Tahun Ini Paling Berdarah Bagi Mesin Pembantai Israel
Diposting Pada 23 Nov 2009
Agresi militer biadab Israel telah merenggut lebih banyak nyawa warga Palestina pada tahun ini, dibandingkan dengan tahun-tahun lainnya dalam dua dekade terakhir, demikian disebutkan oleh sebuah kelompok hak asasi manusia Israel.
Pusat informasi Israel untuk hak asasi manusia di wilayah terjajah, B’Tselem, mempublikasikan sebuah laporan yang menyebutkan bahwa agresi Israel sejauh ini telah membantai 1.387 orang warga Palestina, termasuk 300 orang anak-anak.
Sebagian besar kematian tersebut terjadi setelah Tel Aviv memerintahkan pengeboman besar-besaran selama tiga minggu di Jalur Gaza, awal tahun ini.
Sumber-sumber medis menyebutkan jumlah kematian yang terjadi akibat serbuan tersebut mencapai lebih dari 1.400 orang.
Secara keseluruhan, jumlah kematian rakyat Palestina sejak 20 tahun yang lalu telah mencapai 7.400 orang, ditambahkan bahwa ada ratusan orang warga Palestina yang saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, tepatnya 335 orang. Mereka ditahan tanpa pernah melalui proses persidangan.
Kelompok tersebut merilis laporan tersebut seiring dengan perayaan 20 tahun berdirinya organisasi. Pengumuman tersebut diumumkan melalui iklan yang mirip dengan berita kematian di surat kabar Israel, Haaretz. “Organisasi B’Tselem dengan sedih mengumumkan bahwa usia kami telah menginjak tahun yang ke-20.”
“Kami dan semua orang sudah muak dengan hal ini, namun ada empat juta orang (yang tinggal) di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang hingga hari ini masih terampas hak-hak dasarnya,” kata kelompok tersebut.
Serdadu Israel telah membantai 7.398 orang warga Palestina, termasuk 1.537 orang anak-anak, baik di Israel maupun di wilayah terjajah, kata B’Tselem.
Tahun ini, yang ditandai oleh agresi militer Israel di Jalur Gaza, merupakan tahun yang paling berdarah bagi rakyat Palestina selama 20 tahun terakhir.
Bagi Israel, tahun 2002, pada saat terjadi intifada kedua Palestina, merupakan tahun yang paling mematikan, dimana ada 420 orang Israel yang tewas.
B’Tselem juga mengatakan bahwa otoritas Israel telah menghancurkan 4.300 rumah penduduk Palestina dalam 20 tahun terakhir.
Mencoba mencari pembenar atas tindakan tersebut, Israel mengatakan bahwa rumah-rumah tersebut tidak memiliki ijin, namun warga Palestina dan kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa ijin tersebut tidak mungkin diberikan oleh Israel.
Sebagai tambahan, B’Tselem memperkirakan bahwa ada 6.240 unit rumah yang telah dihancurkan dalam agresi militer Gaza. Israel mengatakan bahwa pihaknya meluncurkan serangan tersebut untuk “membela diri” dan membalas serangan roket Hamas.
Pada awal bulan ini, Kongres AS telah meloloskan sebuah resolusi yang menolak penemuan dalam sebuah laporan PBB bahwa Israel melakukan kejahatan perang selama serangan militernya ke Gaza.
Kongres melakukan pemungutan suara pada hari Selasa (3-/1), dengan hasil 344 berbanding 36, untuk sebuah resolusi tak mengikat yang menyerukan pada Barack Obama agar mempertahankan oposisinya terhadap laporan yang ditulis oleh sebuah panel pimpinan Richard Goldstone, seorang hakim dari Afrika Selatan.
Resolusi Kongres AS menyebut laporan Goldstone tersebut bersifat bias dan tidak penting untuk dipertimbangkan lebih jauh atau mendapat legitimasi.gaza_war
Pemungutan suara Kongres dilakukan sehari sebelum Majelis Umum PBB memperdebatkan resolusi yang mendukung penemuan laporan Goldstone.
Richard Goldstone kemudian menantang AS untuk membeberkan pembenaran atas sikap keberatan negara paman Sam tersebut atas laporan mengenai pembantaian Israel di Jalur Gaza yang berlangsung selama tiga pekan.
Goldstone, yang memimpin misi penemuan fakta yang dimandatkan oleh PBB guna menyelidiki pembantaian habis-habisan yang dilancarkan pasukan Zionis Israel di Gaza pada awal tahun ini, mengatakan kepada stasiun televisi Al Jazeera bahwa Presiden AS Barack Obama tampaknya masih belum memberikan keputusan mengenai laporan setebal 575 halaman tersebut. Dalam laporan tersebut, dibeberkan mengenai serangan Israel yang merenggut nyawa lebih dari 1.400 orang warga Palestina.
Goldstone berujar bahwa dirinya menunggu pemerintah Obama untuk menyampaikan apa saja yang dianggap “cacat” oleh AS dalam laporan penyelidikan tersebut. “Dengan senang hati saya akan menjelaskannya, jika saja saya tahu apa yang dipermasalahkan (oleh AS).”
“Pemerintahan Obama bergabung dalam rekomendasi kami dan menyerukan adanya investigasi secara menyeluruh dan jujur, baik di Israel maupun Gaza (Hamas), tapi anehnya AS mengatakan bahwa laporan ini cacat,” tambah Goldstone.
Goldstone melanjutkan bahwa menurutnya, sebagian besar pihak yang melontarkan kritikan sama sekali belum membaca laporannya.
“Saya tidak meragukan hal itu, sebagian besar pengkritik belum membaca isi laporan,” katanya. “Dan, saya rasa, yang membuktikan hal itu adalah tingkat kritikan mereka. Tingkat kritikan yang dilontarkan tidak sesuai dengan isi laporan.” (suaramedia.com)
Radio Dakta 107 FM adalah radio dialog informasi yang berkomitmen memberikan pencerahan dan mencerdaskan umat. Dalam kiprahnya selama 17 tahun mempunyai populasi pendegar sebanyak 1,9 juta orang* mayoritas berusia produktif dengan pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari satu juta rupiah