Haram Hukumnya Umat Islam Ikut Merayakan Natal

Ketua MUI Ma'ruf Amin

Di tengah Ketua MUI Ma’ruf Amin

Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan natal dan tahun baru.Karena perayaan natal dan tahun baru adalah kegiatan sakral umat Kristen. Artinya natal adalah bagian dari ibadah umat Kristen. Sama halnya ummat Islam melaksanakan shalat, puasa, haji. Oleh karena itu jika ada umat Islam yang mengikuti dan mengucapkan natal akan dapat membatalkan keimanannya. Karena ia telah mengikuti ibadah agama diluar Islam dan telah mengakui ada Tuhan selain Allah.

Sebagaimana lazimnya, setiap memasuki Desember, umat Kristen sibuk mempersiapkan natal dan tahun baru. Kalau kegiatan itu hanya dilakukan oleh umat Kristen tentu tak ada masalah sebab, itu adalah bagian dari keyakinannya yang dijamin undang-undang untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dana kepercayaan masing masing rakyat Indonesia.

Masalah kemudian muncul ketika umat kristen mengajak umat Islam ikut dalam kegiatan natal dan tahun baru yang bersifat sakral dengan alasan kerukunan umat beragama dan menciptakan toleransi beragama.

Persoalan semakin rumit manakala umat Kristen menjadikan perayaan natal dan tahun baru sebagai moment untuk melakukan pemurtadan dengan membag-bagi sembako gtarits kepada umat muslim yang lemah, dan miskin. Kalau mau bagi-bagi sembako gratis bagi-bagi saja dikalangan orang-orang kristen. Toh orang kristen juga masih banyak yang sudah dan miskin.

Bagi missionari, tak ada pembagian sembako gratis jika tak mempunyai tujuan. Mereka sangat berharap agar pembagian sembako itu dapat menarik hati umat Islam terutama mereka yang lemah imannya dan miskin agar masuk Kristen. Jika tau mau murtad palingtidak serendah-rendahnya mendapat pujian bahwa Kristen itu baik.

Perayaan natal dan tahun baru  dengan pembagian sembako kepada umat Islam adalah bagian dari penyiaran agama terhadap orang-orang yang sudah beragama. Ambisi umat Kristen untuk mengkristen Indonesia pernah dikritik mantan Perdana Menteri, Muhammad Natsir.

“Bagi kami warisan yang paling berharga adalah keimanan kami kepada Allah SWT dan Islam yang kami miliki. Jika anda terus menyiarkan agama kalian terhadap umat islam maka kami tidak akan tinggal diam” tulis Muhmmad Natsir dalam bukunya  Islam dan Kristen di Indonesia.

Ketika Ketua Umum Majilis Ulama Indonesia (MUI) dipegang  Buya HAMKA, banyak umat Islam yang menanyakan hukum ikut merayakan natal dan tahun baru. Karena setiap 25 Desember pemerintah melaksanakan perayaan natal dan tahun baru di Istana Negara Bina Gharaha yang dihadari pejabat negara yang beragama Islam.

Perayaan yang sama juga dilaksanakan di kantar-kantor pemerintah hingga ke tingkat kecamatan. Karena loyal terhadap pimpinan banyak umat Islam yang terpaksa mengikuti perayaan natal dan tahun baru. Maka umat Islam meminta fatwa ke MUI soal boleh tidaknya seorang muslim merayakan natal dan tahun baru.

Lewat kajian mendalam akhirnya MUI mengeluarkan Fatwa yang melarang umat Islam mengikuti, dan mengucapkan selamat natal. “Haram hukumnya bagi umat Islam untuk mengikuti perayaan natal dan tahun baru.

Fatwa itu membuat Menteri Agama yang saat itu dijabat Alamsyah Ratuparawira Negara, marah dan mengancam buya HAMKA. Dan mendesak HAMKA untuk mencabut Fatwa tentang larangan mengikuti perayaan natal dan tahun baru. Dengan sikap yang istiqomah, buya HAMKA akhirnya menyatakan diri mengundurkan diri dari Ketua Umum MUI.

Kalau tujuan perayaan natal bersama yang dilaksanakan pemerintah untuk menjaga kerukunan umat beragama, tentu kebijakan itu sangat keliru. Karena soal kerukunan umat beragama dapat tercapai dengan mudah jika umat Kristen tak lagi menyiarkan agama Kristen terhadap umat Islam.

Munculnya gersekan antar umat beragama justru datang dari umat Kristen yang terlalu bersemangat menyiarkan agamanya kepada umat Islam serta adanya pelanggaran pendirian gereja yang tidak sesuai dengan peraturan dua menteri No. 8 dan 9, tentang pendirian rumah ibadah.

Oleh karena itu sekali lagi Majelis Ulama Indonesia kembali mengingatkan umat Islam untuk tidak mengucapkan selamat natal kepada pemeluk agama Nasrani. “Itu jadi perdebatan, sebaiknya enggak usah sajalah,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa Maruf Amin.

Meskipun melarang, Maruf meminta umat Islam menjaga kerukunan dan toleransi. Dia menyatakan ada fatwa MUI yang melarang untuk mengikuti ritual Natal.

Dia menegaskan, mengikuti ritual Natal adalah haram. “Karena itu ibadah (umat lain),” kata dia. Banyak tokoh nasional minta fatwa ini diabaikan saja.Ketika dimintai tanggapan, Gubernur Jakarta memilih diam.

MUI telah mengeluarkan fatwa pada 1981 di masa Ketua Umum MUI Prof. Dr. Buya Hamka. Fatwa MUI yang ditandatangani Ketua Komisi Fatwa KH. Syukri Ghazali dan Sekretaris H. Masudi. Isi fatwa ini menyatakan haram mengikuti perayaan dan kegiatan Natal. Kidung Natal berbahasa Arab juga dipersoalkan.***

Redaktur : Imran Nasution

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan