Jero Wacik sendiri datang ke gedung film, di Jalan MT Haryono, Jakarta atas undangan LSF untuk menyaksikan langsung film yang menjadi pro kontra saat ini. “Saya diundang LSF untuk melihat langsung filmnya.
Dimintai komentar soal film Balibo itu sendiri, Jero menyatakan, sebagai film, “Balibo” memiliki artistik, lumayan bagus. “Tetapi masalahnya bukan itu, kepentingan bangsa diatas segala-galanya. Jadi apapun kita mesti amankan untuk kepentingan negara,” ujar Jero menambahkan.
Karena itu, dia menambahkan, sebagai film yang menceritakan masa lalu, apalagi menyangkut hubungan kedua negara, tentu sangat tidak pas di pertontonkan di Indonesia.
Film besutan sutradara Australia, Rob Conolly, itu diangkat dari kisah terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste pada tahun 1975.
Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris itu adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward. Kelimanya tewas saat tengah meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste, yang kala itu masih bernama Timor Timur.
Pemerintah Indonesia mengatakan, kelimanya tewas karena terjebak di medan peperangan. Namun, pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, mengatakan, berdasarkan investigasi menunjukkan, kelima wartawan tersebut dibunuh oleh tentara Indonesia.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan, film itu dikhawatirkan akan membuka luka lama. Namun, ia membantah Departemen Luar Negeri mengintervensi keputusan Lembaga Sensor Film (LSF) yang melarang peredaran film “Balibo Five”.
Film tersebut rencananya diputar pada Jakarta International Film festival (Jiffest) ke-11 tahun 2009.
“Keputusan LSF tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan berekspresi, kebebasan berapresiasi dan tidak menghormati hak masyarakat untuk tahu,” Koordinator Advokasi.
Alasan bahwa “membuka luka lama” konflik Indonesia dengan Australia, serta Timor Leste, dianggap berlebihan.
“AJI Indonesia menduga, pelarangan film tersebut sangat politis karena film tersebut mengungkap pelanggaran HAM oleh tentara Indonesia berupa pembantaian lima jurnalis asing di Balibo, Timor Leste pada 1975,” tambah Margiyono.
“Pelarangan film tersebut terkesan untuk menutup-nutupi keterlibatan sejumlah perwira Indonesia dalam pembantaian jurnalis itu,” tambah dia.
AJI Indonesia meminta agar pelarangan film “Balibo Five” dicabut. Sebab, pemutaran film ini penting untuk memberikan informasi kepada publik Indonesia mengenai peristiwa tersebut dari sudut pandang lain dari apa yang disampaikan pemerintah Indonesia selama ini.
AJI Indonesia menilai, penayangan fim tersebut sangat berguna untuk mengingatkan semua pihak agar menghormati jurnalis yang tengah meliput.
“Film tersebut juga menjadi peringatan bahwa pembunuhan terhadap jurnalis harus diusut tuntas, pelakunya harus diadili,” tegas Margiyono.
Film “Balibo Five” dibuat oleh sutradara Australia, Rob Conolly. Film ini diangkat dari kisah terbunuhnya lima jurnalis di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste pada tahun 1975, saat meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste. Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris itu adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward.
Pemerintah Indonesia mengatakan, kelimanya tewas karena terjebak di medan peperangan. Namun, pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, mengatakan kelima wartawan tersebut dibunuh oleh tentara Indonesia. (suaramadia.com)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah