Islam,” demikian tutur Daniel.
Simon juga mengakui bahwa merekalah yang mendorong Paris untuk menekan kaum minoritas Muslim di Perancis. Di sisi lain, Paris yang senantiasa mengklaim sebagai pengayom persamaan hak beragama dan hak asasi manusia pada tahun 2004 melarang pemakaian jilbab di sekolah.
Kebijakan ini ditindaklanjuti anggota parlemen dengan upaya mereka untuk merilis undang-undang baru pelarangan pemakaian jilbab di tempat-tempat umum. Keputusan ini mendatat reaksi keras dari umat Islam di seluruh dunia.
Dalam lima tahun terakhir, terjadi perubahan yang signifikan. Vincent Geisser, seorang sarjana mengenai Islam dan imigrasi di Pusat Nasional Prancis bagi penelitian ilmiah mengatakan, “Dewasa ini ketakutan terhadap Islam di Eropa mengkristalisasikan semua ketakutan lain.”Masjid besar dan baru yang menamakan dirinya “simbol Islam orang-orang Marseille” merupakan sumber kebanggaan di kota kedua terbesar Prancis itu yang paling sedikit 25 persen penduduknya beragama Islam.
Akan tetapi, itu juga menyebabkan alarm, tanda bahaya, kata Vincent Geisser. Kehadiran masjid mewujudkan paradoks bahwa tanda-tanda nyata kentara dari integrasi memicu kecemasan bersifat xenophobis. “Semua simbol ini mengungkapkan kehadiran Islam yang lebih mendalam, lebih langgeng. Hal itu adalah peralihan dari sesuatu yang bersifat sementara waktu kepada sesuatu yang telah ditanamkan dan berurat berakar.”
Pada tahun 2004, Prancis melarang jilbab (dan tanda-tanda lain dari afiliasi religius) di sekolah-sekolah negeri dan kini sedang memperdebatkan larangan terhadap burqa dan yang dimaksud oleh pemerintah tampaknya sembarang penutupan penuh wajah wanita, termasuk niqab yang memperlihatkan kedua mata.
Tindakan kontroversial itu terjebak dalam suatu debat yang disponsori oleh pemerintah mengenai identitas (jati diri) nasional, dipimpin oleh kementerian yang juga mengurus imigrasi.Kedua tindakan telah dikritik secara luas sebagai manuver politik oleh Presiden Nicolas Sarkozy, yang memanfaatkan ketakutan-ketakutan sosial guna mempersatukan pihak pusat-kanan mengoop-tasi pihak kanan ekstrem Fron Nasional sebelum diadakan pemilihan umum daerah bulan Maret 2010.
Dia telah mencoba mengecilkan unsur keagamaan dalam debat, tetapi juga mendesak golongan Muslim memperlihatkan “kebijaksanaan berendah hati” dan menghindarkan “lagak lagu yang memperagakan dan provokatif”.
Seorang menteri junior Nadine Morano mengatakan, orang-orang Muslim muda seharusnya berpakaian lebih baik, menemukan pekerjaan, berhenti berbicara dengan menggunakan bahasa gaul dan memakai topi baseball terbalik ke belakang ke kepala. Suatu studi mengenai Islam di Eropa yang diumumkan akhir Desember 2009 mendapatkan bahwa 55 persen Muslimin di Eropa percaya diskriminasi agama meningkat lima tahun belakangan ini.
Orang-orang Muslim mungkin tiga kali lebih banyak yang menganggur dibanding dengan non-Muslim dan hidup dalam keadaan lebih miskin.Akan tetapi, studi itu juga mendapatkan bahwa kebanyakan Muslimin merasakan tali ikatan yang kuat dengan tanah air mereka yang sekarang, yakni Prancis dan ingin hidup dalam komu-nitas-komunitas yang bercampur.
Di Kota Marseille, studi tadi mendapatkan 55 persen Muslimin dan 68 persen non-Muslim memiliki rasa kebersamaan yang cukup atau sangat kuat dengan kota mereka. Namun, masjid yang telah direncanakan dengan biaya 33 juta dolar AS tidak disambut baik oleh setiap orang. (cybersabili.com)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah
Semoga Allah SWT memberikan ketabahan tuk saudara-saudara q yg ada d Perancis. Semoga mereka tetap istiqomah